Ekologi Produser

 Oleh Wulan Pusposari*

Butuh waktu satu minggu setelah program -Lokakarya dan Pertemuan Produser Seni Pertunjukan 2025 oleh JPPI dan Yayasan Kelola- berakhir untuk menuliskan refleksi ini. Saya perlu mengendapkan apa yang telah saya dengar, simak, dan perbincangkan. Forum tersebut terasa sebagai sebuah pertemuan yang mengguncang banyak hal fundamental dalam cara saya memahami kerja keproduseran.

Untuk membaca ulang pengalaman itu, saya meminjam pendekatan ekologi: antroposentris dan ekosentris. Pendekatan ini membantu saya melihat kembali posisi diri dalam praktik produksi yang selama ini saya jalani bersama Lab Teater Ciputat (LTC).

Saat pertama hadir di forum, saya menyadari bahwa narasi kerja saya sepenuhnya antroposentris—menempatkan produser, dan secara khusus diri saya sendiri, sebagai pusat dari setiap proyek kesenian. Dalam pemahaman itu, saya melihat produser melalui tiga definisi: sebagai mitra teknis sutradara dalam merealisasikan pertunjukan, sebagai elemen penting yang memastikan kolaborasi antar kelompok dapat terjadi, dan sebagai eksekutor mimpi yang memungkinkan kerja kolektif benar-benar terlaksana.

Semua definisi tersebut menempatkan manusia—produser—sebagai jantung perhelatan. Seolah tanpa produser, hal besar tidak akan terjadi. Saya menyadari kini, cara pandang itulah bentuk antroposentrisme yang paling halus: keyakinan bahwa segala sesuatu berputar di sekitar peran kita sendiri.

Forum itu seperti tamparan yang membongkar ilusi tersebut. Ia memaksa saya keluar dari romantisme kerja kolektif dan kembali melihat apakah navigasi yang saya jalani benar-benar masih searah dengan kolektif yang saya hidupi.

 

Membongkar Praktik Keproduseran

Saya mulai menjalani praktik produksi sejak 2019, ketika pertama kali menjadi pimpinan produksi di LTC. Saat itu, pemahaman saya sederhana: produser adalah pelaksana teknis keinginan sutradara. Saya bahkan pernah melobi berbagai pihak hanya untuk menghadirkan mobil tahanan kejaksaan lengkap dengan sirine dan atributnya—persis seperti kebutuhan artistik yang diminta. Pada fase ini, produksi bagi saya adalah soal memenuhi permintaan.

Tahun 2022 menjadi titik perubahan. LTC berkolaborasi dengan Theatre Company shelf dari Jepang. Dalam proyek tersebut saya menyadari bahwa tanpa kesiapan produksi yang kuat, identitas kolektif kami bisa larut dalam kerja sama internasional. Saya mulai mengetuk pintu-pintu pendanaan di Indonesia, belajar menyusun proposal dengan bahasa yang tepat, menyesuaikan persona komunikasi, dan memastikan kerja sama kami tidak sekadar menempelkan nama.

Di titik ini, saya merasa menjadi “eksekutor mimpi”: seseorang yang menyusun sistem agar mimpi kolektif dapat melintasi batas negara.

Pengujian terbesar datang pada 2023 saat kami berangkat ke Tokyo. Hibah yang diharapkan tidak berjalan sesuai bayangan dan komunikasi sempat tersendat. Saya belajar bahwa menjadi produser bukan hanya soal kemampuan teknis, tetapi juga ketahanan merawat relasi—menyambung komunikasi tanpa kehilangan pijakan.

Di sana saya mulai memahami batas ambisi personal. Keinginan kuat memang dibutuhkan agar rencana terwujud, tetapi ketika produser terlalu percaya diri menjadi pusat kebenaran, proses mendengar berhenti, regenerasi tersendat, dan kolektif kehilangan ruang tumbuh.

Pertanyaan yang muncul kemudian bukan lagi: ingin menjadi produser seperti apa? Melainkan: ingin dikenang sebagai produser seperti apa?

