Gaya Gokil Gerson
Oleh Seno Gumira Ajidarma *
Buku tipis kaya isi. Sebuah parodi tentang bagaimana caranya menjadi seniman (modern) di Indonesia. Namun apa maknanya pelacur botak?

Gerson Poyk, Giring-Giring, Jakarta: Yayasan Studi Nasional, 1982, 60 halaman. Harga Rp. 1.000,-
Prosa ini lebih seperti cerita pendek yang panjang, belum novela, apalagi novel atawa roman. Format itu menurut saya cocok dengan gaya yang dapat disebut sebagai gila atawa di luar logika. Jika gaya Hamsad Rangkuti dapat dikenali sebagai gaya bodoh, dan gaya Putu Wijaya sahih disebut gaya gila, maka gaya Gerson pun adalah gila.
Adapun perbedaan Putu dan Gerson, apabila kegilaan Putu mensahihkannya untuk mengabaikan realisme; maka kegilaan Gerson, betapapun absurdnya, selalu berada dalam kerangka realisme. Perhatikan pembukaan berikut:
Semenjak sopir Kurnain menabrak seorang ibu dengan dua orang anaknya sampai mati, semenjak itulah ia berhenti jadi sopir. Mula-mula darah, lalu maut, lalu sadisme massa (pengeroyokan), lalu erang kesakitan di rumah sakit dan akhirnya urusan polisi. Walaupun ia menang perkara, namun kemanakah ia membawa guncangan jiwanya?
Ketika itu hari Lebaran, Kurnain membawa sebuah bis penuh dari Jakarta menuju Bogor. Menjelang masuk kota Bogor, kendaraan makin padat dan jalan raya penuh mobil yang datang baik dari Jakarta maupun Bogor. Bis-bis berdesakan, sedan-sedan meluncur bagaikan setan, sepeda motor bagaikan iblis, semuanya mengganggu hari Lebaran. Ketika itu ada seorang ibu menggendong bayinya dengan tangan yang satu sambil tangan yang lainnya menarik-narik anak perempuannya yang kecil-mungil dan manis.
Ketiga ciptaan Tuhan itu sedang berusaha menyeberang. Ketika serombongan anak muda lewat dengan kecepatan histeris, sang ibu pun melangkah menarik anaknya. Seperti kilat saja layaknya sang ibu ditabrak oleh sebuah sedan yang dikebut oleh seorang cukong Tionghoa kaya yang baru pulang dari villanya di Puncak. Ibu itu tempias ke atas bagaikan roket yang terlempar! Begitu tingginya mereka terlempar hingga jatuhnya ke atas tutup mesin bis, dan karena bis itu sedang melaju maka kedua anak itu menabrak lagi kaca dan kepalanya tembus persis di depan sopir itu. Sopir Kurnain mendapat bahagian pecahan-pecahan kaca dan mayat bayi sekaligus darah-darahnya. Muka sopir penuh dengan darah. Penumpang-penumpang di sampingnya kebagian anak perempuan. Penumpang itu pun berlumuran darah beserta pecahan-pecahan kaca. Ibu kedua anak itu menggeletak mati kontan di atas tutup mesin itu. Semuanya berlangsung begitu cepat. Seperti mimpi saja layaknya. Ah, bukan mimpi, tetapi peristiwa nyata itu menimbulkan suatu guncangan dalam jiwa si sopir.
Bertahun-tahun dia tak pernah menabrak orang, tapi kali ini orang datang sendiri menabrakkan diri dan mati di depan batang hidungnya. Ini adalah nasib yang paling sial di atas segala kesialan. Walaupun ia tidak melambungkan ketiga anak Tuhan itu ke atas mobilnya, namun ketiganya mati di atas mobilnya sendiri. Nafas mereka melayang di atas mobilnya, di depan matanya sendiri.
