Puisi-puisi Abdul Wachid B.S.

IBUKU, RUMAH DARI SEGALA RINDU

pagi belum sempat bersuara,
ibu telah menghamparkan sajadah
dari hela napas malam
yang ditinggalkan mimpi.

tangannya mengelus benang
yang patah di pinggir sarungku,
jarumnya masuk pelan
seperti seseorang
yang tak ingin melukai kain
yang pernah ia jahit sejak kecil.

ia tidak banyak bicara.
setiap lipatan kain
menyimpan cerita
yang hanya bisa dibaca
oleh anak
yang pernah jauh dari doanya.

air wudu mengalir di lengannya,
membasuh debu dunia
dari punggungku
yang terlalu lama berjalan
tanpa arah sujud.

di dapur, nasi mengepul.
di dalam uapnya
aku melihat wajahku waktu kecil
memanggil namanya
dengan suara yang pecah.

ibu tidak menyimpan marah.
ia hanya menyimpan benang
dan kesabaran
untuk menjahit yang koyak
dari hidup kami.

aku bukan siapa-siapa,
hanya sisa debu
yang kadang menempel
di telapak kakinya.

dan kelak,
jika langkahku berhenti,
mungkin aku akan menemukan
tangannya lagi,
masih memegang jarum kecil itu
di ambang rumah
yang tak pernah selesai
ia jahit
dengan doa.

2025, 2026

 

BAPAK YANG SELALU PULANG 
DALAM DOAKU

Bapak,
bunyi sandalmu di lantai papan
masih mengetuk jendela telingaku.
Aku tahu, engkau belum sampai
tapi langkahmu telah lebih dulu pulang
ke ruang dadaku.

Bapak,
aroma tembakau dari saku bajumu
masih mengambang
di antara kitab-kitab yang dulu kau bawa pulang
dari pasar.

Aku tak ingat lagi bentuk wajahmu
seperti apa waktu marah,
tapi aku masih ingat
caramu melipat sajadah
dan membiarkannya terbuka
untuk rakaat terakhirku malam ini.

Bapak,
kau bukan hanya lelaki yang menyuapi pagi
dengan keringat dan sepi,
kau adalah debu yang menempel di dahiku
setiap aku sujud.

Kini, setiap aku menyebut nama Allah
dalam gemetar yang lirih,
ada bayanganmu
yang tak pernah pergi dari rukukku.

2025, 2026

 

GENGGAMAN ITU MASIH 
MENGGETARKAN

Pagi itu, ibu menggenggam tanganku
di depan pintu kelas yang belum kukenal.
Genggaman itu lebih dulu membaca huruf
daripada mataku yang gemetar
melihat papan tulis dan wajah-wajah asing.

Aku tak tahu, mengapa jari ibu
selalu tahu kapan harus melepas,
dan kapan harus menguatkan,
seperti waktu mengaduk bubur
dengan doa yang tak diucapkan.

Di antara deret angka dan jadwal pelajaran,
aku mencatat satu pelajaran
yang tak pernah diajarkan oleh guru:
bagaimana ibu menyembunyikan takutnya
dengan senyum yang
ditanam di ujung matanya.

Kini,
setiap kali aku menggenggam tangan anakku,
getarannya kembali
bukan hanya dari telapak tangan,
tapi dari cinta yang telah menjadi warisan
di antara lekuk garis tangan dan takdir.

Dan aku pun mengerti:
genggaman ibu adalah
ayat yang tak pernah usang,
tempat aku membaca
arti pulang
tanpa perlu bertanya arah.

2025, 2026

 

SURAT YANG TAK PERNAH
KUKIRIM UNTUK IBU

Ibu,
malam membuka selembar kertas
di hadapanku.

Di baris pertama
aku menulis namamu,
dan waktu tiba-tiba berhenti
seperti sungai
yang lupa arah lautnya.

Huruf-huruf itu
bukan lagi tinta.

Ia menjadi jalan kecil
yang berjalan di dalam dadaku.

Aku mencoba menambahkan kalimat,
tetapi kertas itu
lebih luas dari bahasaku.

Ia menampung
langkah-langkah masa kecilku,
suaramu dari dapur,
dan tanganmu
yang dahulu membetulkan dunia
di kerah bajuku.

Aku melipat kertas itu.

Lipatan pertama
menjadi ingatan.

Lipatan kedua
menjadi doa.

Selebihnya
menjadi rahasia.

Surat itu tinggal
di laci meja
seperti malam
yang belum selesai bermimpi.

Namun setiap kali
namamu terucap dalam doa,

kertas itu terbuka kembali
di dalam rahmat.

Sebagian surat
tidak memerlukan alamat.

Ia berjalan
dari rindu manusia menuju
Hadirat-
Nya

2025, 2026

 

ADZAN AYAH DAN TELINGA KECILKU

Ayah,
pagi itu
kau mendekatkan wajahmu
ke telingaku yang baru saja
belajar mendengar dunia.

