Seni Rupa Islam: Ke Mana-mana dan Di Mana-mana
Oleh Agus Dermawan T.*
Kebudayaan Iran yang membawakan spirit Islam Persia berusaha dihancurkan oleh Israel dan Amerika Serikat. Semata-mata demi kepentingan politik yang berujung soal minyak. Bacaan hangat di kala Idul Fitri.
———-
MILITER gabungan Israel dan Amerika Serikat mengebomi Arg Square di Teheran, awal Maret 2026 lalu. Pengeboman ini berdampak kepada Istana Golestan. Dengan begitu Arg Square, istana budaya Islam dari era Dinasti Qajar abad ke-16, dan Istana Golestan yang artistik dan megah, mengalami kerusakan sangat berat.
Sementara kita tahu bahwa Iran adalah negeri yang menyimpan 29 situs Warisan Dunia UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization). Jumlah itu menjadikan Iran tercatat sebagai negeri yang paling banyak menyimpan warisan luhur budaya manusia. Arg Square dan Istana Golestan adalah salah dua yang terpenting dari warisan peradaban itu.
Bahkan Israel dan Amerika Serikat juga mengebom kastil Shapur Khast dan kastil Falak ol-Aflak era Sasaniyah Persia (220-650 Masehi), yang posisinya di puncak bukit Khorramabad. Maka istana peradaban yang menyimpan kegemilangan kebudayaan Iran ini rusak berat.

Istana Golestan yang megah di Iran. Rumah budaya seni rupa yang tiada tara indahnya. (Sumber: Dokumen)

Pemandangan satu ruang di Istana Golestan yang rusak berat akibat dibom Israel dan Amerika Serikat. (Sumber: Dokumen)
Upaya penghancuran ini memicu munculnya pendapat bahwa perang Iran versus Israel/Amerika Serikat adalah Perang Peradaban. Substansi spesifiknya adalah: satu pihak akan menghancurkan peradaban pihak lawan. Sementara anak peradaban yang paling luhur adalah kebudayaan. Sedangkan komponen kebudayaan yang paling dominan adalah kesenian. Kita tahu, Arg Square dan Istana Golestan (yang di dalamnya dengan hormat juga mengimbuhkan unsur budaya Eropa), adalah rumah akbar kesenian Islam Persia, yang akarnya telah hidup selama lebih dari 5.000 tahun.
Dari persoalan itu, nyata betapa kesenian Islam Persia berusaha dimusnahkan dari muka bumi oleh Israel dan Amerika Serikat yang peradabannya jauh lebih muda. Dan itu mustahil, karena jejak dan nafas seni Islam sesungguhnya sudah ada di mana-mana. Dan itu tidak masuk akal, lantaran kebudayaan Islam sesungguhnya tidak hidup dalam bentuk wujud saja. Tetapi juga – yang terpokok – dalam hembusan dan denyut spiritnya.
Ruang Tafakur, Potret Kecil
Sejarah visual bertutur, kesenian Islam Persia yang paling abadi adalah seni rupa. Kitab World Cultures and Modern Art (Bruckmann Publishers, Munich, 1972) mencatat secara khusus ketinggian nilai seni rupa Islam Persia yang tumbuh dan berkembang di Iran. Sehingga pada abad ke-20 seni rupa Islam Persia dinyatakan nyata merasuk dalam-dalam di kedalaman seni rupa modern Eropa dan Amerika.
Pertemuan dan percampuran budaya itu ujungnya membatalkan pendapat dikotomis yang diawali ucapan budayawan Inggris Rudyard Kipling, “West is west, east is east”. Karena pada realitasnya seni rupa klasik “timur” yang diwakili seni (rupa) Islam Persia bisa diadopsi dengan lentur oleh seni rupa modern barat.
Bahkan, melompat dari sana, pada sejak lama telah pula dijumput sebagai bagian dari spirit seni rupa klasik dan tradisional Nusantara. Yang kemudian “berevolusi” menjadi seni rupa modern Indonesia, yang notabene menyimpan semangat seni rupa Barat.
Dari sini mari kita mengenang pameran Ruang Tafakur: Merayakan Spiritualitas Islam dalam Seni Rupa di Bentara Budaya Jakarta, yang berakhir pada tengah Maret 2026.
Pameran yang dikuratori Hilmi Faiq dan diimbuh tulisan Ilham Khoiri ini mengetengahkan karya 18 perupa, yang sebagian besar menyuguhkan seni lukis. Disimak cermat, pameran ini bukan hanya “merayakan spiritualitas Islam” belaka, namun juga (secara samar) menunjukkan “potret kecil” fenomena bertemunya spirit dan wujud seni Islam Persia dengan olah seni rupa a la barat, ditambah dengan semangat dan setting Nusantara. Sehingga lantas lahir seni rupa hibrid Islam-Barat-Nusantara.
Kita lihat karya Nasirun yang menggambarkan seorang lelaki sedang merokok seraya menunjukkan cahaya di pojok langit. Lukisan berjudul “Santri Ucul” (santri lepas dari kandangnya) itu menggambarkan pemuda bersarung, mengenakan kopiah Jawa, berambut merah seperti Lady Gaga, dan memakai sepatu lancip Poulaines simbol bangsawan Abad Pertengahan Eropa.

