Membaca Puisi-Puisi Umi Kulsum Binti Jaenudin: Kesunyian Spiritual Gen Z dan Estetika “Keindahan yang Tidak Berisik”

oleh: Abdul Wachid B.S.*

Puisi-puisi generasi muda hari ini banyak lahir dalam arus yang serba cepat. Media sosial membuat puisi sering hadir seperti kilatan singkat: menarik perhatian sesaat, mudah dikutip, lalu segera tenggelam dalam guliran berikutnya. Larik dipendekkan agar mudah dibagikan. Diksi dipilih bukan selalu demi kedalaman makna, melainkan demi efek cepat pada pembaca. Dalam situasi semacam itu, puisi kerap kehilangan ruang renungnya; ia tidak lagi menjadi tempat tinggal batin, melainkan sekadar lintasan yang segera lewat.

Di tengah kecenderungan tersebut, puisi-puisi Umi Kulsum Binti Jaenudin justru bergerak ke arah yang lebih sunyi. Ia tidak membangun puisi melalui ledakan metafora atau permainan bahasa yang ingin segera memikat pembaca. Puisinya tumbuh perlahan dari benda-benda kecil dan pengalaman sehari-hari: kopi, meja rumah, malam, tikar, suara perempuan, percakapan yang tertinggal, serta kesunyian manusia yang sering luput diperhatikan.

Karena itu, membaca puisi-puisi Umi bukan terutama membaca “keindahan bahasa” dalam pengertian yang dekoratif, melainkan membaca cara seorang penyair muda memandang kehidupan dari kedalaman batin yang tenang. Di dalam puisinya ada pencarian spiritual, tetapi tidak berubah menjadi khotbah. Ada luka sosial, tetapi tidak tampil sebagai slogan. Ada kegelisahan eksistensial, tetapi disampaikan melalui suara yang lirih dan intim.

Umi Kulsum Binti Jaenudin berasal dari Garut, Jawa Barat (lahir 13 Juni 2001), dan aktif dalam komunitas literasi muda di lingkungan akademik. Ia terlibat dalam kegiatan kepenulisan di Sekolah Kepenulisan Sastra Peradaban (SKSP) UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Sejumlah puisinya telah dipublikasikan di media sastra, di antaranya “Puisi-puisi tentang Rumah” di Gol A Gong Kreatif, serta “Sungai Ketenangan” yang diterjemahkan ke dalam bahasa Korea oleh Profesor Kim Young Soo, Ph.D., dan dimuat bersama karya beberapa penulis Indonesia dalam majalah sastra Korea.

Sebagai penyair muda, Umi memperlihatkan kecenderungan estetik yang menarik. Ia tidak menjadikan puisi sebagai arena kemewahan metafora, melainkan sebagai ruang refleksi batin. Puisinya bergerak dari pengalaman domestik, kesunyian malam, kegelisahan ruhani, dan fragmen kecil kehidupan sehari-hari. Dari sana perlahan terbentuk karakter perpuisian yang khas: lirih, reflektif, spiritual, dan intim.

Esai ini berusaha membaca kecenderungan estetik dan spiritual dalam puisi-puisi Umi Kulsum Binti Jaenudin (https://borobudurwriters.id/sajak-sajak/puisi-puisi-umi-kulsum-binti-jaenudin/) : apa yang paling khas dari perpuisian tersebut, bagaimana ia bergerak di tengah budaya digital Gen Z yang serba cepat dan visual, serta di mana posisinya dapat ditempatkan dalam perkembangan perpuisian Indonesia kontemporer.

 

1. Puisi yang Tidak Tergesa Menjadi Viral

Di tengah arus perpuisian media sosial hari ini, yang cenderung pendek, cepat, mudah dikutip, dan segera habis dibaca dalam sekali gulir, puisi-puisi Umi Kulsum Binti Jaenudin justru bergerak ke arah yang sebaliknya. Ia tidak membangun puisi sebagai ledakan kata-kata yang mengejutkan pembaca sesaat, melainkan sebagai ruang tinggal bagi batin yang sedang mencari makna.

Ada kelambatan yang sengaja dipelihara dalam puisinya. Ada kesunyian yang tidak ingin buru-buru selesai. Dalam konteks generasi Gen Z yang hidup di tengah banjir visual dan kebisingan digital, perpuisian seperti ini terasa berbeda. Puisinya tidak “berisik”, tetapi justru karena itulah ia memiliki gema.

