Godi Suwarna: Sang “Dalang” Kata dari Astana Gede

Oleh Angin Kamajaya*

Jika karya sastra Sunda kerap dibayangkan sebagai ruangan yang tenang dan santun, Godi Suwarna adalah orang yang masuk ke ruangan itu sambil menari, berteriak, dan memukau semua orang. Lahir di Tasikmalaya pada 23 Mei 1956, Godi dikenal sebagai sastrawan serba bisa. Penyair, cerpenis, novelis, hingga dramawan. Namun, julukan yang mungkin paling tepat baginya adalah “Maestro Puisi Sunda” yang menghidupkan kembali tradisi lisan lewat panggung pertunjukan.

Godi bukan tipe penyair yang bersembunyi di balik meja tulis. Godi adalah performer ulung. Ia tinggal di Ciamis, dekat situs keramat Astana Gede Kawali, sebuah pilihan tempat tinggal yang seolah menegaskan posisinya sebagai penjaga gerbang antara masa lalu dan masa kini. Di tangannya, bahasa Sunda bukan barang antik di museum, melainkan senjata yang tajam dan relevan.

Antara Pasar dan Wayang

Masa kecil Godi dihabiskan di lingkungan yang sebenarnya jauh dari sunyi. Ia lahir dari keluarga pedagang yang cukup keras mendidik anak. Ayahnya, H. Suwarna, dan ibunya, Hj. Yoyoh, adalah pedagang, namun Godi kecil merasa asing dengan dunia perniagaan itu. Ia tidak berbakat dagang, dan hatinya lebih terpaut pada dunia imajinasi.

Godi kecil adalah penikmat cerita. Ia melahap komik dan sangat gandrung pada pertunjukan wayang golek. Imajinasi visual dan naratif dari dunia pewayangan inilah yang kelak merasuki struktur kepenyairannya. Sejak sekolah dasar hingga sekolah menengah di Tasikmalaya, benih-benih kecintaannya pada seni mulai tumbuh, menjadi pelarian sekaligus perlawanan diam-diam terhadap rutinitas dunia dagang yang pragmatis. Ketertarikan ini membawanya masuk ke IKIP Bandung (sekarang UPI) mengambil Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Sunda, sebuah keputusan yang membelokkan takdirnya dari pedagang menjadi “pedagang kata-kata”.

Dari Naskah ke Mantra Panggung

Proses kreatif Godi mengalami evolusi yang menarik. Awalnya, ia menulis puisi seperti penyair pada umumnya. Namun, titik baliknya terjadi ketika ia mulai bergelut dengan dunia teater. Saat mahasiswa, ia mendirikan grup teater yang cukup disegani, Teater Nospah (1986), dan kemudian aktif di berbagai kelompok teater lainnya.

Pengalaman teater inilah yang melahirkan terobosan dalam karya Godi, yaitu puisi yang performatif. Bagi Godi, puisi tidak selesai ketika titik terakhir dibubuhkan di kertas. Puisi baru hidup ketika disuarakan. Ia mengembangkan gaya pembacaan puisi yang teatrikal, mengeksplorasi bunyi, ritme, dan gerak. Ia seolah ingin mengembalikan puisi ke akarnya yang paling purba: mantra.

Kepindahannya ke Ciamis dan kedekatannya dengan situs Astana Gede semakin memperkuat aura mistis dalam karyanya. Ia mengaku meninggalkan dunia hiruk-pikuk kota untuk menemukan kejernihan di sana. Godi mengolah bunyi bahasa Sunda yang kaya vokal menjadi komposisi musikal yang memabukkan (blues). Ia tidak sekadar menyusun makna, tapi menyusun bunyi yang bisa menyihir audiens, membuat pendengarnya merinding meski mungkin tak sepenuhnya paham arti kata per kata. Konsistensinya menjaga bahasa ibu ini bukan karena fanatisme sempit, melainkan kesadaran bahwa bahasa Sunda memiliki estetika bunyi yang tak tergantikan.

