Pertunjukan Tanpa Sutradara: Ritual, Liminalitas, dan Performatifitas Tubuh di Pantai Parangkusumo

Oleh Ramanda Noviandri*

Bersama musafir yang ingin berdoa di Parangkusumo. ( Sumber : Ramanda Noviandri)

Angin malam di Pantai Parangkusumo terasa lebih dingin dari biasanya. Pasir masih menyimpan sisa panas siang hari, tetapi udara laut yang bergerak pelan membuat tubuh merinding. Malam itu adalah Selasa Kliwon, salah satu malam yang dianggap memiliki energi spiritual kuat dalam kosmologi Jawa. 

Saya datang bukan sebagai peziarah, juga bukan sebagai wisatawan. Saya datang sebagai pengamat atau mungkin lebih tepatnya, sebagai seseorang yang ingin memahami bagaimana manusia mengekspresikan spiritualitasnya dengan caranya sendiri. 

Sekitar pukul sembilan malam, pantai itu tidak sepenuhnya sunyi. Beberapa orang berjalan perlahan menuju bibir laut. Ada yang membawa bunga, ada yang membawa kantong plastik berisi sesaji, ada pula yang hanya datang dengan pakaian biasa dan tangan kosong. Tidak ada pengeras suara, tidak ada panggung, tidak ada pemimpin yang memberi instruksi.

Namun sesuatu sedang terjadi.

Di hadapan saya, orang-orang melakukan berbagai tindakan yang tampak sederhana: duduk menghadap laut, menutup mata, menaburkan bunga ke ombak, atau sekadar berjalan menyusuri pasir dalam diam. Tidak ada koordinasi, tidak ada jadwal, tidak ada aba-aba. Semua orang mempunyai waktunya masing-masing. 

Tetapi semua orang tampak tahu apa yang harus dilakukan.

Pada saat itulah saya mulai menyadari bahwa malam Selasa Kliwon di Parangkusumo menghadirkan sesuatu yang sangat menarik. Setiap orang beradegan berbeda-beda, dialog yang tak sama, tapi dalam satu premis naskah yang sama yaitu berdoa. Ini adalah sebuah peristiwa yang terasa seperti pertunjukan tanpa sutradara.

Pantai Parangkusumo sendiri memiliki posisi yang penting dalam lanskap spiritual Jawa. Dalam berbagai kisah dan kepercayaan lokal, tempat ini sering dikaitkan dengan mitologi Kanjeng Ratu Kidul, sosok penguasa laut selatan yang dipercaya memiliki hubungan spiritual dengan tradisi kerajaan Mataram. Bagi sebagian masyarakat Jawa, Parangkusumo bukan hanya ruang geografis, tetapi juga ruang kosmologis tempat di mana manusia, alam, dan dunia spiritual saling berkelindan.

Kepercayaan ini tidak selalu hadir dalam bentuk ritual yang formal. Ia hidup dalam ingatan kolektif, dalam cerita turun-temurun, dan dalam sikap tubuh orang-orang yang datang ke pantai ini dengan rasa hormat tertentu kepada laut.

Ritual yang Tak Dipimpin 

Dalam banyak tradisi keagamaan, ritual hampir selalu memiliki struktur yang jelas. Ada pemimpin ibadah, ada teks doa, ada urutan kegiatan yang diatur secara sistematis. Seorang imam memimpin salat, seorang pendeta memimpin kebaktian, seorang pemuka adat memandu upacara.

Struktur ini memberikan arah sekaligus legitimasi. Ia memastikan bahwa ritual berlangsung sesuai dengan norma yang diakui komunitas.

Namun malam itu di Parangkusumo, semua struktur tersebut tampak menghilang.

Tidak ada ustaz yang memimpin doa.
Tidak ada pendeta yang memberi khotbah.
Tidak ada dukun atau pawang yang mengatur jalannya ritual.

Setiap orang hadir dengan caranya sendiri.

Seorang lelaki paruh baya duduk bersila menghadap laut, matanya tertutup rapat, bibirnya bergerak pelan seolah melafalkan doa yang hanya ia pahami sendiri. Tidak jauh dari situ, seorang perempuan menaburkan bunga ke ombak sambil berbisik sesuatu yang tertelan suara angin. Di sisi lain pantai, dua orang anak muda berjalan tanpa alas kaki menyusuri garis air, sesekali berhenti dan menatap laut yang gelap.

Tidak ada satu pun dari mereka yang terlihat mengganggu yang lain. Tidak ada yang merasa lebih benar atau lebih berhak atas ruang spiritual itu.

Mereka hanya hadir.

Dan justru dalam ketiadaan aturan itulah muncul semacam keteraturan yang aneh. Orang-orang bergerak dengan kesadaran yang tidak diatur, tetapi juga tidak kacau.

