Puisi-puisi Abdul Wachid B.S.
BALADA NISAN TANPA NAMA
Di bukit sunyi,
di bawah pohon bidara
yang menggugurkan bayang,
ada seonggok tanah merah
yang tak dikunjungi pelayat.
Tak ada batu pualam,
tak ada tanggal wafat,
hanya sekeping kayu lapuk
tanpa aksara
dan wangi samar
yang turun tiap petang
menjelma doa.
Burung hantu sering bertengger
di dahannya,
bukan membawa kabar,
tapi menjaga rahasia.
Sebab tubuh
yang dikubur di situ
tak menyisakan nama,
tak butuh ziarah,
tak perlu tahlil massal
ia telah selesai
dengan dunia,
dan kembali menjadi
hembus zikir di udara.
Waktu tak mencatatnya
dalam silsilah ulama,
tapi batu-batu kecil
di sekitar kubur
menyusun zikirnya
menjadi aksara halus
yang hanya bisa dibaca
oleh angin
dan anak-anak yatim.
Orang-orang datang,
bertanya perlahan:
“Kubur siapa ini?
Mengapa harum
seperti mimpi yang damai?”
Tak ada jawaban,
hanya semilir angin
membawa ayat-ayat
yang tak tertulis dalam mushaf,
tapi terasa di dada.
Di malam-malam ganjil
bulan Syaban,
cahaya tipis turun
seperti embun,
menyentuh nisan
tanpa huruf,
dan seseorang mendengar suara:
“Aku tak ingin dikenal di bumi,
agar dapat dilihat di langit.”
Kini makam itu
jadi perhentian
bagi yang letih
membawa beban nama,
dan yang kehilangan arti
dalam gemerlap dunia.
Di sana mereka duduk,
diam,
dan pulang dengan dada ringan.
Sebab sufi itu
tak meninggalkan warisan
selain aroma zikir
yang tak bisa dibeli,
tak bisa diwarisi,
hanya bisa dirasakan
oleh yang hening.
2025
BALADA KUCING HITAM
DI TANGGA MUSHOLA
Setiap azan subuh,
ia duduk di anak tangga ketiga
bulu hitamnya mengilap
seperti malam
yang lupa tidur.
Tak pernah mengganggu,
tak pernah mengeong,
hanya menatap kiblat
dengan mata yang dalam
seperti lubuk zikir.
Ia bukan piaraan marbot,
bukan kucing pasar,
ia datang sendiri
dan tinggal sendiri,
seperti rahasia
yang menolak ditulis.
Anak-anak sering bertanya,
“Mengapa ia hanya muncul
saat waktu fajar?”
Tapi para tua menunduk,
karena tahu:
ada makhluk
yang menjaga waktu
lebih khusyuk
daripada manusia.
Pernah sekali ia hilang
tujuh hari lamanya,
dan mushola itu
tiba-tiba terasa kosong,
seperti rakaat
yang tertinggal tak diingat.
Tapi pagi ke-delapan
ia kembali,
duduk lagi
di tangga yang sama,
dan seekor burung
terbang rendah
menyentuh bulunya
seolah mengucap:
“Waktu telah pulih.”
Seorang musafir berkata,
“Dia bukan kucing,
tapi penjaga yang diutus
untuk menyaksikan
siapa yang shalat karena cinta,
dan siapa karena hanya peminta.”
Kini, jika fajar datang,
orang-orang tak hanya dengar azan,
tapi menanti
si hitam sunyi itu
penanda bahwa waktu
masih diberkahi,
dan dunia belum benar-benar
lupa Tuhan.
2025
BALADA KUDA BERBULU ABU
DI TENGAH MALAM
Tak ada tapak,
tak ada suara,
hanya bayang kuda
melintas
di antara dengkur
dan zikir yang lirih.
Bulu abunya
seperti kabut
yang lupa kembali
ke rimba pagi.
Ia tak menoleh,
tak meringkik,
tapi langkahnya
menggetarkan bumi
yang sedang tidur
dalam mimpi manusia.
Orang berkata:
itu hanya bayangan
dari dongeng tua
atau jin pengelana
yang salah arah pulang.
Tapi seorang wali bermata senja
berbisik pada angin malam,
“Itu bukan kuda,
melainkan kendaraan
yang membawa ruh-ruh suci
naik ke langit,
dalam perjalanan
yang tak ditandai waktu.”
