Twibbonaze dan Estetika Rococo Digital
Oleh Prof. Dr. Kasiyan, M.Hum.*
Fenomena “twibbonaze”—ledakan massal penggunaan twibbon dalam ruang digital—seakan telah menjelma ikon paling banal dari zaman ini. Kata “twibbon” itu sendiri, sebagaimana disampaikan oleh Gerbaudo (2015), dalam “Protest Avatars as Memetic Signifiers: Political Profile Pictures and the Construction of Collective Identity on Social Media in the 2011 Protest Wave”, dalam Information, communication & society Journal, 18(8), 916-929, konon berasal dari gabungan “Twitter” dan “ribbon”: pita digital yang ditumpangkan pada foto profil demi menandai solidaritas atau dukungan tertentu.
Dalam praktiknya, ia segera melampaui Twitter, menjadi format lintas platform media sosial, melintasi berbagai isu mulai dari kampanye politik, solidaritas bencana, hingga perayaan hari-hari nasional atau internasional. Twibbon menempel cepat, menjelma ornamen instan di wajah digital kita, lalu berganti, lenyap, dilupakan. Fenomena “twibbonaze”—banjir massal twibbon—adalah cermin paling jernih dari logika budaya digital: cepat, viral, kolektif, tetapi dangkal, penuh kedegilan dan kejumudan simbolik.
Di titik inilah, twibbon menjadi semacam “ornamen solidaritas” yang lebih banyak berfungsi sebagai “tanda keterlibatan” ketimbang keterlibatan itu sendiri. Ia adalah estetika permukaan yang menutupi kekosongan, sebuah simbol partisipasi yang segera kehilangan maknanya justru karena repetisi massal tanpa kedalaman.
Twibbon tidak mengubah dunia, ia hanya mengubah bingkai foto profil; ia tidak menggerakkan tubuh, melainkan sekadar menempel pada citra dalam medan digital yang padat. Seperti yang pernah disigi oleh Guy Debord dalam The Society of the Spectacle (1967): pengalaman nyata telah digantikan oleh representasi; kehidupan digerakkan oleh tanda, bukan aksi.
Twibbon menjadi manifestasi inertia moral dan estetika: ia menawarkan kepuasan instan, menenangkan, namun menunda tanggung jawab nyata. Seperti dalam distopia digital, individu merasa cukup dengan ilusi partisipasi, sementara medan sosial yang sesungguhnya terus mengalami entropi dan kebrutalan yang tidak tersentuh.
Fenomena ini melahirkan bianglala visual yang terus berputar di layar: orang berlomba menempel twibbon, tetapi elan solidaritas yang sesungguhnya tidak bergerak. Solidaritas itu direduksi menjadi simbol instan, habitus digital yang nyaman dan aman, tanpa risiko atau konfrontasi, menyerupai senjakala etika di mana tindakan nyata meredup di balik glamor visual.
Roti dan Sirkus
Sejarah selalu memberi kita cermin bagi gejala kultural masa kini. Di era Kekaisaran Romawi, ada semboyan terkenal yang dikemukakan penyair Juvenal: panem et circenses (roti dan sirkus)—lewat karya sastranya yang berjudul Satires, yang diperkirakan disusun pada awal abad ke-2 M (sekitar 100–130 M).
Ungkapan itu menggambarkan bagaimana penguasa menjaga ketenangan publik dengan memberikan hiburan spektakuler dan kebutuhan dasar rakyat, agar mereka tidak terlalu kritis terhadap kekuasaan. Hiburan massal menjadi sarana anestesi sosial, pengalih perhatian dari problem-problem struktural.
Fenomena twibbonaze seakan merupakan kelanjutan digital dari tradisi “sirkus” itu. Alih-alih kerumunan di arena gladiator, kini kita melihat kerumunan virtual yang berlomba-lomba memasang bingkai seragam di wajah digital mereka. Ada rasa “bersama”, ada gema kerumunan, namun substansinya kerap hanya sebatas partisipasi simbolik yang tidak pernah menjelma dalam aksi nyata. Solidaritas direduksi menjadi tanda visual yang sekilas tampak menggetarkan, tetapi segera menguap dalam banjir informasi berikutnya.
