Tradisi Musik Birahi di Danaraja

Oleh Lanang Setiawan*

Di tengah arus zaman yang bergerak semakin cepat, ada hal-hal sederhana yang tetap bertahan karena dijaga oleh keyakinan dan ketulusan hati. Di sudut pedesaan, tradisi tidak selalu hidup dengan gemuruh, tetapi sering justru bertahan dalam kesunyian—dalam doa, dalam nyanyian, dan dalam niat yang tulus untuk mendekat kepada Tuhan.

Begitulah yang terjadi di Desa Danaraja, Kecamatan Margasari, Kabupaten Tegal.

Di desa kecil itu terdapat sebuah tradisi yang namanya kerap membuat orang salah paham: Musik Birahi. Bagi sebagian orang, kata birahi mungkin terdengar ganjil, bahkan menimbulkan kesan yang keliru. Kata itu sering dikaitkan dengan hasrat tubuh dan nafsu duniawi.

Namun bagi masyarakat Danaraja, makna birahi justru jauh lebih bening.

Birahi di sini adalah gairah jiwa untuk mencari ilmu. Kerinduan hati untuk memahami kehidupan. Dan lebih dari itu, birahi adalah keinginan yang menyala dalam diri manusia untuk semakin dekat kepada Sang Pencipta.

Tradisi ini hidup dalam sebuah rumah tua yang sangat sederhana. Letaknya di sebelah masjid desa. Ukurannya kecil, kira-kira lima kali empat meter. Dindingnya lembab, ruangan di dalamnya hening. Rumah itu tidak memiliki jendela, hanya sebuah pintu kayu yang menjadi satu-satunya jalan keluar-masuk.

Pintu masuk Masjid di desa Danaraja sebuah warisan Syekh Maulana Magribi dan Syekh Jambu Karang. (photo repro Krida)

Penduduk setempat menyebutnya Rumah Birahi.

Konon, rumah kecil itu merupakan peninggalan para wali yang dahulu menyebarkan agama Islam di wilayah tersebut. Dari tempat sederhana itulah nyanyian-nyanyian lama terus dilantunkan, seolah menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini.

Setiap Malam Jum’at, ketika malam mulai turun dan desa menjadi tenang, para perempuan sepuh berkumpul di dalam Rumah Birahi. Mereka duduk bersila, membawa beberapa rebana yang oleh masyarakat setempat disebut trebang.

Ukuran rebana itu bermacam-macam. Ada yang besar dengan diameter sekitar empat puluh sentimeter, ada pula yang kecil hanya sekitar lima belas sentimeter. Ketika dipukul perlahan, bunyinya mengalun ritmis dan bergetar lembut, seperti detak waktu yang berjalan pelan.

Di atas irama rebana itulah syair-syair Birahi dilantunkan.

Jumlahnya tidak sedikit. Ada sekitar seratus dua puluh judul syair yang diwariskan turun-temurun. Setiap syair dinyanyikan berulang hingga tiga kali. Nyanyian itu kemudian dikelompokkan dalam lima bagian yang oleh para pelaku disebut:

Birahi Tulung
Birahi Gendering
Birahi Sendikir
Birahi Bagendali
dan Birahi Kilalah.

Bagi orang yang baru pertama kali mendengarnya, syair-syair itu mungkin terasa asing. Bahasa yang digunakan tidak hanya satu. Di dalamnya bercampur bahasa Jawa, Sunda, Indonesia, bahkan Arab.

Musik Birahi dengan rebana dan wanita-wanita sepuh di desa Danaraja, Kabupaten Tegal pagerannya semalam suntuk. (repro majalah Krida)

Namun justru dalam percampuran itu tersimpan keindahan yang khas.
Syair-syair tersebut bukan sekadar lagu. Ia adalah puji-pujian. Ia adalah pengingat tentang asal-usul manusia, tentang perjalanan hidup yang penuh ujian, serta tentang kepastian akhir yang tak dapat dihindari: kematian.

Melalui nyanyian itulah dahulu para penyebar Islam berdakwah dengan cara yang lembut.

Masyarakat Danaraja percaya bahwa tradisi Musik Birahi berasal dari ajaran dua tokoh penyebar Islam: Syekh Maulana Magribi dan Syekh Jambu Karang. Dari merekalah kesenian ini diwariskan sebagai sarana dakwah yang menyentuh hati tanpa paksaan.

Ada pula kisah yang sering diceritakan oleh para pelaku Musik Birahi. Konon, syair-syair yang mereka nyanyikan sulit dihafal di luar Rumah Birahi. Setelah pertunjukan selesai dan para pemain pulang ke rumah masing-masing, lirik-lirik itu kerap menghilang dari ingatan mereka.

