Kuasa Dolar, Air Mata Telenovela, dan Minyak Venezuela

Elegi Petrodollar di Atas Pusara Kedaulatan

Oleh Gus Nas Jogja*

Uang, khususnya dolar, dalam bentuknya yang paling murni, adalah sebuah janji. Namun, dalam ekosistem kapitalisme global, dolar AS telah bermutasi dari sekadar alat tukar menjadi teologi yang menuntut kepatuhan mutlak. Jika Tuhan menciptakan dunia dari ketiadaan atau creatio ex nihilo, maka Federal Reserve di Amerika menciptakan kekuatan ekonomi dari kertas yang tak berjamin—sebuah fatwa sesat uang fiat yang disucikan oleh mesiu.

Venezuela, sebuah negeri yang diberkati –atau dikutuk– oleh 303 miliar barel minyak, kini menjadi panggung telenovela berdarah. Di sini, naskahnya bukan ditulis oleh sutradara bernama Caracas, melainkan oleh para teknokrat di Washington yang sedang panik melihat “Matahari Petrodollar” mulai terbenam di ufuk Timur. Serangan terhadap Venezuela bukanlah tentang demokrasi; ia adalah ritual pengorbanan demi menjaga detak jantung dolar agar tetap memompa darah ke seluruh arteri kolonialisme baru.

Nalar Petrodollar: Henry Kissinger dan Perjanjian Faustian 1974

Filsafat politik Amerika sejak 1974 berakar pada satu meja perundingan antara Henry Kissinger dan wangsa Saud. Ini adalah “Perjanjian Faustian” modern: minyak ditukar dengan perlindungan, kedaulatan ditukar dengan dolar.

George Soros, sang taipan spekulasi, pernah berujar dalam diktumnya yang terkenal tentang refleksivitas: “Sistem keuangan global saat ini adalah sebuah struktur yang sangat tidak stabil karena ia dibangun di atas fondasi kepercayaan yang dimanipulasi.” Kesepakatan Kissinger menciptakan permintaan buatan. Setiap negara dipaksa untuk bekerja, memeras keringat, dan merusak alam mereka hanya untuk mendapatkan “kertas hijau” agar bisa membeli energi. Amerika, sebaliknya, cukup mencetak kertas itu. Inilah kolonialisme tanpa bendera, sebuah penjajahan melalui inflasi yang diekspor. Ketika Venezuela berkata “tidak” pada dolar dan beralih ke Yuan, mereka bukan hanya mengganti mata uang; mereka sedang melakukan murtad terhadap agama ekonomi dunia.

Pola Berulang: Syuhada Dolar dari Saddam hingga Gaddafi

Sejarah de-dollarisasi adalah sebuah martirologi. Kita menyimak pola yang sama, seolah-olah sejarah adalah sebuah lingkaran setan yang tak pernah belajar.

1. Saddam Hussein (2000): Mengumumkan penjualan minyak dalam Euro. Hasilnya? Invasi 2003 atas nama “Senjata Pemusnah Massal” yang hanya ada dalam imajinasi intelijen.

2. Muammar Gaddafi (2009): Mengusulkan Dinar Emas Pan-Afrika. Hasilnya? Bom NATO dan tawa dingin Hillary Clinton.

Elon Musk, yang sering bicara tentang masa depan peradaban, secara satir pernah mencuitkan kegelisahannya tentang utang AS: “Uang hanyalah entri data dalam database yang berfungsi untuk mengalokasikan tenaga kerja. Jika utang terlalu besar, database itu akan rusak.” Amerika sedang berusaha mencegah “database” dolar itu rusak dengan cara membom siapa saja yang mencoba membuat database tandingan.

Telenovela Venezuela: Minyak, Yuan, dan BRICS
Venezuela di bawah

Maduro –dan Chavez sebelumnya– melakukan dosa tak termaafkan bagi Uncle Sam: mereka duduk di atas cadangan minyak terbesar di bumi dan menolak menggunakannya untuk mensubsidi gaya hidup Amerika. Dengan membangun saluran pembayaran langsung ke Tiongkok dan bersekutu dengan Rusia serta Iran, Venezuela sedang merajut kain kafan bagi hegemon dolar.

