Meneropong Seni Rupa Antariksa
Oleh Agus Dermawan T.*
Memasuki tahun 2026 beberapa negara berlomba menguasai Bulan. Pada 17 Januari roket dan wahana Orion milik Amerika Serikat siap luncur untuk membawa misi Artemis. Tiongkok, Jepang, bahkan India, segera mengikuti. Daratan Bulan akan dijadikan stasiun menuju ke planit Mars! Di balik semua itu,“ternyata” ada seni rupa luar angkasa. Maka, menarik menyimak lukisan bertema jagat antariksa.
————
SAYA orang yang suka berwisata. Di sela-sela kenangan pelancongan itu ingatan lantas terbang ke National Air & Space Museum di Museum Smithsonian, Washington DC, Amerika Serikat. Satu obyek wisata yang tidak pernah saya temui duanya di mana-mana.
Di museum itu saya bisa menyaksikan jutaan bintang di ruang tak terhingga. Mencermati permukaan berbagai planet yang menakjubkan. Di bagian lain, bisa memperhatikan bagian-bagian pesawat luar angkasa, melongok kokpit para astronot, pakaian para astronot, dan menatap replika pesawat ulang-alik Mercury, Saturnus, Gemini, Apollo dan seterusnya.
Di ruang sana siapa saja boleh mencoba tortila dan kuwe panggang berlapis gelatin – roti tanpa remah penganan para astronot selama di luar angkasa. Tidak enak rasanya. Tapi lumayan apabila dikunyah sambil berimajinasi melayang-layang di dekat planet Mars atau Saturnus.
Dari kekaguman itu terbersit di kepala: alangkah menarik apabila segala bentuk benda teknologi dan semua gerak upaya eksplorasi hebat ini diabadikan dalam seni rupa. Untuk kemudian rupa-rupa seni antariksa itu dibukukan serta disebarkan sebagai dokumentasi massa.
Apa yang saya bayangkan ternyata sudah muncul dalam kenyataan.
Ada kitab The Art of Space karya ilustrator Ron Miller. Buku The Conquest of Space karya dan Willy Ley dan Chesley Bonestell, yang disebut-sebut sebagai “Bapak Seni Antariksa Modern”. Buku Infinite World, yang berisi ilustrasi fiksi ilmiah karya Vincent Di Fate. Buku Eyewitness to Space, yang berisi dokumentasi visual yang dikumpulkan The Art Program of the National Aeronautics and Space Adminitrastion pada tahun 1963 sampai 1969. Namun semua buku itu belum memuaskan apa yang saya pikirkan.

Seni fotografi tentang Apollo Lunar Modul, di National Air & Space Museum, Washington DC. (Sumber: Buku NASA/Art)

Lukisan Jack Perlmutter, “Liftoof at 15 Seconds”, 1982. (Sumber: Agus Dermawan T)
Dong Kingman, lalu mi ayam
Cerita beralih. Alkisah pada tahun 1995 saya bertemu dengan maestro seni lukis cat air Amerika, Dong Kingman. Ia akan berpameran di Indonesia, dan saya ditunjuk untuk menulis pengantarnya dalam katalog. Dalam pertemuan itu terinformasi bahwa Dong Kingman beberapa kali dipilih untuk ikut NASA Art Program. Bahkan sejumlah lukisannya terpajang anggun di Museum NASA.
Lalu, 27 tahun kemudian, pada suatu hari di tahun 2022 saya mengudap mi ayam di satu resto di Kelapa Gading, Jakarta. Resto ini unik, karena menyediakan puluhan buku untuk disimak dan dibaca para tamu yang sedang menunggu makanan pesanan tiba. Di situ terlihat buku NASA/ART – 50 Years of Exploration. Buku terbitan 2008 yang terus dicetak ulang sampai sekarang. Berformat besar, 180 halaman penuh warna, bersampul tebal dengan hologram. Rasanya, inilah buku yang saya idamkan.
Dibekali kenangan berkunjung ke National Air & Space Museum, Washington DC, dan teringat pertemuan dengan maestro cat air Amerika, segera saya raih buku itu. Dan yang tampak adalah pemandangan mempesona. Dalam buku tercetak 156 karya pelukis mashur Amerika, yang semuanya menggambarkan dunia antariksa. Suatu khasanah seni lukis yang nyaris tidak pernah terbicarakan dalam buku-buku seni yang baku. Dan – ini dia! – karya Dong Kingman ada di dalamnya.
Kepada pemilik resto saya mengajukan tawaran: bolehkah buku NASA/ART ini saya barter dengan buku mewah (sejarah para) Presiden Republik Indonesia 1945-2014. Pemilik resto tidak keberatan.
Buku NASA/ART disusun oleh James Dean dan Bertram Ulrich. Kata pengantarnya ditulis oleh Michael Collins. Ulasan seni digarap Tom D. Crouch. Sementara epilognya dikerjakan oleh Ray Bradbury. Sederet tokoh yang sangat katham dalam keantariksaan, dan sangat dekat dengan seni luar angkasa.

