Aku Ora Rumongso Diduweni: Taman Gandrung Terakota, Penipuan Royalti, dan Perlawanan Sunyi Seorang Maestro

Oleh : Elvin Anderson*

Sore itu, 11 April 2026, angin dari kaki Gunung Ijen membawa dingin yang menusuk namun anehnya menghangatkan dada. Saya duduk di bangku amphitheater Taman Patung Terakota, Kecamatan Licin, Banyuwangi. Di hadapan saya, ribuan patung tanah liat berdiri bisu. Tapi saya menangkap mereka tidak bisu. Mereka menari.

Gambar 1 Pemberian materi dari ibu Temu Misti dan Bapak Haedi, sumber : Utami Atasia

Di depan, seorang perempuan tua berusia 73 tahun, tubuhnya sudah ringkih tetapi matanya masih menyala, duduk di atas kursi berhadapan dengan kami mahasiswa yang sedang melakukan studi eksekursi kesana. Itulah Ibu Temu Misti, seorang maestro gandrung terakhir dari generasi emas, yang oleh masyarakat Osing disebut mak Muk. Di sampingnya, Mas Haedi Bing Slamet, seniman kendang yang menyebut dirinya “lulusan panggung demi panggung”.

            Sebagai seorang penari, tubuh saya bergidik. Bukan karena dingin. Tapi karena untuk pertama kalinya saya merasakan sebuah taman wisata bukan sekadar tempat foto. Dia adalah ruang yang bernapas. Ia adalah panggung yang tidak pernah usai.

            Dalam artikel ilmiah yang ditulis Dwi Ratna Nurhajarini (2015), ibu Temu digambarkan sebagai perempuan desa yang tidak tamat sekolah dasar, tetapi memiliki suara melengking tinggi dengan cengkok Using yang khas. Ia mulai menari pada usia 15 tahun, dan hingga usia 73 tahun (lebih dari setengah abad), dia masih menyebut dirinya gandrung. Dalam bahasa Osing, gandrung berarti jatuh cinta habis-habisan, tergila-gila. Dan ibu Temu memang tergila-gila pada tariannya. Tetapi yang menarik bagi saya, sebagai penari, bukan hanya kegigihan ibu Temu. Melainkan bagaimana tubuh seorang penari perempuan bisa menjadi saksi sejarah, sekaligus korban sejarah. Dari catatan seminar saya, Temu bercerita dengan suara lirih namun tegas bahwa suaranya pernah direkam oleh orang Amerika, wawancaranya diekspor ke luar negeri, albumnya beredar dengan judul Songs Before Dawn. Tapi dia tidak pernah mendapatkan royalti. Ia tidak tahu bahwa suaranya yang melengking itu, yang lahir dari pupuh (gurah) dengan ramuan kunyit dan bawang putih, telah menjadi komoditas yang diperdagangkan tanpa sepengetahuannya.

Aku ra rumongso diduweni,” katanya. “Aku ora rumongso dadi hak milik sapa-sapa.” (Saya tidak merasa dimiliki. Saya tidak merasa menjadi milik siapa pun.). Tapi justru di situlah letak ironinya. Tubuh dan suaranya memang tidak dimiliki siapa pun (kecuali oleh dirinya sendiri). Tapi hasil rekamannya, ceritanya, tradisinya, telah diambil tanpa izin. Ini bukan sekedar soal uang. Ini soal martabat seorang maestro.

            Taman Patung Terakota Penari Gandrung diresmikan pada 22 September 2018. Menurut Sigit Pramono, penggagasnya, taman ini terinspirasi dari Terracotta Warriors di Tiongkok. Tapi ada perbedaan mendasar, jika prajurit terakota Qin Shi Huang dibuat untuk menemani kaisar di alam baka, maka penari gandrung terakota di Banyuwangi dibuat untuk merawat dan meruwat, dua kata yang diucapkan Mas Haedi sore itu dengan penuh keyakinan. Rawat berarti menjaga. Ruwat berarti membebaskan dari sial, membersihkan dari kutukan. Maka Taman Gandrung Terakota adalah situs “rawat ruwat”: merawat agar gandrung tidak mati, meruwat agar gandrung tidak disalahgunakan.

