Russian Ark: Inovasi Long Take Sokurov
Oleh Bambang Supriadi*

Aleksandr Sokurov. Sumber: ScreenDaily
Pada penghujung abad kesembilan belas, ketika sinema baru saja dirintis, dua bersaudara dari Prancis, Auguste Lumière dan Louis Lumière, menghadirkan sebuah keajaiban sederhana yang kemudian mengubah sejarah visual manusia. Melalui perangkat yang mereka ciptakan, Cinématographe, gambar bergerak untuk pertama kalinya dipertontonkan kepada publik pada tahun 1895.
Beberapa film Lumiere Brother yang dikenal adalah Workers Leaving the Lumière Factory, yang hanya memperlihatkan para pekerja keluar dari pabrik pada akhir jam kerja. Film lain yang sangat terkenal adalah L’Arrivée d’un train en gare de La Ciotat atau Arrival of a Train at La Ciotat Station, yang menampilkan sebuah lokomotif yang datang memasuki stasiun. Adegan tersebut sederhana, tetapi pada masa itu memberikan pengalaman visual yang sangat mengejutkan bagi penonton. Kamera merekam sebuah kereta yang perlahan mendekat, seolah keluar dari layar menuju ruang penonton (Cook, 2004).
Tidak ada cerita yang rumit. Tidak ada penyuntingan yang kompleks. Hanya satu tatapan terhadap kehidupan yang berlangsung apa adanya. Dari kesederhanaan itulah sinema lahir. Temuan Lumiere cinematographe menjadi produk teknologi bersejarah yang dapat merekam realita dan sekaligus memproyeksikannya secara langsung.
Lebih dari satu abad kemudian, pendekatan yang berbeda dapat dilihat dalam karya Aleksandr Sokurov melalui film Russian Ark (2002). Jika Lumière memperkenalkan sinema melalui kemampuan teknologi untuk merekam realitas, Sokurov justru bergerak ke arah yang hampir berbalik secara konseptual. Dalam karyanya, gagasan artistik hadir terlebih dahulu, sementara teknologi kemudian didorong untuk menyesuaikan diri dengan kebutuhan kreatif tersebut. Teknologi tidak lagi sekadar ditampilkan sebagai keajaiban baru, melainkan dijadikan sarana untuk mewujudkan sebuah eksperimen bentuk sinematik yang kompleks (Beumers, 2006).
Kemampuan kamera digital berdefinisi tinggi saat itu yaitu Sony HDW-F900, memungkinkan Sokurov membayangkan sebuah film yang seluruhnya direkam dalam satu pengambilan gambar. Gagasan ini tidak hanya menuntut keberanian artistik, tetapi juga memerlukan pengembangan teknologi yang mampu mendukung durasi perekaman panjang tanpa terputus. Dalam praktik produksi film berbasis seluloid sebelumnya, panjang pita film di dalam magazin kamera memiliki keterbatasan tertentu sehingga pengambilan gambar harus berhenti ketika gulungan film habis. Durasi rekam yang sangat panjang dalam satu shot menjadi sesuatu yang hampir tidak mungkin dicapai dengan teknologi analog tersebut (Bordwell & Thompson, 2019).
Upaya untuk menembus batasan tersebut sebenarnya pernah dicoba pada era seluloid oleh Alfred Hitchcock melalui film Rope pada tahun 1948. Dalam film ini Hitchcock berusaha menciptakan ilusi seolah seluruh cerita berlangsung dalam satu pengambilan gambar yang berkesinambungan. Namun keterbatasan panjang pita film seluloid yang hanya mampu merekam sekitar sepuluh menit memaksanya menyembunyikan potongan gambar melalui teknik transisi yang disamarkan, misalnya dengan mendekatkan kamera ke objek gelap seperti punggung jas aktor sebelum melanjutkan shot berikutnya. Dengan cara itu rangkaian shot yang terpisah tampak seperti satu aliran visual yang terus bergerak.
