Berpuisi Sebagai Liturgi
Sebuah Simfoni Kosmik Eksistensi
Oleh: Gus Nas Jogja*
Puisi bukanlah sekadar deretan kata yang dipaksa berima, melainkan sebuah tindakan sakramental. Ia adalah jembatan antara yang fana dan yang baka, sebuah ruang di mana bahasa menanggalkan jubah fungsionalnya dan mengenakan jubah cahaya. Menulis dan membaca puisi adalah sebuah liturgi—sebuah perayaan atas keberadaan yang melibatkan seluruh dimensi kemanusiaan kita: dari relung psikologis yang paling gelap hingga bentang ekologis yang paling luas.
Dalam kacamata spiritual, berpuisi adalah sebuah bentuk doa tanpa nama. Ia adalah upaya manusia untuk mengeja kembali firman Tuhan yang terserak di alam semesta. Sebagaimana diungkapkan oleh penyair mistis Persia, Jalaluddin Rumi:
“Di luar sana, melampaui gagasan tentang benar dan salah, ada sebuah padang rumput. Aku akan menemuimu di sana.”
Berpuisi adalah cara kita memasuki “padang rumput” tersebut. Ia adalah liturgi keheningan. Ketika seorang penyair menulis, ia sedang melakukan ekskavasi batin untuk menemukan percikan ilahi atau scintilla animae. Dalam tradisi Timur, puisi sering kali menjadi mantra—kata-kata yang memiliki kekuatan untuk mengubah realitas internal pendengarnya.
Puisi memaksa kita untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk duniawi dan melakukan kontemplasi. Ia adalah ritual penyucian persepsi. Seperti yang dikatakan oleh William Blake:
“Jika pintu-pintu persepsi dibersihkan, segala sesuatu akan tampak sebagaimana adanya: tak terbatas.”
Dalam lensa filsafat, puisi adalah cara kita “berada” di dunia. Martin Heidegger pernah menyatakan bahwa “manusia menghuni bumi ini secara puitis.” Tanpa puisi, dunia hanya akan menjadi kumpulan objek mekanis yang dingin. Puisi memberikan “jiwa” pada objek-objek tersebut.
Liturgi puitis adalah proses unconcealment atau Aletheia—penyingkapan kebenaran. Filosofi dalam puisi tidak bekerja melalui logika silogisme yang kaku, melainkan melalui intuisi dan metafora. Metafora adalah cara terjujur untuk membicarakan realitas yang tidak terkatakan.
Khalil Gibran dalam mahakaryanya mengingatkan kita:
“Puisi bukanlah sekadar pendapat yang diutarakan. Ia adalah nyanyian yang bangkit dari luka yang berdarah atau mulut yang tersenyum.”
Secara ontologis, berpuisi membuktikan bahwa keberadaan manusia tidak bisa direduksi menjadi sekadar data statistik. Kita adalah makhluk yang haus akan makna, dan puisi adalah air yang memuaskan dahaga tersebut.
Dimensi Antropologis dan Ekologis: Jejak Kaki Peradaban
Dari sudut pandang antropologis, puisi adalah artefak budaya yang paling purba. Sebelum manusia mengenal tulisan, mereka mengenal rima dan ritme untuk mengingat sejarah, hukum, dan mitos. Puisi adalah memori kolektif kemanusiaan.
Liturgi berpuisi menghubungkan kita dengan nenek moyang. Saat kita membaca Kahlil Gibran, Hamzah Fansuri atau Ronggowarsito, kita sedang berpartisipasi dalam percakapan lintas zaman yang tak kunjung usai. Puisi adalah cara manusia menegaskan kehadirannya di tengah arus waktu yang menghapus segalanya.
“Hanya melalui seni, dan khususnya puisi, kita dapat keluar dari diri kita sendiri dan mengetahui apa yang dilihat orang lain dari alam semesta yang bukan milik kita,” tulis Marcel Proust.
