Tegal Metropolitan: Antara Cahaya Lampu, Panggung Seni, dan Selawé Rubuh

Oleh Lanang Setiawan*

MALAM di Alun-alun Tegal pada rentang tahun 1950 hingga 1980-an selalu datang dengan cara yang sama—perlahan, namun penuh nyawa. Menjelang senja, ketika matahari luruh di ufuk barat dan langit menguning tembaga, ruang kota itu berubah menjadi panggung besar milik rakyat.

Sejak dahulu, agaknya Kota Tegal memang dirancang bukan sekadar kota pelabuhan, melainkan embrio kota metropolitan. Jejak peradaban tampak jelas: bioskop-bioskop berdiri di berbagai sudut kota, gedung kesenian rakyat tegak di kawasan pelabuhan, hingga rumah makan yang sejak tahun 1950 telah menyandang nama “Kafe”—jauh sebelum istilah itu menjadi tren di kota-kota besar lain.

Tidak hanya itu, tempat pemandian umum menjadi bagian dari denyut kota, juga gedung bola sodok yang kala itu dikenal sebagai Kamar Bola—kini lebih akrab disebut bilyar. Kesenian pun tumbuh subur: senidrama Tionghoa, pribumi, hingga kelompok pelajar hidup berdampingan, menjadikan Tegal sebagai kota dengan napas budaya yang lengkap. Seperti pernah dicatat dalam novel Pengendara Badai, karya seorang yang oleh para seniman Tegal dijuluki Begawan Tegal.

Kota ini adalah simpul tempat segala bentuk kesenian bertengger dan berkembang. Di sisi barat alun-alun, Masjid Agung berdiri megah, menjadi jangkar spiritual di tengah riuh duniawi. Sementara di lapangan luasnya, anak-anak berlarian memainkan rok-rokan, bola, hingga menyalakan kembang api kecil. Perempuan-perempuan pulang dari pasar, bakul di tangan, singgah sebentar di warung lesehan yang mengepulkan aroma wedang jahe dan kupat glabed.

Malam di alun-alun Tegal selalu gemladag. Namun denyut sesungguhnya ada pada panggung rakyat. Di bawah pohon beringin, berdiri panggung sederhana—tanpa kemewahan, tanpa tirai beludru. Di situlah kesenian Kécrét dipentaskan. Gamelan ditabuh seadanya, kadang hanya dari kaleng dan ember bekas. Suaranya tidak selalu selaras, tetapi justru di situlah letak jiwanya: jujur, mentah, dan hidup.

Suasana malam di Alun-alun Tegal tahun 1950an. (Photo AI)

Para pemain tampil dengan kebaya lusuh, jarik sederhana, dan peci miring. Wajah mereka dirias seadanya, tetapi mata mereka menyala. Mereka tidak meminta-minta—itu haram bagi mereka. Mereka menjajakan seni. Menukar peluh dengan tepuk tangan.

Cerita yang dimainkan kerap meloncat-loncat: dari babad ke guyonan, dari kisah cinta ke sindiran sosial. Penonton tertawa lepas, berdesakan, larut dalam suasana. Di tengah kemiskinan, mereka tidak kehilangan harga diri. Justru di situlah kegagahan itu berdiri—tegak, tanpa mengiba. Di sekitar alun-alun, dua dunia berdiri berdampingan.

Di sisi selatan, terdapat Bioskop Rex menjadi milik rakyat kecil. Karcis murah, kursi sederhana, namun penuh tawa dan tangis. Tukang becak, buruh, hingga pemuda dengan uang pas-pasan duduk berjejer, larut dalam film India, film nasional, atau koboi lama.

Di sisi utara, bertengger Bioskop Roxy memancarkan cahaya lampu neon. Lebih mahal, lebih rapi, lebih “tinggi kelasnya”. Film Barat dan produksi Tionghoa diputar di sana, ditonton oleh mereka yang hidup lebih mapan. Dua bioskop, satu kota—dua wajah kehidupan.

Alun-alun Tegal berubah menjadi panggung kehidupan (Photo Ai)

Malam itu, Mas Jon, seorang mandor Waterleiding—menara air peninggalan kolonial Hindia Belanda, berjalan bersama istrinya, Candra Kinasih. Usai menerima gaji, langkahnya terasa ringan. Mereka berhenti di depan panggung Kécrét.

Candra Kinasih tersenyum. Baginya, kebahagiaan tidak harus mahal. Duduk di tanah, bercampur dengan rakyat, tertawa bersama—itu sudah cukup. Hangat. Utuh. Namun malam tidak hanya menyimpan tawa.

PKS Selawé Rubuh

Di bawah bayangan pohon dan redup cahaya lampu, berdiri perempuan-perempuan dengan bedak tebal dan bibir merah. Mereka dikenal sebagai “PSK Selawé Rubuh”.

PSK Selawé Rubuh (Photo AI)

Dua puluh lima rupiah—harga yang terlalu murah untuk sebuah kehormatan, namun terlalu mahal bagi keputusasaan. Mereka tidak bekerja di kamar, tidak di hotel. Mereka berjalan ke arah stasiun, menuju gerbong tua yang ditinggalkan waktu. Di sana, di antara karat dan cat yang mengelupas, kehidupan berlangsung dalam sunyi. Tikar digelar, koran menjadi alas, dan setelah semuanya selesai, hanya sebotol air sumur yang menjadi.

Mas Jon menunduk. Baginya, mereka bukan sekadar perempuan jalanan. Mereka adalah cerita tentang kerasnya hidup. Tentang pilihan yang menyempit. Tentang perut yang harus tetap diisi. Namun di saat yang sama, suara Kécrét kembali meledak. Tawa pecah. Gamelan berdentum. Seolah hidup berkata: bahwa getir dan bahagia tidak pernah benar-benar terpisah.

Malam-malam di Alun-alun Tegal pada masa itu bukan sekadar kenangan, melainkan cermin zaman—tempat di mana kemiskinan tidak selalu berarti hina, dan kesederhanaan tidak pernah kehilangan martabat.

Suasana Alun-alun Tegal th 1950 (Photo AI)

Rakyat kecil Tegal mengajarkan satu hal yang tak lekang oleh waktu: bahwa hidup boleh kekurangan, tetapi harga diri harus tetap berdiri tegak. Di bawah cahaya lampu petromaks, di antara denting gamelan seadanya, mereka membuktikan—bahwa seni bukan milik gedung megah, melainkan milik jiwa yang tak mau menyerah. Dan dari sanalah, sejarah kota ini ditulis—bukan dengan tinta emas, melainkan dengan peluh, tawa, dan keberanian untuk tetap hidup. (*)

—-

*Lanang Setiawan, novelis, juga pelopor Sastra Tegalan penerima Hadiah Sastra “Rancagé” 2011. Setiap hari sebagai pengisi naskah guyonan di kolom MOCI, dan mengisi cerpen Tegalan di kolom SENI pada media online Panturapost.com.