Hal itu terlihat sejak serial “Hakikat Keindahan I–V”. Umi seperti sedang membongkar persepsi umum tentang keindahan. Ia tidak lagi meletakkan keindahan pada objek-objek estetik yang lazim dipuja puisi romantik, senja, rembulan, hujan, atau bunga, melainkan pada pengalaman manusia yang rapuh dan sederhana.

Dalam “Hakikat Keindahan I”, ia menulis:
“Namun, sesungguhnya,
Keindahan kadang bersembunyi
Di rintih perempuan lapar
Yang tak bernama,”

Larik ini penting karena memperlihatkan perubahan orientasi estetik. Keindahan tidak lagi berada pada benda yang memesona mata, melainkan pada kemampuan manusia merasakan penderitaan orang lain.

Di sini Umi sebenarnya sedang mendekati gagasan Emmanuel Levinas dalam Totality and Infinity (1961), bahwa perjumpaan dengan “wajah orang lain”, terutama yang menderita, melahirkan tanggung jawab etis manusia. Maka puisi tidak hanya menjadi pengalaman bahasa, tetapi juga pengalaman nurani.

Hal serupa tampak dalam “Hakikat Keindahan II”:
“Namun, keindahan sesungguhnya
Adalah suara yang menyelinap
Di antara sunyi,
Berbisik lirih
Mengantar doa
Pada rerumput kecil
Yang tumbuh diam-diam
Di sela mawar yang mekar”

Di sini, keindahan tidak berada pada “mawar” sebagai simbol estetika klasik, melainkan pada “rerumput kecil” yang tumbuh diam-diam. Ada keberpihakan kepada yang kecil, yang tersembunyi, yang nyaris tidak diperhatikan dunia. Perspektif semacam ini memperlihatkan bahwa puisi-puisi Umi tidak dibangun dari kemewahan simbolik, melainkan dari empati.

Dalam “Hakikat Keindahan V”, ia kembali menulis:
“Ia kerap tumbuh
Di tikar sederhana
Ketika cerita ditukar,
Ketika hati duduk setara,”

Keindahan dalam puisi ini lahir dari kesederhanaan dan kesetaraan. Tikar, meja kecil, percakapan, dan ruang domestik menjadi pusat pengalaman puitik.

Karena itu, perpuisian Umi dapat disebut sebagai: lirisisme spiritual domestik, yakni puisi yang lahir dari benda-benda kecil kehidupan sehari-hari, tetapi memantulkan kegelisahan ruhani manusia modern.

2. Spiritualitas yang Tidak Menggurui

Kecenderungan religius dalam puisi-puisi Umi sebenarnya cukup kuat. Namun religiositas itu tidak tampil sebagai dakwah normatif atau slogan moral. Ia hadir sebagai pengalaman batin yang lirih.

Dalam puisi “Aku Ingin Mati”, Umi menulis:
“Aku ingin mati
saat air terjun keikhlasan
telah memenuhi muara hati.”

Kematian di sini tidak diposisikan sebagai ketakutan, melainkan sebagai keadaan ketika hati telah selesai berdamai dengan hidup.

Larik berikutnya bahkan lebih memperlihatkan kecenderungan sufistik itu:
“Aku ingin mati
saat kematian bukan lagi perpisahan,
melainkan kasih sayang
yang datang sebagai kehidupan.”

Pandangan seperti ini mengingatkan pada tradisi sufisme Islam yang melihat kematian bukan sebagai akhir, tetapi sebagai jalan pulang ruhani. Dalam Ihya’ Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa inti spiritualitas bukan pertama-tama terletak pada ritual lahiriah, melainkan kejernihan hati dalam menerima kehendak Tuhan.

Hal yang menarik: Umi tidak menulis Tuhan secara “keras”. Tuhan hadir dalam kesunyian pengalaman manusia.

Dalam “Aku Ingin Hidup”, ia menulis:
“aku ingin hidup
seperti teduh pohon beringin
akar-akar mencengkeram kehidupan
menata tanah
yang luput dari pandang mata”

Simbol beringin di sini bekerja dengan halus. Ia tidak menjadi lambang yang dipaksakan. Ia tumbuh dari pengalaman manusia sehari-hari. Justru kesederhanaan seperti inilah yang membuat puisinya terasa jujur.

Kecenderungan spiritual yang sunyi ini juga tampak dalam “Hakikat Keindahan IV”:

“Ia akan menumbuhkan,
Membangunkan ruh yang tertidur
Dalam panjang perantauan hidup”

Kata “perantauan hidup” di sini menarik. Hidup dipersepsi sebagai perjalanan ruhani yang panjang. Ini bukan bahasa religius formal, tetapi bahasa pengalaman batin.

