Pos

ALBUM FOTO KELUARGA: Kita, Tata Kelola Arsip, dan Algoritma

Oleh: Dr. Mikke Susanto, S.Sn., M.A.* Keluarga kami menyimpan ribuan lembar foto keluarga. Sebagian dikemas pada album foto. Foto tertua peninggalan simbah saya yang berasal dan tinggal di desa Kencong, Jember diperkirakan dicetak pada akhir dekade 1930-an. Dalam foto itu, ibu saya, Mudrikah masih berusia sekitar empat tahun berdiri di depan mbah kakung. Sementara paklik […]

Mengunyah Pidato Doktor Mikke Susanto

Oleh: PAXSML* Dari Algoritma Ruang Tamu hingga Kuasa Digital Global Museum di Ruang Tamu Jika Anda bertamu ke rumah orang Indonesia, terutama manusia Jawa, ruang pertama yang menyergap Anda bukanlah ruang makan yang penuh aroma semur daging, melainkan ruang tamu. Di sana, sebuah tradisi lama dimulai. Tuan rumah akan menyilangkan tangan, tersenyum takzim, lalu berujar […]

Wacana (Biennale) Seni Rupa Kalimantan

Oleh : Hajriansyah* Dalam dua atau tiga tahun terakhir, pameran dan berbagai kegiatan seni rupa di Pulau Kalimantan terasa semakin masif. Tidak sebatas memamerkan karya, para perupa Kalimantan mengajukan berbagai wacana seni rupa, dari sebatas silaturahmi hingga konsolidasi, dari persoalan lokal hingga global atau yang bersifat liris maupun yang “protes”. Beberapa pameran yang menawarkan wacana-wacana […]

Retakan Raden Saleh: Agensi dalam Ambivalensi

oleh : Kasiyan* “Art is the lie that enables us to realize the truth.” Picasso, P. (1923). Picasso speaks. In M. de Zayas, The Arts, 3(4), 315–326. https://monoskop.org/images/5/5f/De_Zayas_Marius_Picasso_Speaks.pdf Mei yang basah, dan cermin yang retak. Mei selalu datang dengan janji yang manis sekaligus getir. Dalam imajinasi peradaban lama, ia adalah bulan ketika dunia seolah sedang memaafkan […]

Dua Dekade Kelana Garis

Pameran Lukisan Retrospeksi Wayan Kun Adnyana Oleh : Arif Bagus Prasetyo* Ketika memasuki ruang pameran, pengunjung langsung dihadang sebarisan figur lelaki gemuk. Mereka tidak menyambut dengan wajah cerah. Sebaliknya, justru memunggungi pengunjung. Masing-masing hadir secara tunggal pada sederet kanvas, figur-figur itu bertubuh bulat karikatural seperti bola batu. Sebagian besar dari mereka menyembunyikan tangan di punggung […]

Membaca Majalah Musik Helopop di Era Scroll: Cherry District Road to Cherrypop 2026

Oleh : Aulia Febriana* Di tengah kebiasaan membaca yang semakin cepat, di mana orang lebih sering menggulir layar daripada membuka halaman, benda-benda fisik justru perlahan menemukan cara untuk kembali. Kaset mulai dipajang lagi, piringan hitam kembali diputar, dan berbagai merchandise musik kembali dicari, bukan sekadar sebagai alat dengar atau benda pakai, tetapi sebagai sesuatu yang […]

Horor Mei Taman Suropati

Oleh Agus Dermawan T* Pada Mei 1998 silam Taman Suropati di Jakarta Pusat, menjelma jadi lapangan horor sosial-politik menyeramkan. Mari mengingat sejarah kecil taman artistik yang berusia seabad lebih ini. ———– TAMAN Suropati, yang bersentuhan dengan Jalan Diponegoro dan Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat, adalah taman legendaris di Jakarta. Alkisah taman ini dibangun oleh F.J.Kubatz […]

Ode to My Friend: Privilege itu Bernama Teman

Oleh : Abad Akbar*   Berkatalah seorang penyair tentang pertemanan: “Jika sedikit hartaku maka tidak ada yang ingin menjadi sahabatku, dan apabila hartaku bertambah maka semua orang seolah-olah menjadi sahabatku. Betapa banyak musuh menjadi teman karena kekayaanku, dan betapa banyak sahabat berubah menjadi musuh karena kemiskinanku.” Begitulah sedikit gambaran tentang mahalnya sebuah pertemanan sejati. Dalam […]

Transformasi tanpa Transisi. Buruh, Seni, dan Jejak Perlawanan

Oleh Abad Akbar*   Pameran bukan sekadar ruang estetika; ia juga arena artikulasi, menjadi tempat gagasan sosial dipertemukan dengan bahasa visual. Dalam konteks itu, pameran bertajuk “Transformasi tanpa Transisi” yang digelar di Survive Garage oleh kolektif Parkir Liar menjadi menarik untuk dibaca lebih jauh. Kolektif yang beranggotakan mahasiswa TKS ISI Yogyakarta (Fairuz, Nabil HP, Naza, […]

Arsip Visual Fotografi Koleksi Melani Setiawan

Oleh Mikke Susanto* Dulu kita sering mengandalkan teks untuk mengingat masa lalu. Entah dalam bentuk prasasti, lontar, buku sejarah, sms, WhatsApp, atau mungkin teks kuratorial. Namun ada satu jenis ingatan yang bekerja dengan cara berbeda yakni fotografi. Arsip visual berupa fotografi tidak menjelas-jelaskan seperti halnya arsip tekstual. Justru di dalamnya menunjukkan hal-hal yang menuntut kita […]