Wayang Godong di Tengah Seni Kontemporer Global
Oleh Esperanca Vitoria Smith Cunha*

Wayang Godhong, Agus Purwantoro – Gus Pur
Di tengah gemuruh seni kontemporer global, aku terpukau oleh sosok Agus Purwantoro, atau yang dikenal dengan Gus Pur, seorang visioner dari Magelang. Pengalamannya bukan sekadar menciptakan, melainkan sebuah “perjuangan jiwa” yang mendalam. Ia, seorang seniman sekaligus akademisi, telah mendedikasikan dirinya untuk menghidupkan Wayang Godong. Kesenian ini lahir dari perpaduan otentik antara kearifan lokal yang kaya, kesadaran lingkungan yang membara, dan pencarian spiritualitas yang tak pernah padam. Melalui tangannya, helai daun menjadi medium transformasi, menawarkan sebuah narasi personal tentang bagaimana kita bisa terhubung kembali dengan alam semesta dan Sang Pencipta, sebuah pesan yang sangat kuat di zaman modern ini.
Dalam diskursus seni kontemporer global, Wayang Godong menawarkan proposisi nilai yang melampaui sekadar pertunjukan visual karena ia merupakan sebuah perjalanan intelektual dan sosial. Di tengah modernitas yang sering kali memisahkan manusia dari lingkungan dan aspek transenden, kesenian ini berupaya menghubungkan kembali manusia dengan penciptanya melalui perantara alam semesta. Dengan mengintegrasikan isu ekologis dan spiritualitas ke dalam bentuk seni tradisional yang dinamis, Wayang Godong memposisikan diri sebagai bentuk ekspresi budaya yang relevan dalam menjawab tantangan krisis koneksi spiritual dan lingkungan di kancah dunia.
SENSASI MENIKMATI WAYANG GODONG
Menikmati pertunjukan Wayang Godhong adalah sebuah pengalaman sensorik dan batiniah yang mengajak penonton untuk hidup selaras dengan alam. Sensasi utama yang dirasakan audiens adalah suasana pertunjukan yang sarat makna, di mana hiburan tidak lagi berdiri sendiri, melainkan berkelindan dengan proses perenungan. Penonton tidak hanya diposisikan sebagai objek yang menonton, tetapi juga subjek yang “tercerna” secara batiniah melalui pesan-pesan yang disampaikan.
Secara emosional, penonton akan merasakan resonansi dari filosofi “Godong” atau daun. Kata ini bukan sekadar merujuk pada material fisik, melainkan beresonansi dengan istilah Jawa “cadong” atau “nyadong”, dalam tradisi jawa, yang berarti sikap menengadah untuk memohon atau berdoa kepada Sang Pencipta. Saat menyaksikan dedaunan yang digerakkan oleh angin atau tangan sang dalang, muncul sensasi spiritual seolah-olah alam semesta sedang melakukan Dzikrullah atau berzikir. Filosofi ini mengajarkan manusia untuk selalu bersyukur dan menjaga hubungan vertikal dengan Tuhan.
Selain itu, ada sensasi kedekatan yang unik karena tokoh-tokoh yang ditampilkan sering kali merepresentasikan rakyat kecil dan kehidupan sehari-hari. Dengan ukuran tokoh yang sengaja dibuat kecil, penonton diajak untuk melihat refleksi diri mereka sendiri dalam narasi yang komunikatif dan mudah dipahami. Pertunjukan ini berfungsi sebagai media dialog yang membuka ruang diskusi tentang isu-isu sosial dan lingkungan, sehingga penonton merasa terlibat dalam sebuah dialektika budaya yang relevan.
Pengalaman menonton Wayang Godhong juga sangat dipengaruhi oleh kesiapan mental dan spiritual sang dalang. Gus Pur sangat menekankan pentingnya menjaga “rasa” dan semangat agar wejangan yang diberikan tidak terasa membosankan. Bahkan, persiapan pementasan sering kali melibatkan simbolisme tertentu, seperti penyediaan daun sirih, yang menambah kekentalan nuansa tradisional di tengah narasi yang modern. Secara keseluruhan, sensasi menyaksikan Wayang Godhong adalah sebuah perjalanan intelektual, spiritual, dan sosial yang bertujuan menumbuhkan kesadaran kolektif untuk menghargai kehidupan dan menjaga keseimbangan jagad raya.
