Ternyata Canting Lebih Bijak daripada Saya
Oleh Dahayu Kirana*
Bukan seseorang yang tumbuh di lingkungan pembatik, namun sejak kecil saya selalu belajar membatik. Pulang kampung ke Yogyakarta untuk menjenguk simbah adalah rutinintas tahunan. Di rumah simbah, saya hampir selalul melihat proses membatik, karena beliau memang seorang pembatik lama. Bau malam yang pekat, lantai yang lengket karena tetesan lilin, serta berbagai bentuk canting aneh yang sudah menjadi pemandangan biasa. Canting sendiri merupakan alat tradisional untuk menorehkan malam panas ke kain sebagai perintang warna. Ada canting yang bagian ujungnya tiga, ada yang ukurannya besar, ada yang bentuknya melengkung seperti leher angsa, dan ada pula yang terlihat sederhana tetapi sulit digunakan.
Bagi saya waktu itu, semua hanyalah bagian dari kegiatan rutinitas di rumah simbah. Orang-orang duduk berjam-jam di depan kain putih yang terjuntai dari gawangan bambu, memegang canting dengan penuh perhatian seolah tidak terganggu oleh panasnya malam(lilin) atau lamanya proses yang harus dijalani. Sejujurnya saya tidak benar-benar memahami apa yang membuat kegiatan membatik ini terasa begitu serius dan penuh kesabaran, walaupun simbok-simbok disana juga menyelingi waktu bersenda gurau dengan candaan-candaan yang hangat.
Pelajaran pertama dari Sebuah Canting
Kesempatan pertama untuk memegang canting datang ketika saya masih duduk di kelas tiga sekolah dasar. Didampingi oleh simbah, rasanya cukup percaya diri. Bukannya membatik tidak jauh berbeda dengan menggambar di atas kertas? Goresan malam yang ternyata lambat itu membuat saya ingin menyelesaikannya lebih cepat.
Ternyata keyakinan itu tidak bertahan lama.
Beberapa menit setelah mencoba mengambil malam panas dari wajan kecil, tangan mulai gemetar berlanjut melunturkan rasa percaya diri. Canting terasa lebih sulit dikendalikan daripada pensil. Tetesan malam mulai jatuh menutupi gambar bunga matahari yang sudah didesain. Garis yang awalnya lurus menjadi berkelok mengikuti tempo detak jantung. Bahkan ada bagian yang sama sekali tidak tembus ke belakang kain.
Puncaknya terjadi ketika canting yang masih digenggaman tiba-tiba tidak stabil dan menumpahkan malam panas ke kain dan sebagian mengenai punggung kaki. Rasanya panas dan perih. Saya menangis bukan hanya karena sakit, tetapi juga kecewa melihat gambar bunga matahari yang sudah berantakan. Melihat kekacauan itu, simbah putri hanya tertawa pelan sambil merapikan kain dan meletakan canting di dekat wajan kecil berisi malam panas. Beliau berkata, “Nduk cah ayu, tahu nggak kalau canting yang kamu lempar tadi sebenarnya punya pesan yang bagus?” katanya.
Waktu itu ternyata saya masih terlalu kecil untuk benar-benar memahami perkataan simbah. Respon saya hanya mengangguk tanpa benar-benar memahami maksudnya, sambil mengelupas malam yang sudah mengering di kaki.
Bagi saya, canting hanyalah alat kecil yang menyebalkan karena membuat malam tumpah kemana-mana. Namun simbah kemudian mulai bercerita bahwa setiap bagian canting sebenarnya memiliki maknanya sendiri-sendiri mulai dari bagian gagang yang terbuat dari bambu, nyamplung dari tembaga, dan pipa kecil yang bernama cucuk.
