Kang Jai dan Jejak Teater Modern dari Kota Tegal

Oleh Lanang Setiawan*

Di tengah denyut kehidupan Kota Tegal pada dekade 1950-an, panggung-panggung pertunjukan menjadi ruang yang hidup bagi masyarakat. Setiap pementasan selalu dipadati penonton yang datang berbondong-bondong untuk menyaksikan kisah-kisah kehidupan yang dimainkan para seniman muda.

Pada masa itu, bentuk pertunjukan tersebut dikenal dengan istilah senidrama—sebuah seni panggung yang pada hakikatnya tidak jauh berbeda dengan teater modern.

Senidrama menghadirkan kisah kehidupan ke atas panggung—perpaduan antara realitas sosial dengan pengembangan imajinasi. Ia bukan sekadar tontonan, tetapi juga ruang refleksi masyarakat terhadap dirinya sendiri.

Menariknya, geliat senidrama di Tegal tidak hanya digerakkan oleh seniman pribumi. Pada masa itu, sejumlah kelompok dari kalangan peranakan Tionghoa turut memberi warna dalam perkembangan teater kota pelabuhan ini.

Dalam buku Jalan Panjang Teater dan Sastra Tegal (1994), disebutkan beberapa kelompok aktif seperti Chiao Chung She (CCS) yang dipimpin Tsai Ching Sin. Anggotanya antara lain Lie Soen Hein, Lie Yap Pie, Liem Tek Giap, Loe Lian Twan, dan Tjia Giok Lie.

Pementasan kelompok Chiao Chung She (CCS) Kota Tegal mengangkat lakin drama satu babak berjudul Batu Merah Lembah Merapi karya Bachtiar Siagian. (Photo dok Sudjai S)

Dari panggung-panggung seperti inilah lahir berbagai pertunjukan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mempertemukan berbagai latar budaya. Salah satu lakon yang cukup menyita perhatian publik adalah “Batu Merah Lembah Merapi” karya Bachtiar Siagian.

Orang-orang tionghoa yang tergabung dalam CHTH Band Tegal pada tahun 1950-an rajin menggelar pementasan seni drama. Seperti tampak pasa gambar lakon “Cilaka 12” karya The Tjoen Swie, Sutradara Tjoa Tiong Soen. (Photo: Dok Oen KauwTjien)

Pementasan lakon Tikungan Berbahaya tahun 1959 dari CHTH Band Tegal. (Photo dok Sudjai S)

Namun di balik dinamika dunia senidrama itu, muncul seorang tokoh yang kemudian dikenal sebagai pelopor teater modern Tegal. Namanya Soedjai Sukmawijaya.

Di kalangan seniman dan masyarakat, ia lebih akrab dipanggil Jai, atau kemudian dikenal luas sebagai Kang Jai.

Dramawan dari Kota Pesisir

Jai lahir di Tegal pada 2 Januari 1930. Sejak masa mudanya ia telah tenggelam dalam dunia panggung. Bagi Jai, teater bukan sekadar hiburan, melainkan sebuah kerja kreatif yang menuntut kesungguhan.

Ia kemudian mendirikan grup Senidrama Pelajar Tegal, sebuah kelompok yang menjadi ruang belajar bagi para pemuda untuk memahami seni pertunjukan secara lebih serius.

Menurut Jai, senidrama tidak cukup hanya dengan bermain lakon di atas panggung. Sebuah pertunjukan harus digarap dengan disiplin artistik: latihan yang intens, pengolahan intonasi suara, blocking pemain, tata lampu, setting panggung, tata rias, kostum, serta musik pengiring.

Semua unsur itu harus dirangkai menjadi satu kesatuan estetis oleh seorang sutradara.

“Pemahaman senidrama berbeda dengan sandiwara tradisional seperti kècrèt,” kata Jai suatu ketika di rumah kontrakannya di kawasan Pedukuhan Sentanan, Tegal.

Menurutnya, dalam kesenian kècrèt para pemain sering tampil spontan tanpa naskah atau latihan yang matang. Sebaliknya, dalam senidrama setiap detail harus dipersiapkan agar cerita yang disampaikan memiliki kekuatan dramatik.

Dari tangan Jai lahir sejumlah lakon yang kemudian dikenal luas oleh masyarakat Tegal. Salah satunya adalah “Korban Demoralisasi”, yang dipentaskan di Gedung Rakyat Tegal dan selalu dipadati penonton.

Salah satu pementasan Tunas tahun 1957 dalam lakon “Nirmala” karya/sutradara Sudjai S. Tampak dalam gambar dari kanan Sudjai dan Lien Herawati (Photo: Dok Sudjai S)

Drama ini mengangkat kehidupan remaja yang terjerumus dalam pergaulan bebas—minuman keras, pesta malam, dan seks bebas. Namun di balik kisah itu, Jai sebenarnya sedang menyampaikan kritik sosial yang tajam.

