Dua Timur, Satu Pesona Gandrung
Oleh: Almeida Ganefabra*

Seribu penari patung Gandrung di taman Gandrung Terakota sumber : Seyda Ganefabra
Perjalanan akademik sering kali dipahami sekadar sebagai kegiatan belajar di luar ruang kelas. Padahal, di balik agenda resmi, selalu tersimpan pengalaman manusiawi yang jauh lebih berkesan daripada catatan materi kuliah. Begitulah yang saya rasakan saat mengikuti eskursi akademik ke Banyuwangi, sebuah perjalanan menuju ujung timur Pulau Jawa yang menghadirkan sensasi unik, penuh kejutan, dan meninggalkan jejak mendalam dalam ingatan. Bagi saya, seorang mahasiswa yang berasal dari timur, dari Pulau Timor atau Leste—perjalanan ini terasa seperti pertemuan dua arah matahari terbit: timur tempat saya berasal dan timur tempat Gandrung berakar.
Eskursi ini diselenggarakan sebagai bagian dari mata kuliah Pengelolaan Wisata Budaya, dengan tujuan agar mahasiswa dapat melihat, memahami, dan merasakan secara langsung bagaimana wisata budaya dikelola berbasis komunitas. Di sanalah saya menyadari bahwa belajar tidak selalu hadir lewat buku dan presentasi, tetapi juga melalui perjalanan, perjumpaan, dan pengalaman nyata di lapangan.
Hampir Tertinggal Kerata
Kisah itu dimulai dengan sedikit kepanikan. Pagi hari di Kota Yogyakarta, saya berangkat menuju Stasiun Lempuyangan dengan memesan Grab. Sang pengemudi adalah seorang bapak yang sudah berusia lanjut. Wajahnya ramah, tutur katanya halus, namun laju kendaraannya sangat tenang—terlalu tenang untuk ukuran seseorang yang sedang dikejar waktu keberangkatan kereta.
Jalanan Jogja pagi itu terasa lebih panjang dari biasanya. Lampu merah seolah sengaja menyusun konspirasi, dan setiap menit yang berjalan membuat jantung berdetak semakin cepat. Saya hanya bisa memandangi jam sambil menahan cemas, membayangkan rombongan sudah berada di peron dan kereta bersiap berangkat tanpa saya. Syukurlah, setelah berpacu dengan waktu dalam ritme lambat yang menegangkan, saya tiba tepat sebelum keberangkatan. Nafas lega terasa seperti hadiah pertama dari perjalanan ini.
Kereta api pun melaju membawa rombongan menuju Banyuwangi. Dua belas jam perjalanan tentu bukan waktu yang singkat, namun justru di sanalah kebersamaan diuji sekaligus dipererat. Gerbong yang awalnya biasa saja berubah menjadi ruang cerita, tawa, dan kenangan. Ada yang saling bertukar camilan, ada yang tertidur dalam posisi paling unik, dan ada pula yang tanpa henti melontarkan candaan hingga seluruh kursi dipenuhi gelak tawa.
Setiap sudut kursi seperti memiliki kisahnya sendiri. Saya sadar, momen semacam ini tidak akan pernah benar-benar terulang. Kelak mungkin kami akan bepergian lagi, tetapi formasi orang, suasana, dan energi hari itu hanya terjadi sekali dalam hidup.
Malam tiba ketika kereta akhirnya sampai di Stasiun Banyuwangi Kota. Kami disambut hangat oleh pegawai Jiwa Jawa Resort Ijen yang sudah menunggu dengan minibus khas bernuansa savannah. Kendaraan itu menghadirkan kesan seolah kami sedang memasuki kawasan safari, bukan sekadar menuju penginapan.
Sesampainya di resort, sambutan hangat kembali kami terima. Pemilik resort sekaligus dosen mata kuliah kami, Pak Sigit Pramono, didampingi istri tercinta dan dosen pembimbing kami, Ibu Yohana, hadir menyapa dengan keramahan yang tulus. Mereka menyambut kami dengan wajah lega karena seluruh rombongan telah tiba dengan selamat.
