Mendaras Puisi Abdul Kadir Ibrahim: dari Penghayatan Personal, ke Spiritualitas, Sampai ke Kritik Sosial
Oleh Syaifuddin Gani*
Puisi menjadi jalan bagi penyair, mengutarakan perasaan terdalamnya secara personal, spiritualitas, maupun kritiknya pada realitas sosial. Penyair sebagai manusia, memiliki hasrat dan harapan yang ia suarakan melalui kata-kata, bahasa. Akan tetapi, penyair tidak sekadar mengutarakannya dengan bahasa yang lugas, sebagaiamana manusia umumnya jika berkeluh-kesah. Penyair akan menggunakan kendaraan imajinasi, menuangkan kegelisahan agar sampai maksud yang ia inginkan.
Puisi dimaknai sebagai karya kreatif yang membutuhkan imajinasi paling liar sekaligus paling sublim seorang penciptanya. Ia mendayagunakan potensi bahasa, disuling melalui perangkat puitik untuk sampai pada kelahiran puisinya. Bangunan puisi yang tercipta menjadi sebuah dunia baru, dunia yang membedakan dengan realitas faktual.
Terkait sebagai manusia kreatof yang melahirkan puisi, penyair dapat diposisikan sebagai subjek epistemologis yang memiliki kepekaan khas dalam membaca, menafsirkan, dan merekonstruksi realitas. Ia tidak sekadar merekam fakta empiris, melainkan melakukan proses seleksi, penjarakan, dan sublimasi pengalaman melalui kesadaran estetik dan refleksi kritis. Dengan demikian, puisi menjadi ruang artikulasi baru sebagai tempat realitas sosial, kultural, maupun eksistensial mengalami transformasi makna. Penyair berfungsi sebagai mediator antara dunia luar dan dunia batin, sehingga realitas yang dihadirkan dalam puisi bukanlah cerminan langsung, melainkan hasil konstruksi simbolik yang sarat dengan perspektif, ideologi, dan horizon pengalaman tertentu. Bahasa sebagai sarananya, menjadi faktor fundamental sebagai jembatan perantara.
Bahasa dalam puisi, oleh karena itu, tidak berfungsi secara denotatif semata, melainkan sebagai medium semiotik yang kompleks dan berlapis. Penyair mendayagunakan bahasa melalui strategi stilistika seperti metafora, simbol, ambiguitas, dan deviasi linguistik untuk menciptakan efek estetik sekaligus memperluas kemungkinan makna. Dalam kerangka ini, bahasa puisi bersifat performatif. Ia tidak hanya menyampaikan pesan, tetapi juga membentuk pengalaman pembaca melalui ritme, bunyi, dan struktur. Dengan demikian, puisi menjadi praktik kebahasaan yang otonom sekaligus dialogis, yang memungkinkan pembacaan ulang terhadap realitas dan membuka ruang interpretasi yang terus berkembang.
Meskipun demikian, sejauh mana pun penyair mengoptimalkan gaya bahasa yang paling liar sekali pun, puisi yang dilahirkannya tetap beralaskan pada realitas sosial tempat sang penyair hidup. Bahkan kemudian, transformasi dari realitas personal ke penghayatan spiritual adalah buah dari pengalaman nyata yang diindra penyair, kemudian diaksentuasikan melalui puisi. Demikian juga pada puisi-puisi Abdul Kadir Ibrahim (Akib) pada antologi Dikunyahkan Rindu, terbit tahun 2024 menjadi sebuah lanskap yang memilin antara laku personal, menuju penghayatan spiritual, ke kritik sosial, pada sebagian puisinya.
