Merandai Jejak Identitas Sinema Indonesia Melalui Lensa Lokalitas
Oleh Bambang Supriadi*
Diskursus mengenai identitas sinema sering kali merujuk pada karakteristik yang mapan dan diakui secara global. Sinema India, misalnya, identik dengan formula “Masala” istilah sinema India untuk film yang mencampur berbagai genre, yaitu drama, komedi, aksi, romansa, dan musik. Sinema Jepang kerap diasosiasikan dengan estetika meditatif, presisi visual seperti camera angle Tatami, juga ketegangan antara tradisi dan modernitas. Sementara itu, Hollywood mendominasi melalui konvensi naratif klasik tiga babak dan standar industri yang masif. Namun, ketika pertanyaan serupa diajukan pada sinema Indonesia : “Di mana letak konvensi dan identitasnya?”. Jawaban yang muncul sering kali terfragmentasi atau terjebak pada generalisasi dangkal, seperti sekadar penggunaan bahasa nasional atau tema sosial-politik yang berulang.
Esai ini mengajukan tesis bahwa identitas sinema Indonesia bukanlah sebuah entitas tunggal yang statis. Sebaliknya, ia merupakan sebuah mosaik dinamis dan spektrum hibrida yang terus berevolusi seiring dengan dinamika perkembangan zaman. Di balik dinamika tersebut, terdapat satu benang merah permanen yang tetap menempel: lokalitas.
Pengamatan yang akan dilakuankan melalui analisis terhadap tiga karya penting yang melintasi era: Harimau Tjampa (1953, D. Djajakusuma), Tale of the Land (2024, Loeloe Hendra), dan puncaknya, Samsara (2024, Garin Nugroho), pemenang Film Terbaik dan Sutradara Terbaik di FFI 2024. Melalui lensa lokalitas, kita akan menelisik bagaimana tanda-tanda permanen ini merepresentasikan diri dalam berbagai konvensi visual dan naratif, bernegosiasi dengan perkembangan zaman, dan pada akhirnya, merumuskan jejak-jejak identitas sinema Indonesia yang majemuk.
Penelusuran dimulai dengan Harimau Tjampa (1953). Film ini hadir di era pasca-kemerdekaan, ketika negeri ini sedang sibuk mengisi arti kemerdekaan. Pada saat dinamika perfilman nasional sedang bersemangat mencari bentuk dan jati diri yang otentik. Djajakusuma, melalui film ini, menggunakan lokalitas berupa budaya Minangkabau, tradisi silek (pencak silat), sistem adat, musik, dan dialek. Elemen-elemen budaya yang diangkat secara sadar bukan hanya sebagai ornamen, melainkan sebagai elemen fundamental untuk membangun karakter, konflik moral, dan estetika nasional. Kekuatan film ini terletak pada kemampuannya menyuguhkan kearifan lokal yang kental, termasuk di dalamnya pepatah-petitih seperti “alam takambang jadi guru” yang mencerminkan pandangan dunia masyarakatnya.
Tanda lokalitas menempel kuat sebagai representasi bangga dari keberagaman budaya Indonesia yang baru lahir, sekaligus sebuah perlawanan simbolis terhadap narasi kolonial. Identitas yang ditawarkan adalah sinema yang berakar kuat dan berbicara dari dalam realitas budayanya sendiri. Konvensi visual yang muncul di sini adalah estetika penegasan identitas nasional melalui lokalitas.

Poster film Harimau Tjampa (1953), IMDb.
Dinamika ini berevolusi dan dinegosiasikan secara kritis di era kontemporer, sebagaimana direpresentasikan oleh Tale of the Land (2024). Berbeda dengan Harimau Tjampa yang merayakan keutuhan tradisi, film ini menghadirkan lokalitas Kalimantan (Dayak) bukan sebagai entitas budaya yang statis atau ‘eksotis’, melainkan sebagai sebuah ‘ruang yang terluka’. Loeloe Hendra, sang sutradara, secara sadar menggunakan peristiwa, tanah sebagai karakter utama yang berbicara melalui keheningannya. Melalui pendekatan meditatif dan visual yang minimalis, film ini menyingkap jejak-jejak duka kolektif, hilangnya hubungan harmonis manusia-alam, dan krisis identitas yang dialami masyarakat Dayak akibat eksploitasi alam dan modernitas agresif yang terus mendesak.

