Puisi-puisi Abdul Wachid B.S.

BALADA SEDEKAH BUMI BARITAN

 

Di kaki malam yang perlahan membuka kelopaknya,

orang-orang datang membawa padi,

membawa kendi,

membawa kisah yang menua bersama tanah.

Bulan turun rendah,

menyelinap di antara rambut anak-anak

yang belajar diam di hadapan ladang

seperti di hadapan ayat yang belum selesai dibaca.

 

Sesaji dibuka.

Daun pisang bergetar halus

seakan mencatat nama-nama yang terucap tanpa suara.

“Emas kecil” ditata hati-hati,

beras ditebar seperti benih cahaya,

air dari sumur tua bergeming,

menunggu siapa yang cukup jernih

untuk menatap dirinya di dasar pantulannya.

 

Angin melintas,

membawa bau tanah basah yang kuno,

bau jerih yang tak pernah tercatat di kitab mana pun.

Para pangon berdiri melingkari senyap,

dan ketika tangan tua membuka pintu sesaji,

doa merambat turun,

butir demi butir,

seperti malam yang mencari jalan pulang

ke dada manusia.

 

Gong dipukul sekali.

Kendang menyalakan gema di antara pohon jati.

Bukan dentum yang ingin menang,

tetapi dentum yang memberi hening

tempat untuk bernapas.

Getarnya menjalar dari tanah ke pergelangan,

dari pergelangan ke dada,

dari dada ke sebuah ruang

yang tak pernah mau menyebut namanya sendiri.

 

Bulan bergeser,

membiarkan sebagian sinarnya jatuh acak

di wajah para pangon:

ada yang meredup,

ada yang menyala,

ada yang tampak sedang menunggu

suatu kabar yang hanya bisa datang

melalui tanah yang basah.

 

Debu terangkat perlahan

oleh langkah yang mengitari sesaji.

Di antara napas pohon dan desir malam,

doa mulai naik seperti asap yang ragu,

lalu menemukan tiang langit

untuk menggantungkan dirinya.

Tak seorang pun memimpin;

tanahlah yang memberi ritme,

dan tubuh hanya menurut

seperti anak kembali pada pangkuan ibunya.

 

Seorang pangon menunduk dalam-dalam,

menyentuhkan punggung tangan ke bumi

dan mendengar detakan yang tak pernah henti.

Yang lain mengikuti,

bukan karena perintah,

melainkan karena getar itu

menyentuh pintu yang sama

di dada mereka.

 

Ketika semua kepala merunduk serempak,

Baritan berubah menjadi ruang bening

di mana bumi berbicara

dengan bahasa yang hanya dikenali

oleh yang berani diam.

Syukur menetes dari ujung jari,

mengalir ke tanah,

mengalir ke akar,

mengalir ke tempat

di mana segala penat kembali menjadi benih.

 

Pada akhirnya,

bulan terbit sedikit lebih tinggi

seakan tugasnya telah tertunaikan.

Sesaji ditutup perlahan,

doa dilipat dan disimpan dalam dada,

dan malam mengantarkan mereka pulang

dengan langkah yang lebih lapang

daripada ketika mereka datang.

 

Tanah dan manusia

kembali menyatu

seperti asal mula yang saling memanggil.

 

2025

 

 

BALADA PENJAMASAN KALISALAK

 

Di serambi langgar yang masih berembun,

para warga datang perlahan,

seperti langkah

yang sedang belajar mengingat tanahnya sendiri.

Tak ada aba-aba,

hanya suara malam yang menyingkap tirai waktu

sedetik demi sedetik.

 

Juru kunci mengangkat kain putih,

dan udara mendadak menjadi lebih berat,

seolah seseorang dari masa silam

menyentuh bahu para lelaki dan berkata,

“tegakkan hati, sebab yang dibuka ini bukan benda.”

 

Air dari kendi tua dituang ke mangkuk perunggu.

Aromanya memanggil ratusan tahun yang tersembunyi

di balik lipatan doa.

Kembang setaman mengapung seperti ingatan

yang tak ingin hilang.