Fenomena ini mengingatkan saya pada konsep liminalitas yang diperkenalkan oleh antropolog Victor Turner. Dalam momen liminal, struktur sosial yang biasa mengatur kehidupan sehari-hari seakan ditangguhkan. Hierarki melemah, identitas menjadi lebih cair, dan individu memasuki ruang peralihan di mana berbagai kemungkinan baru dapat muncul.

Malam Selasa Kliwon di Parangkusumo terasa seperti ruang liminal semacam itu.

Di sana, orang tidak datang sebagai pejabat, pedagang, mahasiswa, atau buruh. Mereka datang sebagai manusia yang membawa harapan, kecemasan, dan doa masing-masing.

Semua Orang Adalah Aktor

Sebagai seseorang yang bergelut di dunia teater, saya tidak bisa menahan diri untuk membaca situasi ini melalui perspektif seni pertunjukan.

Jika kita mengamati Parangkusumo pada malam Selasa Kliwon dari kejauhan, pemandangan itu tampak seperti sebuah komposisi panggung yang sangat luas. Laut menjadi latar belakang yang gelap dan misterius. Angin berfungsi seperti musik yang tidak terlihat. Ombak bergerak ritmis seperti koreografi alam.

Di tengah ruang itu, tubuh-tubuh manusia bergerak perlahan.

Tidak ada penonton yang duduk di kursi.
Tidak ada aktor profesional.
Tidak ada panggung yang jelas batasnya.

Namun semua orang tampak sedang melakukan sesuatu.

Dalam teori performativitas yang dikembangkan Judith Butler, tindakan tubuh bukan sekadar ekspresi dari identitas, tetapi juga cara membentuk identitas itu sendiri. Identitas bukan sesuatu yang tetap, ia diproduksi melalui tindakan yang diulang dan dimaknai.

Di Parangkusumo, tubuh-tubuh manusia itu sedang melakukan tindakan performatif. Duduk menghadap laut, menabur bunga, berjalan dalam keheningan semua tindakan itu bukan sekadar gerakan fisik, tetapi juga cara membangun hubungan spiritual dengan ruang dan alam.

Setiap orang menjadi aktor bagi dirinya sendiri. Namun pada saat yang sama, mereka juga menjadi penonton bagi orang lain.

Seorang lelaki yang sedang berdoa mungkin tidak menyadari bahwa keheningannya sedang diamati oleh seseorang yang berjalan di belakangnya. Seorang perempuan yang menabur bunga mungkin tidak tahu bahwa tindakannya menginspirasi orang lain untuk melakukan hal serupa.

Dengan cara ini, ritual Selasa Kliwon menjadi semacam pertunjukan kolektif yang tidak pernah direncanakan.

Tidak ada sutradara yang mengatur gerak.
Tidak ada naskah yang menentukan dialog.
Tidak ada latihan sebelumnya.

Namun pertunjukan itu tetap terjadi.

Parangkusumo sebagai Ruang Aman

Hal lain yang membuat pengalaman ini menarik adalah suasana psikologis yang terasa di pantai itu.

Melihat seorang pria bergumam-gumam pelan dengan pakaian hitam, kalung dan gelang, cincin yang sangat besar, sambil duduk menghadap laut. Tidak ada yang mendekatinya, tetapi juga tidak ada yang menatapnya dengan aneh. Orang-orang seolah memahami bahwa setiap individu sedang menjalani pengalaman personal yang tidak perlu diintervensi.

Dalam psikologi humanistik, Carl Rogers menyebut kondisi seperti ini sebagai ruang aman (safe space) sebuah lingkungan di mana individu dapat mengekspresikan dirinya tanpa takut dihakimi.

Di Parangkusumo, ruang aman itu muncul secara alami.

Tidak ada yang menilai apakah doa seseorang benar atau salah.
Tidak ada yang memeriksa apakah ritual yang dilakukan sesuai ajaran tertentu.

Seseorang bisa berdoa dengan cara Islam, cara Jawa, atau cara yang sepenuhnya personal.

Semua bentuk ekspresi itu hidup berdampingan.

Bagi saya, kondisi ini sangat menarik jika dibandingkan dengan praktik seni pertunjukan kontemporer. Dalam banyak eksperimen teater modern, panggung sering dipahami sebagai ruang di mana aktor dapat menghadirkan kerentanan emosionalnya secara jujur.

Seorang aktor bisa menangis, berteriak, atau menunjukkan ketakutan tanpa harus menyembunyikan perasaannya.

Di Parangkusumo, pengalaman serupa tampak terjadi hanya saja bukan dalam konteks seni, melainkan dalam konteks spiritual.