Ia menyoroti keluarga-keluarga kaya yang memperoleh harta dari jalan yang tidak benar, tetapi gagal mendidik anak-anaknya. Dalam pandangan Jai, kemerosotan moral generasi muda tidak bisa dilepaskan dari kemunafikan orang tua mereka sendiri.

Tema-tema seperti ini jarang diangkat dalam panggung senidrama pada masa itu. Namun justru keberanian itulah yang membuat karya-karya Jai terasa berbeda.

Selain Korban Demoralisasi, ia juga menulis lakon “Terkutuk Masa”, “Bumantara”, dan “Ratapan Si Miskin.” Semuanya sarat kritik sosial dan menunjukkan keberpihakan pada masyarakat kecil.

Aktris Ida Sri Maedah, salah satu pemain dalam kelompok senidrama Jai, pernah mengenang masa itu sebagai periode yang penuh gairah.
“Lakon-lakon Jai hampir semuanya bertumpu pada realitas kehidupan. Penontonnya selalu penuh. Kadang satu lakon bisa dipentaskan sampai lima kali,” kenangnya.

Bagi masyarakat Tegal kala itu, pementasan Jai bukan sekadar tontonan. Ia menjadi peristiwa budaya.

Dari Panggung ke Radio

Waktu berjalan. Generasi berubah. Gedung-gedung pertunjukan tidak lagi seramai masa sebelumnya. Namun nama Jai tidak pernah benar-benar hilang dari dunia kesenian Tegal.

Memasuki tahun 1990, Jai kembali hadir dalam medium yang berbeda: sandiwara radio.

Radio Serenada Slawi, salah satu radio populer di Kabupaten Tegal pada masa itu, menyiarkan sebuah sandiwara berseri yang kemudian sangat digemari masyarakat. Judulnya sederhana namun akrab di telinga: “Kang Jai dan Yu Kapsah.”

Dalam sandiwara radio ini, Jai sendiri memerankan tokoh utama Kang Jai. Naskahnya ditulis oleh Moh. Hadi Utomo, seorang budayawan Tegal yang juga dikenal sebagai penyusun Kamus Bahasa Tegal.

Dua tahun kemudian, penulisan naskah sandiwara ini dipercayakan kepada Lanang Setiawan, penulis dan wartawan yang dikenal aktif mengangkat bahasa serta budaya Tegalan dalam karya-karyanya.

Sandiwara radio ini juga menghadirkan sejumlah tokoh yang akrab di telinga pendengar.
Tokoh Yu Kapsah diperankan oleh Sri Redjeki, sementara Parto Tegal—seorang aktor yang pernah bergabung dengan Teater Rendra di Yogyakarta—memerankan tokoh Kang Wajad.

Perpaduan para pemain ini menciptakan sandiwara radio yang hidup, penuh humor sekaligus kritik sosial khas masyarakat Tegal.

Setiap hari sandiwara ini mengudara melalui gelombang radio, mengisi ruang-ruang rumah pendengar dari pagi hingga malam. Warung kopi, pos ronda, hingga ruang keluarga menjadi tempat orang-orang berkumpul untuk mendengarkan kelanjutan kisah Kang Jai.

Tak disangka, sandiwara radio ini bertahan selama lima tahun.
Selama lima tahun pula suara Kang Jai—yang diperankan oleh Jai sendiri—menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Tegal.
Penutup (Revisi Akhir)
Kisah perjalanan Kang Jai memperlihatkan bahwa seni pertunjukan di Tegal tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya berubah bentuk mengikuti zaman.

Pementasan sandiwara radio “Kang Jai dan Yu Kapsah” tahun 1993 di halaman Studio Radio Serenada karya Moh. Hadi Utomo dengan sutradara Parto Tegal. Tampak lelaki berpeci Kang Jai (kiri) dan Parto Tegal nomor dua dari kanan bersama Sri Rejeki yang memerangkan Yu Kapsah. (Photo dok Moh. Hadi Utomo)

Dari panggung senidrama di Gedung Rakyat

Pada era 1950-an hingga gelombang udara radio pada dekade 1990-an, Jai tetap setia menjadikan seni sebagai ruang untuk berbicara tentang kehidupan.

Melalui lakon-lakon yang ia tulis dan perankan, Kang Jai tidak sekadar menghadirkan hiburan. Ia menyampaikan kegelisahan sosial, menyuarakan nasib rakyat kecil, sekaligus mengingatkan bahwa seni selalu memiliki tugas menjaga kepekaan manusia terhadap zamannya.

Jejaknya mungkin tidak selalu tercatat dalam sejarah besar, tetapi bagi masyarakat Tegal, nama Kang Jai tetap hidup—dalam kenangan panggung, suara radio, dan cerita yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. (*)


*Lanang Setiawan, Begawan Tegal, novelis lan uga pelopor Sastra Tegalan penerima Hadiah Sastra Jawa “Rancagé” 2011. Ngasabé nang Panturapost.com.