Amsal Padi, Spiritualitas, Budi Baik
Kekhasan penting puisi-puisi Akib adalah ketatnya bahasa yang menjadi kendaraan pesannya. Melalui bahasa yang terpilih secara selektif dan diksi dari kata yang banyak tidak berimbuhan, penyair berjibaku dengan penyampaian pesan secara maksimal dari bagasa yang minimal. Tantangannya adalah apakah penyair berhasil mengutarakan maksudnya sebaik dan sebesar mungkin melalui bahasa sekecil mungkin? Kita akan tinjau pada puisi berjudul “Dikunyahkan Rindu” berikut.
kutanam padi
di
kaki langit
serumpun julang ke arasy
setangkai menyidai
di awan
sebutir
tumbuhkan diriku
kutanam budi
dikunyahkan rindu
Puisi yang bertitimangsa 25 Mei 2017 ini mengisyaratkan laku subjek aku sebagai petani melalui larik kutanam padi. Larik ini boleh dianggap sebagai sampiran pada pantun, ancangan sebelum memasuki pesan utama, atau amsal sebagai seorang penanam padi. Menariknya, sebagai ancangan, sampiran, atau amsal penyair tetap memperlihatkan bahwa ia berpijak di bumi sebagai realitas yang dialami sekaligus dihidupi penyair. Laku menanam padi adalah tradisi masyarakat agraris sebagai alas penciptaan puisi penyair untuk membuka dunia lain yang ia suarakan pada larik berikutnya.
Benarlah bahwa larik kutanam padi hanyalah pintu masuk penyair untuk membangun dunia yang dihasratkannya. Mengapa? Sebagai padi yang ia tanam bukanlah di hamparan sawah atau lereng bukit, tetapi di kaki langit. Kaki langit sejatinya bukanlah wilayah fisik atau geografi yang dapat diraba dan dijejak secara nyata. Ia adalah garis yang memisahkan antara bumi dan langit, berupa garis horizontal yang tampak dari berbagai arah. Dari pandangan terjauh manusia, ia tampak menyatu antara langit dan bumi. Penyair Akib menggunakan geografi imajiner, yakni kaki langit itu sebagai alas bagi laku menanam padi.
Dengan demikian, sebagai penyair Akib melakukan ancangan untuk perjalanan subjek aku, yakni serumpun julang ke arasy dan setangkai menyidai di awan. Laku subjek aku dalam “menanam padi” adalah amsal bagi upaya manusia untuk eksis di bumi sebagai sebuah keniscayaan kekhalifahan. Akan tetapi, manusia tidak hanya terhenti untuk hidup dan memakmurkan bumi, ia juga sekaligus menjadi hamba bagi Sang Khaliq yang berdiam di singgasana arasy. Maka bumi hanyalah alas untuk mencapai puncak arasy, yakni simbol bagi pencapaian spiritual si aku. Di sini, penyair Akib tidak hanya selesai pada persoalan tugas di bumi, tetapi harus tiba pada haribaan-Nya.
Hal menarik dari puisi pendek Akib adalah ia menyediakan “dunia antara” sebagai jembatan bumi dan Langit yakni setangkai menyidai di awan. Si aku subjek pada puisi ini, tidak raib ke arasy dan tidak stagnan di bumi kandung. Ia harus berada dalam kesadaran penting untuk tetap terhubung ke dunia ciptaan dan Sang Pencipta itu sendiri. Maka, padi sebagai buah yang ditanam ia biarkan menyidai di awan sebagai alamat kesadaran dan bentuk rasa syukur. Si aku tidak boleh larut dalam hiruk-pikuk dunia yang profan, tetapi tidak boleh juga lenyap dalam penghambaan yang membuatnya abai pada dunia itu sendiri. Di sini, dalil keseimbangan dunia dan akhirat benar-benar diperjuangkan penyair—lewat si aku lirik.
Sampai pada baris itu, penyair melancarkan kritik yang sublim atas sebagian manusia yang melarutkan diri pada penghambaan penuh, menghindari dunia, sehingga lupa tugas dunia. Penyair juga mengingatkan bahwa penyatuan dengan Pencipta menjadi penting, tetap harus dalam koridor yang seimbang.
Penyair berada dalam kesadaran kritis untuk menggotong pesan yang teramat penting dalam melakoni hidup di bumi yang sementara ini. Secara halus penyair hadir melaui kritik tersembunyi sebagai penegasan atas pentingnya keseimbangan antara upaya peleburan diri dalam haribaan Ilahi dan perjuangan untuk melakoni dunia sebagai tugas kemanusiaan. Penyair seolah mengingatkan bahwa laku spiritual yang hanya berorientasi pada penyerahan total tanpa kembali pada dimensi kemanusiaan berisiko melahirkan keterputusan dari amanah kekhalifahan. Dengan demikian, jalan menuju Tuhan tidak dimaknai sebagai pelarian dari dunia, melainkan sebagai proses penyucian batin yang justru meneguhkan keterlibatan etis dalam realitas. Spiritualitas yang utuh, dalam kerangka ini adalah yang mampu merawat keintiman dengan Yang Transenden sekaligus mengaktualkannya dalam tanggung jawab sosial, sehingga tercipta harmoni antara kontemplasi dan aksi dalam perjalanan eksistensial manusia.
