Mendobrak Batas Dinding Imajiner
Oleh Bambang Supriadi* Dahulu, seni peran kerap dipahami sebagai sebuah “ruang kedap” yang menjaga dirinya dari gangguan luar demi merawat keutuhan ilusi. Aktor hadir seolah tidak sedang ditonton, sementara jarak dengan penonton dipertahankan agar dunia lakon tetap terasa utuh. Dalam tradisi realisme teater, jarak ini bukan sekadar konvensi, melainkan cara kerja yang memungkinkan penonton larut […]