Eksperimen untuk memperpanjang durasi pengambilan gambar juga dilakukan oleh sineas lain pada era seluloid. Dalam film Touch of Evil (1958), misalnya, Orson Welles membuka filmnya dengan sebuah long take yang berlangsung lebih dari tiga menit, menghadirkan gerakan kamera yang kompleks sekaligus membangun ketegangan dramatik sejak awal film. Sementara itu, Miklós Jancsó dikenal luas melalui penggunaan long take yang sangat panjang dalam film seperti The Red and the White (1967), di mana kamera bergerak mengikuti pergerakan aktor dan ruang secara koreografis. Meskipun demikian, seluruh eksperimen tersebut tetap harus berhadapan dengan batas fisik medium seluloid, sehingga durasi pengambilan gambar panjang hanya dapat dicapai melalui rangkaian shot yang dirancang sedemikian rupa, bukan melalui satu perekaman yang benar-benar kontinu.
Berbeda dengan upaya yang dilakukan oleh para sineas diatas, teknologi digital memberi peluang yang jauh lebih luas bagi Aleksandr Sokurov. Melalui film Russian Ark ia tidak lagi menciptakan ilusi satu shot, melainkan benar benar merekam keseluruhan film dalam satu pengambilan gambar yang berlangsung tanpa potongan. Sesuatu yang pada masa teknologi analog hanya dapat didekati melalui trik penyuntingan, pada era digital akhirnya dapat diwujudkan secara nyata. Dalam hal ini, Sokurov memperlihatkan sikap kreatif yang mengingatkan pada semangat eksploratif Georges Méliès pada masa awal sinema.
Jika Méliès dikenal sebagai pelopor film fiksi yang memanfaatkan medium sinema untuk menciptakan dunia imajinatif melalui berbagai trik visual dan ilusi sinematik dalam karya seperti A Trip to the Moon, maka Sokurov pada era digital juga menunjukkan kepekaan serupa dalam membaca celah kemungkinan yang tersembunyi di dalam teknologi film. Keduanya memperlihatkan bahwa perkembangan sinema tidak hanya digerakkan oleh kemajuan teknologi, tetapi juga oleh keberanian para sineas dalam mengeksplorasi potensi artistik medium yang mereka gunakan (Bordwell & Thompson, 2019; Cook, 2004).
Dengan cara ini, Russian Ark tidak hanya dapat dilihat sebagai eksperimen teknis, tetapi juga sebagai bagian dari refleksi panjang tentang perkembangan medium sinema. Dari satu pandangan kamera yang statis pada masa Auguste Lumière dan Louis Lumière, hingga satu perjalanan kamera yang terus mengalir dalam karya Aleksandr Sokurov, tampak bagaimana teknologi dan kreativitas saling mendorong untuk membuka kemungkinan baru dalam cara manusia memandang dunia dan cara para kreator berkreasi. Dalam konteks inilah eksperimen Sokurov dapat dipahami bukan sekadar sebagai keberhasilan teknis semata, melainkan sebagai upaya memperluas bahasa sinema melalui pemanfaatan kemungkinan baru yang ditawarkan oleh teknologi digital.
Perkembangan bahasa sinema dapat dilihat sebagai perjalanan melalui beberapa tahap penting. Pada masa awal, film karya Auguste Lumière dan Louis Lumière seperti L’Arrivée d’un train en gare de La Ciotat menampilkan kamera yang statis, sekadar merekam peristiwa di hadapannya. Beberapa dekade kemudian, Alfred Hitchcock mencoba memperluas kemungkinan itu melalui Rope dengan menciptakan ilusi aliran gambar tanpa potongan meskipun masih dibatasi teknologi seluloid. Perkembangan ini mencapai bentuk baru dalam karya Aleksandr Sokurov melalui Russian Ark, ketika teknologi digital memungkinkan sebuah film direkam dalam satu pengambilan gambar yang utuh.

