Ini Rumahku, Bukan Galerimu

(Saripati Idul Fitri 2026)

 

Oleh Mikke Susanto*

Sehari setelah gema takbir dan khusyuknya sholat Id di Mushola “Al Hikmah” di Kampung Jetak, Godean, Sleman tubuhku seperti masih menyimpan residu sakralitas yang perlahan bertransformasi menjadi energi sosial. Usai sholat id, Sabtu 21 Maret 2026, bersama istri dan 2 anak lelakiku memulai perjalanan silaturahim menuju Bantul dan Sleman. Seharian bertemu beberapa keluarga. Pada esok harinya berlanjut ke Muntilan, Magelang dan Solo. 

Perjalanan kami ini bukan sekadar mobilitas geografis, melainkan praktik kultural-sosial-spiritual yang berulang. Ritual tahunan ini masih terus dianut oleh sebagian masyarakat di Jawa guna menghubungkan individu dengan jejaring kekerabatan yang lebih luas. Inilah yang kemudian disebut sebagai halal bihalal keluarga, temu sanak kadang atau trah.

Arus lalu lintas memberi petunjuk awal tentang ritme ruang. Jalan menuju utara Jogja relatif lancar, seolah gelombang pergerakan telah mencapai titik jenuh sehari sebelumnya. Sebaliknya, kendaraan dari arah Muntilan dan Magelang menuju Jogja tampak padat, menciptakan kontras yang menarik. Pada beberapa simpang lampu merah, kemacetan memanjang. Sesekali kutoleh, ada kelelahan dan tekanan di wajah pengendara motor maupun mobil, tetapi juga ada pula keceriaan demi gema sosial yang penting ini. 

Sekitar pukul sepuluh pagi, kami tiba di rumah salah satu adik dari ayah mertua di Muntilan. Lalu berlanjut ke beberapa rumah saudara kami lainnya. Sambil berjalan kaki antar rumah. Rumah-rumah yang kami kunjungi umumnya berada di dalam kampung, jauh dari jalan utama. Akses menuju ke sana seringkali melalui jalan tanah berumput atau sesekali jalur beton kecil yang hanya cukup untuk satu mobil atau hanya satu motor saja. 

Tujuh keluarga kami tinggal di dekat Kali Putih dan Kali Blongkeng, sebuah lanskap sungai yang sering membawa dan menjadi jejak material lahar Gunung Merapi. Pasir yang dihasilkan dari letusan bukan hanya menjadi sumber ekonomi, tetapi juga membentuk relasi manusia dengan alam dalam bayang-bayang dinamika vulkanik. Sementara itu, ada pula satu keluarga lain tinggal lebih ke hulu, tapi jarak tidak menghalangi kami untuk tetap mengunjungi mereka. 

Dalam praktik ini, halal bihalal tampak sebagai mekanisme sosial yang meneguhkan solidaritas dan memperpanjang ingatan kolektif lintas generasi. Dengan cara inilah, anak-anak kami jadi tahu, bahwa ada sanak kadhang yang memiliki ragam kondisi dan kemampuan, sekaligus selera, termasuk dalam menata ruang. 

Interaksi dan Interior Rumah

Di setiap rumah, pola interaksi berlangsung relatif serupa: berjabat tangan, saling meminta maaf, duduk melingkar, dan menikmati hidangan yang disajikan. Kudapan beragam, dari manisan, gorengan, buah-buahan hingga bakso dan kacang-kacangan. Mirip toserba gratisanlah. Eman-eman, bila dilewatkan begitu saja. Canda tawa, kegirangan, olok-olokan dan tutur saling mendoakan jadi bagian dari itu semua.

Trah sanak kadhang di Muntilan berlatar “pameran” foto keluarga. Foto: Mikke Susanto.

Namun sebagai pengamat, perhatian saya tidak hanya tertuju pada interaksi antarindividu, melainkan juga pada bagaimana ruang domestik dikonstruksi dan dimaknai. Ruang tamu, sebutlah tempat kami diterima dan bercengkrama, menjadi locus penting untuk membaca ekspresi budaya visual keluarga.

Interior rumah yang kami kunjungi beragam, mulai dari dinding bambu hingga tembok permanen. Namun yang menarik adalah cara mereka menata benda-benda di ruang tamu. Dinding sering dipenuhi berbagai elemen: foto keluarga, poster anak-anak, kalender, lukisan sederhana, hingga benda fungsional seperti sapu atau kemoceng. Secara sekilas, tata letak ini tampak acak, bahkan “asal tempel.” Namun jika dibaca melalui pendekatan desain dan budaya visual, fenomena ini justru mengandung logika tersendiri.

Enam Prinsip Display Rumah Kampung

Logika setiap orang dalam memasang artefak keluarga ataupun objek material fisik, selalu berbeda. Setidaknya jika membaca para pengelola rumah di kampung Muntilan dan Magelang ini bisa dijadikan pelajaran menarik. Sebagai dosen yang mengajar pada kuliah manajemen pameran seni (terkhusus pada materi pelajaran mendisplay), saya mendapati adanya beberapa prinsip menarik dari rumah keluarga yang kami kunjungi ini. Setidaknya ada 6 (enam) prinsip yang patut kita sarikan sebagai bentuk kajian menarik.

