Estetika Pesisir: Bedah Seni Visual dan Materialitas Kelenteng Cu An Kiong Lasem
Oleh Muh Nur Khusen*
Di tepian Sungai Lasem, berdiri sebuah bangunan yang telah menyaksikan perputaran waktu selama lebih dari lima abad. Kelenteng Cu An Kiong, yang namanya berarti “Istana Ketentraman Welas Asih“, bukan sekadar artefak religi melainkan sebuah Gesamtkunstwerk atau “Karya Seni Total” di mana arsitektur, seni lukis, seni ukir, dan tata ruang menyatu dalam harmoni yang utuh.
Secara historis, kelenteng ini didirikan oleh komunitas Tionghoa pada abad ke-15, menjadikannya salah satu klenteng tertua di Pulau Jawa. Beberapa sumber menyebutkan kemungkinan pembangunannya pada tahun 1335 atau 1477 Masehi. Yang pasti, dua tiang penyangga utama yang terbuat dari kayu jati asli masih kokoh berdiri hingga kini tanpa pernah diganti, inilah sebuah kesaksian atas keahlian teknik dan materialitas yang luar biasa.

Penulis di depan Kelenteng Cu An Kiong-Lasem. Sumber: Dokumen Penulis (28/3/2026).
Sebagai ruang seni total, Cu An Kiong memadukan berbagai disiplin artistik. Dinding-dindingnya dihiasi mural naratif yang terdiri dari 100 panel. Pintu dan jendelanya diukir dengan motif simbolis yang kaya makna. Struktur atapnya menunjukkan penguasaan teknik dougong (斗拱) yang kompleks. Teknik dougong yaitu teknik konstruksi kayu tradisional Tiongkok yang menggunakan sistem sambungan braket saling mengunci tanpa paku atau lem. Setiap elemen berbicara dalam bahasa estetika yang koheren namun terbuka pada pengaruh lokal.
Secara arsitektural, kelenteng ini mengadopsi bentuk khas Tiongkok Selatan dengan tipe siheyuan (bangunan persegi empat) dan atap ying shan atau ekor walet.. Namun di Lasem, adaptasi terjadi: beberapa bangunan rumah warga pun memiliki jenis atap ekor wallet, indikasi kuat bahwa akulturasi berlangsung secara intensif di tingkat masyarakat.
Keunikan Lasem sebagai “Tiongkok Kecil” tercermin kuat dalam detail ornamen kelenteng. Berbeda dengan kelenteng di kota besar yang cenderung mengadopsi gaya Tiongkok Utara yang monumental, Cu An Kiong mempertahankan karakter arsitektur selatan yang lebih intim. Orientasi bangunan yang menghadap sungai menunjukkan penerapan prinsip Feng Shui, di mana seni tidak hanya tentang apa yang menempel di dinding, tetapi bagaimana bangunan berinteraksi dengan energi alam.
Dalam kunjungan terbaru, 28 Maret 2026, para Mahasiswa Pascasarjana ISI Yogyakarta bersama Dosen Pembimbing Dr. Koes Yuliadi, M.Hum, saya menyatakan: “Saya pernah berkunjung ke beberapa kelenteng di Indonesia, tapi kelenteng ini yang sangat istimewa. Artefak-artefaknya luar biasa.” Pengakuan ini menegaskan posisi Cu An Kiong sebagai situs bernilai artistik dan historis yang mendalam.

Kunjungan Mahasiswa Pascasarjana ISI Yogyakarta di Kelenteng Cu An Kiong Lasem di dampini Mbak Agni dan Mas Pop sebagai pemandu. Sumber: Dokumentasi Penulis (28/3/2026).
Seni Lukis Mural: Naskah Visual di Atas Dinding
Salah satu fitur paling monumental dari Cu An Kiong adalah rangkaian lukisan dinding (mural) yang menghiasi ruang utama. Berbeda dengan banyak kelenteng di Jawa yang beralih ke keramik atau cetakan pabrik, mural di Cu An Kiong mempertahankan teknik lukis tradisional yang sangat halus, dengan teknik monokhrom hitam putih mural ini mampu menarasikan cerita sejarah tentang Perjalanan Tionghoa pada masa itu.