Film Lumiere “L’Arrivée d’un train en gare de La Ciotat”, Sumber: https://www.moma.org/collection/works/307080

Film Rope karya Afred Hitchock, (Wikipedia) dan poster film “Russian Ark” – IMDb
Film Rusian Ark mengambil lokasi di Hermitage Museum di St. Petersburg, sebuah bangunan megah yang dahulu merupakan istana para Tsar Rusia sebelum akhirnya menjadi salah satu museum seni terbesar di dunia. Bagi Sokurov, museum ini bukan sekadar tempat menyimpan karya seni. Ia adalah ruang yang menyimpan lapisan waktu. Lukisan, patung, dan aula istana di dalamnya seperti memelihara ingatan panjang tentang sejarah Rusia (Beumers, 2013).
Di dalam film itu kamera bergerak perlahan menyusuri lorong, tangga, dan ruang ruang istana. Ia memasuki galeri lukisan, kemudian berpindah ke ruangan lain tempat para bangsawan berdansa. Di sepanjang perjalanan tersebut berbagai tokoh dari masa lalu Rusia muncul secara bergantian. Penonton dapat berjumpa dengan sosok seperti Peter the Great, Catherine the Great, hingga keluarga Tsar terakhir Rusia. Peristiwa yang dalam sejarah sesungguhnya dipisahkan oleh ratusan tahun hadir dalam satu perjalanan visual yang sama. Kamera berjalan seperti seseorang yang menyusuri lorong waktu.

Keputusan Sokurov untuk membuat film tanpa potongan bukan hanya pilihan artistik, tetapi juga tantangan teknis yang sangat besar. Untuk mewujudkan gagasan tersebut ia menggunakan kamera digital berdefinisi tinggi Sony HDW-F900 yang pada masa itu termasuk teknologi baru dalam produksi film (Sony, 2001). Kamera ini memungkinkan perekaman digital berkualitas tinggi yang cukup stabil untuk pengambilan gambar panjang.

Sinematografer/Steadicam Operator Tilman Burnett. Sumber gambar: Kino Images
Kamera dioperasikan oleh sinematografer Jerman Tilman Büttner menggunakan sistem steadicam. Peralatan yang dibawanya memiliki bobot cukup besar karena harus menampung kamera, sistem penyimpanan data, serta baterai. Dalam satu pengambilan gambar kamera bergerak menempuh jalur lebih dari satu kilometer melalui puluhan ruangan di Hermitage Museum. Pada saat yang sama lebih dari dua ribu pemeran dan figuran harus bergerak dengan koreografi yang sangat presisi sehingga setiap perpindahan ruang, pergerakan aktor, serta ritme kamera berlangsung dalam satu aliran yang terkoordinasi (Beumers, 2006).
Namun tantangan terbesar film Russian Ark bukan hanya persoalan koreografi produksi yang melibatkan ribuan orang. Film berdurasi 96 menit ini juga menuntut koordinasi teknis yang sangat kompleks, termasuk kerja ratusan teknisi pencahayaan. Mereka tidak hanya harus menyembunyikan sumber cahaya dari jalur pergerakan kamera, tetapi juga menempatkan peralatan pencahayaan di posisi yang aman agar tidak merusak koleksi seni dan interior bersejarah Hermitage Museum. Selain itu, produksi film ini juga harus berhadapan dengan keterbatasan teknologi perekaman digital pada masa itu.
Kamera yang digunakan adalah Sony HDW-F900 dengan format perekaman HDCAM. Media pita yang umum digunakan untuk sistem tersebut hanya mampu merekam sekitar empat puluh enam menit, durasi yang jauh lebih pendek dari konsep pengambilan gambar tunggal yang direncanakan oleh Aleksandr Sokurov.
Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, tim produksi tidak menggunakan sistem perekaman pita standar. Mereka mengembangkan sistem perekaman digital berbasis hard disk portabel yang dihubungkan langsung ke kamera. Sistem ini dirancang oleh perusahaan teknologi gambar Kopp Media di Berlin dengan dukungan teknis dari Director’s Friend di Köln. Melalui perangkat ini sinyal gambar berdefinisi tinggi dari kamera dapat direkam secara terus menerus ke dalam hard disk tanpa harus berhenti ketika pita habis.