 

3. Ruang Domestik sebagai Ruang Batin

Salah satu kekuatan terbesar puisi-puisi Umi adalah kemampuannya menjadikan ruang domestik sebagai ruang spiritual.

Kopi, tikar, meja makan, malam, suara perempuan, dan percakapan kecil tidak hadir sekadar sebagai dekorasi puisi, melainkan sebagai jalan untuk membaca kesunyian manusia.

Dalam “Secangkir Kopi”, misalnya, ia menulis:
“Kopi ini tahu,
ada malam-malam
yang tidak diciptakan untuk tidur,”

Larik ini sederhana, tetapi efektif. Kopi diberi kesadaran emosional. Benda mati berubah menjadi saksi batin manusia.

Bagian berikutnya bahkan lebih kuat:
“Tanpa gula,
malam ini mengalir ke dalam kepala,
membawa aroma percakapan
yang tak selesai.”

Malam dalam puisi ini bukan latar, melainkan ruang psikis manusia. Ada sesuatu yang belum selesai di dalam kepala dan hati.

Begitu pula dalam “Kopi dan Teh Rumah Desa”, ruang rumah kecil berubah menjadi alegori relasi manusia:

“Dari pagi mengetuk siang
Siang memeluk malam
Hanya ada kopi dan teh di sajikan
Mereka saling mencium rasa
Manis pahit beradu
Menjadi satu”

Puisi ini menarik karena benda-benda domestik diperlakukan seperti tokoh-tokoh hidup. Kopi, teh, dan air putih menjadi simbol hubungan manusia yang diam-diam menyimpan tegangan emosional.

Bagian lain dalam puisi itu bahkan memperlihatkan kecanggungan emosional yang sangat manusiawi:

“Gelas air putih ingin memancarkan warna kopi dan teh
Namun ia tak kuasa
Berbicara soal warna”

Gelas air putih menjadi simbol seseorang yang hadir, tetapi tak mampu masuk sepenuhnya ke dalam relasi yang sedang berlangsung. Simbol seperti ini cukup matang secara emosional.

Dalam banyak puisinya, Umi tampak lebih percaya pada benda kecil dibanding retorika besar. Dan justru di situlah kekuatan puisinya.

 

4. Luka Sosial yang Ditulis dengan Lirih

Puisi sosial sering jatuh menjadi slogan. Namun Umi cenderung memilih jalan yang lebih sunyi. Ia tidak berteriak. Ia membangun tragedi melalui detail kecil.

Dalam puisi “Untuk Bumi yang Tak Pernah Benar-Benar Tidur”, ia menulis:

“Seekor orang utan
menyeberangi retakan waktu,
menyimpan doa di dahan
yang kian sirna.”

Larik ini berhasil karena kerusakan ekologis tidak dijelaskan secara verbalistik. Orang utan dijadikan pusat emosi puisi. Alam menjadi tubuh yang terluka.

Bagian lain juga sangat kuat:
“Ikan-ikan itu
terbaring
di keranjang kota,
membisu
menanggung kabar
yang tak pernah sampai
ke telinga dunia.”

Di sini Umi mulai memperlihatkan potensi simboliknya. Ia mampu membuat benda atau makhluk kecil menjadi representasi tragedi yang lebih besar.

Puisi “Wajah pada Cermin Retak” juga memperlihatkan kemampuan membaca luka psikologis secara simbolik:

“Retaklah kaca yang kupandangi,
dan dari wajahmu
muncul banyak wajah”

Cermin retak di sini bukan sekadar benda, tetapi simbol runtuhnya kepercayaan terhadap seseorang. Dan menariknya, Umi tidak menjelaskan secara panjang lebar. Ia membiarkan citra itu bekerja sendiri.

 

4. Kesunyian sebagai Cara Membaca Dunia

Yang sangat khas dari puisi-puisi Umi sebenarnya bukan metaforanya, melainkan cara ia membaca dunia melalui kesunyian. Dalam “Malam Tanya”, ia menulis:

“Kisah itu
kini berdebu di rak waktu,
terdesak oleh kisah-kisah baru
yang tak mengenalnya lagi.”

Ada kesadaran tentang kefanaan ingatan manusia. Lalu:
“Mungkin malam itu
akan datang kembali,
saat kota mulai kehilangan suara,”

Kota kehilangan suara menjadi simbol manusia modern yang kehilangan kedalaman batin di tengah kebisingan hidup.