Ia terheran-heran beberapa lamanya sampai dengan bencana yang lebih deras datang tak dipinta tapi menghujam dengan sadisnya jiwa raganya; seorang laki-laki yang tak dikenalnya muncul entah dari mana melihat darah yang muncrat sana-sini, kemudian memandang mata sopir dengan urat-urat yang penuh dengan darah segar yang mendidih, kemudian dengan cepat menarik sopir Kurnain ke luar.
Dengan seluruh tenaga ia menghujamkan tinjunya ke muka Kurnain. Tinju orang itu hampir menghancurkan biji matanya. Walaupun matanya yang satu kontan jadi rusak, namun dengan tenaga yang tersembunyi, Kurnain berhasil ke luar dari dalam dan berjalan ke depan bisnya. Kira-kira baru sepuluh langkah ia melarikan diri, ia harus bertemu dengan laki-laki lain, yang kontan menghalilintarkan tinjunya ke kepalanya.
Walaupun nampaknya ada api mendenyar di matanya karena tinju itu, namun Kurnain mash bertenaga untuk lari. Tetapi sial. ia terputar di sekitar orang itu karena kerah bajunya bahagian belakang ditarik. Pada saatnya ia menerima lagi sebuah bogem mentah yang kena pada rusuk kanannya. Walaupun rusuknya terasa patah berkeping-keping namun ia masih lari sambil berteriak-teriak bagaikan anjing yang kesakitan (h. 1-3).
Dari pembukaan ini terlihat dengan jelas apa yang saya maksud kegilaan dalam kerangka realisme. Tiada adegan yang tidak mungkin terjadi, segalanya mungkin saja terjadi. Dalam kenyataannya, sopir bis menabrak orang lantas dianiaya massa, adalah peristiwa sehari-hari sahaja.
Adapun yang menjadikannya bergaya gila, adalah cara dan sudut pandang penceritaan narator yang memperlihatkan bukan tampak-depan, melainkan semacam tampak-dalam, yang menguji realitas sampai ambang batas kegilaan, tapi tidak melampauinya.
Dalam hal Putu Wijaya, kegilaannya justru dimulai dari seberang batas itu, seseorang menyerahkan kepalanya secara konkret kepada mertua misalnya, tetapi masih bisa berbicara dengan istri, sehingga sahih disebut mengabaikan realisme.
Dalam Giring-Giring ini, setelah Kurnain kapok menjadi sopir bis karena peristiwa traumatik tersebut, ia menjadi asisten tukang kredit yang merantau ke Bali, membawakan barang dagangannya dari kampung ke kampung. Berjumpa Bambang pelukis, Kurnain ingin jadi pelukis, dan maganglah ia kepadanya—dengan berbagai peristiwa ajaib yang menjadi bagian dari proses belajar menjadi seniman kreatif.
Dengan masuknya peran Felini, pelukis Italia yang ingin bekerja di Bali, dan tinggal di paviliun sebelah rumah sewaan Bambang, terbentuk tiga lingkar konsentris proses berkesenian, yang mengarah kepada penulisan dialog tentang berbagai macam konsep pemikiran, terutama seni, tapi sebenarnyalah bisa ke mana-mana.
Berikut ini adalah soal dwi-fungsi militer, yang menjadi perlu ketika politik kaum sipil hanya menghasilkan kericuhan, meski yang memimpin disebut sebaiknya seniman. Perhatikan pula seni peran sang pemeran, yang bagian tertentu tubuhnya selalu gatal:
“Hi !?” katanya menarik bahunya ke atas. “‘Dalam politik juga begitu. Instink massal dieksploitir oleh pemimpin-pemimpin kita, sehingga kalau pemimpin-pemimpin suruh bunuh, maka massa membunuh, kalau pemimpin jadi maling merampok dan korup maka terjadilah individualisme massa yang instinktif merusak. Lihatlah teror-teror politik, lihatlah korupsi waktu, uang dan barang-barang,” kata Bambang mengeluh. “Pengalaman saudara adalah contoh yang bagus mengenai pengalaman Indonesia. Indonesia belum matang berpolitik dan berorganisasi. Makanya saya lebih setuju seperti pengalaman saudara. Indonesia harus lari menggelantung pada tubuh tentara dan dwi-fungsi militer dan sipil. Kalau instink-instink politik, agama, kesukuan dan sebagainya menyala menyeringai-nyeringai, biarlah tentara yang dor, dor, dooooorrrrr !” kata Bambang sambil mengangkatkan kakinya ke atas meja lalu menggaruk-garuk pangkal pahanya sambil tertawa meledak-ledak seperti sepur tua.