Blues, Dongeng, dan Mantra Kekinian

Karya-karya Godi terbentang luas dalam berbagai genre, namun benang merahnya adalah kekuatan narasi dan bunyi. Buku puisi pertamanya, Jagat Alit (1979), langsung mencuri perhatian. Namun, yang paling fenomenal mungkin adalah kumpulan sajak Blues Kere Lauk (1992). Judulnya saja sudah “nyleneh”—menggabungkan musik blues (Barat/Modern) dengan kere lauk (makanan kampung/Tradisional). Ini adalah manifesto estetik Godi: tradisional tapi nge-blues.

Karya lainnya yang patut dicatat antara lain Surat-surat Kaliwat (1982), Sajak Dongeng Si Ujang (1998), dan novel Sandekala (2008) serta Deng (2009). Novel Deng bahkan dianggap sebagai pencapaian penting dalam prosa Sunda modern karena keberaniannya mengolah mitos dengan gaya bercerita yang lincah.

Menariknya, di usia yang tidak lagi muda, Godi tidak berhenti bereksperimen. Kabar terbaru menyebutkan ia sedang menggarap kumpulan puisi bertajuk “Mantra-mantra Kekinian”. Ini menunjukkan bahwa Godi terus mencari format baru untuk “menghubungi” pembaca generasi milenial, membuktikan bahwa mantra tidak harus kuno, tapi bisa kontekstual dengan zaman.

Raja Rancage dan Pengakuan Negara

Kalau ada lemari piala di rumah Godi di Ciamis, mungkin isinya sudah penuh sesak. Pengakuan terhadap kualitas karya Godi bersifat mutlak. Ia adalah langganan Hadiah Sastra Rancage, penghargaan tertinggi untuk sastra daerah di Indonesia. Tidak tanggung-tanggung, ia memenangkannya berkali-kali: tahun 1996 (untuk Blues Kere Lauk), 1998 (cerpen Murang-Maring), 2011 (novel Deng), dan 2012 (antologi cerpen Serat Sarwasatwa).

Rekor kemenangan ini menjadikannya salah satu sastrawan Sunda paling berprestasi dalam sejarah penghargaan tersebut. Tak hanya di ranah lokal, Godi juga telah melanglang buana membacakan puisinya di panggung internasional, seperti di Belanda, Belgia, Perancis, hingga Australia.

Puncak pengakuan negara datang baru-baru ini. Pada tahun 2025, Godi Suwarna dianugerahi Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) untuk kategori Maestro Seni Tradisi. Penghargaan ini menegaskan bahwa apa yang dilakukan Godi—merawat bahasa Sunda lewat sastra dan pertunjukan—bukanlah kerja sia-sia, melainkan kontribusi vital bagi kebudayaan nasional.

Sebagai perkenalan pada kepenyairan Godi Suwarna, mari kita simak salah puisinya berikut ini,

JAGAT ALIT

Hareupeun kelir: kalangkang-kalangkang wayang
Kalangkang usik-usikan, kalangkang di obah-obah
Ieu rendeuk reujeung igel, ieu tincak reujeung ketak
Pulang-anting, pulang anting lebah dunya hideung bodas
Dongeng naon anu rék midang? dalang kawasa!
Aya raga nu tumamprak sanggeus campala noroktok
Sabot nungguan balebat, duh peuting ngajak ngalinjing
Renghap ranjug, renghap ranjug saméméh ajal ngolébat.

1979

JAGAT ALIT

Di hadapan layar: bayang-bayang wayang
Bayangan bergerak-gerak, bayangan digerak-gerakkan
Lenggak dan lenggok ini, langkah serta gerak ini
Hilir mudik, hilir mudik di belahan dunia hitam putih
Cerita apa yang akan digelar? Dalang Mahakuasa!
Ada raga yang terkapar usai campala mengetuk bertalu
Saat menanti fajar, o, malam yang mengajak mengembara
Napas tersengal, napas tersengal sebelum ajal berkelebat

1979 
(terjemahan Angin Kamajaya)
catatan : campala – alat pemukul kayu yng digunakan dalang dalam pertunjukan wayang untuk mengetuk kotak wayang atau kecrek yang berfungsi sebagai pengatur irama dan aba-aba

Puisi “Jagat Alit” (1979) karya Godi Suwarna di atas menghadirkan gambaran kehidupan manusia melalui metafora dunia wayang. Puisi ini pendek, tetapi penuh dengan simbol yang merujuk pada pandangan filosofis tentang hidup, takdir, dan kematian. Melalui citraan panggung wayang, penyair mengajak pembaca melihat kehidupan sebagai sebuah pertunjukan yang digerakkan oleh kekuatan yang lebih besar daripada manusia itu sendiri.

