Yang Tak Terlihat, Bukan Tak Bernilai

Kritik atas Kasus Videografer Amsal Christy Sitepu

 

Oleh Salsabilla Putri*

Informasi dalam media sosial sekarang begitu kilat sampai kepada setiap penggunanya. Video-video dan foto-foto diikuti caption menjadi konsumsi hampir setiap hari, tidak mengenal waktu dan tempat. Bahkan tidak hanya sebagai konsumsi, ini juga menjadi ladang pekerja kreatif di dalamnya. Hal ini bergantung pada bagaimana cara membuat video tersebut menarik dan terus dikonsumsi, tentu saja semuanya berawal dari ide.

Video profil desa adalah salah satu produk audiovisual yang kerap kali dianggap sederhana oleh khalayak umum. Namun di balik kesederhanaannya, video berdurasi sekitar sebelas menit ini menyimpan kerja kreatif yang tidak sedikit. Berdasarkan dakwaan jaksa yang dipublikasikan melalui sipp.pn-medankota.go.id, Amsal Christy Sitepu melalui CV Promiseland mengerjakan video profil desa untuk 20 desa di empat kecamatan Kabupaten Karo Tiganderket, Tigabinanga, Tigapanah, dan Namanteran antara tahun 2020 hingga 2022. Video-video ini didanai dari dana desa dan ditujukan untuk memperkenalkan potensi masing-masing desa kepada masyarakat luas. Para kepala desa yang menjadi saksi dalam persidangan pun menyatakan puas dengan hasil kerja tersebut: pekerjaan telah dilaksanakan sesuai proposal yang disepakati, bermanfaat bagi desa, dan tidak ada keberatan selama proses pelaksanaan.

Analisis Sinematografi: Video Profil Desa Sigarang-garang Simalem

Gambar 1. Opening shot Video Profil Desa Sigarang-garang Simalem (Sumber: Instagram Amsal Christy Sitepu, 2026).

Salah satu video yang dapat dijadikan rujukan analisis adalah video profil Desa Sigarang-garang Simalem, Kabupaten Karo. Video ini dibuka dengan aerial shot menggunakan drone yang menampilkan hamparan permukiman desa dari ketinggian, dilengkapi teks judul “Sigarang-garang Simalem” dalam tipografi kursif berwarna merah menyala. Pilihan tipografi ini bukan keputusan acak merah adalah warna yang hangat, vital, dan menandakan kebanggaan. Ia berfungsi sebagai pernyataan identitas: ini bukan sekadar peta, ini adalah nama yang ingin diingat. Pilihan estetis seperti ini tidak muncul begitu saja. Ia adalah buah dari ide dari seseorang yang memikirkan bagaimana sebuah desa pertama kali diperkenalkan kepada dunia.

Gambar 2. Aerial shot permukiman Desa Sigarang-garang Simalem (Sumber: Instagram Amsal Christy Sitepu, 2026).

Dalam shot selanjutnya, kamera drone menampilkan panorama permukiman desa secara utuh: atap-atap rumah berwarna merah bata berjejer di sepanjang jalan desa, diapit oleh hamparan lahan pertanian hijau dan lereng bukit yang membingkai desa dari kejauhan. Komposisi ini dibangun secara sadar menggunakan prinsip rule of thirds permukiman ditempatkan di sepertiga bawah frame, sementara lereng dan langit mengisi bagian atas, menciptakan kedalaman visual yang membuat penonton seolah melayang di atas desa. Warna yang dipertahankan dalam nuansa natural menampilkan kejujuran lanskap tidak dibuat-buat, tidak dilebih-lebihkan. Ini adalah pilihan estetis yang justru memerlukan pengetahuan: tahu kapan harus tidak melakukan apa-apa juga adalah keahlian.

Gambar 3. Aerial shot dengan teks letak geografis desa (Sumber: Instagram Amsal Christy Sitepu, 2026).

Pada frame berikutnya, informasi faktual geografis desa pada koordinat 2° 50′ Lintang Utara dan 31° 19′ Lintang Selatan ditampilkan bukan melalui slide statis, melainkan di atas gambar aerial yang hidup. Lahan pertanian yang terbentang luas dalam berbagai warna hijau dan cokelat menjadi latar yang justru memperkuat makna data tersebut: angka-angka koordinat itu bukan abstraksi, melainkan tanah nyata yang bisa dilihat dan dirasakan. Ini adalah keputusan editing dan compositing yang memerlukan pemahaman tentang bagaimana informasi disampaikan secara visual sebuah kemampuan yang tidak bisa diperoleh tanpa pengalaman dan, tentu saja, tanpa ide awal tentang bagaimana data seharusnya “berbicara” dalam bahasa gambar.

Gambar 4. Aerial shot lahan pertanian dalam nuansa desaturasi (Sumber: Instagram Amsal Christy Sitepu, 2026).

Yang paling menarik secara estetik adalah hadirnya momen desaturasi sebuah shot aerial lahan pertanian yang hampir monokromatik, dengan langit mendung kelabu yang membentang di atas hamparan lahan. Pilihan untuk menghilangkan warna ini bukan kegagalan teknis, melainkan keputusan sinematografis yang disengaja. Dalam bahasa visual, desaturasi lazim digunakan untuk menyampaikan suasana batin yang berat, kenangan, atau kontras emosional. Dalam konteks video profil desa, ini bisa dibaca sebagai penanda: ada sejarah di tanah ini, ada beban yang sudah lama dipikul sebelum desa ini bisa berdiri seperti sekarang. Keputusan seperti ini lahir dari kepekaan dan kepekaan adalah bentuk ide yang paling halus.