Jack Ma, pendiri Alibaba yang memahami dinamika digital dan modal, pernah memperingatkan: “Perdagangan bukan tentang membeli dan menjual, tapi tentang kepercayaan. Jika Anda menggunakan perdagangan sebagai senjata, Anda menghancurkan kepercayaan itu sendiri.”

Amerika baru saja mengubah dolar dari mata uang dunia menjadi senjata sanksi. Namun, senjata adalah benda yang bisa tumpul. Ketika BRICS (Brasil, Rusia, India, Tiongkok, Afrika Selatan) menguasai 40% PDB global dan mulai membangun sistem pembayaran mBridge, mereka tidak sedang membuat alternatif; mereka sedang membangun perahu penyelamat saat kapal Titanic dolar mulai menabrak gunung es utang.

Perjamuan Terakhir di Mar-a-Lago

Di sebuah sudut mewah Mar-a-Lago, seorang penasihat keamanan berbisik kepada sang pemimpin, “Tuan, Venezuela menjual minyak dalam Yuan. Ini pencurian!” Sang pemimpin bertanya, “Pencurian terhadap siapa?” Penasihat itu menjawab dengan wajah serius, “Pencurian terhadap hak istimewa kita untuk mencetak uang dari udara kosong. Jika mereka tidak menggunakan dolar kita, kita harus bekerja seperti orang lain di dunia ini. Dan itu, Tuan, adalah pelanggaran hak asasi Amerika!”

Satire ini adalah wajah asli dari pernyataan Stephen Miller. Klaim bahwa minyak Venezuela adalah “milik Amerika” karena perusahaan AS mengembangkannya 100 tahun lalu adalah logika pemilik perkebunan tebu pada abad ke-18. Ini adalah Neo-Colonialism yang memakai dasi dan berbicara tentang “keamanan nasional.”

Joseph Stiglitz, peraih Nobel Ekonomi yang vokal mengkritik globalisasi yang pincang, menjelaskan bahwa sistem cadangan dolar saat ini adalah sebuah ketidakadilan global. Negara-negara miskin meminjamkan uang kepada negara terkaya di dunia (AS) dengan bunga rendah dalam bentuk cadangan devisa, sementara mereka sendiri menderita.

Secara filosofis, invasi Venezuela adalah pengakuan kegagalan. Ketika sebuah mata uang tidak lagi bisa bersaing secara intelektual dan ekonomis, ia akan menggunakan otot. Namun, filsafat sejarah mengajarkan kita bahwa kekuasaan yang dibangun di atas bayonet tidak akan pernah bisa bertahan lama.

Dalam visi spiritual, minyak adalah “darah bumi”. Mengeksploitasi darah ini demi mempertahankan gelembung keuangan fiat adalah sebuah dosa ekologis yang masif. Venezuela kini menjadi kurban dalam altar kapitalisme global. Kolonialisme baru tidak lagi membutuhkan gubernur jenderal di Caracas; mereka hanya butuh perusahaan minyak AS kembali ke sana dan memastikan minyak mengalir dalam denominasi dolar.

3 Januari 2026 mungkin akan dicatat sebagai hari di mana Amerika mencoba menghentikan waktu. Seperti Panama pada 1990, alasan “narkoba” hanyalah kosmetik untuk menyembunyikan wajah operasi kontrol sumber daya strategis.

Namun, dunia tahun 2026 bukan lagi dunia tahun 1990. Tiongkok dengan CIPS-nya, Rusia dengan kedaulatan energinya, dan BRICS dengan kolektivitasnya adalah penantang yang tidak bisa sekadar dibom. Jika Amerika harus menyerang setiap negara yang melakukan de-dollarisasi, maka Pentagon harus memerangi tiga perempat populasi dunia.