Perangkat perekaman tersebut ditempatkan dalam unit portabel yang dibawa bersama sistem steadicam oleh sinematografer Tilman Büttner selama pengambilan gambar berlangsung. Dengan dukungan baterai berkapasitas besar dan sistem penyimpanan data berkecepatan tinggi, kamera akhirnya dapat merekam perjalanan visual di dalam Hermitage Museum secara kontinu selama 96 menit tanpa potongan.
Pengembangan sistem perekaman khusus ini menjadi salah satu kunci keberhasilan produksi film Russian Ark (2002), karena memungkinkan gagasan pengambilan gambar tunggal sepanjang film diwujudkan secara nyata pada masa ketika teknologi digital masih berada pada tahap awal perkembangannya (Beumers, 2006; Bordwell & Thompson, 2019).
Melalui kerja sama tersebut akhirnya dikembangkan sistem perekaman berbasis hard disk portabel yang mampu merekam gambar berdefinisi tinggi tanpa kompresi dengan durasi yang jauh lebih panjang. Sistem ini dilengkapi dengan baterai yang stabil sehingga kamera dapat bekerja secara terus menerus selama lebih dari satu setengah jam. Perangkat inilah yang kemudian dibawa oleh operator steadicam sepanjang perjalanan kamera di dalam museum.
Dengan dukungan teknologi tersebut gagasan sinematik Sokurov akhirnya dapat diwujudkan. Meskipun demikian proses pengambilan gambar tetap menghadapi risiko besar. Jika terjadi kesalahan kecil saja dalam koordinasi gerak kamera, aktor, atau teknisi, seluruh adegan harus diulang dari awal. Dari beberapa percobaan yang dilakukan, hasil terbaik akhirnya diperoleh pada pengambilan gambar ketiga. Pada saat itulah seluruh elemen produksi bergerak selaras dalam satu aliran visual yang utuh.
Dalam konteks sinema, situasi ini memperlihatkan sesuatu yang menarik. Keterbatasan teknologi tidak selalu menjadi penghalang bagi penciptaan bentuk artistik, justru sering kali memicu lahirnya inovasi baru. Pada kasus Russian Ark, upaya mengatasi batasan durasi perekaman digital akhirnya membuka kemungkinan bagi sebuah eksperimen sinematik yang jarang terjadi. Kamera tidak lagi bekerja melalui potongan potongan gambar, melainkan melalui satu perjalanan visual yang utuh. Dari sinilah film tersebut menghadirkan pengalaman menonton yang berbeda, seolah penonton berjalan sendiri menyusuri ruang sejarah yang terus mengalir.

“Cuplikan gambar dari film Russian Ark” Sumber gambar: The Guardian,
Apa yang dihasilkan Sokurov melalui film ini bukan sekadar pencapaian teknis. Ia menciptakan pengalaman menonton yang berbeda dari kebanyakan film modern yang bergantung pada potongan gambar dan ritme penyuntingan cepat. Dalam Russian Ark, waktu terasa mengalir secara alami. Penonton seolah berjalan perlahan menyusuri museum besar sambil memandang masa lalu.
Pendekatan ini sering dikaitkan dengan gagasan realisme film yang pernah dikemukakan oleh kritikus Prancis André Bazin. Bazin berpendapat bahwa pengambilan gambar panjang tanpa pemotongan dapat mempertahankan kontinuitas realitas dan memberi kebebasan kepada penonton untuk mengamati ruang film secara lebih utuh (Bazin, 2005). Dalam konteks ini, Russian Ark terasa seperti sebuah mimpi panjang tentang sejarah. Kamera tidak sekadar merekam ruang, tetapi juga menyusuri ingatan kolektif suatu bangsa.