Di sinilah kelihaian penyair dalam memilih simbol sebagai alat menggiring pesan. Padi benar-benar menjadi alat penyair untuk menyampaikan amanatnya. Tidak seluruh tangkainya ia gantungkan di dunia antara, tetapi sebutir ia tumbuhkan dalam dirinya. Manusia tetap perlu makan agar tubuhnya kuat menopang beban dunia, agar ia tegak berdiri menghadap pencipta. Akan tetapi, manusia juga tidak boleh berlebih-lebihan sebagai sifat yang dilarang agama. Cukup sebutir untuk tumbuhkan diriku saja. Puisi Akib mempertemukan dua ihwal, yakni syariat dan makrifat berpilin jadi satu napas pada larik pendeknya.
Dua larik terakhir pada puisi ini menjadi pesan mendasar lain Akib. Akib keluar masuk antara yang logis dan sufistik. Maka, jika sebutir padi adalah simbol atas perilaku kaum sufi dalam menjalani hidup asketis, kutanam budi adalah upaya kembali ke logika sebagai pemberian Tuhan yang inheren dengan seluruh dimensi seorang manusia.
Dalam bahasa lain dapat diterangkan bahwa bagian penuutp itu memperlihatkan dialektika yang produktif antara laku asketik dan kesadaran rasional sebagai dua horizon yang tidak saling menegasikan, melainkan saling melengkapi dalam konstruksi makna. Simbol “sebutir padi” tidak hanya merepresentasikan kesederhanaan dan kerendahan hati ala sufistik, tetapi juga mengandung prinsip keberlanjutan, ia tumbuh, memberi, dan kembali ke tanah, yang menandai siklus eksistensi manusia dalam relasi dengan Yang Ilahi. Sementara itu, frasa “kutanam budi” menggeser pengalaman spiritual dari ranah kontemplatif menuju praksis etis yang berbasis pada nalar dan tanggung jawab moral. Dengan demikian, penyair secara subtil menegaskan bahwa spiritualitas yang otentik tidak berhenti pada penyangkalan diri, melainkan menemukan aktualisasinya dalam tindakan sadar yang rasional dan berorientasi pada kebaikan, sehingga menjembatani dimensi transenden dan imanen dalam satu kesatuan pengalaman manusia.
Menariknya, menamam budi bagi si aku lirik pada puisi ini disambung dengan baris pendek lainnya yakni dikunyahkan rindu. Apa maksud dari dikunyahkan itu? Dalam paradigma semiotik, dikunyah dapat ditafsir sebagai dinikmati, disebut, dan dihargai. Artinya, budi baik yang ditanam akan selalu dirindukan oleh siapa saja secara berulang-ulang, terus-menerus. Maka, berbahagialah orang menamam rindu karena ia akan dikenang orang dalam jangka waktu yang panjang.
Penyair dan Asap dari Negeri Hutan
Sebagai penyair, sebagai manusia Riau, Akib tidak dapat melepaskan diri dari godaan asap. Yah, asap dari api yang membakar hutan-hutan Riau. Inilah keberpihakan penyair terhadap relitas sosial yang mengepungnya. Sebagai anak kandung yang lahir dan dibesarkan di wilayah geobudaya Riau, tidak dapat mengelak dari api dan asap yang hampir tiap tahun membakar hutan-hutan rindangnya. Sebelum membahasnya, kita nikmati puisi pendek berikut berjudul “Terbakar Asap”.
angin cium api
api setubuh hutan
hutan terbakar nanar
toke kebun sawit tertawa gelegar
sekalian haiwan lari lintang-pukang
hingga terpanggang hangus-arang
abu asap merejam paruparu
asma inspa batukbatuk
hu latu talutalu
kung kung king huk hak huak!