Kematian petrodollar bukan karena serangan luar, melainkan karena kanker di dalamnya: keserakahan yang tak terbendung dan ketergantungan pada utang. Venezuela hanyalah katalisator. Telenovela ini akan berakhir bukan dengan kemenangan pahlawan berbaju bintang, melainkan dengan runtuhnya gedung pencakar langit keuangan yang dibangun di atas pasir hisap uang fiat.

Dialektika Utang dan Mesiu: Mengapa Dolar Membutuhkan Musuh?

Secara filosofis, keberadaan dolar AS dalam dekade terakhir telah berubah menjadi apa yang disebut Hegel sebagai “Dialektika Tuan dan Pelayan”. Dunia adalah pelayan yang bekerja keras memproduksi barang nyata, sementara Amerika adalah tuan yang hanya memproduksi angka digital di layar komputer. Namun, relasi ini hanya bisa bertahan jika si pelayan tetap percaya bahwa angka digital itu memiliki nilai.

Ketika Venezuela—dan kini BRICS—mulai mempertanyakan nilai tersebut, Amerika merespons dengan satu-satunya alat yang tersisa di kotak perkakasnya: kekerasan!

Elon Musk dalam sebuah diskusi teknis pernah menyatakan bahwa “Mata uang hanyalah mekanisme untuk mengalokasikan tenaga kerja melintasi waktu dan ruang.” Namun, ketika mekanisme itu dipaksakan dengan moncong senjata, ia bukan lagi alat alokasi, melainkan alat perbudakan. Penyerangan terhadap Venezuela pada 3 Januari 2026 adalah bukti bahwa dolar tidak lagi mampu bersaing melalui inovasi atau kekuatan ekonomi murni, melainkan harus melalui sabotase militer.

Teori Konspirasi yang Menjadi Kenyataan: Dokumen yang Bocor

Banyak yang menyebut argumen petrodollar sebagai “teori konspirasi”, namun sejarah adalah saksi yang jujur. Email Hillary Clinton yang bocor terkait Libya bukan lagi sekadar spekulasi; itu adalah bukti empiris. Perintah penangkapan Maduro atas tuduhan “narkoterorisme” pada hari yang sama dengan penangkapan Noriega di Panama 36 tahun silam bukanlah sebuah kebetulan puitis. Ini adalah Rima Sejarah.

George Soros pernah mengutip buku Karl Popper berjudul “Open Society”, namun dalam praktiknya, masyarakat global hanya dianggap “terbuka” jika pasar mereka terbuka bagi eksploitasi dolar. Jika sebuah negara menutup pintunya bagi dolar—seperti yang dilakukan Venezuela dengan Yuan—maka “masyarakat terbuka” itu akan dipaksakan masuk melalui pintu yang didobrak oleh tentara. Ini adalah kolonialisme baru yang menggunakan narasi “hak asasi manusia” sebagai pelumas bagi mesin perang yang haus minyak.

Kurs Valuta Asing di Garis Depan

Seorang komandan pasukan khusus AS di hutan Venezuela bertanya kepada tawanan perang, “Di mana kalian menyembunyikan narkobanya?” Tawanan itu menjawab, “Kami tidak punya narkoba, kami hanya punya kontrak minyak dalam Yuan.” Sang komandan menghela napas, “Sial, itu jauh lebih mematikan bagi ekonomi kami daripada kokain. Bakar kontrak itu, dan pastikan kalian hanya menerima uang kertas bergambar Benjamin Franklin mulai besok!”

Jack Ma dan para inovator fintech di Timur telah menyadari bahwa sistem SWIFT adalah “leher” yang sewaktu-waktu bisa dicekik oleh Washington. Pembangunan mBridge dan CIPS oleh Tiongkok adalah upaya membangun jalur pernapasan baru. Jika 20% cadangan minyak dunia (milik Venezuela) mengalir melalui jalur ini, maka dolar akan mengalami “asfiksia” atau mati lemas karena kekurangan permintaan global.