Demikian pula dalam “Wajah Dalang”:
“tubuh ini
sekadar wayang
yang kehilangan arah pulang.”

Tubuh manusia diposisikan sebagai wayang yang tercerabut dari pusat maknanya sendiri. Ini sudah masuk wilayah eksistensial.

 

5. Membaca “Secangkir Kopi”: Kesunyian yang Menetap di Dalam Kepala

Untuk memahami lebih dekat kecenderungan perpuisian Umi Kulsum Binti Jaenudin, menarik jika satu puisinya dibaca secara utuh. Sebab sering kali karakter estetik seorang penyair justru tampak paling jelas bukan melalui simpulan umum, melainkan melalui cara sebuah puisi kecil bekerja dari dalam dirinya sendiri.

Puisi “Secangkir Kopi” dapat menjadi contoh yang representatif.
SECANGKIR KOPI

Secangkir kopi
menyisakan wajahmu di permukaannya
antara pahit dan manis
yang tak pernah seimbang.

Tanpa gula,
malam ini mengalir ke dalam kepala,
membawa aroma percakapan
yang tak selesai.

Kopi ini tahu,
ada malam-malam
yang tidak diciptakan untuk tidur,
melainkan untuk terjaga
menemani tanya
yang belum menemukan jawabnya.

Purwokerto, Oktober 2025

Puisi ini tampak sederhana. Tidak ada metafora yang rumit. Tidak ada permainan simbolisme yang terlalu gelap. Bahkan objek yang dipilih sangat biasa: secangkir kopi, malam, percakapan, rasa pahit, rasa manis. Namun justru di dalam kesederhanaan itulah karakter perpuisian Umi bekerja.

Larik pembuka: “Secangkir kopi/ menyisakan wajahmu di permukaannya” langsung memindahkan kopi dari benda konsumsi menjadi ruang ingatan.

Permukaan kopi bukan lagi cairan minuman, melainkan layar memori. Ada seseorang yang masih tertinggal di sana. Kata “menyisakan” penting diperhatikan. Penyair tidak menulis memantulkan atau menampilkan. Ia memilih menyisakan. Pilihan diksi ini menghadirkan nuansa kehilangan. Wajah itu bukan sesuatu yang hadir utuh, melainkan residu emosional yang belum larut.

Kemudian puisi bergerak ke larik:

“antara pahit dan manis

yang tak pernah seimbang.”

Kopi di sini mulai bekerja sebagai alegori relasi manusia. Pahit dan manis bukan lagi persoalan rasa minuman, melainkan keadaan batin. Menariknya, penyair tidak memilih oposisi yang selesai. Ia tidak menulis “pahit berubah manis” atau “manis mengalahkan pahit”. Yang hadir justru ketidakseimbangan.

Di konteks ini, puisi Umi mulai berbicara dekat dengan pengalaman emosional generasi digital hari ini: relasi yang ambigu, percakapan yang menggantung, kedekatan yang tidak pernah benar-benar menemukan bentuknya. Bagian kedua puisi memperkuat suasana itu:

“Tanpa gula,

malam ini mengalir ke dalam kepala,”

Larik ini salah satu bagian yang paling kuat. “Tanpa gula” pada satu sisi memang masih berada dalam wilayah literal kopi. Tetapi secara simbolik, ia menggeser suasana puisi menjadi lebih telanjang. Tidak ada pemanis. Tidak ada pelunak rasa. Yang tersisa hanyalah pengalaman batin dalam keadaan apa adanya.

Menarik pula bahwa malam tidak digambarkan sebagai latar suasana romantik sebagaimana lazimnya puisi media sosial. Umi menulis:

“malam ini mengalir ke dalam kepala”

yang tak selesai.”

Percakapan yang tak selesai merupakan salah satu simbol paling manusiawi dalam puisi ini. Bukan pertengkaran besar. Bukan perpisahan dramatis. Hanya percakapan yang belum selesai. Namun justru hal-hal kecil semacam itulah yang sering menetap paling lama di dalam kepala manusia.

Ada sesuatu yang belum sempat diucapkan. Ada jawaban yang tertahan. Ada hubungan yang tidak memperoleh penutup.

Puisi ini tampaknya memahami bahwa luka manusia modern sering bukan berasal dari tragedi besar, melainkan dari ketidakselesaian. Puncak puisi berada pada bagian akhir:

“Kopi ini tahu,
ada malam-malam
yang tidak diciptakan untuk tidur,”

Di sini kopi mengalami personifikasi. Ia menjadi saksi batin manusia. Tetapi personifikasi ini tidak terasa artifisial karena tumbuh organik dari keseluruhan suasana puisi.