Lukisan Stan Stokes, “Ascent of Atlantis”, 1986. (Sumber: Agus Dermawan T).

Lukisan cat air Henry C. Pitz, “Last Check”, 1969. (Sumber: Agus Dermawan T).
Lalu para seniman babon pun unjuk muka. Sebut nama Alexander Calder, James Cunningham, Norman Rockwell, Fred Freeman, Henry Cassel, Nam June Paik, Robert Mc Call, Robert Rauschenberg, James Wyeth, Alfred McAdams, Neil Boyle, William Thon, Slayer Bradley, Yvonne Jacquitte, Charles Schmidt, John McCoy dan 50 nama lainnya.
Kamera melihat, pelukis memahami
Sangat banyak karya yang memikat untuk ditatap dan dihayati.
Lukisan David Stone menggambarkan seorang astronot menari di angkasa lepas dengan hiasan jutaan permata. Howard Koslow melukiskan kesibukan astronot Kathryn Thornton dan Thomas Akers di bentangan langit ajaib. Pamela Lee menggambarkan kegagahan astronot dalam gubahan hiper-realis. Michell Jamieson mengabstrakkan pemandangan areal peluncuran Saturnus 18 di Cape Canaveral. Jack Permutter menggambarkan detik-detik pesawat Columbia diluncurkan dalam seni rupa yang menggabung pola grafis dan lukisan ekspresionis. Dale Myers mencipta impresi magis Apollo 11 yang berdiri di semenanjung.
Charles Schmidt melukis para teknisi sedang sangat sibuk bekerja mengurusi pangkal roket di Kennedy Space Center. Norman Rockwell melukis ekspresi puluhan wajah kru Apollo 11, yang antara tegang dan tersenyum, saat Neil Amstrong akan menjejakkan kaki di permukaan Bulan sambil berkata: “One small step for man…one giant leap for mankind”. Dan seterusnya.

Lukisan James Cunningham, “Florida Coast – Fire Pillar”, 1981. (Sumber: Agus Dermawan T).
Mengapa lukisan-lukisan jagat antariksa itu bisa tercipta, begini ceritanya.
Pada suatu kali Lester Cooke, kurator Galeri Nasional Washington, mengamati foto-foto dokumentasi visual tahun-tahun pertama era antariksa Amerika Serikat, sebelum tahun 1960. Ia kecewa lantaran dokumentasi itu dirasakan kehilangan banyak sisi human interestnya, sisi kejiwaannya, sisi perenungannya, sisi filosofinya,
Ia mengatakan bahwa ketika peluncuran besar berlangsung di Cape Canaveral, lebih dari 200 kamera merekam setiap detik aktivitas. Namun seperti diisyaratkan Honore Daumier seabad sebelumnya: kamera memang melihat segalanya, tapi sesungguhnya tidak memahami apa pun. Dampak emosional, interpretasi dan makna tersembunyi dari semua peristiwa yang terjadi tidak terekam. Sementara yang bisa menunjukkan “sisi-sisi dalam” itu adalah seniman, dalam konteks ini pelukis. Seorang pelukis selalu menggambarkan sesuatu persis dengan apa yang ia pikir, bukan sekadar persis dengan yang ia lihat. Karena semua yang mereka tatap telah mengalami transformasi besar dalam prosesnya.
Cooke pun, bersama James Dean – pelukis yang bekerja di Urusan Publik NASA – menggagas NASA Art Program. Proyek ini mengundang para pelukis pilihan untuk merekam kerja antariksa. “Apabila semuanya berhasil, saya ingin agar lukisan-lukisan antariksa berdiri sendiri sebagai karya seni, terlepas dari subyeknya,” tutur Cooke.
Dalam penciptaan itu NASA membebaskan para pelukis untuk bekerja semaunya sendiri. Tak ada ketentuan dalam media, ukuran dan subyek. Tidak ada ketentuan dalam soal gaya. Dan NASA berjanji bahwa setiap gambar yang dibuat, sekecil apa pun, akan dimasukkan ke dalam arsip permanen. Seperti sketsa misalnya, yang sering memiliki dampak dan kedekatan yang tidak dimiliki karya seni yang “sudah jadi”.

