Kesiur Cinta: Bahasa, Sunyi, dan Etika Ketidakhadiran dalam Puisi Timur Sinar Suprabana
Oleh Abdul Wachid B.S.*
I. Kesiur Cinta: Metafora yang Sunyi
Puisi cinta, dalam kebiasaan baca yang umum, kerap dipahami sebagai wilayah luapan emosi. Ia diharapkan menyuarakan kegembiraan, kehilangan, cemburu, atau rindu dengan nada yang tegas, bahkan kadang berlebih. Cinta diasumsikan mesti hadir sebagai peristiwa yang terasa: menyala, menggelegak, dan mudah dikenali. Dalam kerangka semacam itu, puisi cinta sering diperlakukan sebagai panggung ekspresi perasaan personal; semakin keras suara emosi, semakin dianggap meyakinkan kejujurannya.
Namun, tidak semua puisi cinta bergerak dengan logika demikian. Ada puisi-puisi yang justru memilih menurunkan volume, memperlambat langkah, dan menempatkan emosi dalam jeda. Pada titik inilah puisi-puisi Timur Sinar Suprabana menemukan kekhasannya. Alih-alih menyuguhkan cinta sebagai peristiwa yang meledak, puisinya menghadirkan cinta sebagai sesuatu yang ditahan, dibisikkan, dan kerap kali dibiarkan berdiam di wilayah sunyi. Cinta tidak dilukiskan sebagai klimaks emosional, melainkan sebagai proses batin yang panjang, rapuh, dan penuh kesadaran akan jarak.
Kata “kesiur”, yang dipilih Timur sebagai judul salah satu buku puisinya (Kesiur dari Timur), menawarkan pintu masuk penting untuk memahami cara kerja estetik ini. Kesiur bukanlah angin yang menderu atau suara yang menggelegar. Ia adalah desis, suara lintasan yang samar, gerak kecil yang nyaris tak terdengar, tetapi terus hadir. Kesiur tidak memaksa perhatian, justru meminta kepekaan. Dalam pengertian inilah, kesiur dapat dibaca sebagai metafora dasar bagi pengalaman cinta yang ditawarkan Timur: cinta yang tidak menuntut pengakuan gegap gempita, melainkan bertahan melalui kehadiran yang pelan, kesetiaan pada jeda, dan kesediaan menunggu.
Cara pandang semacam ini tidak lahir dari ruang hampa. Timur Sinar Suprabana, lahir di Solo, Jawa Tengah, pada 4 Mei 1963, tumbuh dalam lingkungan keluarga sastra. Ayahnya, Bolo Soetiman, adalah sastrawan Angkatan ’66, sementara ibunya, Moenasijah Moenadji, dikenal sebagai penulis cerpen yang karyanya pernah hadir di media nasional. Latar keluarga ini membentuk kedekatannya dengan bahasa sejak dini, bukan semata sebagai alat ekspresi, melainkan sebagai ruang pengalaman hidup yang menyatu dengan keseharian. Sejak awal 1980-an, Timur aktif menulis puisi, esai, dan cerpen, sekaligus terlibat dalam pembacaan puisi dan kerja-kerja kebudayaan di Jawa Tengah, khususnya Semarang, kota yang hingga kini menjadi ruang hidup dan proses kreatifnya.
Berbeda dari banyak penyair yang bergerak menuju pusat sastra nasional, Timur justru meneguhkan diri di wilayah pinggiran yang produktif. Ia mengelola dan menghidupi komunitas sastra, seperti Rumah Budaya Gubug Penceng, serta membawa puisi keluar dari halaman buku ke ruang sosial melalui pembacaan dan pertunjukan. Pilihan hidup dan kerja kebudayaan ini penting dicatat, sebab dari sanalah puisinya menyerap kesadaran etik tertentu: kesetiaan pada proses, keberlanjutan relasi, dan penghormatan pada yang tidak selalu hadir secara penuh.
Buku Kesiur dari Timur (Yogyakarta: Katakita, 2012), yang menjadi objek kajian esai ini, dapat dibaca sebagai penanda kematangan estetik Timur. Di dalamnya, bahasa diperlakukan dengan kehati-hatian yang konsisten. Puisi-puisi dalam buku ini cenderung menolak efek retoris yang demonstratif dan memilih diksi yang hemat, kadang nyaris bersahaja. Kata-kata seperti “kekasih”, “rindu”, “sunyi”, dan “diam” berulang bukan untuk menegaskan kepemilikan, melainkan untuk menandai jarak dan ketakterjangkauan. Bahasa bekerja bukan untuk menutup ketidakhadiran, tetapi justru untuk mengakuinya sebagai bagian dari pengalaman cinta itu sendiri.