Jawaban saya sederhana: produser yang mampu menanggalkan pola kerja sutradara-sentris, bukan untuk menggantikan pusat kekuasaan, melainkan untuk membagikan sorot lampu secara lebih adil dalam kerja kolektif.

 

Menyusun Ulang Relasi dalam Kolektif

Refleksi itu membawa saya pada pertanyaan yang lebih mendasar: apakah agenda pribadi para penggerak kolektif benar-benar terwadahi? Apakah visi organisasi sungguh mewakili mereka yang menghidupinya? Sudahkah praktik berbagi sorot lampu dijalankan secara nyata?

Sebagai produser muda sekaligus manajer dalam kolektif yang telah matang, saya menyadari bahwa posisi ini bukan hanya soal menjalankan sistem, tetapi juga membaca celah-celah yang mungkin luput terlihat. Ada keberanian yang harus dilatih: melepas figur otoritas tertentu sebagai pusat tunggal, tanpa kehilangan rasa hormat pada proses belajar yang telah dibangun sebelumnya.

Saya sepakat bahwa produser perlu berada dalam posisi kepemimpinan strategis. Namun kepemimpinan itu bukan untuk mengendalikan, melainkan menjaga arah bersama agar energi kolektif tidak habis pada persoalan internal semata.

 

Dari Antroposentris Menuju Ekosentris

Perubahan terbesar terjadi ketika saya mulai melihat produksi melalui perspektif ekosentris. Dalam cara pandang ini, produser bukan lagi pusat, melainkan bagian dari jaringan yang lebih luas—manusia, komunitas, lingkungan, dan keberlanjutan praktik seni.

Kesadaran ini muncul ketika saya menyadari betapa isu lingkungan, seperti praktik seni nirsampah, sering luput dalam proyek yang saya kerjakan. Selama ini saya menganggap cukup jika sampah berakhir di tempat pembuangan. Padahal menjaga ekosistem berarti memikirkan dampak produksi terhadap generasi dan lingkungan secara berkelanjutan.

Saya juga mulai memahami bahwa tidak semua proyek seni harus menjadi arus utama. Yang dibutuhkan bukan “yang paling besar”, melainkan yang paling konsisten menjaga ruang tetap hidup. Sebuah komunitas tidak harus selalu spektakuler; ia hanya perlu terus menyala agar regenerasi dapat berlangsung.

Masuk melalui komunitas menjadi pintu awal bagi banyak orang—termasuk mereka yang tidak memiliki latar pendidikan seni formal. Komunitas menyediakan ruang tumbuh yang perlahan menguatkan pijakan hingga praktik seni dapat menjadi profesi.

Namun komunitas pun perlu sadar bahwa mereka hanyalah satu warna kecil dalam bentangan ekosistem seni yang luas. Kejayaan masa lalu tidak perlu terus dirayakan secara romantis. Yang lebih penting adalah memastikan barisan berikutnya tetap berjalan.

 

Menjadi Bagian dari Nyala yang Lebih Besar

Dari sudut pandang ekosentris, apa yang saya lakukan hanyalah satu nyala kecil di Ciputat, di antara banyak nyala lain dalam spektrum produksi kesenian. Kesadaran ini justru membebaskan: produksi bukan tentang menjadi pusat perhatian, melainkan menjadi bagian dari keberlanjutan.

Jika hidup adalah antrean panjang, maka penting untuk berdiri di salah satu gerbongnya—ikut bergerak, bukan sekadar menonton perjalanan orang lain. Perjuangan pekerja belakang panggung untuk berbagi ruang dan sorot lampu telah dimulai jauh sebelum generasi saya hadir, dan tugas kami adalah meneruskannya.

Sepuluh atau lima belas tahun ke depan, saya membayangkan peta jalan produser akan semakin terbuka. Kita mungkin akan bertemu di simpang yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya. Untuk saat ini, saya masih di Ciputat, mencoba terus menyala, sambil menyadari bahwa “aku” hanyalah bagian kecil dari sentrum yang luas.

Dan mungkin, di situlah kerja produser menemukan maknanya: menjaga nyala tetap hidup, selama waktu masih mempersilakannya.

—-

*Wulan Pusposari — Lab Teater Ciputat, Tangerang Selatan