 

Satu per satu jimat dilepas dari kantong kainnya:

keris yang bergetar pelan,

sekeping logam yang pernah jatuh di medan gelap,

lontar yang masih menyimpan bau perjalanan jauh,

bekong yang diam tetapi mendengarkan.

 

Dan ketika tetes pertama menyentuh besi,

langit terasa menahan diri.

Suara tahlil naik pelan,

bukan seperti nyanyian,

melainkan ayunan langkah mencari maqām:

yang mula-mula ragu,

lalu pasrah,

lalu sepenuhnya terbuka.

 

Cahaya lampu minyak berkedip,

seakan mengikuti alur zikir yang mengeras,

melembut,

kemudian melingkar seperti angin

yang bingung mencari pintu.

Di sini, ritme bukan musik;

ritme adalah cara bumi mengingat siapa

yang merawatnya.

 

Ketika juru kunci menggosok mata keris,

para perempuan di belakang menahan napas.

Ada kilau kecil,

seperti sesuatu yang berpindah:

bukan cahaya,

melainkan jejak keberanian seseorang

yang tak lagi bernama.

 

Bekong diangkat.

Semua mata menunggu.

Akan basahkah ia?

Akan keringkah ia?

Pada saat itu, panggung menjadi hening

seperti dada seorang darwis

yang menanti isyarat di balik kegelapan.

 

Dan saat tetes air menelusuri dinding periuk,

suara syukur meledak tanpa kata.

Hati-hati yang tadi sunyi

tiba-tiba menjadi ladang luas

yang dihampiri angin dari segala arah.

 

Setelah semua bersih,

pusaka dikembalikan ke kantong-kantongnya,

diikat perlahan,

seolah yang dipulangkan bukan benda

melainkan ruh yang baru selesai bercerita.

 

Langgar kembali gelap.

Namun di wajah-wajah yang keluar ke halaman,

ada cahaya kecil yang tak padam,

cahaya yang lahir dari perundingan panjang

antara manusia, bumi, dan sesuatu

yang datang lebih jauh dari ingatan.

 

2025

 

Bekong: alat takar beras tradisional, dalam tradisi Jamasan Jimat Kalisasak dianggap sebagai benda pusaka.

 

BALADA BEGALAN PENGANTEN

 

1.

Di pagi yang kabutnya tebal seperti selendang nenek,

Gunareka memanggul brenong kepang,

isi nasi, siwur, padi, palawija,

dan doa-doa yang terselip di antara daun.

Rekaguna menunggu di sudut jalan,

pedang kayu terangkat,

seperti matahari malu-malu menatap bumi.

Anak-anak mengintip di balik bambu,

tertawa kecil, takut sekaligus penasaran.

 

2.

Kentongan berbunyi, duk… duk-dug… duk…

seperti jantung desa yang berdetak serempak.

Daun jati menari, ayam berloncatan, kucing menegang,

dan angin mengibaskan rambut perempuan

yang baru bangun.

Musik rakyat memanggil, tawa menempel di udara,

sementara pikulan bergetar di bahu Gunareka,

menyerupai rahasia yang ingin dibisikkan kepada dunia.

 

3.

Gunareka memulai perjalanan,

langkahnya ritmis seperti rebana,

Rekaguna mengikuti dengan gerakan licik dan dramatis,

pedang kayu terkadang menyentuh tanah,

terkadang menakuti bayangan.

Tumpeng dilempar ringan, buah-buahan melayang,

dan tetua hanya tersenyum sambil berkata:

“Ini lelaku, Nak,

di mana doa dan kebingungan menari bersama.”

 

4.

Di setiap rumah yang dikunjungi, adegan kecil dimulai.

Gunareka menunduk, membawa berkat,

Rekaguna menari, menguji keberanian.

Si kecil menjerit, “Pedang itu menakutkan!”

Tetapi Gunareka menepuk bahunya,

“Jangan takut, nak,

ini hanya kayu, dan sedikit tawa akan menjaga kita.”

Brenong bergetar, palawija berbisik,

dan musik rakyat memutar seperti gelombang di sawah.

 

 

5.

Adegan pertarungan dimulai, Gunareka dan Rekaguna,

dua bayangan manusia yang saling menantang,

tapi tidak ada darah,

hanya gerakan yang memutar, menunduk, dan meloncat.