Larik berikutnya bahkan memperjelas arah eksistensial puisi:

“melainkan untuk terjaga
menemani tanya
yang belum menemukan jawabnya.”

Kata “terjaga” dalam puisi ini penting dibaca lebih jauh. Ia bukan sekadar tidak tidur secara biologis. Ia menunjuk keadaan eksistensial manusia ketika batin tidak dapat benar-benar beristirahat.

Ada pertanyaan yang belum selesai. Ada makna yang belum ditemukan. Ada kehidupan yang belum sepenuhnya dipahami.

Dalam konteks inilah “Secangkir Kopi” menjadi sangat relevan bagi pembacaan tentang kesunyian spiritual Gen Z.

Banyak generasi muda hari ini hidup di tengah konektivitas digital yang nyaris tanpa jeda, tetapi secara diam-diam memikul kelelahan batin, kegelisahan eksistensial, dan percakapan internal yang tidak selalu menemukan ruang artikulasinya.

Puisi Umi tidak membicarakan itu melalui jargon psikologi atau bahasa motivasi. Ia memilih jalan yang lebih puitik: secangkir kopi, malam, kepala, percakapan, dan tanya. Justru karena itulah puisinya terasa dekat.

Dalam kerangka ini, “Secangkir Kopi” memperlihatkan secara jelas salah satu kekhasan perpuisian Umi Kulsum Binti Jaenudin: kemampuannya mengubah benda-benda domestik sederhana menjadi ruang kontemplasi spiritual dan emosional. Kopi tidak lagi sekadar minuman. Ia menjadi medium untuk membaca kesepian, relasi, ingatan, dan pencarian makna manusia modern.

Dan mungkin, di tengah dunia yang terlalu cepat bergerak, puisi seperti ini mengingatkan kita bahwa ada malam-malam tertentu yang memang tidak datang untuk diselesaikan, melainkan untuk didiami.

 

6. Kekuatan dan Kelemahan Estetik

Meski memiliki potensi yang kuat, perpuisian Umi masih berada dalam tahap pencarian bentuk yang lebih matang.

Kelebihan utamanya:

* memiliki kejujuran emosional,
* memiliki kesadaran spiritual,
* kuat dalam ruang domestik,
* dan tidak terjebak pada permainan metafora kosong.
Namun ada beberapa hal yang masih perlu diperkuat.

a. Terlalu Menjelaskan Makna

Beberapa larik masih bergerak terlalu dekat dengan refleksi-esai:
“Namun, keindahan sesungguhnya…”
“melainkan…”
“yang menuntun setiap langkah”

Larik seperti ini membuat puisi terasa menjelaskan pesan secara langsung. Padahal Archibald MacLeish dalam Ars Poetica (1926) pernah menulis:

“A poem should not mean

But be

Puisi tidak harus menjelaskan makna. Ia cukup hadir sebagai pengalaman estetik. Karena itu, Umi sebenarnya lebih kuat ketika membiarkan simbol bekerja sendiri.

b.  Pola Struktur yang Berulang

Sebagian puisi Umi memiliki pola:

(1) pembukaan dengan objek indah,

(2) pembalikan makna,

(3) penemuan spiritual di akhir.

Pola ini efektif, tetapi jika terlalu sering digunakan, pembaca akan mudah menebak arah puisi. Karena itu, tantangan berikutnya bagi Umi adalah: memperkuat alegori, memperdalam simbol, dan membangun ketegangan puisi yang lebih tak terduga.

 

7. Umi Kulsum dan Generasi Gen Z

Banyak orang mengira Gen Z tidak suka membaca teks panjang. Sebenarnya bukan panjang teks yang menjadi masalah, melainkan apakah teks itu menghadirkan pengalaman emosional yang autentik atau tidak.

Puisi-puisi Umi memiliki potensi menjangkau generasi muda karena berbicara tentang: kesepian, kegelisahan batin, pencarian makna, kebutuhan untuk didengar, dan kelelahan spiritual manusia modern.

Tema-tema itu sangat dekat dengan pengalaman psikologis generasi digital hari ini. Namun agar lebih kuat menjangkau pembaca muda, puisinya perlu: dipadatkan citranya, dikurangi penjelasannya, dan diperkuat simbol visualnya.

Generasi hari ini lebih mudah tersentuh oleh puisi yang: visual, simbolik, dan menyisakan ruang tafsir.