kami tragedi
Puisi yang ditulis pada Juli 2017 ini, mengoptimalkan permainan bunyi yang bersahutan. Strategi literer Akib sebagai salah seorang penyair terbaik Riau ini ditempuh demi menjaga keindahan estetis yang membuhul bangunan sajaknya. Antara gugusan bahasa estetis yang terbuhul dan pesan yang termaktub, bahu-membahu menopang rancang bangun puisinya. Akib tidak mau berpanjang-panjang bahasa yang tidak perlu. Ia langsung menghujam pada kekuatan pesan yang diselimuti kekuatan kata yang tak tepermanai. Maka penyair langsung masuk pada baris angin cium api tanpa adanya awalan dan akhiran di sana.
Pengoptimalan kata dasar ini menjadi teknik utama penyair agar menohok langsung ke jantung pesan. Lalu api setubuh hujan dan hujan terbakar nanar walau ia adalah larik berbeda tetapi ketika dibaca ia menjadi satu tarikan napas yang sama. Di sinilah ironi yang dibangun penyair, bahwa semua itu terjadi karena adanya toke kebun sawit (yang) tertawa gelegar yang membuat sekalian haiwan lari lintang-pukang. Penyair secara kritis menyadarkan bahwa ada toke sebagai penyebab dari akibat yang ditanggung itu. Siapa toke yang dimaksud penyair? Ah, sudah kayu gaharu pula. Sudah tahu bertanya pula.
Dari puisi ini, terdapat kritik ekologi yang begitu kuat. Bermula dari api dan asap yang dicium angin, maka hewan sang penghuni hutan akan kehilangan rumah, lari tunggang-langgang. Krisis ekologi menjadi sesuatu yang niscaya, akibat tangan manusia. Isu semesta saat ini yakni perubahan iklim dapat lahir dari fenomena pembakaran hutan, sebagaimana yang disasar penyair.
Secara tekstual, puisi tersebut dapat dibaca dalam perspektif ekokritik sebagai representasi relasi timpang antara manusia dan lingkungan yang berujung pada krisis ekologis. Penggambaran kesan mentaldari kosakata api, asap, dan merejam paruparu mengindikasikan adanya disrupsi ekosistem yang sistemik, di mana aktivitas antropogenik, seperti pembakaran hutan, menjadi faktor utama degradasi lingkungan. Dalam konteks ini, puisi berfungsi sebagai wacana kritik yang menyingkap konsekuensi ekologis dari praktik eksploitatif manusia, sekaligus mengafirmasi keterkaitan antara kerusakan lokal dan isu global seperti perubahan iklim. Dengan demikian, teks puitik tidak hanya menghadirkan dimensi estetika, tetapi juga berperan sebagai medium refleksi ekologis yang menegaskan urgensi kesadaran dan tanggung jawab lingkungan.
Dari manusia kembali ke manusia seakan-akan dimaklumatkan oleh Akib sejak dini. Selain hutan terbakar, hangusnya floran-fauna, juga abu asap merajam paruparu, persoalan kesehatan. Di penghujung puisinya disebut sebagai kami tragedi.
Demikianlah, puisi bermula dari penghayatan personal. Ia kemudian menjadi jalan mendaki puncak spiritual di arasy, lalu kembali ke bumi pada kritik sosial.
Memang demikianlah. Puisi pada dasarnya berangkat dari pengalaman pribadi penyair, dari apa yang ia rasakan dan renungkan, yang mungkin ia petik dari penghayatan dan petualangan. Dari situ, puisi berkembang menjadi perjalanan batin yang mengarah pada pencarian makna yang lebih dalam. Namun, perjalanan itu tidak berhenti di dunia batin saja. Penyair kemudian kembali ke realitas kehidupan sehari-hari dengan membawa kesadaran baru, yang diwujudkan dalam bentuk kritik sosial. Dengan demikian, puisi menjadi jembatan yang menghubungkan pengalaman pribadi, pencarian spiritual, dan kepedulian terhadap kehidupan sosial.
Akib sang penyair berada di antara tiga dunia itu!
Jakarta, Maret-April 2026
—–
*Penulis adalah peneliti sastra pada Pusat Riset Bahasa, Sastra, dan Komunitas; Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan pengelola Pustaka Kabanti Kendari