Pedang kayu beradu dengan suara “clak… clak…”

dan setiap benturan diiringi tawa rakyat,

yang tahu bahwa ketegangan itu hanya setengah nyata,

setengah permainan.

 

6.

Anak-anak berlari di antara tumpukan beras

yang berserakan,

menangkap daun jati,

menari di antara bayangan yang bergerak.

Ibu-ibu menabur palawija, seperti menabur doa ke bumi,

tetua-tetua menggumamkan mantra pelindung,

dan Gunareka menatap langit,

“Ini rumah tangga kami, dan setiap tawa adalah doa.”

 

7.

Brenong diangkat lagi, pikulan berderap di tanah,

Rekaguna menunduk, mencoba mencuri sedikit nasi,

tetapi tawa rakyat menghentikannya.

Setiap langkah, setiap adegan, menjadi musik:

duk… duk-dug… clak… tawa…

suara palawija berdesir…

dan manusia, tanah, dan doa bersatu

dalam irama yang sama.

 

8.

Tumpeng terakhir dilempar ke udara,

buah-buahan meluncur,

dan angin membawa mereka ke jendela rumah tetangga.

Gunareka tertawa, Rekaguna menunduk,

anak-anak menari di antara berkat yang jatuh,

dan tetua tertawa,

“Rumah tangga itu bukan hanya serius, Nak,

tapi juga tentang cara menertawakan kesalahan sendiri.”

 

9.

Malam turun, tetapi musik tetap terdengar,

di balik bambu, di antara pohon jati, di udara yang dingin.

Doa, tawa, dan adegan begalan menempel di dinding rumah,

di tanah, di hati manusia.

Gunareka menunduk, membawa pulang brenong kosong,

tapi hati penuh dengan cerita, nasihat,

dan sedikit mbeling yang lucu.

 

10.

Begalan selesai, ataukah baru mulai?

Di pintu rumah, di bawah langit, di malam yang lembut,

masih ada suara kentongan yang menunggu dipukul lagi,

palawija yang berbisik, nasi yang memanggil doa.

Dan manusia menatap rumah tangganya sendiri,

tersenyum, dengan hati yang lebih ringan,

dan kesadaran bahwa rumah tangga adalah ritual,

permainan, dan doa

yang harus dinikmati, sambil tertawa.

 

2025

 

 

 

BALADA LENGGER DALAM RITUS DESA

 

1.

Sebelum calung dibunyikan,

tanah lebih dulu berdoa.

Embun turun seperti wudu malam,

membersihkan jejak kaki manusia

yang seminggu penuh berjalan dengan lupa.

Di pendapa, lengger duduk bersila,

menata napasnya

agar tidak mendahului kehendak langit.

 

2.

Calung pertama dipukul,

tok… tong… tak…

bambu bergetar seperti tulang desa

yang baru dibangunkan dari tidur panjang.

Suara itu tidak memanggil penonton,

melainkan memanggil padi, hujan,

dan segala yang hidup

agar duduk rapi mendengarkan.

 

3.

Lengger bangkit.

Geraknya kecil dulu,

seperti niat yang belum diucapkan.

Sampur mengalir dari bahu

bukan sebagai godaan,

tetapi sebagai penanda:

setiap yang bergerak

harus tahu batasnya.

 

4.

Pinggul bergoyang pelan,

meniru lumpur sawah

yang menerima benih tanpa bertanya.

Tangan berputar,

seperti orang menampi beras,

memisahkan yang hampa

dari yang akan dimasak menjadi kehidupan.

 

5.

Di barisan depan,

anak-anak cekikikan

ketika lengger hampir terpeleset.

Seorang ibu berbisik,

“Urip yo koyo ngono,

kadang goyah tapi ora kudu ambruk.”

Humor kecil itu melayang

dan jatuh sebagai berkah ringan.

 

6.

Lengger lanang masuk pelan,

topengnya menunduk.

Geraknya sengaja dilebihkan,

langkah yang hampir tergelincir,

putaran yang terlalu lama,

tawa kecil yang jatuh lebih dulu

sebelum maknanya tiba.