Fengshen Yanyi: 100 Panel Kisah Para Dewa
Mural monokrom hitam putih di Cu An Kiong diambil dari 100 panel “komik” Fengshen Yanyi (Penganugerahan Dewa-Dewa) karya Xu Zhonglin (Burhan dkk, 2025). Karya sastra dari era Dinasti Ming (1368-1644) ini berkisah tentang mitologi dewa-dewi Tiongkok yang sarat dengan mitos, sejarah, dan fantasi (Malagina, 2018). Mural tersebut berfungsi tidak hanya sebagai elemen estetika arsitektur, tetapi juga sebagai narasi visual yang mendokumentasikan nilai-nilai moral dan spiritual bagi komunitas pemujanya (Pratiwo, 2010).
Penelitian terbaru oleh Burhan dkk. (2025) dari Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta mengungkap bahwa mural naratif di Cu An Kiong memiliki fungsi ganda: pertama, sebagai bentuk persembahan untuk mengungkapkan rasa syukur kepada dewa-dewi; kedua, sebagai bukti partisipasi komunitas Konghucu dalam mempertahankan eksistensi kelenteng. Temuan ini menggeser pemahaman kita tentang mural dari sekadar dekorasi menjadi artefak sosial.
Secara tematis, mural mengambil latar akhir Dinasti Shang (1600-1046 SM) dan kebangkitan Dinasti Zhou (1046-256 SM) bercerita tentang kisah penggulingan raja tiran oleh pahlawan yang dibantu dewa-dewi. Penggambaran figur dewa dan ksatria dilakukan dengan detail anatomi pakaian yang spesifik, berfungsi sebagai media transmisi nilai-nilai moral Konfusianisme.

Mural monokrom hitam putih di Cu An Kiong . Sumber: Dokumentasi Penulis (28/3/2026).
Teknik dan Materialitas Lukisan
Dari segi teknik, mural menggunakan gaya lukis Tiongkok klasik dengan garis kuas tegas namun luwes. Pigmen warna didominasi warna monokromatik dengan aksen tinta hitam dan merah bata. Beberapa panel masih mempertahankan kualitas gambar tajam, sementara lainnya sudah pudar akibat faktor usia dan kelembapan dinding.
Opa Gandor, sesepuh kelenteng, menjelaskan bahwa gambar-gambar dinding ini “layaknya sinetron” yang mengisahkan kehidupan dewa. “Kalau di sini itu seperti ketoprak, ludruk,” jelasnya. Perbandingan dengan seni pertunjukan Jawa ini menunjukkan proses resepsi estetik yang akulturatif.
Namun, ada ironi menyedihkan: rangkaian aksara Mandarin yang menyertai setiap panel tidak dapat dibaca oleh siapa pun. Opa Gandor mengakui, “Tulisan China ini dari 53 pengurus tak ada yang bisa baca. Orang dari Tiongkok ke sini juga gak bisa baca.” Pengakuan ini mengungkap krisis literasi aksara yang mengancam pemahaman utuh atas narasi visual tersebut.
Analisis Ikonografi dan Ikonologi
Menggunakan kerangka Erwin Panofsky, mural Cu An Kiong dibaca dalam tiga lapis makna (Panofsky, 1955). Lapis pertama (deskripsi pre-ikonografis): figur manusia bersenjata, kendaraan perang, bangunan Tiongkok. Lapis kedua (analisis ikonografis): figur-figur itu teridentifikasi sebagai dewa-dewi Taois dari Fengshen Yanyi. Lapis ketiga (interpretasi ikonologis): mural ini berbicara tentang kosmologi Taois, nilai kepemimpinan adil, serta aspirasi komunitas Tionghoa perantauan akan perlindungan Tuhan.
Opa Gandor sendiri menegaskan dimensi moral, sambil menunjuk pahatan yang menggambarkan dua orang memanggul kayu sebagai penggambaran hukuman atas penggelapan uang, ia berkata: “Sebagai pengingat bagi kita untuk tidak korupsi. Banyak pelajaran moral di sini.”
