Puisi-puisi Abdul Wachid B.S.
PUISI-PUISI CINTA FITRAH
YANG DUDUK DI SAMPING KESUNYIANKU
Ia tidak datang.
Bayang langit patah, jatuh perlahan,
menempel di lantai kamar
yang dingin seperti waktu yang tertahan.
Namanya bersembunyi
di denyut cahaya yang meredup,
di sela tubuh yang menebak arah
dan jam-jam yang merayap tanpa suara.
Ia tidak duduk.
Batu di padang pasir
diam menahan jejak angin,
mendengar hujan yang pernah singgah
dan meninggalkan garisnya di pasir.
Kesunyian,
terlipat dalam gulungan malam,
halaman demi halaman terbuka perlahan,
garis demi garis huruf yang tak sempat terbaca,
bergetar di ruang antara bayang dan tubuh.
Di pelupuk matanya
cahaya menelusup lembut,
membuka ruang yang tak tampak,
di mana bayang dan langkah
saling menegur tanpa suara.
Yang duduk di samping kesunyianku
adalah pertanyaan yang diam,
mengalir bersama angin malam,
menjadi jejak di antara langkah-langkah
yang menebak arah pulang
tanpa peta, tanpa kata.
2025, 2026
PUISI YANG KUBISIKKAN DI PERGELANGANMU
Di antara denyut dan detak,
bait merayap dari kulitmu,
sebelum salam sempat menempel pada udara.
Pergelanganmu menjadi halaman rahasia,
di mana nadi menulis sendiri,
jarum waktu menelusuri kulit
dengan langkah pelan, tak tergesa.
Urat-urat menyimpan huruf sunyi,
tulang dan darahmu mengaji
dalam bahasa tubuh
yang diam-diam membentangkan makna.
Sajak itu bernapas di antara kita,
menyusup di sela kulit,
menjadi azan yang menembus malam
tanpa suara, tanpa batas.
Puisi ini bergerak perlahan,
meraba tubuh yang tenang,
mengikuti ritme cahaya
yang diam,
namun tak pernah meninggalkan ruang.
2025, 2026
SEBELUM LETIH MENJELMA DOA
Aku berjalan
di antara lapisan tubuh sendiri,
musim lupa menempel pada kalender tanah,
daun kering menatap kaki yang melangkah pelan.
Bayang-bayang muncul dari debu,
napas membuka waktu
yang tersesat di ruang igamu,
mengalir seperti sungai tanpa muara.
Tubuhku diam,
jeda di antara dua kecemasan,
suara kehilangan mulutnya
menjadi gema di hening yang tak berakar.
Malam tertinggal di ujung jemari,
cahaya menetes perlahan
dari lampu-lampu yang menolak bayangan,
menggantung di udara
seperti doa yang belum berwujud.
Di antara langkah dan napas,
ruang basah oleh diam
menjadi gerakan tanpa arah,
dan doa menempuh jalan
yang tak tampak oleh mata.
2025, 2026
TUBUHKU PERNAH MENYEBUT NAMAMU
Tubuhku
menjadi kitab yang belum khatam,
setiap ruas tulang menahan kata
yang ingin pulang ke namamu,
berdiam di sela doa
pada malam yang menahan napas.
Getar di pori
menggigilkan rindumu,
zikir menempel di kening
yang tak lagi menanti sentuhan.
Di dadaku
taman mekar dari namamu,
mawar tumbuh di luka,
embun bertahan
di bulu-bulu napas
yang meneguhkan diam malam.
Tubuh ini
mencatatmu dalam rahasia,
huruf-huruf yang tak tersampaikan bahasa,
tersimpan di antara shalat senyap
dan azan bergetar di ruang tak tampak,
di mana cinta bernapas tanpa suara.
2025, 2026
AKU DAN AKU YANG PERNAH KAU CINTAI
Kau mengisi ruang yang dulu kosong
di tubuhku,
meninggalkan jejak lembut
yang tetap menempel di udara setelah pergi.
Aku masih mendengar suaramu
di keheningan yang menelan kata,
api yang kau tinggalkan
menyala pelan di setiap detik,
meski jarak memisahkan langkah.
Cintamu bergerak seperti angin
melalui daun-daun kering,
menoreh jejak yang tak tersapu waktu,
membakar, merangkul, menyentuh luka.
Bayangmu hadir di setiap sudut dunia,
menyelinap di jalan-jalan sepi
dan di ujung jari yang dulu bersentuhan
sekarang diam menahan rindu.
Kau adalah darah yang mengalir di tubuhku,
puisi yang tak selesai tergantung
di bibir yang pernah menanti,
sementara sepi menjadi sahabat
di langkah-langkah yang menapak bayangmu.
Aku dan aku, dua gelombang
bertemu di ruang sempit,
jarak memisahkan namun tak meniadakan
ruang di mana kita tetap satu,
diam tanpa harus bersentuhan.
2025, 2026
DOA YANG TAK SEMPAT DIUCAPKAN
Doa tersisa di ujung napasku,
debunya menempel di bingkai jendela,
melintasi cahaya yang tak pernah jatuh.
Kata-kata menggigil di bibir,
terselip di celah kayu,
mengetuk bayang yang menunggu lantai.