Di bawah sorak dan cahaya,

ia membiarkan tubuhnya berbicara

tentang sesuatu

yang sering luput dikenali manusia

ketika panggung mulai ramai.

 

7.

Calung dipercepat.

Lengger wadhon menahan irama,

seperti doa yang menenangkan nafsu.

Dua tubuh bertemu

tanpa saling melahap,

berjarak satu niat,

cukup dekat untuk seimbang,

cukup jauh untuk tetap suci.

 

8.

Di sudut pelataran,

kiai desa membaca shalawat

tanpa pengeras suara.

Namun aneh,

calung ikut melunak,

dan langkah lengger mendadak teduh.

Tak ada yang memberi aba-aba,

doa memang tahu

ke mana harus bekerja.

 

9.

Godaan datang sebagai gerak cepat:

lengger lanang meloncat,

selendang hampir direnggut.

Penonton menahan napas.

Lengger wadhon berhenti sejenak,

menunduk,

lalu melangkah mundur.

Godaan kehilangan panggungnya.

 

10.

Seorang bocah berseru,

“Lho, kok ora dadi rebutan?”

Tetua tertawa kecil,

“Amarga ora kabeh sing bisa direbut

pantes digondol.”

Tawa itu seperti kendang kecil

yang mengingatkan:

iman pun perlu humor

agar tidak kaku.

 

11.

Tari berlanjut.

Kini lebih lambat,

seperti petani yang tahu

kapan harus berhenti mencangkul.

Lengger berputar,

bayangannya menyatu dengan bayangan padi

dan bayangan orang-orang

yang hidupnya digantungkan

pada satu musim baik.

 

12.

Obor dinyalakan.

Api tidak liar.

Ia berdiri seperti santri

yang sedang belajar sabar.

Asap naik,

membawa doa keselamatan

ke langit yang tidak jauh,

hanya sering tidak diperhatikan.

 

13.

Calung menurunkan suaranya.

Tok… tong…

jeda panjang.

Lengger berhenti di tengah lingkaran,

menangkupkan tangan,

membungkuk dalam-dalam,

seperti sujud yang dipinjamkan

kepada tubuh.

 

14.

Tidak ada tepuk tangan gaduh.

Yang terdengar hanya

orang menghela napas,

ayam berkokok terlalu dini,

dan daun jati jatuh pelan.

Desa merasa cukup

untuk satu malam.

 

15.

Lengger kembali ke pendapa.

Sampur dilipat,

topeng dilepas.

Yang tersisa bukan pertunjukan,

melainkan rasa aman:

bahwa bumi masih mau ditanami,

iman tidak terkoyak oleh tontonan,

dan doa menemukan jalannya

tanpa harus berteriak.

 

16.

Ritus selesai,

tetapi lengger tinggal

di gerak tangan ibu menanak nasi,

di langkah petani ke sawah subuh-subuh,

di tawa anak yang belum tahu dosa.

Tubuh desa telah belajar satu hal:

bahwa menari pun bisa

menjadi cara

bersyukur kepada Tuhan.

 

2025

 

 

 

BALADA SROTO SOKARAJA

 

1.

Pagi di Sokaraja selalu dimulai

dari uap yang naik pelan

di warung kecil pinggir jalan.

Bukan sekadar lapar yang dipanggil,

melainkan ingatan,

tentang tanah yang memberi,

tentang tangan-tangan yang memasak

dengan sabar dan doa yang tidak bersuara.

 

2.

Sroto disiapkan bukan untuk tergesa.

Kuah bening kekuningan

menunggu seperti orang tua

yang tahu kapan anaknya pulang.

Di dalamnya, kaldu menyimpan cerita

tentang tulang, waktu, dan kesediaan

menjadi dasar bagi yang lain

agar bisa terasa utuh.

 

3.

Ketupat dipotong perlahan,

bukan nasi yang berdiri sendiri,

melainkan anyaman,

seperti hidup orang Banyumas:

saling mengikat,

saling menguatkan,

tak bisa dimakan

jika hanya satu simpul.

 

4.

Lalu sambal kacang diturunkan.

Kental, gelap, dan bersuara pelan

saat menyentuh kuah.