Puisi dibuka dengan gambaran kelir, layar tempat bayangan wayang dimainkan. Di hadapan kelir itu tampak bayang-bayang wayang yang bergerak, digerakkan, dan saling berkelindan. Yang tampak hanyalah bayangan, bukan bentuk wayangnya yang sesungguhnya. Gambaran ini memberi kesan bahwa kehidupan manusia pun serupa dengan bayang-bayang tersebut. Manusia bergerak, berbicara, bekerja, dan menjalani berbagai peran, tetapi yang terlihat di dunia ini hanyalah “bayangan” dari kehidupan yang sebenarnya. Penyair seolah ingin mengatakan bahwa hidup manusia berada dalam lapisan simbolik; apa yang tampak di permukaan bukanlah seluruh kebenaran.

Gerakan-gerakan wayang kemudian digambarkan dengan kata-kata yang merujuk pada gerak tubuh: membungkuk, menari, melangkah, dan bergetar. Gerakan itu berlangsung terus-menerus, hilir mudik di dunia yang digambarkan sebagai dunia “hitam putih”. Ungkapan ini memberi kesan bahwa kehidupan manusia berlangsung dalam ruang pertentangan: baik dan buruk, terang dan gelap, benar dan salah. Di dalam dunia yang penuh dualitas itulah manusia bergerak dan menjalani kehidupannya. Aktivitas manusia yang tampak begitu dinamis sebenarnya hanyalah bagian dari sebuah pertunjukan yang lebih besar.

Di tengah gambaran itu muncul pertanyaan yang sangat penting dalam puisi ini: “Dongeng naon anu rék midang?”—cerita apa yang akan digelar? Pertanyaan ini langsung diikuti dengan seruan “dalang yang berkuasa”. Dalam tradisi wayang, dalang adalah sosok yang mengatur seluruh jalannya pertunjukan. Ia menentukan tokoh mana yang muncul, bagaimana mereka bergerak, bahkan kapan sebuah adegan berakhir. Dengan menghadirkan figur dalang yang berkuasa, penyair memberi isyarat bahwa kehidupan manusia tidak sepenuhnya berada dalam kendali manusia sendiri. Ada kekuatan yang lebih besar—yang dalam tafsir religius dapat dipahami sebagai Tuhan—yang menggerakkan seluruh cerita kehidupan.

Pada bagian berikutnya, suasana puisi berubah menjadi lebih gelap dan kontemplatif. Penyair menggambarkan sebuah tubuh yang terkapar setelah bunyi campala—alat kayu yang dipukulkan dalang untuk memberi tanda dalam pertunjukan wayang. Bunyi campala dalam puisi ini terasa seperti ketukan takdir. Setelah ketukan itu terdengar, sebuah tubuh terjatuh dan terdiam. Gambaran ini memberi kesan bahwa kehidupan manusia bisa berhenti kapan saja, seperti adegan wayang yang selesai ketika dalang memutuskan untuk mengakhiri geraknya.

Puisi kemudian bergerak menuju suasana malam yang panjang, ketika seseorang menunggu datangnya fajar. Malam digambarkan seolah mengajak manusia mengembara dalam kesunyian. Di saat seperti itu, napas terdengar tersengal-sengal, seolah sedang menunggu sesuatu yang tidak terelakkan. Pada baris terakhir, penyair menyebut napas yang terengah sebelum ajal datang berkelebat. Dengan cara ini, puisi menutup dirinya dengan kesadaran akan kefanaan hidup manusia. Semua gerak, semua cerita, semua pertunjukan pada akhirnya akan berhenti ketika kematian datang.

Judul puisi ini, “Jagat Alit”, juga memiliki makna yang penting. Dalam kosmologi tradisional Sunda dan Jawa dikenal gagasan tentang jagat gede (alam semesta) dan jagat alit (manusia sebagai dunia kecil). Manusia dipandang sebagai mikrokosmos yang mencerminkan alam yang lebih besar. Dengan judul tersebut, Godi Suwarna menegaskan bahwa kehidupan manusia hanyalah bagian kecil dari tatanan kosmik yang luas. Manusia bergerak dalam dunia kecilnya sendiri, tetapi tetap berada dalam panggung besar semesta yang digerakkan oleh kekuatan yang lebih tinggi.