Esai ini tidak dimaksudkan sebagai ulasan buku dalam pengertian konvensional, apalagi sebagai ringkasan isi puisi. Fokus tulisan ini adalah membaca puisi-puisi Timur sebagai peristiwa bahasa: bagaimana kata-kata dihadirkan, ditunda, bahkan dibiarkan “gagal” sepenuhnya dalam mengungkapkan cinta. Dengan cara itu, puisi tidak lagi dipahami semata sebagai ekspresi perasaan personal, melainkan sebagai medan refleksi tentang relasi, antara aku dan engkau, antara hasrat dan kesabaran, antara kehadiran dan ketiadaan.
Berangkat dari pembacaan tersebut, esai ini mengajukan satu tesis utama: dalam puisi-puisi Timur Sinar Suprabana, cinta tidak hadir sebagai peristiwa emosional yang gegap gempita, melainkan sebagai peristiwa bahasa yang sunyi; sebuah pengalaman relasional yang menegakkan etika ketidakhadiran melalui penundaan, jeda, dan kesediaan menunggu. Cinta, dalam puisi-puisi ini, tidak dibuktikan melalui kepemilikan atau pernyataan lantang, melainkan melalui kesetiaan pada proses, pada diam, dan pada bahasa yang tahu batas dirinya sendiri.
Pendahuluan ini menjadi landasan bagi pembacaan lebih jauh atas puisi-puisi dalam Kesiur dari Timur, dengan keyakinan bahwa justru di dalam kesiur, suara kecil yang nyaris luput, cinta menemukan bentuk etik dan estetiknya yang paling jujur.
II. Cinta sebagai Bahasa: Medan dan Kegagalan
Dalam Kesiur dari Timur, cinta tidak dimulai sebagai pengalaman batin yang kemudian dicari kata-katanya. Justru sebaliknya, bahasa menjadi ruang di mana cinta berlangsung: menahan, menunda, dan kadang gagal menyelesaikan dirinya. Bahasa bukan sekadar sarana untuk mengekspresikan cinta; ia adalah medan peristiwa di mana cinta berdiam dan terus hidup. Puisi “kata” menegaskan hal ini dengan tegas:
“Siapa menghuni tanda baca
justru ketika kau mengembarai huruf-huruf
yang kekal
yang selalu gagal melupa Cinta”
Kata tidak sekadar menunjuk makna; kata “dihuni” oleh cinta, bahkan ketika cinta itu gagal sepenuhnya tersampaikan. Bahasa menyimpan, menunda, dan memberi ruang bagi cinta untuk tetap hadir tanpa harus diucapkan. Di sinilah cinta berada bukan karena kata berhasil menutup maknanya, melainkan karena kata gagal, dan tetap menghuni hati. Gagasan ini diperkuat dalam puisi “cinta”:
“ia Bukan jika masih bisa terutara
sebab kata hanya gema yang fana”
Bahasa yang lancar atau terlalu fasih justru dianggap meragukan. Cinta, dalam kerangka Timur, menuntut bahasa yang tersendat: bahasa yang sadar akan ketidakmampuannya menutupi semua makna. Kesadaran ini menjadikan kegagalan bahasa bukan kekurangan, tetapi bagian dari etika mencintai: menahan diri, memberi ruang, dan menghormati jarak.
Puisi “tanpa rasa Pedih” menegaskan prinsip ini melalui tindakan menghapus:
“kerna terhadapmu aku ini Cinta yang tak sanggup jika mesti layu
seperti selada di piring gado-gadomu yang Dulu”
Menghapus bukan meniadakan, tetapi menjaga. Bahasa bekerja untuk menyelamatkan cinta, bukan mengekang atau menumpuk. Kesadaran untuk menahan kata menjadi inti dari etika bahasa dalam puisi Timur: cinta hidup dalam kesederhanaan, bukan demonstrasi retoris.
Pembacaan puisi “baca” menunjukkan dimensi relasional dari bahasa:
“kini kucoba baca
yang kau Belum hendak menuliskannya”
Membaca di sini bukan sekadar menafsirkan kata; ia adalah menghormati ketidakhadiran kata itu sendiri. Kekasih hadir sebagai misteri, bukan sebagai objek yang sepenuhnya tersedia. Begitu pula, puisi “kubisikkan” menunjukkan bagaimana cinta beroperasi lewat bisik lirih:
“selalu
kubisikkan pada tiap huruf
dan tanda baca, ‘aku mencintaimu.’
itulah sebab mereka menjelma kasih
tiap kuhadirkan jadi kata”
Bisik tidak menuntut balasan; ia bekerja pelan tapi konsisten, memberi bahasa daya transformasi yang menghidupkan cinta dari dalam. Bahasa menjadi ruang afeksi, bukan alat persuasi. Kesetiaan pada bisik dan kegagalan bahasa menandai bentuk etik cinta dalam puisi Timur: hadir meski bahasa tidak sempurna, menahan diri meski godaan untuk mengekspresikan kuat.
