Wajah Perempuan dalam Sastra Jawa
Sebuah Koreografi Estetika Macak, Masak, Manak
Oleh: Gus Nas Jogja*
Di cakrawala sejarah yang berselimut kabut duwung, perempuan Jawa kerap hadir bagaikan gending yang mengalun di sela derit pintu jati: ada, namun seringkali dianggap sebagai latar yang gaib. Namun, jika kita menyelam lebih dalam ke palung literasi budaya, melintasi reruntuhan candi yang membisu hingga ke serat-serat manuskrip yang mulai rapuh, kita akan menemukan bahwa wajah perempuan dalam sastra Jawa bukanlah sekadar ornamen estetis. Ia adalah episentrum kosmik, rahim dari mana peradaban adiluhung dilahirkan.
Esai ini adalah sebuah ziarah puitis—sebuah upaya rekonstruksi historiografis untuk membasuh wajah sejarah perempuan Jawa yang terkadang terhapus oleh debu patriarki. Kita akan membedah anatomi kewanitaan dari relief batu, gema sastra lisan, hingga dialektika pemikiran para pujangga yang meletakkan perempuan sebagai penjaga gerbang moralitas dan spiritualitas Nusantara.
Jauh sebelum tinta mangsi menyentuh daun lontar, perempuan telah dipahat dengan penuh pemujaan pada dinding-dinding batu. Secara arkeologis, wajah perempuan dalam masa Jawa Kuno adalah wajah Dewi. Pada relief Karmawibhangga di Borobudur atau kisah Ramayana di Prambanan, perempuan tidak dihadirkan sebagai objek yang pasif. Ia adalah Sakti—energi penggerak yang tanpa darinya, dewa-dewa akan kehilangan daya ciptanya.
Kutipan kuno dalam kitab OAW (Old Javanese) sering mengisyaratkan:
“Tan hana hana, tan hana sakti”
Tiada keberadaan tanpa kekuatan perempuan.
Wajah ini adalah wajah otoritas. Arkeologi membuktikan melalui prasasti-prasasti seperti Prasasti Canggal atau Mantyasih bahwa perempuan bangsawan Jawa memiliki hak atas tanah atau Sima dan kedaulatan politik. Sastra lisan yang mengiringi pembangunan candi-candi ini menggambarkan perempuan sebagai simbol kesuburan bumi (Dewi Sri) yang harus dirawat dengan sembah dan doa, bukan dengan penindasan.
Memasuki era Mataram Islam, wajah perempuan dalam sastra Jawa mengalami metamorfosis yang kompleks. Dalam Serat Centhini atau Serat Centhini Tambangraras, kita melihat pergeseran dari wajah dewi menuju wajah Zahidah atau perempuan spiritual yang mencari hakikat Tuhan melalui pengabdian dan cinta.
Tokoh Siti Jenar atau dalam konteks kewanitaan, sosok Ken Tambangraras, digambarkan memiliki kedalaman intelektual yang setara dengan laki-laki. Namun, di balik keindahan rima Dhandhanggula, terselip sebuah historiografi yang paradoks: perempuan dipuja dalam puisi, namun dipingit dalam realitas.
Pujangga R.Ng. Ranggawarsita dalam Serat Kalatidha memberikan isyarat samar tentang pentingnya keseimbangan antara feminitas dan maskulinitas untuk menghadapi zaman edan. Bagi Ranggawarsita, perempuan adalah “ibu pertiwi” yang jika dikhianati, maka keseimbangan alam akan runtuh.
“Amenangi zaman edan, ewuh aya ing pambudi...”
Meskipun kutipan ini sering dikaitkan dengan kondisi sosial politik umum, para penafsir budaya melihat bahwa “edan” -nya zaman bermula ketika perempuan kehilangan haknya untuk menjadi penuntun moral di dalam keluarga atau domestic leadership.
Dalam 4Serat Wulang Reh_ karya Sri Susuhunan Pakubuwana IV, wajah perempuan dikonstruksi melalui lensa etika yang ketat. Muncul istilah Macak, Masak, Manak. Secara sosiolinguistik, ini sering disalahpahami sebagai domestikasi yang merendahkan. Namun, jika kita bedah secara literasi budaya, ketiga konsep ini adalah tugas kenegaraan dalam lingkup mikro:
1. Macak (Estetika): Menjaga harmoni dan keindahan jagat kecil.
2. Masak (Logistik): Ketahanan pangan dan energi keluarga.
3. Manak (Reproduksi): Memastikan keberlanjutan regenerasi ksatria dan pujangga.
Wajah perempuan di sini adalah wajah Pendidik Utama. Sebagaimana pemikiran Pangeran Sambernyawa atau Mangkunegara I dalam ajaran Tri Dharma, perempuan Jawa diharapkan memiliki watak mulat sarira atau mawas diri. Sastra Jawa lisan dalam bentuk tembang dolanan yang dinyanyikan ibu untuk anaknya adalah kurikulum tersembunyi yang membentuk mentalitas manusia Jawa selama berabad-abad.
