Beni Satria di Tengah Manusia Algoritma

 Oleh Mahwi Air Tawar*

Ada masa ketika seorang penyair memilih diam. Bukan karena kehabisan kata, melainkan karena kata-kata belum menemukan ruang yang tepat untuk pulang. Dalam rentang waktu yang cukup panjang (2015-2023), Beni Satria berada pada fase itu: menulis, tetapi tidak tergesa mempublikasikan; membaca zaman, tetapi belum sepenuhnya ingin bicara. Diamnya bukan kevakuman, melainkan semacam pengendapan—seperti tanah yang menunggu hujan agar benih tahu kapan harus tumbuh. Karena itu, kemunculannya kembali dalam lanskap sastra mutakhir bukanlah peristiwa yang tiba-tiba. Ia lebih menyerupai nyala yang lama disimpan, lalu menemukan sumbu. Tahun 2023 menjadi titik penting.

Di Adakopi, sebuah ruang kecil yang perlahan menjelma simpul kultural, Beni Satria kerap hadir dan terlibat dalam Semaan Puisi. Bukan sekadar membaca, melainkan mendengar. Bukan hanya menyampaikan, tetapi menyimak kegelisahan bersama. Dari pengakuannya, forum semacam itu mengembalikan satu hal yang lama nyaris padam: keberanian untuk menulis dan mempublikasikan kembali. Puisi tak lagi terasa sebagai monolog yang terkurung, melainkan dialog yang menunggu disahut.

Tahun 2024 kemudian mencatat lonjakan produktivitas yang signifikan. Puisi-puisi Beni hadir di berbagai media arus utama—Kompas, Tempo, Jawa Pos, dan sejumlah media daring lain. Kehadiran itu bukan sekadar soal frekuensi, melainkan penanda bahwa suara yang ia bawa menemukan relevansinya dengan kegelisahan zaman. Yang menarik, puisi-puisi tersebut tidak tampil sebagai sensasi, tetapi sebagai catatan sunyi yang konsisten: tentang kota, tubuh, cinta, ibu, sakit, dan kehilangan. Namun Beni Satria tidak berdiri semata sebagai penyair. Di Tangerang Selatan, ia dikenal aktif membidangi berbagai kegiatan literasi dan kesenian. Perannya tidak berhenti pada produksi teks, tetapi juga pada penciptaan ruang: ruang bertemu, ruang membaca, ruang berbagi kegelisahan. Ini penting dicatat, sebab Manusia Algoritma lahir bukan dari menara sunyi, melainkan dari pergaulan yang intens dengan realitas sosial dan kebudayaan urban. Buku ini tidak lahir dari jarak, melainkan dari keterlibatan.

Judul buku Manusia Algoritma (2025)  segera memberi isyarat bahwa manusia sedang berhadapan dengan sesuatu yang lebih besar dari dirinya. Algoritma, dalam buku ini, bukan sekadar istilah teknologis, melainkan cara baru dunia bekerja—cara memilih, menyingkirkan, mempercepat, dan melupakan. Ia hadir sebagai sistem yang tidak berwajah, tetapi sangat menentukan: apa yang terlihat, siapa yang diingat, dan relasi mana yang layak dilanjutkan.Puisi-puisi dalam Manusia Algoritma memperlihatkan manusia yang perlahan kehilangan kendali atas hidupnya sendiri. Identitas direduksi menjadi data, relasi menjadi status, cinta menjadi rekomendasi, dan doa menjadi suara yang tak selalu terbaca. Namun Beni tidak menghadapinya dengan bahasa futuristik yang gemerlap. Ia justru memilih detail sehari-hari: jalan, gang, rumah sakit, aspal, ibu, telepon umum. Algoritma tidak ditulis sebagai konsep, melainkan sebagai pengalaman hidup.

Puisi “Telepon Umum yang Lupa Berdering” (hal: 50) menjadi salah satu simpul penting dalam buku ini. Telepon umum—teknologi yang ditinggalkan—menjelma metafora manusia yang masih ingin menjangkau dengan cara lama: menunggu, berharap, dan percaya bahwa di ujung sana ada suara manusia. Namun yang menjawab justru mesin, dengan kalimat yang dingin dan administratif. Cinta, dalam dunia ini, tidak lagi diputuskan melalui percakapan, melainkan oleh sistem. Tidak ada konflik terbuka, tidak ada pertengkaran, hanya notifikasi. Kota dalam puisi-puisi Beni menjelma labirin: penuh petunjuk arah, tetapi kehilangan alamat batin. Gang, etalase, spanduk, aspal—semuanya menjadi saksi bagaimana kenangan tercecer di ruang publik yang tak menyediakan waktu untuk berduka. Ini bukan sekadar puisi urban, melainkan catatan tentang manusia yang hidup di dalam mesin besar bernama kota. Sesungguhnya, kegelisahan semacam ini memiliki silsilah panjang dalam puisi Indonesia modern.

Afrizal Malna, sejak dekade 1990-an, telah lebih dulu mencatat kota sebagai tubuh raksasa yang memakan manusia. Dalam puisinya, benda-benda tampil agresif, saling bertubrukan, mengaburkan manusia hingga nyaris lenyap. Kota pada Afrizal adalah ledakan: visual, bahasa, dan makna yang tercerai. Jika Afrizal Malna menulis kota sebagai ledakan benda, maka Beni Satria menulis kota sebagai sistem yang diam-diam bekerja. Pada Afrizal, modernitas hadir sebagai kekacauan; pada Beni, ia hadir sebagai ketertiban yang dingin. Dua pendekatan ini berbeda, tetapi berasal dari luka yang sama: manusia yang kehilangan pusat. Afrizal mencatat keterkejutan menghadapi modernitas; Beni mencatat keletihan hidup di dalamnya. Setelah Afrizal, penyair yang juga menyoroti tema tentang “manusia modern” dalam puisi-puisinya di antaranya Joko Pinurbo. Lewat puisinya, Telepon Genggam (2023), Joko Pinurbo, membuka lapisan lain. Joko memilih kesederhanaan, humor pahit, dan benda domestik untuk membicarakan keterasingan manusia modern. Di tangannya, doa bisa jenaka, tubuh bisa kikuk, dan kesedihan tampil tanpa teriak.

