Puisi-puisi Abdul Wachid B.S.
UNTUKMU YANG MENGHAPUS
SEPI TEMAN
Di bangku kayu itu,
kau duduk dengan secangkir kopi
dan sepotong senyuman
yang membatalkan seluruh kekalahanku.
Kita tak butuh banyak kata
sebab sunyi pun bisa kita ajak
untuk berseloroh tentang luka,
dan kau menjahitnya
dengan tawa yang kau selundupkan
di antara kepulan kenangan.
Kau tak pernah bertanya
mengapa mataku basah
seperti Tuhan yang tak menuntut
alasan dari air mata hamba-Nya.
Kau hadir seperti udara,
diam-diam menghidupkan.
Kini, bila malam datang tanpa wajah,
aku memanggilmu dalam diam,
sebagai bagian dari doa
yang tak sempat kusebut
namamu di antara zikir dan kesabaran.
Seorang teman
adalah saksi yang menegakkan
sisa-sisa diriku,
ketika aku nyaris rebah
oleh sepi yang tak bisa kumengerti.
2025, 2026
SEPASANG SENDAL
DI BERANDA PESANTREN
Sendal itu menunggu
tanpa suara
di antara dinding kapur
yang menyimpan dingin subuh.
Jejaknya tak pernah kembali
karena kaki yang memakainya
telah menjadi doa
di atas sajadah ilmu dan sabar.
Angin datang membawa bau kertas usang,
mengibaskan debu pada kitab yang setia.
Dan sendal itu
masih berdiri di ambang,
tempat perjalanan diam santri
pernah bermula
dan tak selalu pulang
kecuali dalam ingatan.
Satu per satu
malam melipatnya menjadi sunyi,
pagi membukanya
dengan salam.
Tak ada yang tahu
apakah sendal itu kehilangan pemiliknya,
atau pemiliknya telah berubah
menjadi jejak yang berjalan
di halaman kitab.
Aku duduk memandangnya,
seperti menunggu
diriku sendiri
yang mungkin suatu hari
akan pergi
dan ditinggalkan
oleh sendalku
di beranda yang sama.
2025, 2026
SAAT KITA DUDUK BERDUA DALAM DIAM
Kita duduk berdua
seperti dua puisi
yang belum selesai ditulis.
Matamu menatap ke luar jendela,
seakan kata-kataku
hanya musim
yang telah lewat.
Ada cinta
yang tak sanggup kita ucapkan,
karena ia terlalu telanjang
untuk dibicarakan dalam cahaya.
Tanganmu gemetar
saat menyentuh cangkir,
dan diam itu meniti ruang
antara hatiku dan milikmu.
Kita diam,
tapi seluruh ruangan
penuh dengan jerit yang tak bersuara,
jerit rindu
yang malu
mengenakan pakaian harapan.
Andai diam ini bisa menjadi rumah,
akan tinggal di sana
bersamamu,
selamanya
tanpa kata,
tanpa jeda,
hanya kita,
dan luka yang saling mencintai.
2025, 2026
NAMA YANG KITA JAGA DALAM DOA
Di halaman subuh,
ada suara yang tak bersuara,
menyebut namamu
dari sela tasbih yang patah
dan doa-doa yang kehilangan arah.
Kita pernah menanam namanya
di tanah yang hanya disirami
oleh air mata dan harapan yang digenggam
seperti rahasia yang tak boleh retak
oleh waktu atau jarak.
Ia tumbuh bukan menjadi pohon,
tapi bayangan
yang mengikuti kita
dalam sujud dan senyap,
menyandarkan rindu
pada Yang Mahamendengar.
Ketika dunia sibuk dengan nama-nama,
kita cukup menjaga satu
di antara sekian,
yang tak pernah disapa
kecuali dalam lirih
antara Allahumma dan Aamiin.
Karena sebagian cinta
tak perlu terlihat,
cukup hidup
dalam ayat
yang diamalkan oleh hati
tanpa pernah selesai.
2025, 2026
YANG TAK PERGI SAAT GELAP
Kau datang
ketika yang lain memilih senja
dan meninggalkanku
di tengah malam
yang kehilangan jendela.
Tak banyak yang kau katakan.
Hanya diam
yang kau letakkan di sampingku,
seperti sesuatu
yang mengerti dingin kehilangan.
Tanganku terdiam di pangkuan.
Kau menggenggamnya,
dan malam tidak lagi
terlalu jauh.
Di ruang yang patah di dalam dada,
hadirmu tinggal tenang,
membiarkan luka
bernapas
tanpa harus disembunyikan.
Malam demi malam
kau tetap di sana,
diam yang tidak meminta nama,
seperti doa
yang berjalan perlahan
di dalam dada.
Jika suatu waktu
langkahku kembali tersesat,
aku akan mengenali arah itu lagi:
tempat seseorang pernah duduk
di samping gelapku
tanpa bertanya apa pun.
2025, 2026
DI WARUNG KOPI
KITA MENJADI SAUDARA
Di warung kopi yang tua,
aku memesan segelas senyummu
tanpa gula.
Kau datang membawa lelah
dan tawa yang masih utuh
meski dunia terlalu sering patah.
Kita duduk tanpa kerapihan basa-basi,
tanpa rencana,
hanya dua hati
yang saling mengenal
dalam keheningan
yang lebih fasih dari puisi.
Kau bercerita tentang hidup
yang tak selalu adil,
aku menyimak seperti adik
yang baru tahu
bahwa luka bisa diseduh
dan diminum perlahan.
Kita bicara tentang cinta
yang pernah mengkhianatimu,
dan aku tertawa
karena tahu rasanya
dicintai oleh luka.
Di warung kopi ini,
kita bukan lagi dua orang asing
tapi dua tangan
yang menggenggam secangkir hangat,
dua mata
yang menemukan rumah
di sela percakapan remeh
dan hujan yang turun
tanpa aba-aba.