Kurnain bengong.
“Ah, kenapa kita harus menghadapi dialektika yang begini?” kata Bambang sambil terus menggaruk-garuk pangkal pahanya. “Tapi untung ada tentara di Indonesia ini. Kalau tidak, politikus-politikus kita ke mana-mana bawa pentung dan batu dan kepingin merejam lawan politiknya. Kita masih butuh tentara, sampai dengan nanti, kalau Indonesia sudah matang berpolitik, maka tentara diganti dengan seniman-seniman. Hanya seni yang bisa membikin Indonesia ini menjadi besar dan dihormati di seluruh dunia. Dan kaya. Saudara tahu, dengan menjual sepuluh lukisan di New York, maka kita bisa mem-peroleh anggaran belanja setahun untuk sebuah propinsi,” kata Bambang sambil terus menggaruk dan sebentar-sebentar memukul nyamuk yang datang dari rumpun bambu dan pisang.
Kurnain tertawa menyentak, mendengar kata-kata Bambang bahwa sehabis Indonesia ini dikuasai oleh dwi-fungsi maka akan tiba gilirannya Indonesia akan diperintah oleh seniman-seniman.
“Kenapa Saudara tertawa? Saudara kira saya omong kosong ? Saya tidak gila, walaupun banyak orang mengira bahwa seniman-seniman itu gila. Dulu saya pernah angkat senjata di waktu revolusi mengusir kolonialisme Belanda. Saya pernah nusuk Jepang dan serdadu Belanda,” sambil bangun berdiri mengambil sebuah tombak antik yang dipajangkan di dinding sebagai sebuah perhiasan. Dia mundur ke pojok ruangan lalu meloncat menusuk Kurnain densan suara: “Caaaat !” Dan ujung tombak itu berhenti persis lima sentimeter di depan salah satu bola mata Kurnain.
Kurnain berdebar-debar.
“Begitulah ketika saya menusuk Jepang itu, Dik,
Jepang itu bergerak berteriak sebelum mampus
‘Indonesia tita bae oooo’ (para akademisi Jepang pun tak mengenal ungkapan ini—sga) ……..” kata Bambang sambil duduk setelah menyandarkan tombak itu ke dinding.
Dia menarik napas. “Begitulah, Dik, saya ini dahulu.
Dulu saya sangat percaya pada revolusi dan saya telah menyerahkan hidup saya kepada revolusi. Tapi sekarang ini, setelah saya semakin tua, saya tidak lagi percaya pada revolusi. Saya lebil percaya pada seni. Hanya senilah yang bisa mempersatukan dunia ini (h. 13).
Kemudian dapat diikuti bagaimana ketiga lingkar konsentris itu saling bersinggungan.
Kurnain menjadi sibuk. Sebentar ia dipanggil oleh pelukis Italia itu, sebentar ia datang menolong Bambang. Tetapi dengan adanya bengkel las yang sibuk nyemprot-nyemprotkan apinya itu, dengan adanya bunyi palu, kikir dan gerinda bergantian, maka pelukis Italia itu mulai dapat tontonan yang baru yang mungkin juga memberi ilham padanya. Sehabis melukis, ia senang sekali duduk-duduk dan berdiri di bengkel Bambang.