Aku berbisik pada sunyi,
menyisir embun di keramik dingin,
menemukan namamu di sela lampu yang padam,
di daun kering yang berderak di ambang pintu.
Sunyi hadir, diam tapi menulis,
mengalir di jejak kaki yang tak meninggalkan bekas,
di detik yang membeku tapi menoreh bayang-bayang.
Waktu bergerak seperti aliran parit sempit,
menghapus bekas tapi menyimpan aroma doa,
meninggalkan getar di kulit,
di mana kau hadir,
tanpa suara, tanpa kata,
hanya sebagai getar
yang menepuk hati
yang tetap menunggu.
2025, 2026
LUKA YANG MENGAJARKAN PELUKAN
Aku menapak di tubuhku sendiri,
menyisir retak-retak yang dibelah cahaya,
tidak jelas mana luka
dan mana jalan yang memanggil pulang.
Malam berlutut di ambang jendela,
seperti ibu yang menundukkan kepala,
menyusui bayang-bayangku
dengan diam yang panjang dan lembut.
Setiap sakit adalah huruf
yang menulis namaku di kitab sunyi,
aku menelannya dengan napas,
dan membalasnya dengan pelukan
yang merentang rahasia bumi dan langit.
Pelukan itu bukan milik siapa pun,
hanya waktu yang menunggu di cermin,
telanjang, tanpa kata,
mengalir bersama kesabaran yang tersisa dalam diam.
Aku menggenggam luka
seperti musafir menadah pasir di sungai kering,
meninggalkan jejak yang tak dijanjikan
kepada siapa pun selain dirinya sendiri,
dan membiarkan ruang terbuka
untuk doa yang tidak bersuara.
2025, 2026
BAYANGANKU PUN MERINDUKAN AKU
Setiap aku melewati cermin
bayanganku menunduk,
kekasih yang malu,
tak sanggup menatap mataku
yang terlambat
menangisi dirinya sendiri.
Di sudut pagi ia duduk,
mengaduk teh dingin
dengan sendok kenangan
yang kau titipkan
di rak hatiku.
Ia menggigil,
senyum yang menenangkan duka
telah pergi.
Bayanganku merindukanku,
seperti engkau dulu merindukanku
di nama yang masih satu,
di doa yang belum diucap.
Ia mencari jejakku
di rambut yang memutih
dan dada yang menyimpan rahasia.
Ia mencari jejakku
di pelukan yang tak selesai,
menyebut satu kata,
kembali.
Dan aku,
tersenyum pahit
seperti bunga
jatuh
sebelum disentuh.
2025, 2026
HENING YANG AKU GENGGAM
Malam tidak mencari bintang
untuk mengenal dirinya sendiri.
Di dada, kenangan menari,
seperti napasmu yang diam
menyentuh detak jantung
dan pelipis yang menunggu cahaya.
Aku menggenggam hening
seolah menahan tanganmu di antara dua dunia,
tak ingin lepas,
tak ingin pergi.
Hening itu adalah surat
yang menunggu angin
untuk membacanya di langit.
Setiap kata menetes dari napasku,
setiap bait kutitipkan
pada detak yang senyap,
mengulang namamu dalam ruang yang tak terlihat.
Biarkan aku menyimpan rahasia ini,
seperti dulu menyimpanmu,
di ruang di mana cinta
tidak butuh kata,
hanya napas yang menjadi doa.
2025, 2026
WAJAHKU DI CERMIN DOAMU
Aku meluncur di sela waktu,
seperti embun yang menunggu matahari membuka mata bunga.
Bayanganku menempel di keningmu,
di mana langit menulis namaku
dengan huruf yang hanya dimengerti hati.
Cermin itu bukan kaca,
ia adalah ladang doa yang menahan langkahku,
memantulkan bukan wajahmu,
tapi bisik rindu yang mengitari jiwa.
Setiap sebutanmu
menjadi gema yang menari,
menyusuri napas,
menyentuh cahaya yang diam menunggu.
Wajahku bukan wajah,
ia hanyalah sisa zikir
yang kau hembuskan ke udara,
dan aku lahir di antara hembusan itu,
tanpa aku tahu, tanpa aku memintanya.
2025, 2026
—-
*Abdul Wachid B.S., lahir 7 Oktober 1966 di Bluluk, Lamongan, Jawa Timur. Buku terbarunya : Kumpulan Sajak Nun (2018), Bunga Rampai Esai Sastra Pencerahan (2019), Dimensi Profetik dalam Puisi Gus Mus: Keindahan Islam dan Keindonesiaan (2020), Kumpulan Sajak Biyanglala (2020), Kumpulan Sajak Jalan Malam (2021), Kumpulan Sajak Penyair Cinta (2022), Kumpulan Sajak Wasilah Sejoli (2022), Kumpulan Sajak Kubah Hijau (2023), Sekumpulan Esai Sastra Hikmah (2024), Buku Puisi Balada Kisah untuk Anak Cucu (2025).
Melalui buku Sastra Pencerahan, Abdul Wachid B.S. menerima penghargaan Majelis Sastrawan Asia Tenggara (Mastera) sebagai karya tulis terbaik kategori pemikiran sastra, pada 7 Oktober 2021 (tepat di ulang tahunnya yang ke-55).***





