Museum Penataran Blitar: Meruwat, Merawat, dan Mengingat Sejarah dalam Ruang Pamer

Oleh Galih Qodry Azizi*

Museum Penataran Blitar dalam kunjungan menghadirkan suasana yang tenang. Ruang pamer terasa rapi dan tertata. Deretan artefak batu berdiri kokoh di atas pedestal kayu yang kini bewarna kuning pastel. Cahaya masuk dari pintu museum dan membentuk siluet halus pada permukaan arca. Kesan awal yang muncul bukan hanya tentang melihat benda lama, tetapi tentang berhadapan dengan jejak waktu yang masih tersisa. Melihat benda yang menjadi saksi peradaban manusia dari masa ke masa.

Museum Penataran adalah salah satu museum yang berada di Kabupaten Blitar. Dulunya museum ini masih di bawah pengelolaan Museum Trowulan Mojokerto karena alasan tenaga ahli yang terbatas, sebelum kemudian diberdayakan sebagai sebuah museum yang memiliki tata kelola mandiri pada tahun 2010. Nama Museum Penataran seringkali diasosiasikan dengan koleksi khusus yang berkaitan atau ditemukan di kompleks Candi Penataran. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya tepat. Koleksi yang tersimpan di dalam museum sebenarnya justru berasal dari berbagai temuan arkeologis di seluruh wilayah Kabupaten Blitar. 

Gambar 1. Potret KPH. Warsokoesoemo. (Dokumentasi penulis, 2026)

Sejak tahun 1866, pada masa kepemimpinan Bupati K.P.H. Warsokoesoemo, artefak-artefak yang ada dikumpulkan dan dirawat dalam satu ruang di Pendopo Ronggo Hadinegoro (Utara Aloon-aloon Kota Blitar). Kemudian pada tahun 1915, museum kecil tersebut berubah nama menjadi Museum Blitar sebagai Balai Penyelamat Benda Cagar Budaya di Kabupaten Blitar. Hingga akhirnya pada tahun 1998 Museum Blitar dipindah lokasikan ke Kawasan Wisata Penataran dan berubah nama menjadi Museum Penataran yang berdiri kokoh hingga saat ini dengan koleksi yang terus bertambah dan tidak terbatas pada koleksi benda arkeologis saja. Koleksi arkeologi memang menjadi yang paling dominan, dengan jumlah 447 koleksi benda berupa batuan candi dan arca. Namun koleksi lain juga hadir, seperti etnografi yang berjumlah 10 item, keramik yang berjumlah 5 item, dan numismatik yang berjumlah kurang lebih 3000 koin serta 42 uang kertas. Keragaman ini memperlihatkan bahwa museum berfungsi sebagai ruang penyimpanan sekaligus representasi sejarah lokal yang luas.

Berdasarkan pengalaman mengunjungi museum, pengunjung tidak berhenti diajak mengamati visual museum. Penjelasan dari pemandu turut membantu membuka lapisan makna di balik setiap koleksi. Alur penyajian juga disusun mengikuti urutan cerita yang ditentukan. Pengunjung diarahkan untuk membaca koleksi sebagai bagian dari cerita yang saling terhubung. Situasi ini menunjukkan adanya upaya museum untuk tidak sekadar menampilkan benda, tetapi juga menyampaikan narasi.

Gambar 2. Tata pamer susunan candi. (Dokumentasi penulis, 2026)

Sebagai contoh salah satu tata pamer koleksi arkeologi yang memiliki narasi dan tata pamer menarik, menampilkan penggambaran susunan arca yang ditata menyerupai posisi aslinya di dalam candi hindu bercorak jawa timuran. Seakan mengajak pengunjung membayangkan apabila arca candi bisa dilihat tanpa dinding batu andesit. Arah hadap candi ke timur menjadi sakral sebagai wujud ritual pengabdian kepada Dewa Surya. Bagian depan diberi sentuhan visual tangga sebagai penanda beranda candi. Bagian ruang utama candi diletakkan Arca Lingga Yoni yang menandakan penyembahan kepada Dewa Siwa, sekaligus merupakan wujud konsep kosmologis Hindu tentang keseimbangan dan harmoni antara unsur laki-laki dan perempuan dalam penciptaan alam semesta. Lingga tersebut berbentuk silindris tegak, ditempatkan di atas yoni berbentuk alas persegi dengan cerat sebagai saluran air, yang biasanya digunakan dalam ritual keagamaan. Air yang mengalir melalui lingga menuju yoni memiliki makna simbolik sebagai aliran kehidupan dan kesuburan, sekaligus sebagai media penyucian dalam praktik spiritual Hindu.

Gambar 3. Arca dalam relung candi. berurutan dari kiri: Arca Durga Mahisasuramardini, Arca Ganesha, dan Arca Agastya. (Dokumentasi penulis, 2026)

Setiap relung empat arah mata angin candi mempunyai arca masing-masing. Relung utara menampilkan Arca Durga Mahisasuramardini, penggambaran Dewi Durga sebagai simbol kekuatan ilahi yang menaklukkan kejahatan, ditandai dengan sosoknya yang berdiri tegap di atas kepala atau tubuh Mahisa yang berwujud kerbau, memiliki beberapa tangan yang membawa atribut senjata seperti trisula dan cakra. Relung timur menampilkan Arca Ganesha yang merepresentasikan dewa kebijaksanaan dan pengetahuan, ditandai dengan wujudnya yang berkepala gajah dan bertubuh manusia dalam posisi duduk yang tenang. Relung Selatan menampilkan Arca Agastya, sosok resi dalam tradisi Hindu yang melambangkan kebijaksanaan dan otoritas spiritual, ditandai dengan figur laki-laki berjanggut dalam sikap berdiri yang tenang. Arca-arca tersebut pada umumnya ditempatkan di setiap sisi sebagai bagian dari sistem ikonografi Hindu sekaligus berfungsi sebagai pelindung ruang sakral.