Kriya Kayu: Keajaiban Struktur, Ornamen, Simbolisme dan Estetika Ekologis
Seni kriya kayu di Cu An Kiong adalah representasi penguasaan material luar biasa, khususnya dalam mengolah kayu jati sebagai material lokal utama. Bagian atap Cu An Kiong didukung sistem dougong yaitu susunan kayu penyangga yang saling mengunci tanpa paku besi. Teknik ini merupakan keahlian tukang kayu dari Tiongkok Selatan yang diadaptasi untuk menopang atap pelana berat. Secara estetis, struktur dougong menciptakan irama visual repetitif dan kuat, sering diakhiri ukiran kepala naga yang melambangkan kekuatan pelindung.
Pratiwo (2010) mencatat bahwa sistem dougong di Lasem menunjukkan modifikasi lokal, sementara versi Tiongkok sangat rumit, versi Lasem lebih sederhana namun tetap fungsional inilah ciri akulturasi pesisir yang pragmatis. Yang paling mengagumkan di sini terletak pada dua tiang penyangga utama dari kayu jati. Telah berdiri selama lebih dari lima abad, tiang ini tidak pernah diganti. Kayu jati tua memiliki kepadatan serat sangat tinggi akibat mineralisasi alami selama ratusan tahun, sebuah material yang merekam waktu itu sendiri.
Pada pintu dan jendela, terdapat teknik ukir tembus (kerawangan). Motif yang digunakan bersifat simbolis: bunga teratai melambangkan kesucian. Di pintu utama, terdapat ukiran dua tokoh penting: Bi Nang Un dan istrinya, Na Li Ni. Pasangan ini dikenang sebagai pelopor pengajaran seni batik kepada penduduk Lasem. Na Li Ni mulai membatik motif bernuansa Tiongkok, burung hong, naga, banji, kupu-kupu, bunga seruni, yang kemudian menjadi motif khas Batik Lasem. Kehadiran ukiran mereka di pintu kelenteng bukan sekadar ornamen, tetapi “monumen visual yang mengingatkan akan jalinan erat komunitas Tionghoa terhadap perkembangan budaya Lasem”. Kedalaman ukiran kerawangan menciptakan permainan bayangan dinamis saat terkena sinar matahari, sebuah dialog antara cahaya alami dan karya tangan manusia.
Penggunaan finishing prada (emas tempel) pada elemen-elemen tertentu menciptakan kontras dramatis terhadap gelapnya kayu jati. Dalam estetika Tionghoa, emas adalah medium untuk menangkap cahaya lilin, menciptakan aura sakral di sekitar altar.

Penulis bersama rekan pengunjung di depan altar, elemen-elemen yang difinishing dengan menggunakan prada emas untuk menciptakan kotras dramatis. Sumber: Dokumen penulis (28/3/26).
Widayat (2004) mencatat bahwa penggunaan emas pada elemen sakral berfungsi sebagai fokus visual sekaligus penanda hierarki spasial, makin dekat dengan altar utama, makin intensif penggunaan prada. Materialitas berfungsi sebagai bahasa teologis. Yang menarik, finishing prada di Cu An Kiong lebih hemat dan menghindari area terpapar angin laut, sebuah adaptasi pragmatis terhadap kondisi pesisir yang korosif. Kelenteng Cu An Kiong menunjukkan kesadaran lingkungan mendalam melalui adaptasi arsitektural terhadap iklim tropis.
Adaptasi Iklim Pesisir
Bentuk atap tinggi dengan kemiringan curam adalah respons cerdas terhadap curah hujan tinggi di pesisir utara Jawa. Kemiringan curam mempercepat aliran air hujan, mencegah kebocoran. Atap menjorok lebar melindungi dinding kayu dari siraman hujan sekaligus memberi naungan dari terik matahari. Suprapti dkk. (2014) mencatat bahwa celah-celah pada ukiran kayu berfungsi sebagai ventilasi alami. Udara panas naik keluar melalui celah di puncak atap, sementara udara sejuk masuk dari bawah. Sistem ventilasi pasif ini menjaga suhu interior tetap sejuk, pencapaian rekayasa termal luar biasa untuk bangunan abad ke-15. Materiali kayu jati memiliki koefisien konduktivitas termal rendah. Di siang terik, dinding kayu hangat di luar namun sejuk di dalam. Di malam hari, kayu menyimpan kelembaban yang menstabilkan suhu.