Apa yang terjadi di sini adalah banalitas baru: estetika kerumunan yang lebih berfungsi sebagai penenang psikologis ketimbang sebagai motor perubahan sosial. Kita merasa telah melakukan sesuatu, padahal yang dilakukan hanyalah klik sederhana. Sirkus tetap berlangsung, kini dalam wujud timeline yang terus bergerak.
Fenomena Twibbonaze ini tidak hanya menyingkap mekanisme politik dan budaya, tetapi juga menunjukkan dimensi psikologis modern: manusia haus akan rasa memiliki dan keterlibatan, tetapi hanya sejauh ia nyaman, mudah, dan cepat. Twibbon menyediakan ilusi partisipasi kolektif tanpa risiko, ilusi empati tanpa konfrontasi. Teknologi digital memungkinkan manusia merasa terkoneksi secara intens, tetapi kenyataannya sering menciptakan isolasi dan keterasingan emosional—inertia sosial yang mengakar.
Twibbon, dalam konteks ini, bukan sekadar hiburan digital; ia adalah banalitas estetika pengalihan perhatian, di mana kepuasan emosional sesaat menutupi ketidakberdayaan sosial dan politik yang nyata. Solidaritas direduksi menjadi visual yang nyaman, instan, dan seragam, membentuk suatu siklus ketergantungan pada konsumsi tanda daripada pembentukan tindakan yang substansial—sebuah kulminasi dari kebrutalan simbolik budaya digital.
Permukaan Kitsch
Kedangkalan ini semakin jelas, jika kita menghubungkannya dengan tradisi estetika kitsch. Twibbon adalah kitsch digital. Ia menawarkan rasa solidaritas yang manis, rasa moralitas instan, tanpa menuntut pergulatan nyata. Orang bisa seolah-olah peduli, seolah-olah hadir, cukup dengan menempelkan ornamen visual.
Di sini, estetika tidak lagi menjadi ruang kontemplasi, melainkan sekadar aksesori yang diproduksi massal. Jika dalam seni rupa, kitsch tampak dalam lukisan-lukisan sentimentil dengan bunga dan air mata, dalam ruang digital ia hadir dalam banjir twibbon yang seragam, seakan-akan menyulap persoalan politik, krisis kemanusiaan, atau tragedi sosial menjadi sekadar dekorasi profil.
Abraham Moles dalam Kitsch: The World of Bad Taste (1971), menekankan bahwa kitsch adalah “bahasa estetika massa,” dibangun dari pengulangan, stereotip, dan formula yang mudah dikenali, yang memanjakan emosi, tanpa menuntut kedalaman refleksi. Twibbonaze adalah kelanjutan logika ini dalam medium digital: ia menjual rasa peduli tanpa menuntut kepedulian nyata, menawarkan solidaritas yang siap pakai, instan, dan segera bisa dibuang.
Immanuel Kant dalam Critique of Judgment (1790), menekankan bahwa pengalaman estetis sejati menuntut keterlibatan rasio dan perasaan secara harmonis; keindahan bukan sekadar bentuk yang menyenangkan mata, tetapi memupuk refleksi dan penghargaan terhadap bentuk yang bermakna.
Twibbon, dengan pola visual instan dan familiar, bertentangan dengan prinsip ini, karena menimbulkan kesan keindahan yang dangkal, mengabaikan refleksi kritis, dan memperkuat habitus digital yang dangkal dan repetitif.
Estetika Rococo Baru
Jika ada momen sejarah seni yang paling dekat dengan logika twibbon, mungkin ialah seni dan estetika Rococo. Seni Rococo Eropa abad ke-18 dipenuhi ornamen, lekukan, kerumitan dekoratif, dan keindahan permukaan yang memukau. Ia adalah seni aristokrasi yang telah kehilangan vitalitas spiritual sebagaimana yang ada dalam seni dan estetika Baroque, menggantikannya dengan permainan estetika penuh hiasan.