Tetapi sudah beberapa minggu ini Bambang hanya mengutak-atik segalanya tanpa diketahui oleh orang lain apa yang akan dibuat. Ia seperti anak kecil yang merombak dan merusak, memotong dan menyambung, membakar dan mendinginkan. Kurnain dan Felini pelukis Italia itu hanya menonton dan kadang-kadang kedua orang itu menolong Bambang mengangkat tabung, memegang ujung besi dan sebagainya. Kalau Felini bosan melukis siang-siang dan bosan juga melihat gerak-gerik Bambang dalam proses kreatifnya yang membawanya entah ke mana, ke finishing-touch yang bagaimana, dan yang menghasilkan apa, maka ia menyuruh Kurnain mengambil jaring tidur lalu mengikatkan masing-masing ujungnya ke pohon sukun dan nangka lalu tidurlah ia di bawah naungan kelapa, bambu, sukun dan nangka itu (h. 35).
Peran lain adalah giring-giring, suatu MacGuffin (properti penggerak alur) yang lebih metaforis daripada fungsional meski tetap difungsikan—tentu pengamatannya perlu karena menjadi judul.
“Saya minta saudara-saudara pergi. Saya mau melukis: Jangan buang-buang waktu!” katanya dengan keras secara tiba-tiba.
“Saya minta saudara-saudara pergi. Saya mau melukis: Jangan buang-buang waktu!” katanya dengan
keras secara tiba-tiba.
Mendengar itu Bambang dan Kurnain bangun lalu berjalan meninggalkan paviliun itu. Keduanya tersenyum-senyum sambil jalan.
“Sialan!” kata Bambang. “Sudah jadi seniman, kok masih menjadi budak waktu. Waktu adalah uang,” gerutu Bambang. “Kasar sekali jiwa Eropah itu. Pergi, saya mau melukis!” sambung Bambang mengulangi ucapan pelukis itu.
Besoknya Bambang mengajak Kurnain ke luar rumah. Keduanya menuju toko untuk berbelanja ikan asin, dendeng dan telur. Sehabis membeli keperluan makanan, Kurnain diajak oleh Bambang menuju sebuah toko yang menjual alat-alat dokar.
Kurnain jadi agak heran melihat Bambang memegang serangkaian giring-giring dokar. Kemudian dia sadar bahwa Bambang adalah seorang seniman. la sadar bahwa Bambang lagi kreatif. Kurnain mengatakan kepada dirinya bahwa ia sudah harus mulai belajar. Dia kepingin mengetahui bagaimana jadinya dengan giring-giring itu. Giring-giring itu dibeli oleh Bambang.
Dari toko alat-alat dokar ia mengajak Kurnain ke toko lainnya yang menjual tabung yang diperguna-
kan untuk mengelas. Melihat Bambang menawar tabung itu, Kurnain jadi lebih heran lagi. Tapi dengan demikian ia sudah menjadi seorang murid yang baik, karena seluruh perhatiannya tertuju pada tingkah laku dan pekerjaan gurunya (h. 33).
Lantas masuk peran Pelacur Botak (mengingatkan judul lakon “Biduanita Botak”/”La Cantatrice chauve”, antidrama Ionesco, 1950).
…………………………………………………………………………………………………..
“Turisme membuat wanita Bali menjadi serangga,” kata Felini. “Sebaiknya dibuka saja,” anjur Felini.
“Ya, seperti saya sudah bilang, Anda lebih kelihatan sexy tanpa rambut begitu. Kemudian hari mode di seluruh dunia adalah botak,” kata Bambang, kemudian ia mengulang dengan keras. “Kepala Botak akan menjadi mode di seluruh dunia!”
“Ya, betul, Bambang!” teriak Felini. “Ini suatu penemuan kita malam ini! Saya akan jadikan ia model.”
“Saya juga. Tapi ini ide saya, bukan?” kata Bambang. “Kurnain yang menyaksikan bahwa ide ini betul timbul dari benak dan lidah saya.”