Gambar 5. Close-up wajah warga ekspresi otentik yang tertangkap kamera (Sumber: Instagram Amsal Christy Sitepu, 2026).

Namun dari semua frame, satu shot yang paling berbicara adalah close-up wajah seorang perempuan tua yang duduk di ambang pintu rumah kayunya. Ekspresinya berbicara tanpa kata ada kehangatan, ada lelah, ada keberanian. Latar belakang dinding kayu yang lapuk dan interior gelap di baliknya menciptakan kontras yang kuat antara manusia dan tempat tinggalnya. Shot seperti ini membutuhkan lebih dari sekadar menekan tombol rekam. Ia membutuhkan kepercayaan narasumber kepada kameramen, pendekatan yang manusiawi, dan keputusan komposisi yang menempatkan wajah sebagai pusat makna bukan sekadar pelengkap data demografis. Tanpa clip-on microphone, suara perempuan ini kemungkinan menceritakan desanya, hidupnya, harapannya tidak akan terdengar dengan layak. Dan suara yang tidak terdengar dengan baik adalah suara yang tidak dihormati.

Ketika Seni Dihadapkan pada Meja Auditor

Dalam RAB yang diajukan Amsal, terdapat dua belas item biaya yang dibagi ke dalam empat kelompok anggaran: praproduksi, penyewaan peralatan, kameraman dan personel, serta tahap akhir (finishing). Amsal mengajukan biaya konsep dan ide sebesar Rp 2 juta, biaya penulisan naskah Rp 2 juta, dan biaya stock footage Rp 2 juta. Ia juga memasukkan biaya editing, pemotongan video, dan dubbing masing-masing Rp 1 juta. Total yang diajukan untuk satu video adalah Rp 30 juta. Namun hasil audit Inspektorat Daerah Kabupaten Karo tahun 2025 menyatakan bahwa negara seharusnya tidak perlu membayar biaya konsep dan ide, mikrofon klip, pemotongan video, pengeditan, dan dubbing. Lima frame yang kita lihat di atas semua keputusan komposisi, warna, desaturasi, tipografi, dan pendekatan ke narasumber lahir dari komponen-komponen yang dihapus itu.

Sebelum membuat karya seni, dalam hal ini video segalanya diawali dari ide, premis, konsep. Dalam buku Save the Cat karya Blake Snyder, hampir sepertiga isi buku dihabiskan untuk membahas premis cerita sebelum bahkan menyentuh tahap praproduksi. Mengapa? Karena premis yang kuat adalah fondasi dari seluruh bangunan karya. Dalam tradisi seni konseptual (conceptual art), perdebatan tentang nilai ide sebagai karya sudah berlangsung sejak dekade 1960-an. Seniman seperti Sol LeWitt menegaskan bahwa ide adalah mesin yang membuat karya. Marcel Duchamp bahkan lebih radikal ia menempatkan ide di atas eksekusi fisik. Kalau dunia seni rupa internasional sudah lama mengakui bahwa ide adalah karya itu sendiri, mengapa di meja auditor Indonesia ide dihargai nol rupiah?

Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat menyatakan bahwa kasus ini merupakan “alarm keras bagi masa depan ekosistem ekonomi kreatif,” dan menilai Amsal sebagai representasi dari jutaan talenta kreatif yang bekerja membangun narasi bangsa melalui visual. Terdapat banyak sekali pekerja kreatif yang mulai speak up dan merasa tidak dihargai dalam kasus ini. Kemunculan ide yang autentik itu tidak pasti dari mana asalnya, dan tidak semua orang bisa mendapatkannya. Seperti seseorang menemukan barang langka tentu saja ketika dijual harganya begitu tinggi. Begitu pula dengan kemunculan ide.

Vonis Bebas yang Tidak Menyelesaikan Pertanyaan

Pada 1 April 2026, Majelis Hakim Pengadilan Negeri Medan yang diketuai M. Yusafrihardi Girsang menjatuhkan vonis bebas kepada Amsal Christy Sitepu. Hakim menyatakan Amsal “tidak terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi,” baik dalam dakwaan primer maupun subsidair. Hak, harkat, martabat, dan nama baiknya diperintahkan untuk dipulihkan. Usai sidang, ia menangis terharu. Setelah 131 hari menanggung beban yang bukan miliknya, ia ingin pulang ke rumah dan menikmati masakan istrinya. Sesuatu yang sangat manusiawi, dari seorang manusia yang hampir dihukum bukan karena mencuri melainkan karena menghargai pekerjaannya sendiri.

Vonis bebas ini adalah kemenangan. Tapi pertanyaan yang ditinggalkan kasusnya tidak ikut selesai. Sistem hukum telah membuktikan bahwa Amsal tidak bersalah namun sistem nilai kita, yang membuat auditor bisa dengan enteng menghapus “ide” dari daftar anggaran yang sah, belum tentu sudah berubah. Lihat kembali perempuan tua di frame kelima. Bayangkan suaranya yang jernih karena ada clip-on yang ditempelkan dengan teliti di bajunya. Bayangkan proses berpikir di balik pilihan desaturasi di frame keempat. Bayangkan keputusan untuk meletakkan nama desa dalam huruf kursif merah di langit biru frame pertama. Semua itu lahir dari sesuatu yang dihargai nol rupiah. Padahal dari sanalah semua yang terlihat bermula.

—-

*Salsabilla Putri, Mahasiswa Program Pascasarjana ISI Yogyakarta.