Di Sudut Kota Jogja, Keroncong Asli Masih Bernyanyi

Oleh Satrio Bagus Wicaksono*

Pada sebuah malam yang tenang di kampung Kota Jogja, dendang lagu dengan iringan keroncong mulai terdengar perlahan. Para pemain duduk melingkar di kursi-kursi kayu sederhana, sementara penyanyi berdiri di depan para pemain musik. Tidak ada pengeras suara berdaya besar seperti dalam panggung pertunjukan. Hanya sebuah speaker kecil yang digunakan sekadarnya untuk membunyikan mikrofon vokal dan bass elektrik. Di samping para pemain telah tersaji hidangan sederhana berupa tempe goreng dan teh hangat yang menemani jalannya pertemuan malam itu.

Alunan musik keroncong dimainkan oleh sejumlah pemuda yang datang dari berbagai daerah, berkumpul dengan satu kesamaan minat yaitu kecintaannya pada musik keroncong. Inilah tabuhan rutin yang diselenggarakan oleh Paguyuban Keroncong Suryowijayan, yang oleh para anggotanya disebut sebagai Padepokan Keroncong Senin Malam. Pertemuan ini berlangsung secara berkala dan menjadi ruang berkumpul bagi para penggiat keroncong asli untuk memainkan, merasakan, belajar, sekaligus merawat musik yang telah lama menjadi bagian dari sejarah musik Indonesia.

Di tengah kuatnya arus industri musik populer yang semakin mendominasi ruang dengar masyarakat, praktik musikal yang berlangsung secara sederhana ini justru menghadirkan gambaran yang berbeda. Musik keroncong mungkin tidak lagi terdengar begitu menonjol seperti dahulu. Kini alunannya seolah hadir lebih pelan di tengah hiruk pikuk selera musik masa kini, dan ruangnya dalam masyarakat pun menjadi semakin terbatas.

Pada kenyataannya, di era sekarang banyak generasi muda yang lebih tertarik menekuni musik modern dibandingkan musik tradisi yang sering dianggap kuno atau tidak lagi relevan dengan perkembangan zaman. Namun kondisi tersebut tidak sepenuhnya berlaku di Paguyuban Keroncong Suryowijayan. Menariknya, sebagian besar anggota yang terlibat dalam kegiatan rutin ini justru berasal dari kalangan pemuda berusia sekitar 16 hingga 35 tahun yang memiliki ketertarikan besar terhadap musik keroncong. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa di tengah perubahan selera musik generasi muda, masih ada kelompok yang secara sadar memilih untuk mempelajari dan memainkan musik tradisi ini. Dari sinilah terlihat bahwa kecintaan terhadap keroncong tidak sepenuhnya pudar, melainkan menemukan ruang hidupnya melalui komunitas-komunitas kecil yang tumbuh secara mandiri.

Rutinan tabuhan ini memperlihatkan bentuk pertunjukan yang sederhana dan jauh dari kesan formal maupun elegan. Orang-orang yang datang tidak semata-mata berkumpul untuk memainkan musik, menyanyi, atau sekadar mendengarkan, tetapi juga untuk saling berinteraksi secara santai. Suasana pertemuan terasa cair, seolah-olah musik menjadi pengikat yang mempertemukan orang-orang dengan latar belakang yang beragam dalam satu ruang kebersamaan.

Instrumen-instrumen keroncong seperti cuk, cak, cello, gitar, bass, flute, biola dan vokal dimainkan dengan sumeleh dan kepenak, tanpa tekanan maupun ambisi permainan yang berlebihan. Permainan musik mengalir secara natural, seolah menjadi bagian dari percakapan yang berlangsung di antara para pemain. Repertoar yang dibawakan pun didominasi oleh lagu-lagu keroncong asli, langgam keroncong, serta stambul yang telah lama dikenal dalam tradisi keroncong klasik. Atmosfer seperti ini menghadirkan keintiman musikal yang jarang ditemukan dalam pertunjukan keroncong di panggung besar. Hubungan antara pemain dan pendengar terasa sangat dekat, tanpa adanya batasan. Dalam ruang sederhana ini, keroncong tampil dalam bentuknya yang hidup, bukan sekadar sebagai pertunjukan, melainkan sebagai pengalaman musikal yang dinikmati secara kolektif.