“Ya, tapi kalau tidak ada si cantik ini, maka tidak ada ide itu. Jadi dari mana ide itu datang?” tanya Felini menatap Bambang.
“Ya, saya tahu, tidak ada yang mutlak. Tidak mutlak ide itu datang tapa adik yang botak ini, tetapi sayalah yang melukisnya nanti,” kata Bambang.
“Dan bukan saudara sendiri yang bisa melukis kan?”‘ kata Felini.
“Saya juga mau melukis, ah!”
“Saya ini mau dipakai oleh saudara-saudara atau mau dilukis?” tanya wanita itu.
“Kalau dilukis saya nggak mau, ah!” kata wanita itu lalu berdiri. “Dipakai sebagai model. Bayarannya lebih besar dari pada kalau anda dipakai seperti biasa, seperti baju atau sepeda motor,” kata Kurnain.
“Duduk dulu,” kata pelukis Italia itu.
“Begini, saya kira jalan keluarnya begini. Saya perlu tahu kenapa Anda jadi botak begitu, tanya Felini. Matanya mengarah pada wanita itu. “Orang yang membikin botak itulah yang mempunyai andil dalam inspirasi seni ini.
“Bandit-bandit Kuta, anak-anak muda rambut gondrong dari pantai Kuta. Penganggur tengik itu. Benci!” kata wanita itu lalu mengambil rokok dan mengisapnya dalam-dalam.
Bambang, Kurnain dan Felini diam memandangnya.
“Bagus betul!” kata Felini. “Tapi saudara adalah bulan yang menggelinding di atas pohon-pohon kelapa, yang jatuh ke cermin sawah …… Saya harus berusaha. Saya bisa memeluk saudari dengan seluruh kreativitas saya!” kata-kata Felini mulai menghambur gila.
“Saya ini wanita yang jatuh ke lumpur. Bodoh amat. Pokoknya, saya cari makan untuk anak saya yang kehilangan bapak ketika Gunung Agung Meletus. Orang boleh ngomong segala macam, tapi mereka tak memberi makan pada saya dan anak saya!”
“Adik tidak jatuh ke lumpur. Adik jatuh ke cermin sawah. Kepala Adik adalah bulan purnama yang bercermin di petak-petak sawah berair di waktu malam. Adik jatuh ke cermin keindahan,” kata Bambang.
“Ah! Saya kenal bahwa bapak-bapak ini adalah pelukis. Bangsanya seniman itu. Saya juga punya darah seni. Saya bisa menari Bali. Dulu saya menari, tapi sekali menari saya dapat dua ratus perak saja. Lebih baik menari ranjang!”
“Tidak boleh, mulai sekarang. Mulai sekarang, mulai malam ini saya melamar saudari di depan Bambang dan Kurnain. Saya mau menjadikan saudari istri saya. Saya mau tinggal di Bali untuk melukis, seperti orang Barat lain yang kawin orang Bali,” kata Felini.