Lukisan Agus Baqul, “Allah” dan doa yang berulang. (Sumber: Agus Dermawan T.)

Pameran Ruang Tafakur: Merayakan Spiritualitas Islam dalam Seni Rupa di Bentara Budaya Jakarta, yang berakhir pada tengah Maret 2026. (Sumber: Agus Dermawan T.)
Lalu karya Fadriah Syuaib yang berupa gambar kecil-kecil tentang wong cilik yang ditindih problem kerusakan lingkungan hidup. Dengan berangkat dari pemahaman Ar-Rum ayat 41 dan Al-A’raf ayat 56, aneka gambarnya ia bentuk dalam corak surealisme modern barat. Sementara figur-figurnya adalah orang Indonesia, dengan citra lokasi pesisir Nusantara.
Agus Baqul menyusun warna dan bentuk aksara Arab dalam komposisi yang padat berlapis-lapis, sehingga mencitrakan ruang. Di antaranya adalah perulangan beribu kali kata Allah, sehingga sugesti “doa yang terus berulang” terbaca sempurna. Aroma seni dekoratif tradisional semacam batik dihadirkan lewat teknik impasto yang dijumput dari seni lukis Renaissance Italia.
Ilham Khoiri lewat Para Angsa Mencari Cinta mengangkat fabel rohani Mattiq Attahir, yang menceritakan sekelompok angsa sedang mengejar pancaran cahayanya sendiri. Para angsa dilukiskan terbang menyongsong goresan abstrak berbentuk awan, yang lantas bertransformasi menjadi khat (tulisan Arab yang indah). Karya ini, meski berbeda rupa, punya kesamaan atmosfir dengan Day and Night ciptaan M.C. Escher dari Belanda
Jangan lupa lukisan abstrak Hanafi, Ziarah – yang dimaknai sebagai kunjungan ke tempat luhur dalam tradisi Islam Jawa. Lukisan ini berbahasa rupa a la abstrak puitis seniman Jerman Horst Janssen. Begitu juga tampilan 13 pelukis lainnya, yang memiliki konten bermuara sama.
Seni rupa Islam, atau seni rupa yang berisi spirit Islam, nyata berkelana ke mana-mana dan akhirnya ada di mana-mana. Sampai akhirnya ada di Bentara Budaya, Jakarta. Tentu sambil mefahami bahwa semangat hibrid seni rupa Islam-Barat-Nusantara ini sudah terasa denyutnya selama delapan dasa warsa.
Idul Fitri Puntadewa
Syahdan pada suatu kali pelukis dan sastrawan Danarto mencipta ilustrasi ucapan selamat Idul Fitri untuk sebuah majalah. Di situ ia menggambarkan sosok Puntadewa, sulung dari keluarga Pandawa dalam lelakon Mahabharata. Lho, kok Puntadewa, bukan Umar bin Khattab sang Khalifah Rasyidin Kedua, misalnya? Seniman yang menulis kitab Orang Jawa Naik Haji itu menjelaskan.
“Puntadewa, yang biasa dipanggil Yudhistira, adalah contoh manusia yang paling dekat dengan perintah Allah. Ia sosok yang paling selaras dengan ajaran kesabaran dalam beberapa surat Al Baqarah. Ia pemaaf, sejalan dengan ajaran yang terpetik dalam surat Al Imran.”
Ia lantas menunjukkan ayatnya yang tertulis dalam bahasa Arab, untuk kemudian disimpulkan ke dalam bahasa Jawa: Sura dira jayadiningrat, lebur dening pangastuti. Sabar iku ingaran mustikaning laku. Artinya: segala sifat keras hati hanya bisa dikalahkan dengan sikap lembut dan sabar. Dan kesabaran itu adalah harta yang paling berharga dalam kehidupan. “Bila Sunan Kalijaga mengangkat keluarga Semar-Petruk-Gareng-Bagong sebagai keluarga Islami, sejak tahun 1960-an saya memposisikan Puntadewa sebagai sosok yang merefleksikan sifat sejati orang Muslim,” tuturnya.