Tak mungkin membahas wajah perempuan dalam sastra Jawa tanpa menyinggung penguasa Laut Selatan. Mitos Nyai Roro Kidul adalah sebuah narasi historiografis tentang kedaulatan perempuan yang tak tersentuh oleh daratan (patriarki politik). Dalam Babad Tanah Jawi, hubungan antara raja-raja Mataram dengan Sang Ratu Kidul adalah simbol dari “perkawinan” antara kekuatan maskulin (daratan/politik) dan kekuatan feminin (lautan/spiritual-emosional).
Wajah perempuan di sini adalah wajah Misteri dan Kekuasaan. Ia adalah pelindung kerajaan. Secara semiotik, laut selatan yang ganas melambangkan kedalaman batin perempuan yang sanggup menenggelamkan atau menyelamatkan. Pujangga-pujangga keraton menciptakan kidung-kidung khusus seperti Bedhaya Ketawang sebagai bentuk pengakuan bahwa legitimasi kekuasaan laki-laki di Jawa barulah sah jika “direstui” oleh entitas feminin yang agung.
Memasuki abad ke-20, wajah perempuan dalam sastra Jawa meledak dalam bentuk surat-surat dan pemikiran R.A. Kartini. Meskipun ia menulis dalam bahasa Belanda, ruhnya adalah ruh Serat Darmo Gandhul4 yang kritis dan berani. Kartini adalah wajah Pujangga Baru yang meruntuhkan sekat antara wingking (belakang) dan ngajeng (depan).
Ia menulis kepada Stella Zeehandelaar:
“Kami, perempuan Jawa, tidak meminta untuk menjadi laki-laki. Kami hanya meminta agar pintu pendidikan dibuka bagi kami, agar kami bisa menjadi ibu yang lebih baik bagi anak-anak kami, dan warga negara yang lebih berguna bagi bangsa kami.”
Dalam pandangan filsafat Jawa, Kartini adalah pengejawantahan dari Kinasihan Gusti —seorang yang dipilih untuk membawa obor di tengah kegelapan intelektual. Setelah era Kartini, muncul penulis-penulis perempuan Jawa yang mulai menulis tentang seksualitas, kemandirian, dan ketuhanan dengan diksi yang lebih tajam, seperti dalam karya-karya sastra Jawa modern (Cariyos Nyata).
Secara historiografis, perempuan Jawa bukan hanya objek tulisan, tapi subjek sejarah. Ratu Kalinyamat yang melakukan tapa wuda asketisme total demi menuntut keadilan adalah puncak dari narasi perlawanan feminin. Sastra Jawa menggambarkan aksi ini bukan sebagai tindakan pornografis, melainkan sebagai tapa brata yang menggetarkan singgasana tiran.
Wajah perempuan Jawa adalah wajah Ketabahan yang Aktif. Ia tidak berteriak di jalanan, tapi ia mengikatkan jiwanya pada janji langit hingga takdir berubah arah. Para pujangga menyebutnya sebagai Wanita Utama—bukan karena kepatuhannya pada lelaki, tapi karena kepatuhannya pada prinsip kebenaran (Dharma).
Wajah perempuan dalam sastra Jawa adalah sebuah spektrum: dari kelembutan sutera hingga ketajaman keris. Ia adalah dewi di atas relief, zahidah dalam manuskrip, pendidik dalam serat-serat piwulang, dan ratu di kedalaman samudra.
Mengabaikan wajah perempuan dalam sastra Jawa berarti membutakan sebelah mata sejarah kita. Pujangga masa depan harus mampu menuliskan kembali narasi ini, bukan sebagai lampiran, melainkan sebagai bab utama dalam kitab peradaban Nusantara. Sebab, sebagaimana kata pepatah Jawa kuno:
“Swarga nunut neraka katut”
Diksi ini harus dibaca ulang secara filosofis: bahwa ke mana pun peradaban ini pergi—menuju surga kemajuan atau neraka kehancuran—perempuanlah yang memegang kuncinya. Jika perempuan dimuliakan dalam aksara dan realitas, maka surga peradaban akan mewujud.
Wajah perempuan dalam sastra Jawa adalah wajah kita semua—wajah asal-usul yang menuntut untuk dikenali kembali. Dari manuskrip sunyi di perpustakaan keraton hingga sastra lisan di pinggir desa, perempuan Jawa tetap menjadi energi yang menghidupkan bahasa, yang mempuitiskan hidup, dan yang mengabadikan sejarah.
—-
*Gus Nas Jogja, Budayawan.