Aku belum mengenal apa pun,
belum mengenal cahaya,
belum mengenal namaku sendiri.

Lalu suaramu turun perlahan
membawa azan
ke dalam telingaku yang kecil.

Udara kamar masih dingin.
Tangisku belum selesai.

Di antara napasmu
dan detak jantungku
yang baru belajar waktu,
kata-kata itu masuk
seperti jalan pertama
yang dibukakan bagi seorang anak.

Aku tidak mengerti artinya.
Aku hanya menyimpan suaramu.

Tahun-tahun berjalan.

Aku tumbuh
di antara jalan-jalan yang ramai,
hari-hari yang sering membuat manusia
lupa dari mana ia dipanggil.

Namun setiap kali azan
jatuh dari menara jauh,

suaramu kembali
ke telingaku.

Seperti pagi itu,
ketika seorang ayah
membukakan dunia
dengan satu panggilan
pulang.

2025, 2026

 

TANGIS DALAM SEPIRING NASI

Di meja kayu yang retak,
kau letakkan sepiring nasi
dengan lauk sederhana
dan doa yang tak bersuara.

Tanganmu gemetar, Ibu,
mengambil sisa beras terakhir
yang kau kumpulkan sejak subuh
dari celah-celah dapur yang hampir sunyi.

Aku tak tahu,
apakah garam yang kurasakan
datang dari ikan asin
atau dari matamu yang sembunyi-sembunyi
menumpahkan langit.

Sepiring nasi itu,
bukan sekadar makan malam
ia adalah tangis yang kautanak
bersama sabar,
kau aduk dengan ikhlas
dalam periuk yang telah berkarat.

Dan malam itu,
ketika aku menyuapnya perlahan,
aku merasakan gigil
yang tak berasal dari dingin,
tapi dari cinta
yang begitu lama kau rebus
dalam diam.

2025, 2026

 

TANGIS IBU DI BALIK GORDEN

Ibu,
gorden tipis, angin merayap di lipatnya.
Bahumu, daun yang belum mengenal musim.

Tangismu jatuh,
sunyi yang menempel di jendela,
menjadi sungai tanpa muara.

Cahaya menembus celah kain,
menulis ulang lantai rumah,
mengajarkan langkah pada anak-anak yang diam.

Setiap gerakanmu, ritme yang tersembunyi,
setiap bisik tanganmu, doa yang menembus ruang.

Lipatan gorden adalah pusat sunyi,
di sana rahmat menyelinap tanpa suara,
menguatkan tubuh yang belum tahu dunia.

Pagi merayap,
bayanganmu bercampur dengan cahaya,
menjadi peta bagi mereka yang berjalan di antara tangismu.

Dan lantai rumah,
menerima cahaya,
menerima rindu,
menjadi saksi tanpa nama,
dari kasih yang tak menuntut.

2025, 2026

 

WAJAHMU TAK PERNAH TUA

Wajahmu, Ibu,
adalah pelita yang tak meredup,
menembus lorong-lorong jati tua,
menembus kabut pagi yang menetap di ladang tembakau.

Kerut di sudut bibirmu
adalah alur akar jati,
yang menuntun langkah-langkah yang belum lahir
ke sendang kecil di tepi hutan,
tempat doa dan rindu menyatu.

Matamu, Ibu,
adalah sungai yang menapaki hutan,
menyerap bayangan beringin dan mahoni,
mengalir di antara burung tekukur dan perkutut,
menjadi cahaya yang menuntun anak-anakmu
dari daun ke daun, dari ranting ke ranting.

Tanganmu menenun ruang,
menjadi jembatan bambu di atas sungai kecil,
mengalir di antara hujan dan debu,
menggenggam pagi dan senja,
menjadi rahasia yang menuntun langkahku.

Setiap senyummu
adalah ladang yang diam,
di mana akar jati berakar dalam rindu,
di mana jejak langkahku berubah menjadi cahaya,
dan daun-daun mahoni menampung kenangan.

Waktu menempel pada pelipismu,
menjadi lorong yang memanjang
antara langit biru dan tanah basah,
menjadi saksi bisu bagi perjalanan hati
yang terus berjalan
meski ayam hutan dan burung jalak berteriak,
dan dunia ingin melupakan.

Aku melihatmu di musim hujan,
di antara daun jati yang gugur,
di sela angin yang menyentuh jembatan bambu,
dan di sana, Ibu, rumahku tetap hadir,
mengalir dari akar ke sungai,
menghantar rindu yang tak pernah padam.

Wajahmu, Ibu,
adalah cahaya yang menembus hutan,
adalah riak sungai yang menuntun langkah,
adalah benih yang jatuh di tanah hatiku
dan tumbuh dalam setiap daun yang gugur.