Ini menjelaskan mengapa Stephen Miller dan para elit di Mar-a-Lago begitu agresif. Mereka tidak sedang membela rakyat Venezuela; mereka sedang membela “Hak Istimewa yang Tidak Adil” atau Exorbitant Privilege yang memungkinkan Amerika memiliki defisit anggaran triliunan dolar tanpa mengalami hiperinflasi. Jika petrodollar runtuh, Amerika akan menjadi “negara berkembang” dalam semalam, dengan utang yang tidak akan pernah bisa dibayar.

Pelajaran pahit dari buku Fatwa Sesat Uang Fiat menjadi relevan di sini: sistem yang dibangun di atas ilusi dan utang memerlukan kekerasan konstan untuk mempertahankan kredibilitasnya. Venezuela adalah korban terbaru dalam altar penyembahan terhadap Dolar. Namun, invasi ini mungkin akan menjadi bumerang sejarah.

Dalam visi spiritual, ini adalah akhir dari sebuah zaman kegelapan di mana kertas menguasai keringat manusia. Fajar multipolar sedang menyingsing. Ketika senjata tidak lagi mampu menakuti bangsa-bangsa untuk menggunakan sebuah mata uang, itulah saat di mana hegemoni benar-benar berakhir. Venezuela mungkin diduduki secara fisik, tetapi gagasan de-dollarisasi telah lepas dari botolnya dan tidak bisa dimasukkan kembali.

Epistemologi Kekuasaan: Mengapa Dolar Harus Menjadi “Tuhan” yang Cemburu

Secara filosofis, hegemoni dolar adalah bentuk Ontologi Paksaan. Sejak 1974, dolar bukan lagi sekadar alat tukar, melainkan menjadi “ada” (Being) yang tanpanya ekonomi dunia dianggap “tiada”. Jika dunia adalah sebuah teater, maka dolar adalah satu-satunya mata uang yang diakui untuk membeli tiket masuk. Venezuela, dengan mencoba menjual minyak dalam Yuan, sedang melakukan tindakan Bid’ah Ekonomi. Mereka mencoba menciptakan realitas baru di luar naskah yang ditulis oleh Kissinger.

George Soros sendiri sering bicara tentang “Refleksivitas”—bahwa persepsi kita terhadap kenyataan dapat mengubah kenyataan itu sendiri. Amerika sangat menyadari hal ini. Jika dunia “mempersepsikan” bahwa dolar bisa digantikan, maka dolar akan kehilangan nilainya. Oleh karena itu, serangan ke Caracas adalah sebuah pesan visual yang brutal: persepsi tentang alternatif harus dihancurkan sebelum ia mengkristal menjadi kenyataan. Ini adalah perang melawan imajinasi kolektif bangsa-bangsa BRICS.

Kolonialisme Baru: Neraka di Balik Janji Surga

Dalam diksi sastrawi, narasi “pembebasan” Venezuela adalah sebuah Oksimoron. Kita melihat diksi “Demokrasi” dan “Kemanusiaan” digunakan untuk membungkus mesin keruk minyak yang haus. Ini adalah pengulangan tema dalam novel The Quiet American karya Graham Greene—tentang niat baik yang buta yang sebenarnya hanya menjadi kedok bagi imperialisme.

Penerima Nobel Sastra, Harold Pinter, dalam pidatonya yang fenomenal pernah mengkritik kebijakan luar negeri AS dengan sangat pedas: “Amerika Serikat tidak peduli pada kematian, selama kematian itu terjadi di tempat lain dan demi kepentingan pasar.” Di Venezuela, kematian kedaulatan dirayakan sebagai “kemenangan kebebasan”. Namun, bagi rakyat jelata di Caracas, mereka hanya berpindah dari satu penderitaan ke penderitaan lain: dari sanksi yang mencekik ke pendudukan yang menjarah.

Dialog di Kantor Federal Reserve

Seorang pejabat bank sentral bertanya kepada seorang jenderal, “Mengapa kita harus mengirim kapal induk ke Karibia? Bukankah inflasi kita sudah cukup tinggi?” Sang jenderal menjawab sambil menunjuk peta cadangan minyak Venezuela, “Kita tidak mengirim kapal induk untuk menghentikan inflasi, kita mengirimnya untuk memastikan bahwa satu-satunya cara dunia membayar utang kita adalah dengan menggunakan kertas yang kita cetak sendiri. Jika mereka memakai Yuan, kertas kita hanya akan jadi tisu toilet di New York.”