BUDAYA VISUAL WAYANG GODONG
Secara visual, Wayang Godong menampilkan estetika yang sangat distingtif dan berbeda dari wayang kulit purwa atau wayang golek pada umumnya. Budaya visual yang diusung oleh Gus Pur berakar pada penggunaan dedaunan alami sebagai material utama, khususnya daun cengkeh dan daun kopi yang telah mengering. Pemilihan bahan organik ini bukan tanpa alasan; ia mempertegas hubungan erat antara kesenian ini dengan lingkungan sekitar desa Salaman, Magelang, yang berbatasan dengan Bukit Menoreh. Tekstur alami dari dedaunan kering memberikan karateristik visual yang eksotis sekaligus rapuh, melambangkan kefanaan alam.
Untuk menyeimbangkan kerentanan material alami tersebut, Gus Pur melakukan inovasi dengan mencampurkan material fiber. Penggunaan fiber ini bertujuan memberikan struktur yang kokoh serta tampilan estetika yang lebih “seksi” atau menarik secara visual. Dengan dukungan teknik ini, setiap figur wayang dapat diukir dan dilukis dengan detail yang presisi. Kemampuan Gus Pur sebagai seorang pelukis sangat terlihat dalam setiap properti pementasan, di mana ia memastikan setiap karya memiliki nilai seni tinggi yang dapat diapresiasi sebagai objek seni kontemporer maupun instrumen pertunjukan.
Secara simbolis, ukuran tokoh yang kecil menjadi ciri visual yang dominan. Ukuran ini mencerminkan filosofi merendahkan diri dan keberpihakan pada rakyat jelata. Figurasi yang nyata diperlukan agar media dialektika ini tetap komunikatif. Selain tokoh manusia, dedaunan itu sendiri kerap diposisikan sebagai karakter aktif di atas panggung, menciptakan visualisasi di mana alam memiliki “suara” dan peran dalam narasi kehidupan, yang menambah kekayaan visual dan simbolisme dalam narasi.
Instrumen visual paling sakral dalam pertunjukan ini adalah Gunungan, yang dalam konteks Wayang Godhong menjadi simbol jagad raya atau alam semesta. Gunungan ini melambangkan konsep Kawitan, yaitu asal-usul atau awal mula kehidupan. Melalui visualisasi Gunungan dan integrasi tafsir ayat-ayat suci, penonton diingatkan secara visual dan auditori untuk kembali “membumi” dan menyadari posisi mereka dalam tatanan alam ciptaan Tuhan. Harmoni antara daun alami dan sentuhan artistik fiber menciptakan bahasa visual yang kuat, membuktikan bahwa inovasi estetika dapat memperkuat pesan filosofis.
UNSUR KONTEMPORER DALAM WAYANG GODONG
Wayang Godhong berdiri kokoh sebagai entitas seni kontemporer karena ia lahir dari proses riset akademik yang mendalam dan bukan sekadar warisan tradisi yang stagnan. Kemunculannya pada sekitar tahun 2010 berakar dari penelitian disertasi doktoral Gus Pur mengenai isu kontroversial daun tembakau. Transformasi dari tanggung jawab akademik menjadi instrumen seni ini menunjukkan bahwa Wayang Godhong memiliki basis intelektual yang kuat, sebuah ciri khas dari praktik seni kontemporer global yang sering kali berbasis riset.