Jika dilihat dari aspek musikalnya, permainan dalam tabuhan rutinan ini cenderung tetap mempertahankan idiom atau pakem keroncong sebagaimana dikenal dalam kesenian keroncong klasik. Pola ritmis cuk dan cak menjadi fondasi utama yang menopang keseluruhan struktur musikal. Kedua instrumen ini menghadirkan pola sinkopatif khas keroncong yang membentuk karakter ritmis sekaligus menjadi penanda identitas musikalnya. Di atas fondasi tersebut, cello, gitar, dan bass memperkuat kerangka ritmis sekaligus memberikan lapisan warna dan dinamika yang membuat alunan musik terasa lebih hidup. Sementara itu, biola dan flute memainkan peran yang cukup menonjol dalam menghadirkan variasi melodi di tengah jalannya lagu. Kedua instrumen ini kerap mengedepankan improvisasi yang muncul di sela-sela bagian vokal, sehingga menciptakan ruang musikal yang lebih ekspresif. Improvisasi tersebut tetap berada dalam kerangka keroncong, sehingga memperkaya suasana musikal tanpa menghilangkan karakter dasarnya. Sedangkan pada vokal dinyanyikan secara mengalun dengan balutan teknik-teknik dalam vokal keroncong seperti nggandul, cengkok, luk, embat, dan gregel.

Struktur lagu yang dibawakan juga masih mengikuti pola keroncong tradisional yang dikenal dalam repertoar keroncong asli. Pada lagu dengan bentuk keroncong asli (Kr.), misalnya, sajian diawali dengan voorspel, yaitu bagian pendahuluan instrumental yang dimainkan oleh biola, flute, atau gitar sebagai pembuka. Setelah bagian pembuka ini selesai, barulah instrumen keroncong lainnya masuk secara bersamaan untuk mengiringi bagian vokal dan membangun struktur lagu secara utuh. Dalam konteks ini, tabuhan rutinan Paguyuban Keroncong Suryowijayan dapat dipahami sebagai praktik musikal yang berupaya menjaga kontinuitas estetika keroncong asli.

Namun demikian, nilai penting dari kegiatan tabuhan ini tidak hanya terletak pada aspek musikalnya semata, melainkan juga pada fungsi sosial yang menyertainya. Rutinan keroncong di Paguyuban Keroncong Suryowijayan berperan sebagai ruang pertemuan bagi para pemuda yang memiliki ketertarikan pada musik keroncong. Di tempat inilah mereka datang untuk belajar, berlatih, sekaligus mengasah kemampuan musikal secara bersama-sama. Lebih dari sekadar tempat memainkan musik, pertemuan rutin ini juga menjadi medium interaksi sosial yang mempertemukan individu-individu dengan latar belakang yang beragam. Kehadiran para pemuda yang secara konsisten mengikuti kegiatan ini memperlihatkan bahwa keroncong masih memiliki daya resonansi di kalangan generasi muda. Meskipun sering dianggap sebagai musik kuno, dalam praktik komunitas seperti ini keroncong justru menemukan ruang hidupnya. Praktik ini dapat dipandang sebagai bentuk perawatan seni dan budaya yang berlangsung secara organik. Kegiatan ini tidak digerakkan oleh institusi formal ataupun program pemerintah, melainkan tumbuh dari kesadaran kolektif para anggota komunitasnya. Melalui pertemuan yang berlangsung secara konsisten, mereka secara tidak langsung turut menjaga keberlangsungan musik keroncong. 

Fenomena ini menunjukkan bahwa keberlangsungan keroncong tidak selalu bergantung pada pertunjukan besar ataupun program pelestarian yang bersifat institusional. Justru di ruang-ruang kecil seperti kampung dan komunitas lokal, keroncong menemukan bentuk kehidupannya yang paling nyata. Dalam ruang yang sederhana dan tanpa kemasan berlebihan, musik ini tetap dimainkan, didengar, dan dirasakan bersama oleh orang-orang yang memiliki kecintaan yang sama. Dari sudut Kota Jogja, tabuhan keroncong itu tidak hanya hadir sebagai hiburan semata. Lebih dari itu, ia menjadi penanda bahwa sebuah kesenian masih terus dirawat oleh kehidupan sosial masyarakatnya sendiri. Selama masih ada ruang pertemuan, kebersamaan, dan kemauan untuk memainkan musik itu bersama-sama, keroncong akan selalu menemukan jalannya untuk hidup dan berkembang di tengah masyarakat.

—–

*Satrio Bagus Wicaksono, Mahasiswa Program Pascasarjana ISI Yogyakarta.