Ramadan, Reggae, dan Malam yang Bandel di Prawirotaman Street

Oleh Vialinda Dewi Fortuna*

 

Ritme Malam Ramadan di Kota

Di banyak sudut Yogyakarta, malam selama Ramadan biasanya memiliki ritme yang berbeda. Jalanan lebih cepat lengang, warung makan menutup tirai lebih awal, dan motor – motor yang biasanya masih lalu – lalang hingga tengah malam seperti sepakat untuk pulang lebih cepat. Seolah kota ini tahu kapan harus menurunkan volumenya. Namun ada satu tempat yang tampaknya tidak sepenuhnya mengikuti aturan tak tertulis itu “Prawirotaman Street”. Di jalan yang sejak lama dijuluki “kampung turis” ini, malam sering kali bersikap agak bandel. Musik tetap dimainkan, lampu café tetap menyala, dan orang-orang dari berbagai negara masih duduk di kursi kayu, berbincang panjang seolah waktu berjalan sedikit lebih lambat.

Suasana jalanan “Prawirotaman Street” saat Ramadan. Sumber: dokumentasi pribadi Vivi, 2026.

Kampung Turis yang Mengundang Orang Tinggal Lebih Lama

Prawirotaman Street mungkin bukan jalan paling panjang di Yogyakarta, tetapi entah bagaimana jalan ini selalu memiliki kemampuan aneh untuk membuat orang tinggal lebih lama dari yang direncanakan. Dulu kawasan ini dikenal sebagai tempat singgah para backpacker yang mencari penginapan murah. Hostel kecil bermunculan, menawarkan kamar sederhana dan sarapan roti panggang yang rasanya hampir selalu sama di mana pun di dunia. Seiring waktu, café mulai muncul di sela-sela penginapan itu. Musik live perlahan menjadi bagian dari kehidupan malamnya, sementara bar kecil berdiri berdampingan dengan tempat makan rumahan. Hasilnya adalah suasana yang unik, sebuah jalan yang terasa seperti pertemuan antara kampung lokal dan dunia internasional. Di satu meja bisa duduk segerombol remaja sedang berkumpul dengan teman – temannya, di meja sebelahnya seorang turis yang baru saja menyelesaikan perjalanan, sementara di sudut lain seorang musisi menyetel gitar sambil menunggu tampil, dan semua itu bercampur tanpa banyak formalitas. 

Salah satu café bar yang masih buka saat Ramadan di “Prawirotaman Street”. Sumber: dokumentasi pribadi Vivi, 2026.

Suasana Malam yang Lebih Pelan Selama Ramadan

Hari kamis malam bulan Ramadan di bulan Maret 2026. Jam menunjukkan pukul 21.48 WIB ketika saya tiba di kawasan Prawirotaman Street. Lampu café menyala lembut dan memantul di trotoar yang masih dilalui beberapa orang. Suasananya hidup, tetapi tidak sepadat biasanya, barangkali karena sedang Ramadan. Di dalam sebuah café yang rutin menghadirkan live music setiap hari namun seiap hari kamis selalu lagu reggae, beberapa meja telah terisi namun tidak sepadat biasanya. Kursi kayu menghadap panggung kecil di sudut ruangan, sementara lampu disko kecil berputar pelan di langit-langit, seolah belum sepenuhnya yakin apakah malam ini akan benar-benar ramai. Percakapan yang saling bertumpuk dari berbagai arah, tawa, musik mp3 yang menyala. Aroma makanan ringan bercampur dengan bau minuman yang baru disajikan dari balik bar kecil di sisi ruangan, serta banyaknya asap yang berterbangan karena merokok ataupun vape.

Hal yang agak berbeda malam itu adalah cara minuman dihidangkan. Jika pada malam biasa botol bir kaca berdiri santai di atas meja, malam ini sebagian besar minuman datang dalam cup kertas. Penyesuaian kecil yang mungkin dimaksudkan agar suasana tetap terasa lebih sopan selama bulan puasa. Namun percakapan tetap berjalan. Dua turis di meja dekat pintu masuk berbicara cepat dalam bahasa Inggris. Di meja lain, sekelompok anak muda lokal tertawa keras setelah salah satu dari mereka menceritakan sesuatu yang tampaknya terlalu panjang untuk dijelaskan kepada orang luar. Beberapa pengunjung menganggukkan kepala mengikuti musik latar yang diputar pelan dari speaker café. Malam terasa seperti sedang menunggu sesuatu dimulai. 