Melalui simbol-simbol yang sederhana tetapi kuat, puisi ini menyampaikan refleksi tentang eksistensi manusia. Kehidupan tampak seperti sebuah pertunjukan bayangan di atas layar: penuh gerak, penuh cerita, tetapi pada akhirnya fana. Manusia menjalani perannya, sementara dalang yang berkuasa mengatur jalannya cerita. Ketika ketukan terakhir berbunyi, pertunjukan pun berakhir, dan bayangan itu pun lenyap dari layar.

Dengan demikian, “Jagat Alit” bukan sekadar puisi tentang dunia wayang. Ia adalah renungan tentang kehidupan manusia: tentang keterbatasan, tentang takdir, dan tentang kesadaran bahwa setiap gerak hidup berada dalam cerita yang lebih besar daripada diri manusia itu sendiri. Dalam kepadatan simbolnya, puisi ini memperlihatkan bagaimana Godi Suwarna menggunakan tradisi budaya Sunda—khususnya dunia wayang—sebagai bahasa puitik untuk memahami makna hidup dan kematian.

Warisan terbesar Godi Suwarna bukanlah tumpukan bukunya semata, melainkan “nyawa” yang ia tiupkan kembali ke dalam Sastra Sunda. Ia mematahkan stigma bahwa sastra daerah itu membosankan atau sekadar bahan ajar di sekolah. Godi mewariskan keberanian untuk bereksperimen: bahwa bahasa ibu bisa dipakai untuk menulis naskah drama absurd, puisi blues, atau novel surealis.

Ia meninggalkan jejak bahwa sastrawan tidak harus hidup di menara gading. Godi adalah seniman yang turun ke gelanggang, berkolaborasi dengan musisi, aktor, dan anak muda. Keberadaannya di Astana Gede Ciamis menjadi magnet budaya, membuktikan bahwa pusat kreativitas tidak harus selalu berada di Jakarta atau Bandung. Godi Suwarna mengajarkan kita bahwa untuk menjadi mendunia, seseorang harus berani menancapkan kakinya kuat-kuat di tanah kelahirannya sendiri.

Demikian. Sekian. Terimakasih.

CAG!!!

Aku Cinta Padamu

Februari 2026

 

——

Angin Kamajaya adalah penulis, dosen, dan seniman. Ia dilahirkan di Jamuresi, Rajadesa, Ciamis, 1986. Tulisannya pernah dibukukan bersama dengan para penulis komunitas Siklusitu dalam buku SIKLUSITU 1 (kumpulan Sajak; 2005) dan SIKLUSITU 2 (kumpulan Sajak dan Esai; 2009), juga menerbitkan sebuah novel berujudul Catatan Kencana (2006). Kini novelnya bisa dibaca di aplikasi LenteraAPP (2024). Tahun 2017, ia menerbitkan kumpulan puisi dengan judul Senja Merah Muda, kumpulan puisi 2004-2017. Tahun 2024, ia menerbitkan buku Jejak dan Karya 13 Sastrawan Dunia.

Angin Kamajaya pernah bersekolah di Pesantren Cipasung dan UIN Jakarta. Aktifitas Angin Kamajaya selain menulis adalah sebagai pelatih dan pembimbing organisasi seni Lingkar Sastra Tarbiyah sejak 2015, Pelatih di Institut teater Cinangka sejak 2016, Dosen di Prodi Sastra Indonesia Universitas Pamulang sejak 2016, Pengawas Yayasan Sarwa Adhinaarya Indonesia sejak 2018, Pembimbing Festival Teater DRAWATA sejak 2019, Pembina Teater Patri sejak 2022, mendirikan Komunitas Enam Sembilan Agustus 2023, dan aktif di Semaan Puisi bersama Mahwi Air Tawar, Beni Satria, Andi Lesmana, Eka Gilang W.S, Alfian, Elis S, Khairul Anam, Sinta Debeturu, Amin, Ubay, dan Srenge Aryo.