Gambar 4. Jalaswara di salah satu sudut candi. (Dokumentasi penulis, 2026)

Elemen jaladwara secara fungsional ditempatkan di setiap sudut sebagai saluran pembuangan air hujan. Jaladwara juga memiliki makna simbolik dalam konteks ritual, air yang keluar melalui jaladwara sering diasosiasikan sebagai air suci yang telah melewati ruang sakral. Dari segi bentuk, jaladwara umumnya dibuat dari batu dengan pahatan yang menyerupai makhluk tertentu, seperti kepala kala, naga, atau makara, dengan bagian mulut berfungsi sebagai lubang keluarnya air.

Susunan tata pamer diatas sebenarnya telah menciptakan kesan seperti melihat miniatur ruang candi dalam bentuk yang lebih terbuka, menjadi sebuah upaya meruwat warisan leluhur bangsa lewat tata ruang yang mudah dipahami. Pengunjung dapat mengamati objek dari berbagai sisi tanpa terhalang dinding, memahami setiap sudut dengan lebih nyaman sekaligus merawat warisan arkeologis dalam ruang pamer museum. Pendekatan ini memperlihatkan upaya kuratorial, tata pamer, dan pengelolaan museum untuk menghadirkan konteks ruang, bukan sekadar objek yang berdiri sendiri.

Pendekatan tersebut sejalan dengan gagasan dalam kajian museum kontemporer yang menekankan pentingnya interpretasi. Museum tidak lagi dipahami hanya sebagai tempat penyimpanan benda, tetapi sebagai ruang yang membangun makna melalui cara penyajian. Upaya menghadirkan kembali struktur ruang candi di dalam museum menunjukkan adanya kesadaran untuk membawa ingatan dan interpretasi pengunjung lebih dekat pada konteks asli koleksi.

Situasi ini dapat dibaca melalui perspektif new museology (Vergo, 1989) yang mengemukakan bahwa museum tidak lagi dipahami sebagai ruang penyimpanan benda semata, tetapi sebagai institusi yang harus mampu membangun komunikasi dan pengalaman bermakna bagi pengunjung. Pendekatan tersebut menekankan bahwa museum perlu menghadirkan pengalaman yang komunikatif dan partisipatif. Informasi tidak hanya disampaikan, tetapi juga diolah agar dapat dipahami secara aktif oleh pengunjung. Dalam konteks ini, Museum Penataran telah menunjukkan langkah awal yang baik, tetapi masih memiliki ruang untuk pengembangan.

Pengalaman yang dihadirkan masih memiliki keterbatasan dan ruang diskusi yang membangun. Keterlibatan pengunjung cenderung bergantung pada penjelasan dari pemandu. Informasi yang tersedia dalam bentuk teks belum sepenuhnya mampu berdiri sendiri sebagai medium interpretasi. Pengunjung yang tidak didampingi pemandu berpotensi mengalami kesulitan dalam memahami konteks dan makna koleksi secara utuh. Kondisi ini menunjukkan bahwa proses interpretasi masih belum sepenuhnya terdistribusi melalui berbagai elemen dalam ruang pamer.

Keterbatasan tersebut dapat dibaca sebagai peluang pengembangan. Penguatan media interpretasi menjadi salah satu aspek yang dapat diperhatikan. Visualisasi tambahan, seperti diagram atau ilustrasi, dapat membantu menjelaskan struktur dan fungsi objek. Teknologi digital juga dapat dimanfaatkan untuk menghadirkan pengalaman yang lebih interaktif. Narasi yang lebih rinci dalam bentuk teks dapat menjadi alternatif bagi pengunjung yang tidak menggunakan jasa pemandu. Pendekatan ini tidak hanya memperkaya pengalaman, tetapi juga memperluas akses pemahaman bagi berbagai jenis pengunjung.

Museum Penataran telah menunjukkan upaya untuk mengembangkan pendekatan penyajian yang lebih kontekstual. Koleksi yang beragam, penyusunan yang terstruktur, serta upaya rekonstruksi ruang menjadi kekuatan utama. Pengembangan pada aspek interpretasi akan semakin memperkuat posisi museum sebagai ruang yang tidak hanya menyimpan sejarah, tetapi juga menghidupkannya kembali dalam pengalaman pengunjung. Dalam konteks tersebut, museum dapat berfungsi sebagai ruang belajar yang tidak hanya informatif, tetapi juga reflektif dan relevan bagi masyarakat masa kini.

Sebagai penutup besar harapan banyak museum di Indonesia bukan hanya sekadar tempat menyimpan masa lalu, melainkan ruang untuk meruwat, merawat, dan mengingat sejarah panjang bangsa ini, serta yang menentukan bagaimana masa lalu itu dipahami dan dirasakan di masa kini.

*Galih Qodry Azizi, Mahasiswa Program Pascasarjana ISI Yogyakarta.