Gagang: Tentang Pegangan Hidup
Pesan pertama simbah diawali oleh gagang, bagian canting yang melambangkan pendirian. Kalimat bijak khas orang tua itu terdengar klasik. Tetapi semakin lama saya memperhatikan canting, semakin masuk akal rasanya. Bagian yang paling sering bersentuhan dengan tangan pembatik ini adalah kunci kendali canting. Garis yang seharusnya rapi bisa berubah goyah hanya karena tangan tidak cukup mantap memegangnya.
Dewasa ini saya mulai merasa bahwa hidup juga sering bekerja dengan cara yang mirip. Banyak hal terlihat berantakan bukan karena dunia terlalu rumit, tetapi karena kita sendiri belum menemukan pegangan yang cukup kuat. Canting seolah menginatkan bahwa sebelum membuat garis yang indah, kita harus tahu dulu bagaimana cara memegangnya dengan benar.
Nyamplung: Wadah bagi Pikiran yang Perlu Ditenangkan
Jika gagang adalah pegangan, maka nyamplung adalah tempat menampung malam panas sebelum ditorehkan melalui cucuk. Tanpa nyamplung, malam tidak punya ruang untuk berkumpul sebelum menjadi garis atau titik. Simbah pernah menyebut sebagai pengingat agar manusia memiliki hati dan pikiran yang luas. Saat saya mulai memahami maksudnya, bahwa tidak semua hal harus segera dilakukan, ada kalanya kita menampung untuk memahami dan menyaring apa yang perlu dan tidak untuk kita keluarkan.
Nyamplung mengajarkan sesuatu yang sederhana, sebelum bertindak ada baiknya memberi ruang pikiran untuk terbuka dan tenang. Sebab sering kali hidup terasa kacau bukan karena banyak masalah, tetapi karena terlalu cepat bereaksi.
Cucuk: Ketika Ide Harus Menemukan Jalannya
Bertahun-tahun kemudian, setelah hidup di dunia yang serba cepat, saya mulai merasa bahwa benda kecil yang dulu saya sering salahkan itu ternyata mengajari sesuatu yang sering terlupakan: hidup tidak selalu bisa dijalani dengan tergesa-gesa. Simbah menegaskan satu hal sederhana tentang cucuk: ketika bekerja, jangan terlalu banyak bicara. Awalnya saya menganggap sekedar nasihat agat tidak cerewet saat membatik. Ternyata, lebih dari itu.
Banyak gagasan yang berhenti di kepala karena belum pernah benar-benar mengalami. Canting seolah mengingatkan bahwa ia tidak banyak bicara, tetapi selalu bekerja dengan penuh hati-hati.
Canting dan Kedewasaan
Setelah memikirkan kembali cerita simbah tentang gagang, nyamplung, dan cucuk, saya mulai merasa bahwa canting sebenarnya memahami sesuatu yang sering kita lupakan. Mempunyai pegangan yang stabil, menyimpan sesuatu sebelum dikeluarkan, lalu menyalurkannya dengan tepat.
Ironisnya, cara kerja yang sederhana itu terasa cukup asing bagi kehidupan di zaman yang menghargai kecepatan. Pesan terkirim dalam hitungan detik, makanan datang dalam beberapa menit, dan semua hal yang terasa harus selesai secepat mungkin. Kesabaran sering kali dianggap sebagai sesuatu yang lambat dan kurang efisien. Kita sering berbicara tentang proses, tapi tidak selalu siap menjalaninya. Garis yang rapi tidak pernah lahir dari gerakan yang tergesa-gesa.
Belasan tahun lalu, saya hanya mengggap nasihat tentang canting terdengar kuno untuk dipahami. Namun semakin jauh saya belajar, bahwa pelajaran kecil itu justru terasa semakin relevan. Kebijaksanaan ternyata tidak selalu datang dari hal-hal besar. Kadang ia justru tersembunyi dalam benda kecil di sekitar kita. Dan dalam kasus saya, benda itu adalah canting, yang ternyata lebih bijak daripada saya.
—-
*Dahayu Kirana, Mahasiswa Program Pascasarjana ISI Yogyakarta.