Robert Rosenblum dalam Transformations in Late Eighteenth-Century Art (1967) menekankan bahwa seni Rococo adalah ekspresi estetika yang mengutamakan kesenangan permukaan sebagai cara aristokrasi menghindari beban sosial dan politik zaman itu.
Dibandingkan dengan seni Baroque yang masih memiliki kedalaman spiritual dan dramatik, seni Rococo tampil dangkal, penuh putaran dekoratif yang memanjakan mata tanpa pesan yang sungguh. Ia adalah seni aristokrasi yang membosankan, yang hanya mencari hiburan indah bagi ruang-ruang salon.
Twibbon dapat disebut sebagai seni Rococo digital: ornamentasi massal, banal, cepat berganti. Bila seni Rococo adalah ornamen dinding istana Versailles, twibbon adalah ornamen wajah digital di Instagram atau X. Keduanya sama-sama estetika permukaan, yang menjadikan tanda lebih penting daripada makna, menciptakan fusi horizon antara representasi dan realitas yang menipu mata.
Jean Baudrillard dalam Simulacra and Simulation (1981), melangkah lebih jauh: dalam era simulacra, tanda tidak lagi merujuk pada realitas, melainkan hanya merujuk pada tanda lain. Solidaritas twibbon tidak merujuk pada penderitaan nyata, melainkan pada solidaritas itu sendiri: aku memasang twibbon “bukan karena peduli”, tetapi karena orang lain juga melakukannya. Solidaritas menjadi simulasi solidaritas, sebuah utopia yang terasa nyata, namun kosong substansinya.
Kawanan Digital
Byung-Chul Han dalam In the Swarm (2017) menggambarkan manusia digital sebagai kawanan: individu tampak aktif, tetapi bergerak serempak tanpa refleksi mendalam. Han menggambarkan bagaimana di era media sosial, publik berubah menjadi kawanan (swarm): tidak ada lagi subjek yang kuat, hanya ada ledakan opini fragmentaris, like, share, repost, yang bergerak cepat namun dangkal.
Kawanan ini tidak mampu membangun narasi bersama, hanya mampu menciptakan hiruk-pikuk sesaat. Twibbon adalah manifestasi sempurna dari “swarm”: partisipasi massal tanpa komunikasi sejati, hanya repetisi tanda.
Twibbonaze adalah manifestasi paling kasatmata dari kawanan digital itu. Ribuan orang bisa mengubah foto profil mereka dalam waktu singkat, tetapi energi kolektif itu segera bubar ketika isu lain muncul. Tidak ada memori kolektif yang bertahan, tidak ada ruang deliberasi praksis yang mendalam.
Han menyebut fenomena ini sebagai “positivitas yang membunuh”. Semua tampak positif, penuh tanda solidaritas, tetapi justru karena semuanya positif, tidak ada tegangan dialektis, tidak ada ruang kritik, tidak ada energi transformasi.
Dalam The Transparency Society (2015), Han juga menekankan obsesi masyarakat digital pada “keterlihatan”, bukan kebenaran. Twibbon adalah “keterlihatan” itu: tanda peduli yang hanya berfungsi sejauh ia terlihat oleh yang lain.
Adorno dan Horkheimer melalui Dialectic of Enlightenment (1947) sudah melihat benihnya sejak 1940-an: dalam industri budaya, bahkan kebebasan memilih, hanyalah kebebasan memilih yang sudah ditentukan. Twibbon menawarkan pilihan solidaritas, tetapi dalam format yang sudah ditentukan, dalam desain yang seragam, dalam logika klik yang mekanis. Kebebasan menjadi konsumsi, kritik menjadi ornamen; arena digital menjadi medan pengulangan estetika tanpa substansi, di mana entropi sosial merajalela.