Namun setiap Malam Jum’at tiba dan mereka kembali memasuki Rumah Birahi, kata-kata itu seperti datang sendiri. Ingatan mereka kembali terbuka, seolah rumah tua itu menyimpan memori yang hanya dapat diingat oleh mereka yang datang dengan niat yang sama: mencari berkah dan mendekat kepada Tuhan.

Dalam pertunjukan tersebut terdapat seorang pemimpin yang disebut Rubiyah. Ia bukan sekadar pemimpin nyanyian, tetapi juga penjaga makna. Rubiyah memastikan bahwa setiap syair yang dilantunkan tetap selaras dengan nilai-nilai agama yang terkandung di dalamnya.

Pemilihan Rubiyah tidak dilakukan sembarangan. Ia biasanya dipilih melalui musyawarah masyarakat dan harus benar-benar memahami tradisi yang diwariskan turun-temurun itu.

Pada masa lalu, Musik Birahi tidak hanya menjadi ruang untuk berzikir melalui nyanyian. Ia juga menjadi ruang pertemuan masyarakat desa.

Di luar Rumah Birahi, para pemuda dan pemudi sering menunggu sesuatu yang sederhana tetapi dipercaya membawa berkah: minyak kelapa dari lampu penerangan rumah tersebut.

Minyak itu kemudian dibagikan kepada mereka. Banyak yang percaya minyak itu dapat menjadi perantara datangnya jodoh. Para remaja mengusapkannya ke rambut dengan harapan cinta mereka akan dipertemukan dan dijaga oleh Tuhan.

Sementara itu, para lelaki tua biasanya duduk khusyuk di masjid atau di pelataran rumah. Mereka mendengarkan syair-syair yang berbicara tentang perilaku manusia, tentang hakikat kehidupan, hingga tentang perjalanan panjang menuju kematian.

Namun zaman terus bergerak.
Perubahan perlahan menyentuh desa-desa. Anak-anak muda banyak yang merantau ke kota. Ketika mereka pulang, mereka membawa selera baru—musik modern yang lebih keras dan gemerlap.

Tradisi lama seperti Musik Birahi perlahan mulai kehilangan peminat.
Sebagian remaja masih datang ke Rumah Birahi, tetapi tidak lagi bertahan hingga pagi untuk menyimak seluruh nyanyian.
Banyak di antara mereka yang hanya menunggu pembagian minyak kelapa, lalu pulang setelah mendapatkannya.

Kekhawatiran akan pudarnya tradisi ini mulai terasa.

Beberapa pemain kemudian berusaha menjaga nyala warisan itu dengan cara sederhana: membawa anak dan cucu mereka ikut serta dalam pertunjukan.
Anak-anak kecil itu kadang ikut melantunkan syair, meskipun tak lama kemudian tertidur di pangkuan neneknya. Rebana tetap berbunyi pelan, nyanyian tetap mengalun lembut, sementara anak-anak itu tertidur dalam pelukan tradisi yang mungkin suatu hari akan mereka pahami.

Di antara syair-syair yang dinyanyikan, terdapat puji-pujian yang mengingatkan manusia pada asal-usul penciptaannya. Tentang Nabi Adam dan Siti Hawa sebagai manusia pertama. Tentang para utusan Allah yang membimbing umat manusia. Juga tentang Nur Muhammad—cahaya awal yang diyakini menjadi sumber kehidupan.
Semua itu dilantunkan dalam nada yang tenang, seperti zikir yang berubah menjadi lagu.

Begitulah Musik Birahi hidup di Danaraja.

Sebuah tradisi yang lahir dari kesederhanaan, tetapi menyimpan kedalaman makna. Ia bukan sekadar kesenian rakyat, melainkan warisan spiritual yang mengajarkan manusia untuk selalu memiliki gairah dalam mencari ilmu dan kerinduan untuk mendekat kepada Tuhan.

Ketika fajar mulai merekah di ufuk timur, nyanyian itu pun berakhir.
Rebana berhenti dipukul. Para penyanyi sepuh perlahan pulang ke rumah masing-masing. Rumah Birahi kembali sunyi seperti semula. Namun sesungguhnya, yang berakhir hanyalah suara nyanyian. Doa-doa yang terkandung dalam syair itu tetap tinggal di udara desa. Ia naik perlahan, bersama harapan dan keikhlasan para pelantunnya.

Barangkali di situlah makna birahi yang sebenarnya:
kerinduan manusia untuk selalu kembali kepada Tuhan,
dengan ilmu, dengan zikir, dan dengan hati yang berserah. (*)


*Lanang Setiawan, novelis, Pencetus dan pelopor Sastra Tegalan penerima Hadiah Sastra Jawa “Rancagé” 2011. Sehari-harinya mengabdi di Panturapost.com sebagai pengisi kolom Moci dan mengisi cerpen berbahasa Tegalan.