            Menurut Bintoro dkk. (2022), patung-patung ini dibuat dengan teknik cetak dari tanah liat, dibakar pada suhu di bawah 1000 derajat Celcius, dan sengaja dibuat ringkih (rapuh). “Watak ringkih justru menyadarkan kita semua bahwa tidak ada yang abadi dalam kehidupan ini. Dari tanah kembali ke tanah.”. Bagi saya, 1.000 patung itu bukan sekadar ornamen. Mereka adalah generasi. Mereka adalah para penari yang bisa jadi belum lahir, yang sedang belajar, yang suatu hari akan menggantikan Temu. Dalam setiap gerakan yang diabadikan (jejer (penghormatan), ngepren (interaksi sosial), seblang subuh (perpisahan di batas fajar)), saya melihat tubuh-tubuh masa depan yang akan terus menari, meski suatu hari patung-patung itu retak dan kembali menjadi tanah.

Gambar 2 ibu Temu melakukan tembang, sumber: Utami Atasia

Ibu Temu sendiri, seperti tertulis dalam biografinya (Nurhajarini, 2015), mendirikan sanggar “Sopo Nigiro” yang memiliki arti Siapa yang Menyangka. Di sanggar itulah ia melatih murid-muridnya, bahkan ada pengalaman dimana beliau rela membayar ojek agar mereka mau datang. Ia tidak pernah memungut biaya. Ia hanya ingin ada yang menggantikannya. Tapi hingga kini, belum ada satu pun penari yang mewarisi kemampuannya secara utuh untuk menari, nembang, ngopak (melakukan kritik sosial lewat wangsalan), sekaligus menjaga spiritualitas ampet-ampet (menahan buang air semalam suntuk) dan puasa neptu 40.

            Saya adalah penari. Bukan penari gandrung, tetapi tubuh saya mencoba memahami tubuh ibu Temu. Ketika ibu Temu bercerita tentang paju (bagian tengah pertunjukan di mana penari harus melayani tamu yang ikut menari, kadang disenggol, dicolek, bahkan dicium), tubuh saya menegang. Ibu Temu bilang: “Gandrung kudu bisa jaga diri, asale ana pemaju nakal, tha gandrung gak isa marah kan tujuane menghibur.” (Gandrung harus bisa menjaga diri. Kalau ada tamu nakal, gandrung tidak boleh marah karena tujuannya menghibur). Sebagai laki-laki, saya berempati melihat beratnya tuntutan itu. Di atas panggung, seorang penari perempuan tidak boleh marah. Wajah harus tetap tersenyum. Gerakan harus tetap indah. Padahal di dalam tubuh, ada amarah yang tertahan.

            Pengalaman ibu Temu mengajarkan saya sesuatu yang lain. Ia punya cara. Tatapan matanya tidak pernah lepas dari pemaju. Kakinya bergerak cepat dengan langkah pendek-pendek. Tangannya selalu di dekat wajah, siap menangkis. Dan yang paling hebat, dia menggunakan wangsalan (pantun sindiran khas Osing) untuk menegur tanpa menyakiti.

            “Yen wangsalan iku bisa kanggo nyindir, menghormat wong liya,” katanya. (Wangsalan itu bisa untuk menyindir sekaligus menghormati orang lain.)

            Ucapan ibu Temu membuat saya merenungi bahwa tubuh penari perempuan bukanlah tubuh yang pasif. Ia bisa berbicara. Ia bisa menolak. Ia bisa berkata “tidak” dengan cara yang indah. Di Taman Gandrung Terakota, saya merasa ada ruang yang benar-benar diberikan untuk perempuan penari. 1.000 patung itu semuanya perempuan. Mereka tidak diam. Mereka menari. Mereka mengingatkan saya bahwa tarian ini lahir dari rahim Blambangan, dari perlawanan terhadap kolonial, dan dari tubuh-tembuh perempuan yang tidak pernah menyerah.