Puisi adalah ritual sosialisasi rasa. Ia mengajarkan empati—kemampuan untuk merasakan denyut jantung orang asing melalui baris-baris kalimat.
Dalam era krisis lingkungan saat ini, berpuisi menjadi liturgi penyelamatan bumi. Secara ekologis, puisi mengembalikan manusia pada posisinya sebagai penjaga kebun, bukan penguasa yang destruktif. Puisi ekologis atau ecopoetry mengajak kita mendengar suara sungai, ratapan hutan, dan bisikan angin.
Penyair Amerika, Mary Oliver, seringkali menjadikan alam sebagai altar peribadatannya:
“Katakan padaku, apa yang akan kau lakukan dengan satu kehidupanmu yang liar dan berharga ini?”
Liturgi puitis ekologis menyadarkan kita bahwa tubuh kita adalah tanah, dan napas kita adalah udara. Ada interkoneksi sakral antara makrokosmos (alam semesta) dan mikrokosmos (diri manusia). Puisi membantu kita memulihkan hubungan yang rusak dengan alam dengan cara memandangnya bukan sebagai sumber daya, melainkan sebagai sesama subjek yang bernapas.
Dimensi Psikologis: Katarsis dan Penyembuhan
Berikutnya, secara psikologis, berpuisi adalah proses integrasi diri. Carl Gustav Jung mungkin akan menyebut berpuisi sebagai cara berkomunikasi dengan unconscious atau alam bawah sadar. Puisi memberikan bentuk pada trauma, rindu, dan kecemasan yang tak bernama.
Ia adalah katarsis. Dengan memberi nama pada rasa sakit, kita mendapatkan kendali atasnya. Sebagaimana Sylvia Plath yang menggunakan puisi untuk membedah kedalaman jiwanya:
“Aku menulis karena ada suara di dalam diriku yang tidak akan membiarkanku diam.”
Liturgi puitis adalah ruang aman bagi jiwa untuk menjadi rentan. Di dalam puisi, kegagalan bisa menjadi keindahan, dan kesedihan bisa menjadi pencerahan. Ini adalah bentuk terapi mandiri yang paling luhur, sebuah perjalanan menuju keutuhan diri –self-actualization.
Menjadi Saksi di Altar Kata
Berpuisi sebagai liturgi berarti menjalani hidup dengan kesadaran penuh. Setiap tarikan napas adalah rima, dan setiap langkah kaki adalah bait. Dengan memadukan aspek spiritual, filosofis, antropologis, ekologis, dan psikologis, puisi menjadi sebuah Totalitas Keberadaan.
Mari kita terus merawat liturgi ini. Sebab, selama manusia masih menulis puisi, harapan akan kemanusiaan yang lebih utuh tidak akan pernah padam.
“Maka silakan, teruslah bernyanyi. Karena puisi adalah satu-satunya cara untuk tetap terjaga di dunia yang sedang tertidur lelap.”
Arsitektur Estetika: Puisi sebagai Ruang Suci
Jika filsafat adalah upaya akal untuk memetakan dunia, maka puisi adalah upaya jiwa untuk menghuninya. Berpuisi sebagai liturgi berarti mengakui bahwa kata-kata memiliki berat masa lalu dan cahaya masa depan. Penyair Jerman, Friedrich Hölderlin, pernah bertanya dalam eleginya: “Dan untuk apa menjadi penyair di masa-masa sulit?” Jawabannya terletak pada fungsi puisi sebagai penjaga kesucian bahasa. Di tengah banalitas komunikasi modern yang kering, puisi hadir untuk mengembalikan “kekudusan” pada setiap kata.
Liturgi puitis tidak hanya berhenti pada keindahan visual, tetapi pada ritme. Ritme adalah denyut jantung kosmos. Dalam filsafat Timur, ini serupa dengan konsep Tao atau Rta, keteraturan kosmis yang menari dalam ketidakteraturan. Saat seorang penyair menyusun bait, ia sebenarnya sedang mencoba menyelaraskan detak jantungnya dengan detak jantung alam semesta.