Sungai dan Feng Shui
Orientasi bangunan menghadap sungai bukan kebetulan. Dalam Feng Shui, air adalah pembawa chi (energi kehidupan). Bangunan menghadap air dianggap ideal karena membawa keberuntungan. Bagi komunitas pelaut Lasem, sungai juga berfungsi praktis sebagai jalur transportasi. Lebih dalam, posisi di tepi sungai menciptakan apa yang disebut Sumardjo (2009) sebagai “estetika batas” ruang di mana alam dan budaya bertemu, sakral dan profan bernegosiasi. Sungai adalah partisipan aktif dalam pengalaman estetik, suara air mengalir, kelembaban membawa aroma tanah, pantulan cahaya di permukaan air adalah nuasa alam yang membawa kedamaian batin. Prasasti batu tahun 1838 mencatat renovasi besar-besaran untuk mengatasi banjir. Banjir bukan hanya masalah teknis tetapi kosmologis yang mengganggu keseimbangan bangunan dan lingkungan.
Ruang dan Ritual: Tata Letak sebagai Bahasa
Tata letak ruang mengikuti logika ritual ketat. Altar utama untuk Tian Shang Sheng Mu (Dewi Surga/Ma Zu) ditempatkan di ruang paling dalam, paling sakral. Prinsip shen (kedalaman sakral) menciptakan gradasi dari profan ke sakral.
Di ruang depan, mural Fengshen Yanyi menghiasi dinding dari lantai hampir ke atap. Posisi ini bukan kebetulan: narasi perjuangan dewa ditempatkan di zona transisi. Jemaat yang masuk akan “melewati” kisah-kisah ini secara fisik dan spiritual.
Di halaman, terdapat monumen berupa patung-patung untuk mengenang perjuangan laskar Tionghoa-Jawa melawan VOC (1740-1743), menghormati pahlawan seperti Tan Kee Wie dan Oey Ing Kiat. Kehadiran monumen perjuangan di kompleks kelenteng menunjukkan bahwa ruang sakral di Lasem tidak terisolasi dari sejarah politik.


Monumen patung-patung perjuangan Tionghoa-Jawa di Lasem Jawa Tengah, di bangun di halaman depan (samping) Kelenteng. (gambar2) detail patung. Sumber: Dokumentasi Penulis (28/3/2026).
Tantangan Konservasi
Seni di Kelenteng Cu An Kiong adalah warisan yang rapuh. Kerusakan mural akibat kelembapan dan udara garam menjadi ancaman nyata. Beberapa panel sudah menunjukkan tanda pudar, jika tidak segera ditangani, narasi visual yang bertahan lima abad bisa hilang dalam beberapa dekade. Tantangan konservasi bersifat multi-dimensional. Pertama, fisik: kelembapan tinggi, udara asin, risiko banjir. Kedua, intelektual: hilangnya kemampuan membaca aksara Mandarin di kalangan pengurus. Ketiga, institusional: status Cu An Kiong saat ini baru cagar budaya tingkat kabupaten, belum nasional.
Agni Malagina, Budayawati Lasem, menyampaikan bahwa diperlukan situs lain di sekitar kelenteng yang juga bernilai cagar budaya. “Selain sebagai cagar budaya, klenteng ini juga memiliki nilai estetika dan seni yang tinggi, serta menjadi simbol representasi akulturasi Indonesia.” Sebagaimana ditegaskan Pratiwo (2010), pelestarian kelenteng bukan sekadar menjaga bangunan fisik, tetapi menjaga “ruh” seni kriya tradisional di dalamnya. Ini berarti melestarikan teknik dougong, pengetahuan finishing tradisional, serta kemampuan membaca narasi visual mural. Tanpa transfer pengetahuan ke generasi muda, Cu An Kiong berisiko menjadi cangkang kosong.
Konteks tentang Cu An Kiong mengajarkan bahwa estetika pesisir lahir dari persinggungan, daratan dan lautan, Tiongkok dan Jawa, sakral dan profan, masa lalu dan masa depan. Keindahannya tidak statis, ia terus hidup selama ada yang merawat. Tugas kita adalah memastikan bahwa lima abad dari sekarang, kelenteng ini masih bisa bercerita tentang keberanian, ketekunan, dan keindahan yang lahir dari pertemuan budaya.
—-
*Muh Nur Khusen, Mahasiswa Program Pascasarjana ISI Yogyakarta.