Konteks Indonesia
Jika kita tarik ke konteks Indonesia, twibbonaze menjadi semakin ironis. Di negeri ini, budaya “ornamen solidaritas” sudah mengakar sejak lama. Kita mudah terharu, mudah tersentuh, dan mudah melahirkan tanda-tanda emosional kolektif—dari baliho, spanduk, slogan, hingga kini twibbon digital. Tetapi sering kali tanda-tanda itu tidak diikuti dengan laku praksis yang mendalam.
Di Indonesia, twibbon menjadi ornamen solidaritas populer. Hampir setiap momentum—hari kemerdekaan, pemilu, bencana, kampanye sosial—dihiasi oleh banjir twibbon. Di sini, twibbon sering menjadi simbol konformitas sosial daripada ekspresi solidaritas nyata.
Fenomena ini juga terkait dengan budaya gotong royong yang telah tereduksi dalam ruang digital. Dahulu, gotong royong berarti turun tangan, berbagi tenaga, berkorban; kini ia tereduksi menjadi pemasangan twibbon: gotong royong visual. Twibbon menunjukkan wajah politik Indonesia: politik penuh simbol, ornamen, retorika, tetapi dangkal substansinya. Twibbonaze adalah representasi estetika Rococo model baru: hiasan digital yang menutupi krisis nyata, memberi kenyamanan emosional sekaligus melupakan penderitaan riil.
Di sinilah kedangkalan estetika Rococo model baru itu, menemukan ladang suburnya. Estetika twibbon menyalurkan kebutuhan emosional kita untuk “terlihat peduli”, tanpa benar-benar menuntut kita untuk bertindak peduli. Solidaritas digital menjelma menjadi kosmetik moral.
Penutup
Sejarah, sebagaimana ditegaskan oleh Georg Wilhelm Friedrich Hegel melalui karyanya Lectures on the Philosophy of History (1837), pada hakikatnya, adalah peristiwa yang terjadi sekali—einmaligh. Namun ironisnya selalu berulang, seperti yang tampak dalam siklus budaya kedangkalan. Sejarah budaya kedangkalan berulang dalam bentuk baru: dari panem et circenses Roma, ke kitsch modern, ke estetika Rococo aristokratis model baru, ke simulacra digital, hingga twibbonaze hari ini. Semua adalah pola estetika permukaan: pola di mana tanda menutupi hakikat kenyataan.
Twibbonaze adalah cermin zaman: menunjukkan masyarakat digital yang membutuhkan ornamen solidaritas, lebih daripada solidaritas itu sendiri. Reproduksi tanda mereduksi makna, menciptakan kenyamanan visual yang dangkal tanpa konfrontasi dengan realitas—kitsch adalah kebohongan estetika, dan twibbon adalah kebohongan solidaritas.
Pertanyaan filosofisnya ialah: apakah kita masih mampu menembus ornamen, menembus permukaan, menembus simulacra, untuk bertemu wajah sesama yang nyata, seperti diminta Emmanuel Levinas dalam Totality and Infinity (1961), yang menuntut kita bukan sekadar memasang tanda, tetapi keterliatan otentik yang nyata.
Twibbonaze bukan sekadar fenomena digital; ia adalah gejala mendalam krisis estetika dan moral kontemporer: manusia terpesona oleh tanda, cepat merasa cukup dengan simbol, dan jarang menanggung beban nyata. Ia menantang kita untuk menghidupkan kembali pengalaman autentik, menolak estetika kedangkalan, dan menghadirkan etika: bukan hanya menempelkan tanda, tetapi menanggung konsekuensi terhadap wajah yang memanggil tanggung jawab.
Dalam cakrawala itu, twibbonaze adalah senjakala estetika digital, kulminasi kebrutalan simbolik yang menuntut kita, meneroka kembali medan kemanusiaan sejati yang nyata.
***
*Prof. Dr. Kasiyan, M.Hum., Guru Besar Departemen Pendidikan Seni Rupa, Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya, Universitas Negeri Yogyakarta.