Rainer Maria Rilke dalam Duino Elegies menulis:
“Sebab keindahan tak lain adalah awal dari kengerian, yang masih mampu kita tanggung, dan kita sangat mengaguminya karena ia dengan tenang menolak untuk membinasakan kita.”
Di sini, liturgi puisi adalah keberanian untuk menatap “kengerian” eksistensi—kematian, kesepian, dan ketakterbatasan—lalu mengubahnya menjadi monumen keindahan yang sublim.
Ekologi Jiwa: Dialog antara Tanah dan Langit
Secara antropologis-ekologis, manusia purba tidak memisahkan diri dari hutan. Puisi-puisi awal mereka adalah nyanyian syukur atas hujan dan permohonan ampun pada binatang buruan. Berpuisi sebagai liturgi di abad ke-21 adalah upaya re-enchantment –memantrakan kembali– dunia yang telah mengalami desakralisasi oleh industri.
Penyair dan esais Indonesia, Goenawan Mohamad, dalam salah satu sajaknya berbisik:
“Tuhan, hari ini aku masih merindukan-Mu, seperti sebuah pohon merindukan akarnya sendiri di dalam tanah yang gelap.”
Narasi ekologis dalam puisi bukan sekadar kampanye hijau, melainkan pengakuan bahwa ego manusia adalah ilusi. Kita adalah “tanah yang berpikir”. Ketika hutan terbakar, sebagian dari bahasa kita ikut hangus. Ketika sungai tercemar, metafora kita menjadi keruh. Puisi sebagai liturgi menuntut kita untuk bersujud kembali ke bumi, mendengarkan “suara-suara yang tak bersuara” dari makhluk-makhluk non-manusia.
Psikologi Kedalaman: Menjahit Serpihan Diri
Dalam ruang psikologis, berpuisi adalah sebuah nekyia—perjalanan ke dunia bawah (alam bawah sadar). Liturgi ini adalah proses penyembuhan luka primer manusia: rasa terasing. Kita semua adalah pengungsi dari tanah air masa kecil, dari cinta yang hilang, atau dari idealisme yang patah.
Pablo Neruda, sang maestro dari Chili, menggambarkan bagaimana puisi datang menjemputnya dalam kegelapan:
“Dan terjadilah, pada usia itu, puisi datang mencariku. Aku tidak tahu dari mana ia datang, dari musim dingin atau sungai. Aku tidak tahu bagaimana atau kapan…”
Puisi berfungsi sebagai jembatan antara ego dan Self (Diri Sejati). Melalui metafora, emosi-emosi yang terlalu besar untuk ditampung oleh logika—seperti duka yang meluap atau cinta yang menghancurkan—diberi wadah. Liturgi ini mengubah “penderitaan yang bisu” menjadi “penderitaan yang bernyanyi”. Seperti yang dikatakan para sufi, “Luka adalah tempat di mana cahaya memasukimu.” Puisi adalah cahaya tersebut.
Antropologi Kerinduan: Menemukan Rumah dalam Kata
Secara antropologis, manusia adalah Animal Symbolicum—makhluk pembuat simbol. Puisi adalah puncak dari pembuatan simbol tersebut. Liturgi berpuisi melintasi batas-batas geografis. Kita bisa merasakan kepedihan Matsuo Basho saat menempuh jalan sempit ke pedalaman Jepang, sekaligus merasakan amarah Walt Whitman yang merayakan demokrasi di Amerika.
Puisi adalah bahasa ibu kemanusiaan. Sebelum ada doktrin politik atau teori ekonomi, ada lagu nina bobo dan ratapan kematian. Berpuisi sebagai liturgi berarti merayakan warisan ini. Ia mengingatkan kita bahwa di bawah kulit yang berbeda dan keyakinan yang beragam, kita semua bergetar pada frekuensi kerinduan yang sama.