Keesokan paginya, Taman Gandrung Terracotta menunjukkan wajah terbaiknya. Saya terbangun oleh udara sejuk dan cahaya mentari yang perlahan muncul dari ufuk timur. Pagi itu terasa begitu bersih dan jernih. Saat melangkah menuju area persawahan tepat di depan kamar, saya seakan memasuki lukisan hidup.
Jembatan kecil membelah hamparan sawah hijau yang luas, sementara embun masih menggantung di ujung daun padi. Di setiap sudut sawah berdiri patung-patung Gandrung, anggun dan tenang, seolah menjaga pagi tetap sakral. Para petani mulai beraktivitas: ada yang memeriksa tanaman, memanggul peralatan, dan saling menyapa dengan bahasa lokal yang hangat di telinga.
Kehadiran mereka membuat panorama itu tidak sekadar indah, tetapi juga bernyawa. Sawah bukan hanya objek wisata, melainkan ruang kerja, ruang hidup, dan ruang budaya. Dari suasana ini saya memahami bahwa wisata budaya berbasis komunitas bukan hanya soal menjual pemandangan, tetapi menjaga hubungan harmonis antara manusia, budaya, dan lingkungan.
Kuliah Lapangan yang hidup
Hari itu agenda akademik dimulai dengan suasana yang berbeda dari perkuliahan biasanya. Tidak ada dinding kelas, tidak ada meja panjang, dan tidak ada proyektor yang memisahkan mahasiswa dengan materi pembelajaran. Yang ada hanyalah ruang terbuka di tengah atmosfer budaya Banyuwangi yang hidup. Udara pagi yang sejuk, hamparan sawah, dan kehadiran para pelaku budaya membuat pengalaman belajar terasa jauh lebih dekat dan manusiawi. Sejak awal saya menyadari bahwa hari itu kami tidak hanya datang untuk mendengar penjelasan akademik, tetapi untuk menyelami kehidupan budaya secara langsung.

Kuliah lapangan bersama pelukis lokal Sumber : Serevina R.C Ginting
Kami mengikuti kuliah lapangan bersama para pakar dan seniman lokal Banyuwangi. Sensasi belajar terasa berbeda karena narasumber hadir langsung di hadapan kami, bukan melalui layar atau teks. Setiap penjelasan terasa hangat dan jujur karena lahir dari pengalaman nyata yang mereka jalani sehari-hari. Dari sana saya memahami bahwa budaya tidak pernah benar-benar hidup di buku, tetapi hidup dalam tubuh, suara, ingatan, dan praktik masyarakatnya.
Penjelasan mengenai sejarah Gandrung, perkembangan seni pertunjukan Banyuwangi, hingga strategi pengelolaan wisata budaya terdengar begitu hidup karena disampaikan langsung oleh orang-orang yang terlibat di dalamnya. Mereka menjelaskan bagaimana budaya tidak hanya dipertahankan sebagai warisan, tetapi juga diolah menjadi kekuatan ekonomi dan identitas daerah. Wisata budaya bukan sekadar menghadirkan pertunjukan bagi wisatawan, melainkan membangun hubungan antara masyarakat lokal, tradisi, dan keberlanjutan hidup mereka sendiri.
Hal yang paling menarik adalah bagaimana komunitas lokal menjadi pusat dari seluruh aktivitas budaya tersebut. Para petani tetap bekerja di sawah, para seniman tetap berkarya, sementara pengelola wisata berupaya menjaga keseimbangan antara kebutuhan pariwisata dan kehidupan masyarakat. Tidak ada kesan budaya yang dipaksa menjadi tontonan semata. Justru yang terasa adalah bagaimana masyarakat Banyuwangi merawat tradisi mereka dengan kebanggaan, lalu mengundang orang luar untuk ikut memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Kuliah lapangan hari itu akhirnya mengubah cara pandang saya terhadap proses belajar. Saya menyadari bahwa ilmu pengetahuan menjadi jauh lebih bermakna ketika dipertemukan langsung dengan realitas. Apa yang sebelumnya hanya berupa konsep di ruang kelas mendadak menjadi nyata ketika saya melihat sendiri bagaimana budaya dirawat oleh komunitasnya. Dari Banyuwangi saya belajar bahwa pendidikan tidak selalu hadir dalam bentuk teori yang rumit, tetapi juga melalui perjumpaan sederhana dengan manusia, lingkungan, dan tradisi yang hidup.