Mendengar kata-kata itu, Bambang dan Kurnain tidak percaya. Pelacur botak itu lebih tidak percaya lagi, kecuali Felini, yang sadar akan kerinduannya menemukan seorang putri jelita dari salah satu pulau di negeri kepulauan Indonesia dan pulau itu adalah Pulau Bali. Felini adalah seorang seniman pengembara. Ia sadar bahwa setiap orang di kulit planit bumi ini sama. Setiap detik merindukan suatu pengertian yang jelas: mengerti manusia, mengerti kehidupan ini. Tetapi mana bisa, mana bisa pengertian terhadap kehidupan ini memenuhi kerinduannya? Mesti ada segi-segi yang sangat gelap tertutup, segi-segi kehidupan yang tidak dimengerti. Tapi bagaimana pun ia harus hidup dalam kondisi itu. Ia harus memelihara segi-segi gelap itu. Kepelacuran dalam diri wanita itu menghasilkan kepala yang botak dan licin dan karena itu ia sexy. Jika Felini memelihara segi ini dalam imaginasinya maka lihatlah, ia tumbuh berkembang-kembang entah ke mana, mula-mula kepada polisi yang merazzia mereka atas nama pariwisata kebudayaan di Bali, atas nama baik bangsa dan ‘kegiatan’ polisi yang dipuji oleh pers dan kaum yang tak senang dengan pelacuran, tetapi di satu pihak kita membutuhkan bagi turis-turis yang celakanya begitu turun dari pesawat, sudah bertanya tentang perempuan pribumi. Anak-anak berandal itu menghasilkan seekor serangga botak dan begitu dilihat oleh seorang pelukis maka ia mengasosiasikan dengan bulan menggelinding di atas pohon kelapa, lalu jatuh di cermin sawah. Memang semuanya susah dimengerti dan hanya bisa dilukis dengan seluruh kreativitas yang ada padanya. Pelacur botak, atau wanita bangsawan, semuanya adalah giring-giring. Dan karena pelacur botak itu lebih dulu datang kepadanya sebagai bulan yang menggelinding, maka dialah yang dipilih.
Bagi Kurnain yang telah dikocok-kocok oleh kebuasan dunia di kala Lebaran itu, kemudian ditolong oleh tentara yang mengusir pentung dengan dor-dor pestol, yang kena pukul karena sedan Tionghoa dan ditolong lagi oleh dokter tentara yang juga Tionghoa itu, yang hampir mati tetapi selamat sampai kini, dunia ini adalah dunia. Kini, setiap malam ia menemui surga dalam lingkungan pelukis Italia dan Indonesia itu. Sebenarnya kalau ia memikirkan dalam-dalam tentang nasibnya, maka ia sudah lama gila. Tapi ia masih hidup dan menerima irama hidup ini sebagai warna lukisan (h. 55-8).
***

Gerson Poyk (1931-2017)
Sependek ini terlacak alur tanpa konflik dramatik, dan bahkan nyaris tanpa perbedaan karakter, yang sebetulnya merupakan kewajaran realisme, antara ketiga peran, Kurnain, Bambang, dan Felini. Ketiganya, dalam pembelajaran menjadi pelukis, digambarkan lebih karikatural ketimbang realis, dengan adegan dan terutama cakapan superlatif, yang serba lucu meski topiknya jelas serius.
Cakapan dan perilaku ketiga peran, sebagai tiga lingkar konsentris, menjadi representasi gagasan-gagasan berkesenian, yang di satu pihak seperti perjuangan ideologi, di pihak lain dapat dilihat sebagai parodi bagi perjuangan itu, dalam arti menertawakan diri sendiri. Posisi itu berpengaruh kepada fungsi giring-giring yang bahkan menjadi judul; apakah memang berdaya gaib dalam penggambarannya yang misterius, ataukah penggambaran itu menjadi parodi bagi romantisme keterasingan seni modern pada 1980-an. Sampai di sini, parodi berada di ambang ironi.
Lantas apa maknanya pelacur botak? Dengan asal-usul riwayatnya: penggundulan massal para kupu-kupu malam, setelah razia berkali-kali sebelumnya yang—tentu saja—tiada mampu membasmi turisme seks (sex tourism); menjadikan Giring-Giring bukanlah seni konseptual yang mengandalkan kontra-konvensi tematis sahaja—yang betapapun karikatural, sungguh nyata.
Giring-giring itu berbunyi sebagai suatu metafor, mengiringi parados atawa pawai sirkus kehidupan manusia, dengan tampilan masing-masing yang serba kocak, dalam derita berkepanjangan tak terucapkan …
Pondok Ranji,
Rabu, 25 Maret 2026. 12:30.
—–
*SENO GUMIRA AJIDARMA, partikelir di Jakarta.