Ekologi dan Masa Depan: Darah Bumi dalam Denominasi Emas

Secara ekologi, minyak adalah memori purba planet ini. Mengubahnya menjadi instrumen peperangan finansial adalah sebuah penghinaan terhadap alam. Elon Musk mungkin benar bahwa masa depan adalah energi berkelanjutan, tetapi selama transisi itu berlangsung, minyak tetap menjadi “emas hitam” yang menentukan siapa yang berkuasa.

Para ahli yang menulis dalam Fatwa Sesat Uang Fiat berargumen bahwa kembalinya dunia pada standar aset nyata (seperti emas atau komoditas) adalah satu-satunya cara untuk mengakhiri siklus perang petrodollar. Jika minyak dihargai dengan emas, atau mata uang digital yang dijamin komoditas (seperti rencana BRICS), maka mesin cetak uang Amerika akan kehilangan daya sihirnya. Inilah ketakutan terbesar Washington: dunia yang tidak lagi membutuhkan izin mereka untuk berdagang.

Menanti Runtuhnya Menara Babel Finansial

3 Januari 2026 akan diingat bukan sebagai hari jatuhnya Maduro, melainkan sebagai hari di mana Amerika mengakui bahwa dolar tidak lagi bisa berdiri tanpa sandaran bayonet. Ini adalah elegi bagi sebuah imperium yang lelah.

Venezuela mungkin menjadi medan pertempuran hari ini, tetapi medan pertempuran yang sesungguhnya ada di layar-layar komputer bank sentral di seluruh dunia. Ketika “Fatwa Sesat” ini akhirnya terbongkar, dan bangsa-bangsa menyadari bahwa mereka tidak perlu menyerahkan kedaulatan mereka demi selembar kertas hijau, maka Menara Babel finansial itu akan runtuh. Fajar baru akan muncul—bukan fajar yang dipaksakan oleh satu negara, melainkan fajar multipolar di mana setiap bangsa berdaulat atas sumber dayanya sendiri.

Catat!

—-

Catatan Kaki & Rujukan Ilmiah

Kissinger, H. (1974). Memorandum of Understanding with Saudi Arabia on the Petrodollar System.

Stiglitz, J. E. (2002). Globalization and Its Discontents. W. W. Norton & Company.

Chomsky, N. (2003). Hegemony or Survival: America’s Quest for Global Dominance. Metropolitan Books.

Data Cadangan Minyak Terbukti (2024): OPEC Annual Statistical Bulletin.

WikiLeaks (2011): Hillary Clinton Emails on Libya’s Gold Dinar.

CIPS (Cross-Border Interbank Payment System): Laporan Tahunan People’s Bank of China (PBOC) 2025.

Miller, S. (2025). Interview on National Energy Security and Property Rights. Newsmax.

Musk, E. (2023). X (formerly Twitter) Space on Global Debt and Currency Mechanics.

Laporan PBOC (2025). The Expansion of CIPS and mBridge in Global South Trade.

Galtung, J. (2009). The Fall of the US Empire – And Then What? (Analisis tentang korelasi militerisme dan jatuhnya ekonomi).

U.S. Department of Justice (2020/2026). Indictment against Nicolás Maduro for “Narco-Terrorism”. (Narasi yang digunakan sebagai pembenaran invasi).

Pinter, H. (2005). Art, Truth and Politics. Nobel Lecture. (Kritik terhadap agresi AS).

Soros, G. (1987). The Alchemy of Finance. (Teori Refleksivitas).

Greene, G. (1955). The Quiet American. (Analisis sastra tentang intervensi asing).

Zoltan Pozsar (2022/2023). Bretton Woods III. Credit Suisse Research. (Analisis tentang pergeseran dari uang fiat ke uang berbasis komoditas).

*Gus Nas Jogja, Budayawan.