Unsur kontemporer yang paling mencolok terletak pada pergeseran narasinya. Jika wayang tradisional umumnya berfokus pada epos klasik seperti Mahabarata atau Ramayana, Wayang Godong justru mengangkat tema-tema pelestarian ekologis dan kesadaran lingkungan sebagai ciri pembeda utamanya dan isu sosial masa kini. Pertunjukan ini berfungsi sebagai media dakwah transformatif melalui konsep “Ngidak Sawah” (menginjak sawah), sebuah pelesetan dari kata dakwah yang mencerminkan aksi nyata seniman dalam merawat tradisi dan memberikan pendampingan sosial di desa-desa. Ini menunjukkan bahwa seni tidak lagi berdiam di menara gading, melainkan turun langsung ke lapangan untuk merespons realitas zaman.
Selain itu, pendekatan regenerasi yang dilakukan Gus Pur juga bersifat terencana dan modern. Ia tidak hanya mengandalkan intuisi, tetapi mendorong anak-anaknya untuk menempuh pendidikan formal di bidang pedalangan guna memastikan keberlangsungan kesenian ini di masa depan. Cara Gus Pur mendidik yang menyesuaikan dengan karakter masing-masing individu juga menunjukkan sikap yang adaptif dan bijaksana, memisahkan antara konsep yang matang dengan eksekusi yang spontan namun terarah.
Kehadiran Wayang Godong sebagai sebuah gerakan budaya membuktikan bahwa seni kontemporer dapat menjadi sarana pencerahan yang efektif. Dengan mengintegrasikan tafsir ayat-ayat suci sebagai penguat pesan moral, Gus Pur menciptakan harmoni antara nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan dalam konteks kekinian. Dengan menggabungkan seni, filosofi, dan nilai spiritual dalam kesatuan yang harmonis, Wayang Godhong berhasil membuktikan diri sebagai sebuah karya luar biasa yang mencerahkan dan menggugah kesadaran kolektif manusia di era global.
Kesimpulan dari penulis
Wayang Godong hadir sebagai sebuah anomali yang memikat dalam kancah seni kontemporer, namun ia sekaligus memikul beban paradoks yang tajam antara filosofi dan eksekusi. Di satu sisi, penggunaan material daun kering sebagai simbol “cadong” atau sikap menengadah memohon kepada Sang Pencipta adalah pernyataan spiritual yang sangat jujur mengenai kefanaan alam, Namun, keputusan untuk menyuntikkan material fiber demi mencapai estetika yang lebih “seksi” dan struktur yang kokoh menciptakan sebuah tegangan visual; mungkinkah upaya mempercantik secara artifisial ini justru berisiko mengaburkan pesan orisinal tentang kerapuhan alam yang ingin disampaikan. Selain itu, meskipun narasi visualnya menggunakan tokoh-tokoh kecil untuk merepresentasikan keberpihakan pada rakyat jelata, akar intelektualnya yang lahir dari riset akademik disertasi doktoral menciptakan jarak yang berisiko menjebak kesenian ini dalam menara gading intelektualisme, meskipun ia berupaya “membumi” melalui gerakan “Ngidak Sawah”,
Keberanian untuk meninggalkan pakem epos klasik seperti Mahabarata demi isu ekologi dan dakwah sosial adalah langkah revolusioner yang patut diapresiasi, namun sekaligus merupakan sebuah pertaruhan naratif yang besar. Keberhasilan Wayang Godong sebagai media pencerahan sangat bergantung pada subjektivitas “rasa” dan kesiapan mental sang dalang agar pesan-pesan moral yang disampaikan tidak terjebak menjadi wejangan yang membosankan atau terlalu didaktis bagi penonton modern. Meskipun proses regenerasi telah direncanakan secara modern melalui pendidikan formal, tantangan terbesarnya tetaplah menjaga agar “suara” alam yang dihadirkan melalui dedaunan tetap memiliki ruh spiritual yang murni,. Pada akhirnya, Wayang Godong harus berjuang keras agar identitasnya tidak sekadar berakhir sebagai komoditas visual eksotis di panggung global, melainkan benar-benar menjadi dialektika budaya yang mampu mengubah kesadaran kolektif manusia terhadap lingkungannya.
—–
*Esperanca Vitoria Smith Cunha, Mahasiswa Program Pascasarjana ISI Yogyakarta.




