Rendu Ola : Kampung yang Dilindungi Leluhur
Oleh Bambang Supriadi*
Kampung Adat Rendu Ola, tempat yang mungkin akan luput dari perhatian kebanyakan orang, tersembunyi rapi di dataran tinggi Desa Rendu Butowe, sekitar dua puluh tiga kilometer dari Mbay, kota kecil yang menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Nagekeo, di Pulau Flores.
Letaknya, di antara bukit-bukit yang terbuka dan seakan selalu bersahabat dengan angin yang tak pernah benar-benar pergi. Tanahnya keras, nyaris enggan memberi air. Hujan pun datang dengan irit, seperti tamu yang malu-malu. Tapi lihatlah, rumput sabana tetap tumbuh di sana. Ternak, dibiarkan bebas merumput, seolah mengenal jalan pulang tanpa diperintah.
Perbukitan dan lembah yang mengelilinginya, menurut cerita, terbentuk dari pertemuan dua lempeng bumi yang bersilang jutaan tahun lalu. Tentu saja, bila Anda percaya geologi. Namun lebih menarik mendengar dari penduduknya—yang bilang tanah itu terbelah karena kisah lama yang retak. Segalanya di sana berjalan pelan. Tak tergesa. Seperti hidup yang tahu betul cara menjaga rahasia.

Gambar 1. Pemandangan menuju Rendu Ola. Foto koleksi pribadi.
Rendu Ola kampung adat tertua milik suku Rendu, bukanlah tempat yang sekadar dibangun untuk berteduh dari panas atau hujan. Ia tampaknya lebih seperti sesuatu yang dimuliakan, dirancang oleh tangan-tangan yang tak hanya paham ruang, tapi juga jiwa. Bentuknya melingkar, tertata rapi seperti taplak meja yang dijahit dengan niat. Di tengahnya, terdapat pusat kampung, tempat batu-batu suci, rumah-rumah adat, dan ruang upacara bersisian dalam keseimbangan yang tenang, nyaris seperti simfoni yang dimainkan tanpa suara.
Menuju ke sana, jalannya setapak kecil, dijaga pagar batu yang rendah namun tegas. Seakan mengingatkan siapa pun yang datang untuk memperlambat langkah, dan barangkali juga napas. Ada rasa bahwa setiap pijakan adalah bagian dari sebuah upacara, bahwa setiap orang yang masuk ke kampung ini harus melakukannya dengan sikap yang tepat. Tempat ini telah berdiri selama entah berapa generasi, dan tampaknya masih berbisik dengan cara-cara yang hanya bisa didengar bila seseorang benar-benar memperhatikan.

Gambar 2. Jalan setapak menuju gerbang Atu. Foto koleksi pribadi.
Di ujung jalan setapak itu, berdiri sebuah gerbang kayu sederhana yang disebut Atu. Ia tak hanya menandai pintu masuk ke kampung, tetapi juga menjadi garis halus pemisah antara dunia luar yang terus bergerak dan ruang hidup yang dijaga oleh waktu, ingatan dan oleh warisan yang mengalir dari satu generasi ke generasi berikutnya. Di baliknya, kehidupan berlangsung dalam irama yang telah lama menyatu dengan tanah, angin, dan langit.
Sebagai pelindung kampung, baik dari serangan musuh maupun gangguan roh-roh jahat, leluhur membangun pagar batu bertingkat yang disebut Kota Bo’ a. Pagar ini tersusun dari batu-batu alam yang ditata tanpa semen, mengikuti kontur tanah secara teliti. Lebih dari sekadar benteng fisik, Kota Bo’ a mencerminkan cara leluhur memahami ruang, menjaga keseimbangan antara dunia manusia dan alam gaib. Ia menjadi penanda batas, pelindung kampung, dan simbol hubungan yang mendalam antara manusia, tanah, dan tradisi.

