Puisi-puisi D. Zawawi Imron
PUISI KENTUT
Di antara anggapan yang paling tak bunga
Di antara sangkaan yang paling sampah
Ialah merasa
Kentutku lebih harum dari pada kentut orang lain
PUISI ORANG
Orang itu mengeluh di media sosial
Karena gajinya tak cukup untuk dimakan
Lalu langit disalahkan
Bahwa air tak becus menjadi hujan
Bahwa gunung tak pantas berselimut hutan
Orang itu menjumpaiku
Di tepi laut yang dangkal
Dengan tatapan mencurigakan
Kuucapkan padanya
Bahwa ia terlambat datang
Ia didahului para pelaut
Yang saat layar perahunya sobek
Mereka tidak merasa panik
Jiwa mereka jelita bercakap dengan alam
TELAGA FITRAH
Hendak ke mana bulan merayap siang ini?
Ini siang hari, saatnya banyak cangkul menari
Kemudian siapa yang terpuji
Bulan putih atau langkah kaki petani?
Kita sudah bosan saling mencari kesalahan
Siang dan malam masing-masing punya peran
Punya senyum yang sama-sama dirindukan
Karena bertengkar tak menyelesaikan salah paham
Lalu apa yang terpuji
saat alam mau jadi ladang perkelahian?
Sebaiknya mundur selangkah
Untuk kembali mandi di telaga fitrah
Tempat semua anaknya Ibu
Menyemai kasih sayang
SANG PEMANJAT
Pemanjat itu naik ke atas pohon siwalan
Untuk menyadap kucuran nira
Yang manisnya olahan Tuhan
Pemanjat itu membuktikan sial
Seakan melapor pada ufuk barat yang merah
Dari atas pohon
Alam terhampar
Dengan kaligrafi bertulis Allahu Akbar
Di atas pohon terasa
Kedalaman sujud
Karena itu ia memanjat
Untuk kenal indahnya hidup
Pemanjat itu turun membawa anugrah Tuhan
Nira yang manis
Anak dan istri melengkapi manisnya kebahagiaan
PUISI TANPA GIGI
Sepiring nasi
Mungkin lebih berguna
daripada seribu disertasi
Yang majal tanpa gigi
PUISI KALAU
Kalau kamu punya uang sepuluh ribu rupiah
Kamu belikan sebungkus nasi
Lalu kamu berikan pada orang miskin yang lapar
Uang itu di akhirat nanti
Akan menjadi umbul-umbul sutra
Yang menjemputmu di pintu sorga
Kalau kamu punya uang limabelas ribu rupiah
Lalu kamu belikan sepiring soto
Dan kamu makan sendiri
Besoknya soto itu akan jadi isi WC
BUNGA DAN WANGI
Bunga mawar bunga melati
Merah dan putih
Mengajar senyum kemerdekaan
Bahwa cinta bangsa dan tanah air
Adalah sebagian dari Iman
Bahwa terhamparnya tanah jadi sajadah
Karena darah dan keikhlasan para Pahlawan
Kembang kenanga dan kembang gading
Mengajar rasa kasih dan sayang
Aku minum dari rekah senyummu
Kamu minum dari senyumku
Aku anak ibuku
Kamu anak ibumu
Kalau aku menyakitimu,
lenyaplah kata Merdeka
dari dalam hatiku
Itu artinya
Aku memang lahir dari rahim ibuku
Tapi ibuku akan berkata, sebenarnya
Aku anak serigala
Itulah kenapa Tuhan mencipta aneka bunga
Agar aku dan kamu mengerti
hakikat Wangi.
PANCASILA DALAM SECANGKIR KOPI
Dari kopi pahit kita belajar kemurnian cinta
Padahal tak ada kemurnian
Kalau kita tidak mencari sumbernya kasih
Sedangkan fakta untuk membuktikan
Di luar yang ada jelas ada yang lebih dari tanda
Kenyataan wujud yang memandu kita bersujud
Dari sini kita memahami bangsa
Sedangkan kopi bukan terlanjur diciptakan
Tapi memang untuk melengkapi yang tidak ada
Melengkapi denyut nadi dan bibir yang harus basah
Suara tanah air dalam tubuh
Irene yang menyeduh bubuk kopi itu
Untuk menjadi cairan yang memulai aksara
Kalau aku Bhinneka
Engkaulah Tunggal Ika
Melangkahlah
Untuk jejak yang lebih mulia
Sehingga jelas
Tidur hanya gatra pengukur
Selebihnya keringat yang harus bicara
Dan gula
Tak harus ada
Tapi makna dan nilai
Adalah taruhan nyawa
Untuk itu kita bercinta
Tak sekedar mengekarkan raga
BURUH
Belajar pada buruh
Yang pulang membawa letih
Ke rumah yang dipinjamnya
kepada Tuhan
Tidur lelap
Melepas seluruh beban
Sayangnya si buruh tak merasa
Bahwa ia bermimpi
Sambil tersenyum
Tapi itulah Sang Buruh
Guruku menulis puisi
GERGAJI
Mungkin tak ada yang lebih monoton
Dari pada kerja gergaji
Yang maju mundur tak pernah bosan
Kadang kurasa
Pada seruas umurku
Aku jadi gergaji
yang memotong segala
yang kumau
Aku tersinggung
Siapa yang bikin gigiku tumpul?