Poster film Tale of Land – IMDb.
Lebih jauh, lokalitas dalam Tale of the Land bertransformasi menjadi ruang perlawanan, kesaksian, dan duka. Konvensi visualnya menolak penggunaan narasi dramatis yang berlebihan, lebih memilih narasi meditatif yang memberikan ruang bagi penonton untuk merenung dan merasakan kedalaman trauma yang dialami oleh karakter-karakternya. Tanda lokalitas menempel kuat dalam representasi duka tersebut, tidak hanya melalui dialek atau pepatah, tetapi melalui kehadiranlanskap yang terluka dan keheningan yang menyelimuti. Identitas film Indonesia kontemporer yang ditawarkan di sini adalah sinema yang kritis, reflektif, dan berani bersaksi atas krisis identitas modern melalui lensa lokalitas yang semakin marjinal.
Puncak dari diskursus ini dapat kita temukan dalam Samsara (2024) karya Garin Nugroho, yang baru saja dinobatkan sebagai Film Terbaik FFI 2024. Film ini merepresentasikan hibridasi radikal yang menciptakan konvensi sinema baru yang sangat kuat. Sebagai film bisu hitam-putih, Samsara mengadaptasi konvensi sinema Barat awal namun mengisinya sepenuhnya dengan substansi budaya Timur (Bali), termasuk pertunjukan gamelan orkestra live. Tanda lokalitas menempel dalam bentuk hibridasi estetika: bahasa sinema universal (film bisu) bertransformasi menjadi bentuk ekspresi hibrid lintas disiplin seni. Identitas yang ditawarkan adalah sinema yang adaptif, mampu berbicara dalam bahasa universal namun tetap berakar pada kearifan lokal. Konvensi visual di sini ditandai oleh hibridasi budaya yang ekstrem dan adaptasi tema universal ke dalam kearifan lokal.

Poster film Samsara – IMDb
Melalui perbandingan ketiga film ini, terlihat bahwa identitas sinema Indonesia bukanlah sebuah entitas tunggal yang statis, melainkan sebuah mosaik dinamis. Ia terus berubah, berevolusi, dan dinegosiasikan seiring dengan dinamika zaman. Namun, mosaik ini hanya bisa terbentuk karena adanya potongan-potongan kaca yang permanen dan otentik.
Tanda lokalitas (melalui budaya, tradisi, lanskap, nilai-nilai moral, dan representasi ruang) adalah elemen fundamental yang selalu menempel kuat, meskipun bentuk penampilannya berubah-ubah sesuai era. Identitas film Indonesia justru terletak pada kemampuan para sineas kita untuk menggunakan tanda lokalitas ini dalam berbagai konvensi visual dan naratif yang relevan dengan eranya: mulai dari ikrar identitas nasional (Harimau Tjampa), refleksi krisis kontemporer (Tale of the Land), hingga puncak hibridasi estetika (Samsara).
Menjawab pertanyaan “Apa itu film Indonesia?” sekaligus “Di mana letak konvensi dan identitasnya?” bukanlah perkara menemukan satu definisi tunggal yang kaku. Justru, jawabannya muncul dari kesadaran akan keberagaman yang tak terhingga, dan hibriditas yang terus membentuk wajah sinema kita. Identitas film Indonesia hadir seperti mosaik, yaitu potongan-potongan lokalitas yang hidup, yang terus dinegosiasikan, direpresentasikan, bahkan ditantang oleh berbagai konvensi visual dan naratif yang terus bergeser seiring waktu.
Dalam mozaik itu, karya-karya seperti Harimau Tjampa, Tale of the Land, dan Samsara menegaskan spektrum identitas yang luas, menunjukkan bahwa sinema Indonesia bukan satu wujud tetap, melainkan tarian dinamis antara tradisi, inovasi, dan interpretasi.
***
*Bambang Supriadi, Indonesian Cinematographers Society (ICS).





