Antara Kopi dan Ruang Spiritual

Oleh Akmal Winasis*

 

 

Gambar 1. Bar Kopi Omah Dhuwung. Sumber Facebook Omah Dhuwung.

Budaya minum kopi di Indonesia sudah tidak bisa dipisahkan lagi, dari kalangan muda ataupun usia lanjut. Kenikmatan dalam secangkir kopi memiliki sensasi sendiri bagi penikmatnya. Tingginya penikmat kopi di khalayak umum mendukung pertumbuhan warung kopi atau biasa kita kenal dengan coffeeshop. Berbagai kalangan yang ikut meramaikan khasanah perkopian memunculkan berbagai konsep warung kopi untuk memenuhi kebutuhan pasar. 

Salah satu galeri keris yang ada di Yogyakarta menghadirkan warung kopi dengan mengusung tema kearifan lokal dengan menyatukan konsep galeri keris dengan coffeeshop. Konsep tersebut bisa dikatakan unik atau nyeleneh jika dibandingkan dengan coffeeshop lain yang ada di Yogyakarta. Tingginya intensitas budaya yang ada di Yogyakarta menjadi latar belakng berdirinya Omah Dhuwung.

Mengenai soal kopi dan ruang spiritual, masyarakat Jogja yang tumbuh dan berkembang diatas norma-norma tradisi dan budaya tidak luput dari kata “spiritual”. Di dalam tradisi kebudayaan Jawa, makna spiritual dapat ditemukan dari berbagai macam bidang diantaranya kepercayaan, upacara adat, serta benda-benda peninggalan bersejarah. Salah satu benda peninggalan yang memiliki makna spiritual yaitu keris.

Keris sering dikaitkan dengan maskulinitas seorang laki-laki. Adanya konsep laki-laki kesatria Jawa yang mengangkat lima unsur yaitu wisma, wanita, turangga, kukila, curiga dimana salah satu unsurnya yaitu curiga atau keris. Pada era kerajaan banyak terjadi peperangan sehingga dapat dimaknai bahwa seorang laki-laki harus bisa menjaga dan membela dirinya sendiri. Selain sebagai alat perlindungan diri keris juga difungsikan sebagai wujud strata sosial yang dilambangkan oleh beberapa jenis keris. Pada saat ini keris banyak digemari oleh kolektor barang antik dan masih dipakai dalam beberapa kegiatan adat khususnya di Yogyakarta.

Sebuah keris terdiri dari dua bagian yaitu warangka (rangka) dan wilah (bilah). Warangka keris terbuat dari berbagai macam kayu dengan pemilihan corak yang beraneka ragam, terkadang warangka dibuat dengan kayu tertentu yang dipercaya memili tuah ataupun makna tersendiri bagi pemilik keris. Sedangkan bilahnya terbuat dari berbagai macam jenis metal diantaranya besi, baja, dan batu meteorid yang dilebur menjadi satu. Batu meteorid yang dilebur menciptakan pola abstrak yang terencana atau disebut pamor. Secara umum bentuk bilah terbagi menjadi dua yaitu lurus dan luk. 

Gambar 2. Galeri Keris Omah Dhuwung. Sumber Facebook Omah Dhuwung.

Sejatinya sebilah keris tercipta atas kumpulan makna spiritual yang disatukan oleh rasa dari mpu pembuatnya kepada pemiliknya. Dimulai dari awal pembuatan sampai tahap finishing dilakukan dengan serangkaian upacara spiritual. Diawali dengan pencocokan wujud keris dengan calon pemiliknya dilanjutkan dengan pemilihan hari pembuatan keris oleh sang empu. Didalam proses penciptaanya tentunya seorang empu merapalkan doa-doa dan harapan yang dituangkan dalam wujud sebilah keris sehingga sebilah keris yang sudah jadi memiliki makna spiritual yang mendalam.Memaknai keris tidak hanya dari sisi eksternalnya saja namun juga dari sisi internalnya. Bukan sekadar menilai kemewahan sandhangan yang ada dalam sebilah keris namun memaknai sisi internalnya. 

Galeri Omah Dhuwung mendisplay puluhan keris dari berbagai macam era pembuatannya dari era Jenggala hingga era kamardhikan atau pasca kemerdekaan. Koleksi tersebut terpajang rapi di dalam ruang display yang menghadirkan aura tersendiri bagi pengunjung yang datang ke galeri Omah Dhuwung. Tentunya setiap keris yang terdisplay memiliki makna dan nilai spiritual. 

Gambar 3. Galeri Keris Omah Dhuwung. Sumber Facebook Omah Dhuwung.

Omah Dhuwung mengangkat konsep coffeeshop dan galeri keris sebenarya ingin menghilangkan pandangan negatif masyarakat terhadap keris. Banyaknya khalayak umum yang masih menganggap bahwa keris adalah benda klenik yang dianggap membawa dampak buruk atau petaka menjadi landasan berdirinya Omah Dhuwung dengan cara menampilkan sisi keindahan dan sejarah yang ada dalam keris. Keindahan corak yang ada dalam keris dinilai mampu menarik minat serta mengubah kesan mistis pengunjung terhadap sebilah keris.

Selain difungsikan sebagai tempat kuliner yang unik, Omah Dhuwung juga sering dijadikan tempat pameran keris yang dinaungi oleh komunitas Lar Gangsir. Sebuah pameran keris tidak hanya sebatas mendisplay tetapi ada juga bursa jual beli keris. Adanya pameran yang diselenggarakan tentunya mampu meningkatkan daya tarik pengunjung Omah Dhuwung.  Disini tidak hanya penataan konsep ruang tetapi juga menyelipkan pelestarian tosan aji keris di era saat ini.  

Kopi sebagai perlambang air dan bumi yang dapat diartikan sebagai sumber energi kehidupan dan keris sebagai perlambang logam dan api yang dimaknai sebagai kekuatan dan doa menciptakan makna spiritual yang mendalam. Kesinambungan antara makna spiritual kopi dan keris tentunya didasari oleh konsep-konsep adat dan budaya yang berkembang khususnya di daerah Yogyakarta. Jadi selain menikmati segelas kopi kita juga bisa belajar menyelam dalam ruang spiritual dan memaknai keris sebagi benda peninggalan bersejarah.

—-

*Akmal Winasis, Mahasiswa Program Pascasarjana ISI Yogyakarta.