Hingga aku letih bekerja
Dan aku tak berdaya
Ketika para malaikat menertawakan capekku
Aku tersenyum
Sambil menteskan airmata
MERDEKA
Betapa senangnya menjadi ketupat
Yang dimakan orang bersama kare ayam
Pada hari lebaran
Membuat orang kenyang
Membikin orang senang
Tapi mana yang lebih senang
Menjadi orang yang makan ketupat
Yang lupa pada jerih payah petani
Yang bertanam di bawah terik matahari?
Seorang pelukis menggambar petani
Dengan cangkul yang berdarah
Seorang tokoh berteriak merdeka
Dengan mulut ompong tanpa gigi
Merdeka!
DASI SEORANG GILA
Pemulung itu beranjak dari
sampah Ke sampah
Tanpa rasa berdosa
Ia ingin memungut barang-barang
Yang sudah tidak berharga
Sambil membayangkan panasnya api neraka
Ia pun sadar
Bahwa semua orang tak peduli padanya
Satu saat pada tong sampah
Ia menemukan sebuah dasi sutra
Ia pungut dan ia lilitkan di lehernya
Tujuannya agar orang-orang makin jijik padanya
Ia menyanyi meniru orang gila
Ia merasa hidupnya makin berharga
Satu saat ia diterpa gerimis
Bersamaan matahari murka
Pemulung itu tersenyum ceria
Melihat warna pelangi mirip dengan dasinya
ORANG YANG SENDIRI
Pengembara itu sudah tak sadar
Bahwa dirinya tak punya rumah
Karena yang ia perlukan
Hanya tempat berteduh saat malam dan hujan
Sudah lama jiwanya menjadi danau
Tempat purnama berkaca dan menyelam
Bahwa kasih sayang cukup dari Tuhan
Sekali ia bercakap
Dengan merpati yang singgah di kolong jembatan
Tentang kekasih atau pasangan
Yang ia anggap sebagai keasingan
Hidup tak selalu pilihan
Itu yang membuat ia rela sebagai gelandangan
Menikmati kesendirian
Di tengah permata yang berserakan
Hidupnya tak sekecut mantan diktator
Yang sembunyi di pengasingan
KISAH
Seorang professor bilang di kelas
Yang mahasiswanya cuma satu orang
“Kejujuran tak diperlukan di ranah politik”
Mahasiswanya ingin membantah
Tapi tak ada waktu untuk bertanya
Sepuluh tahun kemudian
Si mahasiswa ditakdir jadi politikus
Suatu ketika
Ia menghadap professor untuk mengucap
terimakasih
“Terimakasihmu kutolak
Karena aku sudah pensiun
Sekarang aku yang mengucap terima kasih
Karena dengan lihaimu bermain akrobat
Neraka tetap punya penghuni”
Sang politikus lalu bersujud
Sudah sepuluh tahun ia tak mendengar kata neraka
—–
D. Zawawi Imron, lahir di Batang-Batang, Sumenep, Madura, 1946. Puisi-puisinya telah dipublikasikan di media lokal, nasional, dan internasional. Buku puisinya (1) Semerbak Mayang (1977), (2) Madura, Akulah Lautmu (1978), (3) Bulan Tertusuk Lalang (1982), (4) Nenekmoyangku Airmata (1985), (5) Celurit Emas (1986), (6) Derap-derap Tasbih (1993), (7) Berlayar di Pamor Badik (1994), (8) Laut-Mu Tak Habis Gelombang (1996), (9) Bantalku Ombak Selimutku Angin (1996), (10) Madura, Akulah Darahmu (1999), (11) Kujilat Manis Empedu (2003), (12) Cinta Ladang Sajadah (2003), (13) Refrein di Sudut Dam (2003), (14) Kelenjar Laut (2007), dan beberapa lainnya. Buku kumpulan esai sosial keagamaannya Unjuk Rasa kepada Allah (1999), Gumam-gumam dari Dusun (2000). D. Zawawi Imron pernah juara pertama menulis puisi di AN-teve (1995), dan menjadi pembicara Seminar Majelis Bahasa Brunai Indonesia Malaysia (MABBIM) dan Majelis Asia Tenggara (MASTERA) Brunai Darussalam (Maret 2002). Sastrawan-budayawan ini memenangkan Hadiah Mastera 2010 dari Kerajaan Malaysia dan The SEA Write Award 2011 dari Kerajaan Thailand. Dari khalayak pembaca luas, Kiai Haji D. Zawawi Imron mendapat gelar “Penyair Celurit Emas”, dan tetap tinggal di desa kelahirannya, di Batang-Batang, sebuah desa ujung timur pulau Madura. Pada Minggu, 9 Desember 2018, Presiden RI Joko Widodo memberikan penghargaan kepada dua budayawan dan dua sastrawan pada acara Kongres Kebudayaan Indonesia Tahun 2018 di Kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, satu di antaranya ialah D. Zawawi Imron, atas kontribusinya sebagai penyair dan pendakwah yang terus menyiarkan kebajikan sastra dan religi ke seluuruh Indonesia.