8. Memposisikan Perpuisian Umi dalam Sastra Indonesia Kontemporer 

Dalam peta perpuisian Indonesia kontemporer, puisi-puisi Umi Kulsum Binti Jaenudin bergerak di wilayah yang tidak terlalu ramai digeluti generasi muda hari ini: spiritualitas reflektif yang lirih.

Banyak puisi media sosial generasi sekarang cenderung bergerak pada: romantisme personal, patah hati, keresahan identitas, atau permainan metafora pendek yang mudah dikutip.

Sementara puisi-puisi Umi justru bergerak ke arah kontemplasi batin dan pembacaan ruhani atas pengalaman sehari-hari.

Dalam hal tertentu, kecenderungan ini memiliki kedekatan dengan tradisi perpuisian religius-reflektif yang pernah berkembang dalam puisi Indonesia modern, terutama pada puisi-puisi Abdul Hadi W.M. dan Kuntowijoyo. Namun tentu kedekatan ini bukan berarti kesamaan bentuk estetik secara langsung.

Abdul Hadi W.M. bergerak kuat pada sufisme filosofis dan simbolisme metafisik. Sementara Kuntowijoyo menghadirkan religiositas profetik yang lebih sosial dan intelektual.

Adapun Umi bergerak dari ruang yang lebih kecil dan intim: meja makan, kopi, tikar, malam, percakapan, perempuan, dan benda-benda domestik. Karena itu, kekhasan perpuisian Umi bukan pada kompleksitas metafora besar, melainkan pada kemampuannya menghadirkan spiritualitas melalui fragmen kehidupan sehari-hari.

Jika terus berkembang, perpuisian Umi berpotensi menempati jalur yang dapat disebut sebagai: “puisi spiritual-domestik generasi digital”, yakni puisi yang lahir dari kesunyian manusia modern, tetapi tetap mencari jalan ruhani di tengah kebisingan zaman.

Dan justru karena dunia digital hari ini semakin gaduh, perpuisian seperti ini memiliki kemungkinan penting: menjadi ruang hening bagi generasi yang diam-diam sedang kelelahan secara batin.

 

9. Penutup: Kesunyian sebagai Jalan Puisi

Puisi-puisi Umi Kulsum Binti Jaenudin tidak lahir dari hasrat untuk mengejutkan pembaca. Ia lahir dari kesunyian yang dipelihara perlahan.

Puisinya tidak berteriak. Tidak gaduh. Tidak sibuk mengejar sensasi bahasa. Ia bergerak pelan melalui ruang-ruang kecil kehidupan: kopi, meja makan, malam, percakapan, perempuan, tubuh yang letih, dan doa-doa yang tidak selalu diucapkan dengan suara keras. Namun justru dari kelirihan itulah perpuisian Umi menemukan kekuatannya.

Di tengah kecenderungan perpuisian media sosial yang serba cepat dan segera habis dikonsumsi, puisi-puisi Umi hadir sebagai bentuk perlawanan yang sunyi. Ia tidak menawarkan kejutan bahasa yang meledak-ledak, melainkan pengalaman batin yang perlahan menetap di dalam pembaca.

Karena itu, kekuatan utama perpuisian Umi bukan pertama-tama pada kerumitan metafora, tetapi pada kemampuannya menghadirkan keheningan sebagai pengalaman estetik dan spiritual.

Dan mungkin justru di situlah relevansinya hari ini.

Ketika dunia digital semakin dipenuhi kebisingan, manusia modern diam-diam semakin kehilangan ruang untuk mendengar dirinya sendiri. Puisi-puisi Umi seperti mengajak pembaca berhenti sejenak dari arus yang tergesa, lalu kembali memeriksa luka, doa, dan kesunyian yang selama ini tertinggal di dalam batin.

Maka, perpuisian Umi menjadi penting bukan karena ia hadir dengan suara paling keras, melainkan karena ia masih percaya bahwa puisi dapat menjadi tempat manusia kembali pulang kepada dirinya sendiri. ***

Daftar Pustaka

Al-Ghazali. Ihya’ Ulumuddin. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, tanpa tahun.

Levinas, Emmanuel. Totality and Infinity: An Essay on Exteriority. Pittsburgh: Duquesne University Press, 1961.

MacLeish, Archibald. Ars Poetica. New York: Houghton Mifflin, 1926.

*Abdul Wachid B.S.Penulis adalah penyair, Guru Besar Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia, Ketua Lembaga Kajian Nusantara Raya (LK Nura) di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri, Purwokerto.