Ibu Temu dan Nyala Gandrung
Bagian yang paling membekas dari seluruh perjalanan ini tentu adalah perjumpaan dengan Ibu Temu di amfiteater terbuka Taman Gandrung Terakota. Tempat itu terasa begitu tenang sekaligus sakral. Langit Banyuwangi mulai meredup perlahan, angin sore bergerak lembut di antara hamparan sawah, sementara suasana amfiteater diisi rasa antusias dari para mahasiswa yang menunggu penampilan seorang maestro Gandrung legendaris. Ketika Ibu Temu hadir, suasana seakan berubah menjadi lebih khidmat. Sosoknya memancarkan ketenangan, pengalaman, dan wibawa seorang seniman yang telah menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk menjaga tradisi.

Bersama Ibu Temu dan Dosen PWB Sumber : Dinda Kamila
Ibu Temu telah berusia 74 tahun, namun semangatnya tidak menunjukkan tanda-tanda surut. Hingga kini beliau masih menerima panggung profesional, sesuatu yang membuat saya benar-benar kagum. Di usia yang bagi banyak orang identik dengan keterbatasan fisik, beliau justru tetap berdiri di panggung dengan percaya diri. Gerak tubuhnya masih luwes, tatapan matanya tetap tajam, dan suaranya masih memiliki kekuatan yang mampu menghidupkan suasana. Saya merasa sedang menyaksikan bukan hanya seorang penari, tetapi sebuah sejarah yang masih bernapas.
Saat beliau mulai bernyanyi, suasana mendadak berubah menjadi sangat emosional. Suaranya bukan sekadar menghasilkan nada, tetapi membawa cerita panjang tentang kehidupan, perjuangan, dan kecintaan terhadap budaya Banyuwangi. Ada getaran yang sulit dijelaskan ketika mendengar suara seorang seniman yang telah puluhan tahun hidup bersama tradisi yang ia bawakan. Lagu-lagu Gandrung yang dinyanyikannya terasa seperti jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Saya seakan diajak memahami bahwa budaya tidak pernah benar-benar hilang selama masih ada orang-orang yang menjaganya dengan sepenuh hati.
Di hadapan Ibu Temu, Gandrung tidak lagi terasa sebagai sekadar pertunjukan seni untuk menghibur penonton. Gandrung menjelma menjadi napas kehidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Setiap gerakan tangan beliau terlihat seperti bahasa tubuh yang menyimpan sejarah panjang masyarakat Banyuwangi. Disini, saya menyadari bahwa tubuh manusia dapat menjadi arsip budaya, tempat ingatan kolektif disimpan dan diwariskan tanpa harus selalu ditulis dalam buku. Dalam diri Ibu Temu, tradisi tidak hanya dipelajari, tetapi dihidupi sepenuhnya.
Momen itu juga membuat saya merenungkan hubungan antara usia dan seni. Di zaman sekarang, banyak orang menganggap usia tua sebagai akhir dari produktivitas. Namun Ibu Temu menunjukkan hal yang sebaliknya. Seni justru membuat usianya terasa tidak memiliki batas. Semangat beliau di atas panggung menghadirkan energi yang sulit dijelaskan. Saya melihat bagaimana kecintaan terhadap budaya mampu menjaga api kehidupan tetap menyala bahkan ketika usia terus bertambah. Ada kekuatan batin yang terpancar dari cara beliau bernyanyi dan bergerak, seolah Gandrung telah menjadi bagian dari jiwanya sendiri.
Perjumpaan dengan Ibu Temu meninggalkan kesan yang sangat personal. Saya merasa sedang menyaksikan bentuk penghormatan terhadap budaya leluhur. Pengalaman itu membuat saya berpikir tentang tradisi di daerah asal saya sendiri dan tentang pentingnya menjaga warisan budaya agar tidak hilang ditelan zaman. Sensasi itulah yang paling melekat di benak saya hingga sekarang: melihat langsung seorang maestro yang tetap menyalakan api tradisi dengan penuh kebanggaan, sekaligus menyadarkan saya bahwa budaya hanya akan terus hidup jika ada manusia yang dengan setia menjaganya.