            Kami juga diberikan kelas yang membahas “Peran Budaya Osing dalam Mendukung Wisata Berbasis Komunitas”. Dan saya menyadari bahwa Taman Gandrung Terakota bukanlah taman wisata biasa. jika biasanya, taman wisata dibangun untuk abadi dengan menggunakan beton, baja, granit. Tapi taman ini sengaja dibangun dari tanah liat yang rapuh. Ia mengajarkan bahwa wisata tidak harus megah, ia bisa sederhana, ia bisa fana. Retaknya patung bukanlah kegagalan. Ia adalah bagian dari siklus dari tanah kembali ke tanah, lalu dibentuk lagi.

            Mas Haedi mengatakan: “Dunia iki panggung sandiwara.” (Dunia ini panggung sandiwara.). Maka Taman Gandrung adalah panggung di mana tanah liat menjadi aktor, angin menjadi penonton, dan kita semua (para pengunjung) menjadi saksi dari sebuah ritual yang tak pernah berhenti, suatu ritual yang disebut ritual merawat dan meruwat.

            Dalam artikel Bintoro dkk. (2022), disebutkan bahwa patung-patung itu ditata dalam tiga formasi: membentuk huruf T, melingkar, dan vertikal. Saya membaca itu sebagai metafora: T untuk Temu, melingkar untuk kebersamaan, vertikal untuk hubungan antara manusia dan Yang Kuasa. Mungkin tidak ada yang kebetulan di taman ini. Semua mungkin dirancang untuk berbicara. Taman ini mungkin belum sepenuhnya dikelola dengan semangat komunitas, aksesibilitas juga masih terbatas, dan yang paling penting bahwa cerita ibu Temu tentang penipuan royalti harus menjadi pelajaran bahwa ketika kita mengelola wisata budaya, kita tidak boleh melupakan subjek budaya itu sendiri.

            Sore itu beranjak maghrib. Ibu Temu beranjak dari tempat duduknya. Dengan susah payah, ia berdiri. Tubuhnya gemetar. Tapi kemudian ia mengangkat kedua tangannya (posisi jejer) dan kemudian tersenyum.

            Seorang teman sekelas kemudian bertanya: “Bu Temu, sampai kapan ibu mau terus menari?

            Ibu Temu menjawab singkat, seperti yang tertulis dalam biografinya: “Isun sampek tuwek tetep dadi gandrung. Tangan, sikil, badan heng isa diobahke. Wong isun golek pangan, ora ngganggu liyan.” (Saya sampai tua tetap jadi gandrung. Tangan, kaki, badan masih bisa digerakkan. Saya cari makan, tidak mengganggu orang lain.)

            Dan bagi saya, jawaban itu cukup.

            Karena gandrung bukanlah profesi. Gandrung mungkin adalah cara bu Temu untuk mengatakan: aku masih hidup, aku masih mencintai, dan aku tidak akan pernah berhenti.

            Maka ketika saya pulang ke Yogyakarta, tubuh saya masih membawa dingin Banyuwangi. Dan di dalam dada, ada 1.000 patung yang terus menari, menanti regenerasi, menanti seseorang (mungkin saya, mungkin Anda, mungkin generasi yang belum lahir) untuk berdiri di posisi jejer, mengangkat kedua tangan, dan berkata:

“Aku siap. Aku akan menjaga. Aku akan meruwat.”

Daftar Pustaka

  • Bintoro, Y.P., Sudita, I.K., & Ardana, I.G.N.S. (2022). Taman Patung Terakota Penari Gandrung di Banyuwangi Jawa Timur. Jurnal Pendidikan Seni Rupa Undiksha, 12(3), 220-233.
  • Nurhajarini, D.R. (2015). Temu: Maestro Gandrung dari Desa Kemiren Banyuwangi. Patrawidya, 16(4), 447-464.
  • Catatan arsip pribadi seminar “Learn from the Legend” di Amphitheater Taman Gandrung Terakota, Banyuwangi, 11 April 2026.

 

*Elvin Anderson – Mahasiswa Program Pascasarjana Seni ISI Yogyakarta Jurusan Tata Kelola Seni