Robert Rauschenberg di Kennedy Space Center Apollo 11, tahun 1969. (Sumber: Buku NASA/Art).

Lukisan David Stone, “A Handfull of Emeralds”. (Sumber: Agus Dermawan T).
De Konning dan Andrew Wyeth menolak
Ajakan dari Cooke dan Dean disambut para seniman dengan antusias. Umumnya mereka langsung menerima atau menyetujui. Meskipun ada pula yang menolak tawaran besar itu dengan berbagai dalih. Salah satu alasan – yang terlihat sombong: teknologi antariksa tak ada hubungannya dengan seni. Kedalaman jiwa-rasa seni sulit dipertemukan dengan “kedangkalan” teknologi.
Pelukis sohor Willem de Kooning dan Edward Hooper adalah salah dua yang menolak. Dua maestro ini pada awalnya menyatakan minat. Namun kemudian batal dengan alasan yang sangat pribadi. Pelukis hiper-realis Andrew Wyeth awalnya setuju untuk menghadiri dan melukis peluncuran Apollo 11, tetapi mundur pada menit-menit terakhir. Namun putranya, James Wyeth, dibiarkan mengunjungi dan melukis segala sesuatu di Kennedy Space Center.
Penolakan yang semacam juga disuarakan Thomas Hart Benton. “Beberapa surat meminta saya untuk turun dan melukis apa pun yang saya inginkan. Bahkan saya boleh melukis dari foto-foto Apollo saat berada di Bulan. Saya langsung melupakannya. Heh, apa yang bisa saya lakukan atas roket sialan itu? NASA lebih baik menunjukkannya dengan gambar bergerak,” kata Benton.
Pelukis Norman Rockwell awalnya juga menolak, dengan alasan ia sedang terikat kerja untuk majalah Look. Namun setelah dirayu oleh James Dean, pada 1965 akhirnya ia ngikut. Bahkan ia sampai masuk ke ruang-ruang pelatihan misi Gemini. Menariknya, untuk pekerjaan yang serius itu Rockwell emoh diberi honorarium. Alasannya, lantaran lukisannya juga dimuat majalah Look, dan dibayar. Apalagi ketika tahu bahwa NASA Art Program hanya akan memberi honorarium kecil sekali: 2.500 dolar per lukisan.

Lukisan Linda Draper, “Working in Space”, 1994. (Sumber: Agus Dermawan T).
Namun sebagian besar lainnya (tentu) tidak melepaskan kesempatan emas ini. Para pelukis, selain boleh membuat gambar di semua sisi Cape Canaveral di Florida, juga boleh masuk ke ruang operasional, menyaksikan ratusan orang tegang, pucat, untuk kemudian berteriak histeris kala peluncuran gagal atau berhasil. Kala pesawat sudah meluncur di antariksa nun sangat jauh. Cooke merekam kenangan, “Saat Gordon Cooper naik ke langit, pengalaman itu sangat mengharukan bagi para pelukis yang menyaksikan. Salah satunya berteriak: Ya Tuhan, itu ada manusia di dalamnya! Saya tahu yang dia rasakan.”
Lukisan dan gambar bertema antariksa pun tercipta dengan mendalam. Karya-karya itu, sebelum dipajang sebagai koleksi Museum NASA, pernah dipamerkan di Galeri Nasional Washington DC, dan kunjungi oleh 67.000 orang. Kedua terbanyak di Amerika Serikat setelah kunjungan ke pameran Mona Lisa karya Leonardo dan Vinci.
Jagat antariksa adalah tema paling langka dalam sejarah seni rupa dunia. Sementara sedikit yang ada, tersembunyikan di tengah jutaan planit di semesta raya.
Sekarang petualangan luar angkasa makin menjadi-jadi. Sampai dataran Bulan akan dipakai sebagai stasiun antariksa oleh Amerika Serikat, Tiongkok, Jepang dan India untuk menuju Mars. Adakah para perupa masih kurang tergetar untuk menggubah yang luar biasa itu ke dalam seni? ***
——
*Agus Dermawan T. Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia 2025. Penulis buku “Perjalanan Turis Siluman: 61 Cerita dari 51 Tempat di 41 Negara”, 2017.