Panorama pagi dengan matahari terbit di ufuk timur Jawa Timur Sumber : Seday Ganefabra
Dua Timur, Satu Pesona
Lebih dari sekadar perjalanan akademik, eskursi ini menjadi pengalaman yang unik dan sangat berharga bagi saya sebagai mahasiswa yang berasal dari Timor-Leste. Untuk pertama kalinya saya datang ke Banyuwangi dan menyaksikan secara langsung bagaimana budaya dirawat bukan hanya sebagai peninggalan masa lalu, tetapi sebagai bagian hidup masyarakat sehari-hari. Melihat dan menyaksikan Gandrung secara langsung menghadirkan pengalaman yang sama sekali berbeda. Eskursi ini memperlihatkan bahwa keberhasilan wisata budaya terletak pada keterlibatan komunitas lokal sebagai pelaku utama. Seniman, petani, pengelola resort, pemandu, hingga masyarakat sekitar menjadi bagian penting dari pengalaman wisatawan. Mereka bukan sekadar pelengkap, melainkan pemilik cerita dan penjaga identitas budaya. Saya melihat bagaimana masyarakat Banyuwangi hidup berdampingan dengan tradisi mereka sendiri dimana budaya tidak dipisahkan dari kehidupan sehari-hari, tetapi tumbuh bersama aktivitas masyarakat, mulai dari sawah, ruang pertunjukan, hingga lingkungan wisata yang terbuka bagi para pendatang.
Sebagai seseorang mahasiswa yang datang dari timur (Timor-Leste) dengan latar budaya yang berbeda, saya merasakan adanya kedekatan emosional dengan masyarakat Banyuwangi. Saya melihat bagaimana masyarakat di ujung timur Pulau Jawa ini memiliki penghormatan yang begitu besar terhadap warisan leluhur mereka. Hal itu mengingatkan saya pada kehidupan masyarakat di Timor-Leste yang juga menjaga adat, bahasa, musik, dan tradisi sebagai bagian dari identitas. Perjumpaan dua budaya timur itu menghadirkan kesadaran bahwa tradisi bukan sekadar simbol masa lalu, melainkan fondasi yang menjaga manusia tetap terhubung dengan akar kehidupannya.
Eskursi akademik ke Jiwa Jawa Resort Ijen akhirnya mengajarkan satu hal penting: ilmu pengetahuan menjadi lebih bermakna ketika disentuh pengalaman langsung. Dari hampir tertinggal kereta di pagi Yogyakarta, perjalanan panjang tiga belas jam bersama rombongan yang penuh warna, sambutan hangat di resort, pagi indah di persawahan, hingga perjumpaan dengan Ibu Temu sebagai maestro Gandrung, semuanya membentuk rangkaian kisah yang utuh dan tidak terlupakan. Pengalaman ini bukan hanya menambah pengetahuan akademik saya tentang pengelolaan wisata budaya berbasis pada komunitas, tetapi juga memperluas cara pandang saya terhadap pentingnya menjaga tradisi di tengah perkembangan zaman.
Meski perjalanan itu telah usai, pesonanya tetap tinggal dalam benak: suara tawa di gerbong kereta, embun di daun padi, keramahan tuan rumah, serta Gandrung yang hidup melalui langkah dan suara anggun Ibu Temu. Banyuwangi, bagi saya, akan selalu “wangi” karena masyarakatnya tetap memelihara warisan leluhur mereka dengan penuh kebanggaan. Gandrung bukan hanya tarian, melainkan identitas yang membuat Banyuwangi memiliki jiwa. Dari ujung timur Pulau Jawa, saya belajar bahwa budaya yang dijaga dengan cinta akan selalu hidup, mempesona, dan dikenang oleh siapa pun yang pernah menyaksikannya, bahkan oleh seorang mahasiswa dari timur jauh seperti Timor-Leste.
*Almeida Ganefabra – Mahasiswa Program Pascasarjana ISI Yogyakarta




