Pos

Home Alone dan Produksi Makna Natal

Oleh: Purnawan Andra*   Setiap menjelang Natal, film Home Alone (1990, sutradara Chris Colombus) yang dibintangi Macaulay Culkin hampir selalu kembali diputar. Di televisi, layanan streaming, atau potongan klip di media sosial, film ini hadir sebagai tontonan yang dianggap “wajib”. Banyak orang menontonnya, sebagai hiburan, yang tak perlu banyak dipikirkan. Sebagai tontonan keluarga, nostalgia masa […]

Kebudayaan Digital dan Tradisi Lisan Nahdliyin: Apakah Kita Kehilangan Ruang Tafsir?

Oleh: Abdul Wachid B.S.*   Dari Langgar ke Layar: Lanskap Baru Tradisi Di banyak kampung yang dulu hidup oleh suara rebana dan lantunan syair manaqib setiap malam Jumat, kini udara terasa lebih senyap. Gamelan pengajian weton yang dahulu menjadi irama sosial, sekarang hanya terdengar sebulan sekali, atau bahkan lenyap tanpa jejak. Sebaliknya, anak-anak muda di […]

Sutardji, Puisi, dan Sepotong Roti

Oleh: Mahwi Air Tawar*   Bang Tardji—Sutardji Calzoum Bachri—saya menulis catatan ini bukan untuk mengulang legenda “pembebasan kata” yang telah lama kausiramkan ke tubuh sastra Indonesia. Bukan pula untuk menegaskan kembali julukan Presiden Penyair, sosok yang memukul-mukul bahasa sampai menyerah. Esai ini lahir dari sesuatu yang lebih sederhana sekaligus lebih menusuk: sepotong roti, selembar puisi, […]

Reinventing Ekologi Hutan: Sebuah Manifesto Keanekaragaman Hayati dan Kearifan Nusantara

Oleh: Gus Nas Jogja*   Elegi di Tanah Andalas: Ketika Hutan dan Gunung Menumpahkan Air Mata Di bawah bayang-bayang Bukit Barisan yang agung, malam yang seharusnya menjadi rahim bagi mimpi tiba-tiba berubah menjadi nisan yang dingin. Langit Sumatera tidak lagi meneteskan rintik rindu, melainkan menumpahkan murka yang kelam. Banjir bandang datang bukan sebagai tamu, melainkan […]

Kesadaran Diri dan Sejarah?

Oleh: Mudji Sutrisno SJ*   Di mana tempat sejarah dalam peradaban manusia? Sejak kapan semesta sebagai tempat atau ruang di mana manusia hidup, baik sebagai individu pelaku (baca: subjek penentu tindakan dan lakunya dengan pertimbangan budi dan kemerdekaan kehendak maupun sebagai bagian kelompoknya (baca: anggota sebuah masyarakat atau kelompok sosial) mulai dihayati sebagai tempat menuliskan […]

Hari Ibu, Istri Orang dan Film sebagai Arsip Kemanusiaan

Oleh: Purnawan Andra*   Setiap tangggal 22 Desember, kita memperingati Hari Ibu. Seremoni upacara, bunga dan ungkapan terimakasih atas pengorbanan seorang ibu menjadi yang kerap disampaikan. Ibu adalah pengurus anak, penjaga rumah dan simbol kasih sayang tanpa syarat, adalah narasi yang selalu dikedepankan di Hari Ibu. Tapi di balik itu, pemaknaan ini sesungguhnya mengaburkan fakta […]

Masa Depan Seni dan Seniman di Era Algoritma

Oleh: Eko Yuds*   Ketika seni berpindah dari ruang perenungan ke arena keterlihatan, yang dipertaruhkan bukan hanya bentuk karya, melainkan keberadaan seniman sebagai subjek yang berpikir. ——————— Seni hari ini tidak hanya berubah medium, tetapi berubah medan kehidupannya. Ia berpindah dari ruang penciptaan menuju ruang sirkulasi; dari pengalaman yang dialami perlahan menuju visibilitas yang diperebutkan […]

Membaca Nalar Bangsa: Religiusitas Pemimpin, Kesalehan Ekologi, dan Brutalitas Ekonomi Ekstraktif dalam Lensa Katastropi

Oleh: Gus Nas Jogja* Khutbah Sunyi di Atas Tanah yang Terluka Di negeri yang dibangun dari butiran doa dan tetesan keringat para wali ini, kita sedang menyaksikan sebuah panggung teater paradoks yang menyayat hati. Kita berada di sebuah era di mana “Yang Suci” dan “Yang Profan” bercampur aduk dalam nalar kekuasaan yang skizofrenik. Di atas […]

Menggali Akar Kekeliruan Post-Truth: Sebuah Ziarah Literasi dalam Ekosistem Kebudayaan yang Terluka

Oleh: Gus Nas Jogja*   I. Prolegomena: Fajar yang Retak dan Senjakala Otoritas Ketika era milenium ketiga pecah dan melahirkan “tradisi klik” dan “budaya scroll”, umat manusia mendapati dirinya berdiri di atas puing-puing Menara Babel yang baru: sebuah arsitektur informasi raksasa bernama jagat digital. Kita tidak lagi hidup dalam “Era Informasi”, melainkan dalam “Era Disrupsi […]

Kota dan Budaya: Ruang Publik, Titik Temunya?

Oleh: Mudji Sutrisno SJ*   1. Pendahuluan Ketika sebuah lapangan alun-alun kota Surakarta yang berdampingan bahkan menjadi perluasan tata kerajaan berperan sebagai tempat masyarakat bertemu bersama dan kadang protes halus dengan menjemur diri (pépé) dihadapan raja, di sana penghayatan ruang bersama dilaksanakan dalam makna budaya atau kultural. Penghayatan itu bermakna budaya karena maksud temu di […]