Dan aku kembali,
tanpa kaki,
tanpa kata,
hanya mengikuti aliran yang kau tinggalkan di udara,
mengalir seperti sungai jati,
ke tempat yang tak terlihat mata,
tetapi terasa oleh seluruh rindu yang hidup.

2025, 2026

 

ANAKKU, YANG MASIH BELAJAR MEMBESARKANKU

Anakku,
kau lahir seperti matahari yang menyelinap di sela daun jati,
menerangi jalan setapak yang basah oleh hujan semalam.
Kau belum tahu arah cahayamu,
tapi sungai langkahmu sudah menuntunku pulang
ke sumber yang selama ini tersembunyi.

Tangismu jatuh di tanah rumah seperti benih,
dan aku menunduk, membaca doa di antara debu ladang tembakau
yang enggan ikut tersapu angin.
Setiap helaan napasmu adalah pelajaran:
diam, sabar, dan cinta yang mengalir tanpa pamrih.

Di pipimu yang lembut, aku melihat musim-musimku berlalu,
aku lelaki tua yang kembali menjadi kanak-kanak
ketika tanganmu menggenggam tanganku tanpa syarat.
Kau mengajari aku bahasa langit,
yang tak diucapkan bumi, namun tersimpan di antara kita.

Engkau tumbuh seperti pohon mahoni di halaman,
akar-akarmu menembus rahasia tanahku,
dan aku menjadi bayangan yang menyejukkan di bawah dahanmu.
Setiap panggilanmu pada namaku
menyempurnakan suara yang hilang dari kesibukan dunia,
seperti air yang menemukan sumur yang selama ini kering.

Anakku, langkahmu adalah azan yang menenangkan hati,
senyummu adalah sungai yang menuntun malam kembali ke cahaya,
dan aku belajar membaca cinta
dalam setiap detik yang kau pijak di bumi ini.

2025, 2026

 

PELUK YANG TAK PERNAH KUTERIMA

Aku melangkah di lorong-lorong pagi,
di mana bayangan menabur rindu
dan cahaya menetes perlahan ke ruang batin.

Tangan yang menuntun langkahku
adalah akar yang merambat di dalam jiwa,
menyimpan setiap jejak yang tersesat
antara hening dan hari yang tertahan.

Pelukan itu, yang belum pernah kuseduh,
adalah sungai yang mengalir di langit,
menghapus debu dari kulit waktu,
menjadi riak yang menuntun segala yang kering
kepada mata air yang tersembunyi.

Sosok itu menenun malam dengan lembut,
menyembunyikan tangis dalam diam,
sementara aku membaca bahasa sunyi
yang hanya bisa dimengerti oleh rindu yang abadi.

Bayangan menembus dinding,
udara memeluk kulit,
pelukan itu hadir di antara napas dan sunyi,
mengalir dari jiwa yang menulis ulang kasih
di ruang yang tak terlihat oleh mata manusia.

Ia menempel pada setiap detak,
menjadi jejak yang mengajar aku berjalan
di atas tanah dan bayangan,
menuju rasa yang menumbuhkan kesadaran
bahwa cinta itu hadir
sejak mula, dan tidak pernah pergi.

Langit hening menatapku,
di antara awan dan udara yang lengang,
cinta itu hadir selalu,
dari dahulu hingga selamanya,
menjadi aliran yang menyejukkan
segala langkah yang tersesat.

Dan aku berdiri di tengah cahaya itu,
menggenggam udara, menadah bayangan,
menjadi satu dengan pelukan yang tak pernah kuseduh,
menjadi saksi bagi cinta yang tidak menunggu,
bagi kasih yang telah menanam dirinya
di setiap sudut jiwa
tanpa menunggu pengakuan.

2025, 2026

*Abdul Wachid B.S., lahir 7 Oktober 1966 di Bluluk, Lamongan, Jawa Timur. Buku terbarunya : Kumpulan Sajak Nun (2018), Bunga Rampai Esai Sastra Pencerahan (2019), Dimensi Profetik dalam Puisi Gus Mus: Keindahan Islam dan Keindonesiaan (2020), Kumpulan Sajak Biyanglala (2020), Kumpulan Sajak Jalan Malam (2021), Kumpulan Sajak Penyair Cinta (2022), Kumpulan Sajak Wasilah Sejoli (2022), Kumpulan Sajak Kubah Hijau (2023), Sekumpulan Esai Sastra Hikmah (2024), Buku Puisi Balada Kisah untuk Anak Cucu (2025).

Melalui buku Sastra Pencerahan, Abdul Wachid B.S. menerima penghargaan Majelis Sastrawan Asia Tenggara (Mastera) sebagai karya tulis terbaik kategori pemikiran sastra, pada 7 Oktober 2021 (tepat di ulang tahunnya yang ke-55).***