Karena menjadi saudara
tidak perlu ikatan darah,
cukup duduk bersamamu
satu malam saja
di warung kopi
tanpa siapa pun
dan tanpa perlu alasan.
2025, 2026
OBROLAN YANG TAK SELESAI
HINGGA HARI TUA
Di sudut malam yang pudar,
kita berbicara
tentang kekosongan yang tak pernah terisi
kau dengan suaramu yang mulai lelah,
aku dengan mata yang tak bisa menutup
kenangan yang menggelepar di dalam dada.
Tanya-tanya kita
melawan hampa,
tumbuh seperti akar-akar hitam
di tanah yang tak lagi hidup.
Setiap kata yang kita ucapkan
mendekap waktu,
mengikatnya dalam sunyi
yang hanya bisa dimengerti
oleh mereka yang telah kehilangan
sesuatu yang tak pernah ada.
Kau bicara tentang hidup,
tentang janji yang tak ditepati,
tentang luka yang menjadi teman sejati.
Dan aku hanya mendengar
seperti air yang mengalir dalam tubuh
tanpa tujuan.
Obrolan kita adalah puisi yang patah,
sebuah larik yang tak lagi memikul makna
di antara rahasia yang tertinggal.
Kita berbicara tentang masa depan
yang sudah tidak ada
dan masa lalu yang telah kita matikan
sebelum waktunya.
Namun, meski semua itu hilang,
kita tetap ada
seperti dua bayangan
yang tidak bisa saling menyentuh
karena terpisah oleh
kegelapan yang tak bernama.
2025, 2026
KITA PERNAH TERTAWA
DI TENGAH LUKA
Di batas senja yang retak,
kami menggantungkan suara
pada langit yang tak menjawab.
Tawa
hanya ilusi dari luka
yang tak ingin bernama,
seperti musim
yang menolak menyebut dirinya hujan.
Kami duduk
di kursi yang terbuat dari waktu patah,
memandang jalan
seperti memandang nasib:
panjang, berdebu,
dan tak punya alamat.
Setiap gurau adalah sisa dari doa
yang tak sampai,
setiap senyum adalah pisau
yang tak ingin melukai.
Kami tertawa
seperti akar yang tak tahu
mengapa harus menembus batu.
Kami adalah puisi
yang tak ditulis oleh penyair,
hanya diucap angin
yang lupa
kepada siapa ia bertiup.
Kematian lewat
tanpa suara,
dan kami meneguknya
dalam cangkir kosong
yang penuh
kenangan.
2025, 2026
JALAN YANG KITA LALUI
TANPA BERTANYA
Kita berjalan,
tanpa peta,
tanpa janji,
tanpa satu pun pertanyaan:
Mau ke mana?
Kita hanya tahu
langkah-langkah kita menyatu
seperti tangan-tangan anak kecil
yang tak ingin lepas dari pelukan.
Aku tidak bertanya
kenapa kau diam
karena diam kita sudah cukup
untuk menyebut cinta
tanpa kata.
Jalan itu sederhana:
aspal yang retak,
bunga liar di pinggirannya,
dan senja yang jatuh perlahan
di ujung sandal kita.
Aku tak tahu
apakah esok kau masih di sisiku,
tapi hari ini
kau berjalan bersamaku
dan itu cukup
untuk membuat hidup terasa
seperti sajak
yang akhirnya menemukan
rima.
2025, 2026
ANTARA AKU, KAMU, DAN JALAN PULANG
Sepasang sendal yang kita letakkan
di teras mushola tua
masih menyimpan debu senja
dan arah sujud yang pernah kita bagi.
Engkau duduk di ruang sunyiku
tanpa mengetuk,
membawa senyum yang ditenun dari luka
dan diam yang menjadi zikir di antara kita.
Tak ada yang kita janjikan,
selain sajadah kecil
yang menampung desir angin dan sisa teh,
saat azan Maghrib turun
seperti embun ke pelipis yang letih.
Kita dua musafir
yang tak memilih arah,
tapi tahu ke mana cahaya menunjuk.
Langit kadang retak,
namun kita masih membaca langgamnya
dari bayang wajah di cermin wudu.
Jika suatu malam
namamu terhapus dari peta,
akan kuingat matamu
yang dulu menunjuk jalan,
dengan nyala yang tidak memaksa pulang,
hanya mengisyaratkan:
“di sini ada rumah yang tidak mengunci.”
Sebab antara aku, kamu, dan jalan pulang
tak ada perpisahan
selama doa masih menetes di sajadah
dan persahabatan
tetap mencium bau tanah selepas hujan.
2025, 2026
*Abdul Wachid B.S., lahir 7 Oktober 1966 di Bluluk, Lamongan, Jawa Timur. Buku terbarunya : Kumpulan Sajak Nun (2018), Bunga Rampai Esai Sastra Pencerahan (2019), Dimensi Profetik dalam Puisi Gus Mus: Keindahan Islam dan Keindonesiaan (2020), Kumpulan Sajak Biyanglala (2020), Kumpulan Sajak Jalan Malam (2021), Kumpulan Sajak Penyair Cinta (2022), Kumpulan Sajak Wasilah Sejoli (2022), Kumpulan Sajak Kubah Hijau (2023), Sekumpulan Esai Sastra Hikmah (2024), Buku Puisi Balada Kisah untuk Anak Cucu (2025).
Melalui buku Sastra Pencerahan, Abdul Wachid B.S. menerima penghargaan Majelis Sastrawan Asia Tenggara (Mastera) sebagai karya tulis terbaik kategori pemikiran sastra, pada 7 Oktober 2021 (tepat di ulang tahunnya yang ke-55).***