Ada anak kecil
di beranda mushola,
yang melihatnya sekali
dan menangis
tanpa tahu sebabnya.
Ada pula seorang ibu
yang bermimpi menungganginya,
lalu bangun
dengan wajah bersinar,
seperti baru pulang
dari langit ketujuh.
Kini, jika malam datang
dan semua telah tidur,
orang-orang tak hanya diam,
tapi menunggu
dari balik tabir hati
barangkali kuda itu
datang lagi
untuk menjemput
mereka yang telah selesai
dengan dunia.
2025
BALADA KERIS YANG TIDAK MAU DICABUT
Di dinding kayu tua
yang harum oleh dupa dan doa,
sebuah keris tergantung
dengan pamor mengalir
seperti sungai yang tak mau membunuh.
Ia bukan pusaka warisan,
bukan pula lambang kuasa,
tapi sebilah senyap
yang menyimpan ruh
seorang lelaki
yang wafat dalam sujud.
Berkali-kali orang mencoba
mencabutnya dari warangka,
namun besi itu membatu,
seperti menolak
mengalirkan darah baru.
“Sudah kubersihkan dengan kembang tujuh rupa!”
teriak seorang dukun tua.
Tapi keris itu tetap diam
seperti zikir yang tak ingin dipamerkan.
Anak kecil lewat,
menyentuhnya pelan,
dan seutas angin
turun dari atap
membisikkan kisah,
“Dulu, ia ditarik dari sarungnya
hanya untuk menjaga,
bukan membunuh.
Ia menolak menari
bila bukan cinta
yang memegang gagangnya.”
Seorang pertapa berkata,
“Itu bukan keris,
tapi sumpah seorang sufi
yang bersedia menampung murka
agar dunia tetap seimbang.”
Kini, setiap malam Jumat
orang-orang datang bukan untuk meminta kesaktian,
tapi duduk di bawahnya
membaca surat Yasin
dengan kepala tertunduk,
karena tahu:
ada senjata
yang justru melindungi dunia
dengan menolak melukai.
2025
BALADA LELAKI TUA DI BAWAH POHON MAJA
Setiap siang rembang,
ia duduk bersila di bawah pohon maja
kain lusuh, sorban miring,
dan tasbih dari biji yang sudah tak bernama.
Tak pernah meminta,
tak pernah berkata lebih dari satu kalimat.
Hanya senyum
yang menjawab tanya
dan tatapannya
seperti air
yang tahu isi sumur.
Anak-anak mengira ia pelupa,
pedagang mengira ia penganggur,
penjaga pasar memanggilnya Pak Wali,
meski tak pernah tahu asalnya.
Terkadang ia berbicara
kepada semut,
atau burung pipit
yang turun mematuki bayangannya.
Dan jika ada yang duduk bersamanya,
ia berkata lirih,
“Jangan cari Tuhan di tempat gaduh.
Ia diam di hati yang memaafkan.”
Orang-orang mencatat ucapannya,
lalu membandingkan
dengan kitab-kitab lama,
namun tak pernah menemukan
kata yang sama
selain:
hikmah.
Suatu hari,
ia tak ada di bawah pohon maja.
Hanya tersisa sepasang sandal tua,
dan jejak lingkar
di atas tanah
seperti bekas sujud
yang terlalu lama.
Kini orang datang dari jauh
sekadar menyentuh batang pohon itu.
Dan daun-daun maja
jatuh lebih pelan
seolah tahu
ia pernah berteduh di sana.
2025
—-
Abdul Wachid B.S., lahir 7 Oktober 1966 di Bluluk, Lamongan, Jawa Timur. Dia lulus Sarjana Sastra dan Magister Humaniora di UGM, dan lulus Doktor Pendidikan Bahasa Indonesia di Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta. AWBS menjadi Guru Besar Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri, Purwokerto.
Buku terbarunya, Kisah untuk Anak Cucu (Kumpulan Puisi Balada, Penerbit Diva Press, 2025). Melalui buku bunga rampai esai Sastra Pencerahan, Abdul Wachid B.S. menerima penghargaan Majelis Sastrawan Asia Tenggara (Mastera) sebagai karya tulis terbaik kategori pemikiran sastra, pada 7 Oktober 2021 (tepat di ulang tahunnya yang ke-55).***