Cafre Bar yang sangat hidup saat Ramadan dan masih banyak pengunjungnya antusias untuk berjoget dan bernyanyi. Sumber: dokumentasi pribadi Vivi, 2026.

Ketika Musik Reggae Menghidupkan Ruangan

Sekitar pukul 22.30 WIB, band live akhirnya naik ke panggung kecil. Begitu drum dipukul, suasana ruangan berubah hampir seketika. Bass mulai berdetak pelan, sementara gitar memainkan ritme reggae yang santai namun mengalir seperti ombak kecil. Lagu pertama berjudul “I Don’t Want to Talk.” Tidak semua orang langsung berdiri, sebagian masih duduk sambil menikmati musik dan melanjutkan percakapan, tetapi perlahan beberapa pengunjung mulai mendekat ke arah panggung dan mulai berdiri sambil berjoget dan bernyanyi seakan – akan mereka terhipnotis oleh intruksi dari penyanyi. Mereka bernyanyi sambil triak – triak dan mengangkat cup minum siatas kepala, ada juga yang sambil merokok. Pengunjung lokal maupun turis sama – sama ikut bernyanyi dan berjoget berkumpul didepan panggung yang sebenernya mereka tidak saling kenal namun semua berubah seakan – akan mereka saling mengenal satu sama lain. Di dekat pintu masuk café, tiga perempuan terlihat paling bersemangat, ereka berjoget tanpa banyak rencana, tertawa keras, dan sesekali menyapa orang-orang di sekitar mereka. Beberapa wisatawan asing tersenyum melihatnya. Ketika band mulai memainkan lagu-lagu seperti “Sajojo,” “Sayidan,” “Yang Hitam,” hingga “Anak Singkong” dalam aransemen reggae, suasana café berubah menjadi lebih hidup. Lampu disko berputar lebih cepat, beberapa orang mulai bernyanyi, dan untuk beberapa menit tampaknya tidak ada yang terlalu memikirkan bahwa ini adalah bulan puasa.

Suasana di dalam Café pada saat Ramadan tetap Hidup. Sumber: dokumentasi pribadi Vivi, 2026.

Orang-Orang yang Datang untuk Musik

Seorang pengunjung lokal yang duduk di dekat panggung mengatakan bahwa suasana di kawasan ini memang terasa berbeda selama Ramadan. “Biasanya lebih penuh,” katanya sambil tertawa kecil. “Sekarang lebih senggang namun tetap enjoy”. Tapi justru enak, musiknya lebih kedengaran.” Di luar café, seorang wisatawan turis yang baru saja keluar untuk menghirup udara malam juga memiliki kesan yang serupa. “Tempat ini terasa sangat hidup,” katanya. “Musiknya sangat asik untuk dibuat joget”. Saya tidak menyangka masih ada live music seperti ini saat Ramadan.” Barangkali memang itulah daya tarik kawasan seperti Prawirotaman Street. Musik menjadi bahasa yang tidak perlu diterjemahkan. Orang-orang dari berbagai negara dapat duduk di ruangan yang sama, mendengar lagu yang sama, dan entah bagaimana merasa cukup nyaman untuk tetap tinggal lebih lama.

Live Musik Reggae setiap Hari Kamis. Sumber: dokumentasi pribadi Vivi, 2026.

Malam yang Tetap Punya Cerita

Jam menunjukkan pukul 23.05 WIB ketika musik masih terus dimainkan. Beberapa orang masih berjoget di dekat panggung, sementara yang lain kembali duduk dan melanjutkan percakapan yang sempat terhenti. Di luar café, beberapa pejalan kaki berhenti sejenak untuk melihat keramaian di dalam. Di banyak tempat lain di Yogyakarta, malam mungkin sudah mulai mereda. Namun di Prawirotaman Street, cerita yang berbeda masih terus berjalan. Selama Ramadan, ritme kota mungkin berubah, tetapi di kampung turis ini malam selalu menemukan jalannya sendiri untuk tetap hidup – kadang lewat musik, kadang lewat percakapan panjang yang tidak direncanakan, dan kadang lewat pertemuan singkat antara orang-orang yang mungkin tidak akan pernah bertemu lagi setelah malam itu. Dan mungkin memang begitu seharusnya malam bekerja tidak selalu tenang, tidak selalu ramai, tetapi selalu punya cerita.

——

*Vialinda Dewi Fortuna, Mahasiswa Program Pascasarjana ISI Yogyakarta.