Gambar 3. Kota Bo’a dinding batu pelindung kampung. Foto koleksi pribadi.
Kampung ini terdiri atas sepuluh bangunan tradisional yang telah dijaga secara turun-temurun. Setiap rumah tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga menyimpan silsilah keluarga, kisah leluhur, dan tata nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi. Sebagai kampung adat tertua, Rendu Ola menjadi poros bagi penyebaran kampung-kampung suku Rendu lain di sekitarnya. Ibarat aliran air dari satu mata sumber yang menumbuhkan kehidupan di banyak arah.
Di tengah kampung, tanah itu dibiarkan kosong. Tak ada bangunan, hanya ruang terbuka. Di sanalah mereka berkumpul. Untuk berdoa. Untuk memberi makan arwah leluhur. Untuk menyambut musim dan menandai hidup yang terus berjalan. Di sana, orang merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar. Sesuatu yang tak bisa dilihat, tapi terasa.
Pada sebuah tanah tinggi yang dikelilingi tumpukan batu, terpancang Peo, tiang kayu bercabang dua, menjulang tenang di tengah kampung, seperti akar ingatan yang menjulur ke masa silam. Ia bukan sekadar penanda ruang, melainkan pusat dari semesta nilai yang dijaga turun-temurun oleh suku Rendu.
Peo berdiri untuk persatuan. Bukan hanya antar klan, tapi juga antara manusia dan tanah yang mereka injak. Inilah warisan intelektual leluhur yang bernilai untuk mempersatukan. Mereka percaya dunia harus seimbang, antara yang bisa dilihat dan yang tidak. Antara hidup dan keyakinan. Peo tak berubah. Musim berganti, tapi maknanya tetap. Ia tenang, dalam, mengikat orang-orang Rendu pada jalan lama mereka.

Gambar 4. Peo lambang persatuan suku Rendu. Foto koleksi pribadi.
Hanya di Rendu Ola, Peo berdiri. Suku Rendu terdiri dari tujuh marga/klan. Kampung mereka terpisah, tapi jiwa mereka satu. Peo mempersatukan. Ia bukan hanya tanda. Ia penjaga. Tak terlihat, tapi hadir saat bencana datang. Melindungi dalam diam. Keyakinan itu tetap ada. Waktu tidak menghapusnya. Ia hidup dalam ingatan dan laku. Anak cucu masih percaya: warisan leluhur bukan cerita lama, tapi kekuatan yang tinggal bersama mereka.
Namun, Peo tak berdiri selamanya. Jika rusak atau lapuk, ia dikubur. Peo baru dibuat lewat keputusan para tetua. Selalu lewat upacara. Dibuat di hutan, dengan tangan, mantra dan keyakinan. Peo yang kini berdiri di Rendu Ola adalah yang kelima. Namanya Laki Neawea, bermakna laki-laki yang membangkitkan kekuatan. Sebagai simbol persatuan dan penjaga kehidupan, ia dipercaya menghadirkan daya hidup baru serta melindungi kampung dari berbagai kesulitan.

Gambar 5 A

Gambar 5 B

Gambar 5 C

Gambar 5 D
Gambar 5 A -D. Pembuatan Peo di hutan. Foto: Edi Nagekeo.
Di Rendu Ola, rumah dibangun bukan semata untuk dihuni, melainkan sebagai cerminan dari dunia yang lebih luas—dan lebih dalam. Setiap bagiannya menyimpan makna yang tak lekang oleh waktu. Di atas, atap menjulang ke langit, seolah menyapa para leluhur yang tak pernah benar-benar pergi. Di tengah, ruang hidup yang menjadi panggung aktivitas manusia. Dan di kolong, tersembunyi dunia yang lain—untuk ternak, peralatan, dan segala sesuatu yang perlu disimpan, tetapi tak boleh dilupakan.
Tiga tingkat, tiga dunia, saling menopang. Di sini, filosofi dan kehidupan sehari-hari tinggal dalam atap yang sama, dengan keheningan yang bijak dan keteraturan yang tak dibuat-buat.
Mereka membangun rumah dari apa yang ada di sekitar. Alang-alang, bambu, pohon lontar. Mereka tanam, rawat, dan ambil saat waktunya tiba. Pohon nara di hutan dijaga sampai cukup kuat untuk jadi tiang. Mereka tahu cara hidup yang baik. Ambil secukupnya, rawat sisanya. Tidak butuh bahan dari luar. Tidak ingin rusak alam sendiri. Itu cara mereka menjaga dunia.
Pilihan mereka terhadap bahan ramah lingkungan menunjukkan keyakinan kuat akan hidup berkelanjutan, serta komitmen mereka untuk melindungi sumber daya alam bagi generasi mendatang. Praktik ini sejalan dengan etos budaya mereka yang menjunjung harmoni dengan alam.