Menjadi Bait yang Hidup
Esai ini, pada akhirnya, hanyalah sebuah pengantar menuju liturgi yang sesungguhnya: saat seorang penyair menutup mata, mengambil pena, atau sekadar memandang jatuh daun di musim gugur dengan rasa takjub. Berpuisi sebagai liturgi adalah sebuah komitmen untuk tidak membiarkan hidup berlalu begitu saja sebagai rutinitas yang menjemukan.
Sebagaimana Jalaluddin Rumi menutup salah satu puisinya:
“Biarkan keindahan dari apa yang kau cintai, menjadi apa yang kau lakukan. Ada ribuan cara untuk berlutut dan mencium bumi.”
Berpuisi adalah salah satu cara paling mulia untuk berlutut dan mencium bumi tersebut. Ia adalah ibadah bagi mereka yang percaya bahwa kata-kata mampu menyembuhkan, bahwa estetika adalah etika, dan bahwa di dalam setiap bait yang jujur, Tuhan sedang tersenyum.
Puisi sebagai Arkeologi Suara. Secara antropologis, masyarakat purba memandang kata sebagai entitas yang memiliki “mana” atau kekuatan gaib. Berpuisi sebagai liturgi adalah upaya memanggil kembali kekuatan tersebut. Kita tidak sekadar mendeskripsikan mawar; kita menghadirkan “hakikat mawar” ke dalam ruang batin pendengar.
Chairil Anwar, sang binatang jalang dalam sastra Indonesia, menunjukkan liturgi pemberontakan antropologis ini. Ia tidak hanya menulis; ia menghancurkan bahasa lama untuk membangun kuil bahasa baru yang lebih jujur terhadap napas zaman.
“Aku ini binatang jalang / Dari kumpulannya terbuang”
Kutipan ini bukan sekadar narsisme, melainkan sebuah ritual liminalitas—sebuah konsep antropologis di mana seseorang berada di ambang pintu, melepaskan identitas lama untuk menjadi manusia yang lebih otentik. Berpuisi adalah ritual transisi dari manusia yang “terjajah oleh rutinitas” menjadi manusia yang “merdeka dalam imajinasi”.
Dalam psikologi analitis, berpuisi adalah sebuah proses individuasi. Liturgi ini mengharuskan kita berhadapan dengan Shadow (sisi gelap) kita sendiri. Tanpa keberanian untuk membedah luka, puisi hanyalah dekorasi.
T.S. Eliot dalam The Waste Land melakukan liturgi fragmen. Ia mengumpulkan pecahan-pecahan peradaban yang hancur pasca-perang untuk mencari makna baru. Psikologi puisi di sini bekerja sebagai lem yang menyatukan serpihan jiwa yang retak.
“I have measured out my life with coffee spoons,” tulis Eliot dalam Prufrock.
Kalimat ini adalah pengakuan psikologis yang jujur tentang banalitas hidup. Liturgi puisi memaksa kita mengakui kejenuhan tersebut agar kita bisa melampauinya. Puisi adalah ruang di mana depresi diubah menjadi ekspresi, dan trauma diubah menjadi irama.
Ekologi Supranatural: Membaca Kitab Alam yang Terbuka
Jika kita menarik garis ekologis yang lebih radikal, berpuisi adalah sebuah bentuk panentisme estetis. Kita melihat jejak kaki Pencipta dalam setiap urat daun. Penyair Romantik Inggris, William Wordsworth, memandang alam bukan sebagai objek penelitian, melainkan sebagai guru spiritual.
“Satu dorongan dari hutan di musim semi / Dapat mengajarimu lebih banyak tentang manusia, / Tentang kejahatan moral dan kebaikan, / Daripada semua orang bijak.”
Liturgi ekologis ini adalah antitesis dari antroposentrisme yang rakus. Dengan berpuisi, manusia belajar untuk “mendengarkan” (aspek auditif) sebelum “menaklukkan” (aspek teknis). Puisi menempatkan kita dalam posisi sujud di hadapan kemegahan kosmos yang tak terukur oleh angka-angka statistik.