Pada bagian akhir film, penonton dibawa memasuki sebuah pesta besar di istana pada awal abad kedua puluh. Para bangsawan berdansa dengan kostum mewah di bawah cahaya lampu kristal yang gemerlap. Musik mengalun lembut dan ruangan dipenuhi suasana kemewahan. Namun perlahan suasana berubah menjadi melankolis. Seolah para tokoh yang hadir di dalamnya sedang merayakan sesuatu yang segera akan berakhir. Kita mengetahui bahwa setelah masa itu Kekaisaran Rusia akan runtuh.
Di sinilah keindahan Russian Ark menemukan maknanya. Film ini bukan hanya perjalanan melalui ruang museum, tetapi juga perjalanan melalui waktu yang rapuh. Sejarah hadir bukan sebagai rangkaian tanggal dan peristiwa, melainkan sebagai pengalaman yang mengalir di depan mata.


Cuplikan adegan menjelang akhir Russian Ark. Sumber:Medium.com
Salah satu kekuatan utama Russian Ark terletak pada cara kamera bergerak. Dalam film ini kamera tidak hanya berfungsi sebagai alat perekam gambar, melainkan sebagai subjek yang mengembara di dalam ruang sejarah. Gerakannya perlahan, kadang menyusuri lorong panjang, kadang memasuki ruang yang dipenuhi lukisan dan patung, lalu berbelok menuju aula tempat para bangsawan berdansa.
Gerakan tersebut menciptakan pengalaman visual yang menyerupai perjalanan seorang pengunjung museum. Kamera tidak memaksa penonton untuk melihat sesuatu melalui potongan potongan gambar yang ditentukan oleh penyuntingan. Sebaliknya penonton diajak mengikuti aliran pandangan yang terus bergerak. Dalam situasi ini ruang menjadi elemen penting dalam pembentukan narasi.
Setiap perpindahan ruang menghadirkan lapisan waktu yang berbeda. Ketika kamera melewati satu pintu penonton seakan melangkah ke periode sejarah yang lain. Tanpa perubahan shot dan tanpa tanda transisi yang jelas masa lalu dan masa kini seolah mengalir dalam satu kontinuitas visual.
Pendekatan ini memperlihatkan bagaimana gerak kamera dapat berfungsi sebagai struktur penceritaan. Alih alih menggunakan montage untuk membangun hubungan antar peristiwa, Sokurov memanfaatkan perjalanan kamera untuk menghubungkan ruang, tokoh, dan waktu. Kamera menjadi benang yang merajut fragmen sejarah menjadi satu pengalaman yang utuh.
Dengan cara ini Sokurov memperluas kemungkinan bahasa sinema. Kamera tidak hanya menjadi alat untuk merekam tindakan, tetapi dalam satu napas sinematik.
Dalam rentang waktu lebih dari satu abad sinema terus berubah mengikuti perkembangan teknologi. Namun kadang kadang inovasi terbesar justru muncul ketika seorang pembuat film kembali kepada pertanyaan paling dasar tentang medium ini. Apa yang terjadi jika kamera hanya dibiarkan melihat dunia tanpa berhenti.
Melalui Russian Ark, Sokurov memberikan satu kemungkinan jawaban. Kamera dapat menjadi saksi yang berjalan perlahan di antara ruang, waktu, dan ingatan manusia. Ia bergerak tanpa potongan seperti arus sejarah yang terus mengalir.
—
Daftar Pustaka
Bazin, André. 2005. What Is Cinema? Volume 1. Berkeley: University of California Press.
Beumers, Birgit. 2006. The Cinema of Alexander Sokurov: Figures of Paradox. London: Wallflower Press.
Bordwell, David, dan Kristin Thompson. 2019. Film Art: An Introduction. 12th Edition. New York: McGraw-Hill Education.
Cook, David A. 2004. A History of Narrative Film. 4th Edition. New York: W.W. Norton & Company.
Sony Corporation. 2001. HDW-F900 CineAlta High Definition Camcorder: Technical Overview. Tokyo: Sony Corporation.
—-
*Bambang Supriadi, Indonesian Cinematographer Society (ICS).