Ia datang bukan untuk menaklukkan,

melainkan untuk menyatu,

rasa manis, gurih, pedas

yang belajar hidup berdampingan,

seperti orang-orang yang berbeda asal

namun sepakat duduk semeja.

 

5.

Di sanalah jejak lama berdiam:

perjalanan jauh dari negeri lain,

yang tak menghapus rasa setempat,

melainkan belajar menunduk

dan menyesuaikan lidahnya.

Sejarah tidak datang sebagai pemenang,

tetapi sebagai tamu

yang tahu diri.

 

6.

Daging disuwir,

bukan dipamerkan utuh.

Ia mengajarkan satu hal:

kelembutan tidak selalu lahir

dari kekuatan,

tetapi dari kesediaan

untuk direbus oleh waktu.

 

7.

Tauge dan soun menyela,

ringan, sederhana,

seperti orang kecil

yang sering tak diperhitungkan

namun tanpanya

hidangan terasa sunyi.

Mereka hadir sebagai penyeimbang,

bukan sebagai pusat.

 

8.

Kerupuk warna-warni ditaburkan.

Bukan hiasan semata,

melainkan tawa yang boleh terdengar

di tengah keseriusan hidup.

Banyumas tahu:

iman yang sehat

tidak alergi pada keceriaan.

 

9.

Dan mendoan datang menyusul,

hangat, lembut,

tidak pernah ingin tampil mewah.

Ia seperti tetangga sendiri,

datang tanpa undangan,

namun selalu dirindukan,

karena kehadirannya

membuat makan terasa cukup.

 

10.

Sroto pun diseruput.

Pelan.

Tak ada yang perlu diburu.

Rasa menyatu di lidah

seperti doa yang tak dihafal,

namun dipahami tubuh.

 

11.

Di meja itu,

Banyumas sedang bercerita:

tentang keramahtamahan

yang tidak berisik,

tentang perbedaan

yang tidak perlu ditajamkan,

tentang syukur

yang tidak harus diumumkan.

 

12.

Sroto Sokaraja bukan sekadar hidangan.

Ia adalah pelajaran

bagaimana bumi, sejarah,

dan manusia

bisa duduk bersama

dalam satu mangkuk

tanpa saling meniadakan.

 

13.

Maka siapa pun yang menyantapnya

sebenarnya sedang diajak pulang:

ke kesederhanaan,

ke rasa cukup,

ke kesadaran

bahwa rezeki tidak selalu datang

dalam bentuk berlebih,

tetapi dalam harmoni.

 

14.

Di situlah Sokaraja berdiri,

bukan di peta besar dunia,

melainkan di ingatan

orang-orang yang pernah belajar

bahwa syukur

bisa berwujud

kuah, ketupat, sambal,

dan senyum yang tidak dibuat-buat.

 

2025

*Abdul Wachid B.S., lahir 7 Oktober 1966 di Bluluk, Lamongan, Jawa Timur.  Wachid lulus Sarjana Sastra dan Magister Humaniora di UGM, kemudian lulus Doktor Pendidikan Bahasa Indonesia di Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta. Abdul Wachid B.S. menjadi Guru Besar Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri, Purwokerto. Buku terbarunya : Kumpulan Sajak  Nun (2018), Bunga Rampai Esai Sastra Pencerahan (2019), Dimensi Profetik dalam Puisi Gus Mus: Keindahan Islam dan Keindonesiaan (2020), Kumpulan Sajak Biyanglala (2020), Kumpulan Sajak Jalan Malam (2021), Kumpulan Sajak Penyair Cinta (2022), Kumpulan Sajak Wasilah Sejoli (2022), Kumpulan Sajak Kubah Hijau (2023), Sekumpulan Esai Sastra Hikmah (2024), Buku Puisi Balada Kisah untuk Anak Cucu (2025). Melalui buku Sastra Pencerahan, Abdul Wachid B.S. menerima penghargaan Majelis Sastrawan Asia Tenggara (Mastera) sebagai karya tulis terbaik kategori pemikiran sastra, pada 7 Oktober 2021 (tepat di ulang tahunnya yang ke-55).