Liturgi Pengorbanan: Penyair sebagai Martir Makna
Dalam setiap liturgi, selalu ada elemen pengorbanan atau sacrifice. Dalam berpuisi, yang dikorbankan adalah ego penyair. Untuk menghasilkan puisi yang jujur, seorang penyair harus bersedia “mati” agar kata-katanya bisa “hidup”. Ini adalah proses kenosis—pengosongan diri.
W.B. Yeats seringkali berbicara tentang ketegangan antara kehidupan dan pekerjaan (puisi). Ia memahami bahwa penyair adalah imam yang menjaga api di altar, meski api itu membakar dirinya sendiri.
“Out of the quarrel with others we make rhetoric; out of the quarrel with ourselves we make poetry.”
Perselisihan dengan diri sendiri inilah yang menjadi inti dari liturgi puitis. Ia adalah perjuangan batin yang tak kunjung usai untuk menemukan kebenaran di balik topeng-topeng sosial yang kita kenakan sehari-hari.
Menuju Puncak Sakramen: Persatuan Subjek dan Objek
Pada tahap akhir liturgi ini, batas antara penulis, pembaca, dan alam semesta melebur. Inilah yang disebut dalam tradisi Timur sebagai Manunggaling Kawula Gusti dalam bentuk literer. Puisi tidak lagi dibaca sebagai teks, melainkan dialami sebagai realitas.
Bayangkan seorang penyair Haiku seperti Kobayashi Issa yang menulis tentang seekor lalat:
“Jangan pukul lalat itu / Ia sedang merapatkan tangan dan kakinya / Memohon ampun.”
Di sini, dimensi psikologis (empati), ekologis (penghargaan makhluk hidup), dan spiritual (belas kasih) menyatu dalam satu tarikan napas pendek. Inilah puncak dari Berpuisi sebagai Liturgi: ketika tidak ada lagi “aku” yang menulis, yang ada hanyalah “Kehidupan yang Sedang Merayakan Dirinya Sendiri”.
Analisis Lanjutan: Untuk memenuhi totalitas narasi ini, kita dapat membedah lebih dalam mengenai:
1. Etika Puitis: Bagaimana puisi menjadi kompas moral di tengah kekacauan politik.
2. Metafisika Cahaya: Pengaruh pemikiran Ibnu Arabi atau Suhrawardi dalam puisi-puisi sufistik Nusantara.
3. Psiko-Linguistik: Bagaimana struktur rima mempengaruhi gelombang otak menuju keadaan meditatif (Alpha state).
Metafisika Cahaya: Puisi sebagai Illuminatio
Dalam dimensi spiritual yang lebih esoteris, berpuisi adalah upaya menangkap Isyraq atau iluminasi. Bagi para filosof penyair seperti Suhrawardi atau Ibnu Arabi, alam semesta adalah kumpulan simbol yang memantulkan Cahaya Tuhan. Berpuisi sebagai liturgi berarti menjadi cermin yang bersih agar cahaya itu dapat terpantul tanpa distorsi.
Puisi tidak menciptakan cahaya; ia hanya menyingkap tirai yang menutupi mata kita. Seperti yang dikatakan oleh pujangga besar India, Rabindranath Tagore dalam Gitanjali:
“Cahaya, cahayaku, cahaya yang memenuhi dunia, cahaya yang mencuci mata, cahaya yang menyelimuti hati!”
Secara filosofis, ini adalah perpindahan dari cogito –aku berpikir– menuju video –aku melihat–. Liturgi puitis adalah latihan untuk melihat realitas di balik realitas. Ketika kita menulis tentang “air”, kita tidak sedang membicarakan H-20, melainkan sedang membicarakan kehausan abadi jiwa akan sumber kehidupan.
Etika Puitis: Kesaksian di Hadapan Ketidakadilan
Liturgi tidak selalu terjadi di dalam kuil yang tenang; terkadang ia terjadi di tengah pasar yang riuh atau di medan perang yang berdarah. Di sinilah puisi menjadi liturgi perlawanan. Secara antropologis, penyair adalah nurani kolektif bangsanya.