Jika pada Joko ruang domestik masih menyimpan keintiman, maka dalam puisi-puisi Beni, ruang itu mulai tergerus. Relasi berpindah ke layar, jalan, dan sistem. Doa tidak lagi yakin, melainkan ragu-ragu, melayang di antara sinyal. Beni Satria berdiri di antara dua kutub itu. Ia tidak sefragmentaris Afrizal, tidak sehumoris Joko. Puisinya lirih, naratif, dan langsung menyentuh pengalaman generasi yang hidup di bawah algoritma. Jika pada generasi sebelumnya benda masih bisa diajak bercakap, maka pada Beni, yang berkuasa adalah sistem—dan sistem tidak mengenal empati. Jika kritik Robert Bly dalam bukunya A Wrong Turning in American Poetry (1963) diarahkan pada puisi modern yang kehilangan “ruang batin” karena terlalu terpikat pada dunia luar—benda, teknik, ironi, dan kecerdikan formal—maka puisi-puisi Beni Satria justru bergerak dari kesadaran akan kehilangan itu sendiri. Puisi Beni tidak merayakan dunia material, tidak pula terjebak dalam fetisisme benda atau kecanggihan sistem. Kota, algoritma, telepon umum, layar, dan sistem administratif hadir bukan sebagai pusat perhatian, melainkan sebagai penanda retaknya hubungan manusia dengan kedalaman batinnya. Jika puisi yang dikritik Bly berhenti di permukaan dunia, puisi Beni justru memperlihatkan betapa permukaan itu telah menjadi satu-satunya ruang yang tersisa—sementara jalan menuju kedalaman semakin runtuh, kabur, dan tak lagi memiliki bahasa ritual yang mapan.

Dengan demikian, puisi Beni Satria tidak berada pada posisi “salah arah” sebagaimana yang dikhawatirkan Bly, melainkan berada “setelah” kesalahan arah itu menjadi kondisi kolektif. Inwardness dalam Manusia Algoritma tidak lenyap, tetapi terluka dan ragu-ragu; spiritualitas tidak dihadirkan sebagai pengalaman puncak, melainkan sebagai sesuatu yang terus dicari namun jarang ditemukan. Doa-doa dalam puisi Beni tidak meledak sebagai wahyu, melainkan melayang di antara sinyal dan sistem—sering kali tak sampai, sering kali tak terjawab. Dalam konteks ini, puisi Beni bukanlah puisi yang gagal menyelam ke batin, melainkan puisi yang jujur mencatat betapa sulitnya menyelam di dunia yang telah dikeringkan oleh algoritma. Ia tidak menawarkan pemulihan spiritual seperti yang diidealkan Bly, tetapi menyuguhkan kesaksian sunyi tentang manusia modern yang sadar telah kehilangan pintu menuju kedalaman—dan tetap menulis dari kehilangan itu.Satu nada penting yang berulang dalam Manusia Algoritma adalah rasa terlambat.

Manusia selalu datang setelah segalanya diputuskan. Setelah hubungan berakhir. Setelah pembangunan berjalan. Setelah sistem menentukan. Keterlambatan ini melahirkan melankolia khas manusia modern: bukan tragedi besar, melainkan kelelahan yang sunyi dan berulang. Namun buku ini tidak sepenuhnya pesimistis. Di antara puisi-puisi itu masih tersisa upaya mencintai, mengingat, dan berdoa—meski sadar dunia tidak menyediakan ruang yang layak bagi ketiganya. Dalam konteks inilah, proses kreatif Beni Satria menemukan korelasinya dengan dunia sosial dan algoritmik yang ia tulis. Puisinya lahir dari keterlibatan: dari perjumpaan di ruang-ruang kecil, dari mendengar suara orang lain, dari menyaksikan kota bekerja tanpa henti.Algoritma, sosial, dan manusia modern dalam buku ini tidak berdiri terpisah. Algoritma bekerja melalui sistem sosial; sistem sosial membentuk kota; kota membentuk pengalaman manusia. Dan di tengah pusaran itulah Beni menulis—bukan sebagai pengamat yang netral, tetapi sebagai manusia yang ikut terseret, terluka, dan masih mencoba mencatat.

Manusia Algoritma pada akhirnya adalah buku kesaksian. Ia tidak menawarkan solusi, tidak pula perlawanan heroik. Ia hanya memastikan bahwa di tengah grafik, data, dan rekomendasi, masih ada manusia yang sempat berkata: aku pernah mencintai, menunggu, dan kehilangan. Dalam dunia yang semakin tidak membutuhkan manusia, puisi-puisi ini memilih untuk tetap menunggu—seperti telepon umum yang lupa berdering, tetapi belum sepenuhnya menyerah.Dan mungkin, di situlah peran puisi hari ini: bukan untuk mengalahkan algoritma, melainkan untuk menjaga agar manusia tidak sepenuhnya hilang dari ceritanya sendiri.

Paspampres, Kelapa Dua, Depok, 2026

—-

*Mahwi Air Tawar, Sastrawan.