Pantai itu menjadi panggung di mana manusia dapat memperlihatkan sisi terdalam dirinya.

Ketika Alam sebagai Mitra Pertunjukan

Hal lain yang tidak bisa diabaikan adalah peran alam dalam pengalaman ini.

Dalam banyak pertunjukan teater, ruang panggung biasanya dibangun secara artifisial. Lampu, dekorasi, dan efek suara dirancang untuk menciptakan suasana tertentu.

Namun di Parangkusumo, semua elemen panggung sudah tersedia secara alami.

Laut yang gelap menghadirkan rasa misteri.
Angin membawa suara yang tidak terduga.
Ombak menciptakan ritme yang terus berubah.

Dalam konteks seni pertunjukan, situasi ini dapat dibaca sebagai bentuk site-specific performance sebuah karya performans yang tidak dapat dipisahkan dari ruang tempat ia berlangsung.

Ritual Selasa Kliwon tidak bisa dipindahkan begitu saja ke tempat lain. Jika dilakukan di gedung tertutup atau ruang kota, pengalaman yang muncul tentu akan sangat berbeda.

Parangkusumo bukan sekadar lokasi.

Ia adalah bagian dari pertunjukan itu sendiri.

Ketika Ritual dan Seni Bertemu

Pengalaman malam itu membuat saya berpikir tentang hubungan antara ritual dan seni pertunjukan.

Dalam sejarah budaya manusia, keduanya sebenarnya memiliki akar yang sama. Banyak bentuk teater tradisional lahir dari praktik ritual upacara panen, pemujaan dewa, atau perayaan siklus alam.

Namun dalam perkembangan modern, seni dan ritual sering dipisahkan. Seni dianggap sebagai ekspresi estetis, sementara ritual dipahami sebagai praktik religius.

Parangkusumo menunjukkan bahwa batas tersebut sebenarnya tidak selalu jelas.

Ritual Selasa Kliwon tidak dirancang sebagai pertunjukan seni. Tidak ada niat estetis di balik tindakan orang-orang yang datang ke sana.

Namun ketika dilihat dari perspektif performatif, pengalaman itu memiliki banyak unsur yang juga hadir dalam seni pertunjukan kontemporer:

Tidak ada naskah,
Tidak ada sutradara,
Tidak ada batas jelas antara aktor dan penonton.

Yang ada hanyalah tubuh manusia, ruang, dan pengalaman.

Dalam dunia teater modern, pendekatan semacam ini justru semakin banyak dieksplorasi. Seniman performans sering mencoba menciptakan karya yang partisipatoris, di mana penonton tidak hanya menyaksikan tetapi juga terlibat dalam peristiwa artistik.

Dalam arti tertentu, Parangkusumo sudah melakukan hal itu bahkan tanpa menyebut dirinya sebagai seni.

Sebuah Laboratorium Performatif

Ketika saya meninggalkan pantai sekitar tengah malam, orang-orang masih berdatangan. Beberapa baru memulai ritualnya, sementara yang lain sudah bersiap pulang.

Tidak ada penutup acara.
Tidak ada tanda bahwa pertunjukan telah selesai.

Ritual itu hanya berlangsung, seperti arus ombak yang tidak pernah benar-benar berhenti.

Saya berjalan kembali ke parkiran sambil memikirkan satu hal: mungkin Parangkusumo bukan sekadar tempat ritual. Ia juga bisa dibaca sebagai semacam laboratorium performatif, tempat kita dapat melihat bagaimana manusia menciptakan makna melalui tubuh, ruang, dan pengalaman.

Di sana kita melihat bahwa pertunjukan tidak selalu membutuhkan panggung.
Bahwa ekspresi tidak selalu membutuhkan naskah.
Dan bahwa pengalaman kolektif bisa tercipta tanpa sutradara.

Malam Selasa Kliwon di Parangkusumo memperlihatkan bahwa manusia memiliki kemampuan alami untuk menciptakan peristiwa yang penuh makna, bahkan tanpa struktur formal yang mengaturnya.

Dalam dunia yang semakin terorganisasi dan dikendalikan oleh berbagai sistem, pengalaman semacam ini terasa semakin langka.

Parangkusumo mengingatkan kita bahwa di suatu tempat di tepi laut selatan Jawa, manusia masih berkumpul untuk melakukan sesuatu yang sangat sederhana: duduk, berdoa, dan mendengarkan suara ombak.

Namun dalam kesederhanaan itu, sebuah pertunjukan besar sedang berlangsung.

***

 Yogyakarta, Maret 2026 

——

*Ramanda Noviandri, Mahasiswa Program Pascasarjana ISI Yogyakarta.