Lukisan A.D.Pirous, “Palma Emas: Kenangan Sedih Tumbangnya Palem-palem Jalan Pasteur, Bandung”. Lukisan abstrak yang berangkat dari pemahaman Al Qur’an, Ar-Rum ayat 41, tentang pentingnya lingkungan hidup. (Sumber: Agus Dermawan T).
Mengingat Danarto ahli khat, saya bertanya, mengapa surat Al Baqarah dan Al Imran itu tidak sekalian dituliskan dalam kaligrafi untuk menyertai ilustrasi. Ia menjawab, “Seni Islami tidak harus bergaya Arab yang selalu berkait dengan ornamen Islam era imperium Ottoman, umpamanya. Di Indonesia, seni Islami bisa beraroma Bali, bernuansa Bugis, bersuasana Tionghoa, atau bahkan beraura Austria. Simak seni Islami saya yang beraroma sufisme Jawa, dengan garis-garis yang mengacu kepada drawing I Gusti Nyoman Lempad dan sketsa Gustav Klimt, pelukis besar dari Wina.”
Hal yang sama juga ditegaskan oleh pelukis A.D. Pirous. Maka kala ia mengabstraksikan luluh lantaknya Pantai Aceh pasca tsunami tanpa imbuhan khat, karyanya (yang sangat barat itu) tetaplah Islami. Lantaran secara konseptual ia menyampaikan pemahaman tauhid rububiyah. Keyakinan bahwa Allah memiliki kekuasaan penuh dalam mengatur (keutuhan dan kerusakan) segala benda di alam semesta.
Abdul Hadi W.M, penyair dan ahli seni Islam, menjelaskan ini dalam satu esainya. ”Yang disebut seni Islami ialah seni yang isinya berupa ungkapan ibadah dan puji-pujian kepada Sang Maha Pencipta, dengan menyangkutkan ihwal moral, akhlak, dan aspirasi. Yang semuanya bersumber dari hasrat seniman untuk merefleksikan keimanan atau zikir, dan menyampaikan perenungan atau musyahadah.”
Meski, tambahnya, untuk semua itu tetap ada kriteria: yang tercipta harus indah. Lantaran ini sejalan dengan tuturan H.R. Imam Muslim: Innallaha jamiilun, yuhibbul jamaa. Sesungguhnya Allah itu Maha Indah. (Dan) Dia menyukai yang indah. Oleh karena indah, maka seni Islam merambat ke mana-mana, dan lantas berada di mana-mana.
Kembali ke “laptop”, Israel dan Amerika Serikat bisa saja menghancurkan istana-istana seni rupa Islam, seperti di Iran. Namun jiwa dan denyut seni Islam tidak akan pernah senyap. Tidak akan pernah hilang. Karena jejak rupa dan spiritnya sudah masuk sedalam-dalamnya ke dalam pergaulan seni rupa lintas peradaban. Termasuk di Indonesia, lewat berbagai pintu. Lewat berbagai versi pemahaman.
Selamat Idul Fitri. ***
—
*Agus Dermawan T. Kritikus. Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia 2025, dan Anugerah Adikara Cipta Budaya DI Yogyakarta – Sultan Hamengku Buwono X, 2024.