W.S. Rendra, si Burung Merak, mengubah panggung puisi menjadi altar keadilan. Baginya, berpuisi adalah ritual untuk memanggil keberanian manusia yang terpendam di bawah sepatu lars kekuasaan.
“Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata.”
Kutipan legendaris ini menegaskan bahwa liturgi puitis tidak berhenti pada titik terakhir sebuah sajak. Ia harus berinkarnasi menjadi tindakan. Puisi yang hanya mengejar keindahan teknis tanpa empati kemanusiaan adalah liturgi yang hampa—sebuah upacara tanpa dewa. Di sini, dimensi psikologis individu melebur menjadi tanggung jawab sosial.
Psiko-Linguistik: Getaran Mantra dan Gelombang Jiwa
Secara psikologis dan fisiologis, puisi bekerja pada level yang lebih dalam dari sekadar pemahaman intelektual. Rima, asonansi, dan aliterasi adalah elemen liturgi yang menciptakan efek hipnotis. Ketika seorang penyair mengulang-ulang baris tertentu, ia sedang melakukan litani.
Para peneliti psikologi sastra menemukan bahwa ritme puisi dapat menyelaraskan gelombang otak manusia menuju kondisi Alpha, kondisi yang sama saat seseorang bermeditasi dalam. Sutardji Calzoum Bachri dengan kredo puisinya yang ingin mengembalikan kata pada mantra adalah contoh nyata dari liturgi ini:
“O / Amuk / Kapak…”
Sutardji tidak sedang bercerita; ia sedang melepaskan beban makna dari kata untuk mengejar esensi bunyi. Secara psikologis, ini adalah proses pembebasan jiwa dari penjara logika yang sering kali menyesakkan. Puisi menjadi obat penenang alami bagi jiwa yang cemas di era disrupsi.
Ekologi Kosmis: Menyatu dengan Debu Bintang
Mari kita tarik narasi ini ke arah ekologi yang lebih luas—ekologi kosmis. Kita bukan hanya penduduk bumi, kita adalah warga alam semesta. Secara ekologis, tubuh kita mengandung unsur-unsur yang ditempa di dalam jantung bintang-bintang yang meledak miliaran tahun lalu.
Penyair dari Barat, Walt Whitman, merayakan keterhubungan ini dalam Song of Myself:
“Setiap atom yang menjadi milikku, juga menjadi milikmu.”
Liturgi puitis dalam konteks ini adalah pengakuan atas inter-being –antarkehadiran. Kita tidak bisa melukai alam tanpa melukai diri sendiri. Puisi mengajarkan kita untuk memperlakukan pohon, batu, dan binatang bukan sebagai “itu” (it), melainkan sebagai “engkau” (thou). Inilah puncak dari etika ekologis: sebuah percakapan cinta antara manusia dan ciptaan lainnya.
Penutup yang Abadi: Kata yang Menjadi Daging
Esai ini mungkin belum cukup untuk merangkum misteri ini, karena berpuisi sebagai liturgi adalah perjalanan tanpa akhir. Ia adalah upaya manusia untuk menjadi abadi di tengah kefanaan.Sebagai penutup dari simfoni narasi ini, mari kita merenungkan kata-kata dari Goethe:
“Siapa yang ingin memahami penyair, harus pergi ke negeri penyair itu berasal.”
Dan “negeri” itu bukanlah sebuah titik di peta, melainkan sebuah kondisi batin di mana spiritualitas, filsafat, antropologi, ekologi, dan psikologi berpelukan dalam satu bait yang tulus. Berpuisi adalah cara kita berkata kepada dunia: “Aku ada, aku merasa, dan aku mencintai.”
Jadikanlah hidupmu sendiri sebagai puisi yang paling indah. Sebab, pada akhirnya, liturgi yang paling sejati bukan tertulis di atas kertas, melainkan terukir dalam setiap tindakan kebaikan yang dipandu oleh keindahan.
Itu saja!
—–
*Gus Nas Jogja, Budayawan.