Pertama, terdapat prinsip bahwa fungsi mendahului estetika. Benda digantung tidak semata untuk dilihat, tetapi untuk kemudahan akses. Sapu atau kemocing yang tergantung di dinding ruang tamu, kitab suci bersanding jam dinding, atau lemari kaca boneka yang penuh sesak misalnya, bukanlah bentuk “kesalahan estetika,” melainkan keputusan praktis. Dalam hal ini, prinsip form follows function hadir dalam bentuk yang sangat kontekstual.

Tumpulan buku dan kitab suci bersanding dengan jam dinding. Foto: Mikke Susanto.

Kemocing yang nempel di dinding. Foto: Mikke Susanto.

Yang kedua, cara mendisplay tersebut dapat dipahami sebagai bagian dari estetika vernakular. Mereka tidak tunduk pada aturan baku seperti dalam praktik kuratorial di galeri atau museum, melainkan tumbuh dari kebiasaan, kondisi ekonomi, dan preferensi personal penghuni rumah. Ada kejujuran visual di sana. Katakanlah, sebuah ekspresi yang tidak dimediasi oleh standar profesional, tetapi langsung berangkat dari pengalaman hidup sehari-hari.

Rumah adik mertua yang masih terus terjaga. Foto: Mikke Susanto.

Lemari boneka, jam dinding lukisan, dan aneka kudapan tersaji meriah. Foto: Mikke Susanto.

Ada juga yang ketiga, kedekatan emosional menjadi faktor dominan. Ada foto tanpa bingkai dipasang di pigura lemari kayu. Ada juga foto yang dipasang serentak bersamaan di dinding layaknya galeri. Ada gambar poster belajar anak tentang hewan dan pepohonan diselipkan di dinding gedhek. Atau ada potongan kalender sering ditempel sana sini. Ini semua jelas bukan karena pertimbangan komposisi, melainkan karena makna personal yang melekat. Dinding ruang tamu, dalam konteks ini berfungsi sebagai arsip afektif, menyimpan fragmen memori yang terus diperbarui.

Foto keluarga pating trempel di pintu lemari kayu. Foto: Mikke Susanto.

Foto keluarga, kematian, hingga perayaan dipasang serentak selayak pameran. Foto: Mikke Susanto.

Selain itu, keempat, terdapat apa yang bisa disebut sebagai komposisi spontan. Meskipun terlihat tidak teratur, seringkali ada keseimbangan intuitif dalam penyebaran objek di dinding. Penempatan mengikuti ruang kosong yang tersedia, sementara ketinggian pemasangan menyesuaikan dengan kebiasaan pandang penghuni. Ini semua mendekati prinsip asymmetrical balance dalam bentuk yang organik, bukan hasil perhitungan formal.

Konsep asymmetrical balance pemasangan foto keluarga, gambar Sunan Kalijaga, foto masjid, dan poster di ruang tamu eyang. Foto: Mikke Susanto.

Pertemuan kabel dan colokan listrik, lukisan, banner souvenir pada dinding dan kudapan Kembang Goyang jadi tontonan visual yang menyegarkan. Foto: Mikke Susanto.

Kelima, aspek adaptasi terhadap materi dan ekonomi juga sangat terasa. Penggunaan paku sederhana, ketiadaan bingkai, atau pemanfaatan benda sehari-hari sebagai elemen visual mencerminkan strategi bertahan yang efisien. Dalam perspektif desain, ini dapat dibaca sebagai bentuk sustainable design dalam versi yang paling praksis, minim biaya, minim limbah, tetapi maksimal dalam fungsi. Waah, memang syahdu.

Ini Rumah, Bukan Galeri

Pada akhirnya, penting untuk diingat bahwa rumah-rumah ini bukanlah galeri. Ia adalah ruang hidup yang dinamis, di mana fungsi, emosi, dan estetika saling bertumpang tindih. Jika galeri beroperasi dalam kerangka praktik kuratorial yang terencana dan berorientasi pada presentasi, rumah justru merayakan ketidakteraturan sebagai bagian dari kehidupan itu sendiri. 

Inilah living museum di salah satu titik wilayah di desa Kemburan Muntilan maupun di desa Windusari Magelang. Saya serasa masuk ke dalam “museum hidup”, dipraktikkan, dan performatif. Rumah bukan sekadar tempat pajangan statis. Rumah seperti arena antropologi sosial yang menandai beragam nilai lainnya hadir.

Dalam kunjungan silaturahim ini, saya tidak hanya bertemu dengan keluarga, tetapi juga dengan cara-cara lain dalam memahami ruang, benda, dan makna. Banyak pelajaran dalam proses halal bihalal yang bisa dicermati. Dari konteks etnografi, apa yang hadir dari hal-hal yang tampak sederhana, sesungguhnya memperkaya signifikansi kultural. Meskipun mereka bukan dari keluarga yang berkesempatan belajar di pendidikan tinggi, apalagi belajar teori display. 

Dengan cara inilah kita paham, bahwa bertemu keluarga ternyata juga bertemu hal-hal yang tak terduga. Selamat Lebaran 2026, kawan-kawan. +++

 

*Mikke Susanto (Pengajar ISI Yogyakarta & Kurator Seni)