Gambar 6. Rumah Adat. Foto koleksi pribadi.
Pembagian ruang dalam rumah tradisional terdiri dari tiga bagian, padha, teda, dan tolo. Padha atau teras, bagian depan rumah yang terhubung dengan ruang publik, digunakan untuk bersosialisasi dengan keluarga dan menyambut tamu. Teda adalah bagian tengah rumah. Ruang untuk bermusyawarah, menerima tamu, atau berkumpul keluarga. Tolo adalah bagian belakang rumah, merupakan ruang tertutup serta hanya keperluan pribadi.
Ruang Teda merupakan inti dari rumah tradisional yang menjadi tempat kegiatan keluarga sehari-hari. Ruang ini juga digunakan untuk aktivitas budaya dan tradisional, seperti upacara ritual, pertemuan keluarga, atau kegiatan sosial lainnya. Pada dinding ruangan ini terdapat relief pasangan tokoh laki-laki dan perempuan yang disebut Anadeo, simbol perwujudan leluhur. Anadeo terpancang sebagai pelindung dan pembawa berkah. Ia juga menjadi simbol keseimbangan, kesatuan, dan kesinambungan antara dunia manusia dan alam roh.

Gambar 7. Ruang Teda. Foto koleksi pribadi.
Bentuk Anadeo tidak selalu sama. Bentuknya tergantung tempat dan tangan yang membuatnya. Di Rendu Ola, kampung tertua, Anadeo digambarkan sebagai sosok telanjang. Lurus dan tanpa hias. Di kampung lain, bentuknya berubah. Tapi artinya tetap. Wujud leluhur yang menjaga dan melindungi keturunan yang menghuni rumah.
Tolo adalah ruang pribadi dalam rumah adat. Di sini terdapat tempat tidur (terutama bagi perempuan), dapur, dan penyimpanan bahan makanan. Fungsi lainnya, sebagai tempat menyimpan benda pusaka. Salah satu bagian penting di ruangan ini adalah Pu’u Duke, altar untuk penghormatan kepada leluhur melalui ritual dan persembahan.

Gambar 8 A

Gambar 8 B

8 C. Gambar 8 A – C. Ruang Tolo ( atas), altar Pu’u Duke (tengah) dan peralatan ritual.Foto koleksi pribadi.
Di sisi timur kampung Rendu berdiri sebuah bangunan kecil yang disebut Sale. Tempat ini menyimpan rahang babi dan tanduk kerbau, sisa hewan kurban dari upacara adat. Namun benda-benda itu bukan sekadar peninggalan, ia menjadi simbol penghormatan kepada leluhur dan sekaligus sebagai sarana memohon perlindungan.
Bagi masyarakat Rendu, Sale adalah pengingat akan hubungan yang tak terputus antara manusia dan leluhur. Mereka percaya bahwa dari sanalah hadir perlindungan, penjagaan dari hal-hal yang buruk atau mengancam kehidupan kampung.


Gambar 9. Bangunan Sale dan sisa-sisa persembahan ritual tradisional. Foto koleksi pribadi.
Di samping Sale terdapat Mole, meja makan dari batu yang dipergunakan untuk bersantap sebelum ritual, dan memberikan sesaji kepada leluhur. Perjamuan ini menjadi ajang penguatan ikatan dan persiapan mental-spiritual sebelum memasuki ritual sakral. Perjamuan ini menjadi ajang penguatan ikatan sosial-budaya dan persiapan mental-spiritual sebelum memasuki ritual sakral. Di sekitarnya terdapat Peo kecil atau Raki, pelindung bagi Peo utama. Raki melambangkan perlindungan dan dipercaya mengusir energi negatif. Ia menjadi simbol penting dalam perlindungan secara spiritual terhadap lingkungan kampung.


Gambar 10. Mole (kiri) dan Raki(kanan). Foto koleksi pribadi.
Bagi warga Rendu Ola, leluhur bukan bayang-bayang yang memudar. Mereka hadir di setiap rumah, di area kampung, di hutan yang tak ditebangi dan di setiap ritual yang dijalani. Mereka tak pergi. Mereka tinggal. Menjaga. Melindungi dari bencana alam, dari yang niat jahat, dari yang datang mengganggu. Rendu Ola bukan sekadar kampung. Ia tempat yang aman karena selalu dilindungi oleh leluhur.
***
*Bambang Supriadi, Indonesian Cinematographer Society (ICS).