Dengan demikian, puisi-puisi dalam Kesiur dari Timur mengajarkan bahwa cinta bukan soal kepastian atau deklarasi, tetapi kesetiaan pada bahasa yang sadar akan batasnya. Bahasa bukan alat penguasaan, melainkan medan tempat cinta diuji, bertahan, dan terus berkembang: pelan, rapuh, dan tak selesai.
III. Sunyi dan Etika Relasi: Diam, Menunggu, dan Pintu
Dalam tradisi puisi cinta Indonesia, ekspresi yang lantang sering dijadikan tolok ukur kejujuran perasaan. Semakin jelas deklarasi cinta, semakin dianggap sah pengalaman batin penyair. Namun Kesiur dari Timur menempuh jalur berbeda: puisi-puisinya menekankan sunyi, bukan demonstrasi. Cinta hadir sebagai kesadaran batin, rapuh, dan penuh pengendalian diri. Sunyi menjadi sikap, bukan suasana; etika, bukan sekadar emosi.
1. Posisi Kesiur dari Timur dalam Perpuisian Indonesia
Puisi Timur menahan diri dari klaim kepemilikan atau penguasaan makna. Ia membiarkan pengalaman cinta bergerak di wilayah batin, bukan di panggung pernyataan. Dalam konteks ini, sunyi bukan kekurangan, melainkan laku puitik yang menjaga martabat relasi. Triyanto Triwikromo menegaskan bahwa puisi Timur “sederhana dan terkesan menghindari improvisasi dan eksperimen, tapi kokoh untuk menampung pikiran-pikiran liris penyairnya” (Triwikromo, komentar sampul belakang, 2012). A. Mustofa Bisri menambahkan, kesiur tidak selalu lembut, kadang menggelitik, kadang menyentak, tetapi tetap bergerak sebagai lintasan, bukan ledakan (Ibid.). Kedua komentar ini menegaskan bahwa intensitas puisi Timur berada dalam kesadaran diam, bukan demonstrasi retoris.
2. Sunyi sebagai Sikap Etis
Sunyi bukan kesedihan atau keterasingan. Ia muncul sebagai keputusan batin untuk memberi ruang bagi yang lain tanpa memaksakan diri. Puisi “percakapan” menampilkan keheningan yang bekerja sebagai bentuk kedekatan:
“keheningan
jauh dan rata
seperti warna malam tanpa bulan
…
tinggal senyap
berdekap”
Diam memungkinkan kedekatan tanpa kata. Relasi tidak diisi penjelasan berlebih; hadirnya subjek cukup dengan kesediaan untuk berada dalam kesunyian. Dalam kerangka ini, membaca puisi menjadi tindakan etis: menghormati ketidakhadiran, memberi ruang bagi misteri yang dijaga.
3. Menunggu sebagai Tanggung Jawab Batin
Sunyi selalu diiringi menunggu, laku batin yang aktif. Menunggu bukan pasif, melainkan kesanggupan menanggung ketidakpastian. Puisi “jalanan” memperlihatkan hal ini:
“jalanan Bukan jalan, kekasih”
Jalanan tidak membawa tujuan final; menunggu bukan strategi, tetapi kesanggupan batin. Sapardi Djoko Damono menekankan bahwa puisi liris justru kuat karena kesederhanaan pengalaman sehari-hari yang tidak diselesaikan secara dramatis (Sosiologi Sastra, 1978). Dalam puisi Timur, menunggu menempatkan subjek dalam kerentanan yang membangun martabat: tidak memaksa hadirnya yang lain, tetap menjaga jarak, dan belajar sabar.
4. Pintu sebagai Metafora Etika Relasi
Puisi “pintu” menampilkan metafora etika yang paling sederhana namun mendalam:
“adakah yang selalu menyambutmu
sekaligus menghantarmu Selain pintu?”
“Pintu” setia pada fungsinya: menyambut dan mengantar tanpa menahan. Cinta, seperti pintu, tidak menguasai, tetapi memberi kemungkinan. Prinsip ini sejalan dengan gagasan Emmanuel Levinas bahwa etika relasi menuntut penghormatan pada alteritas dan penolakan dominasi (Totality and Infinity, 1961).
5. Refleksi
Sunyi dalam puisi Timur adalah sikap sadar batas: memberi ruang, menunggu, dan tidak menguasai. Diam dan jarak bukan kekosongan, tetapi kesempatan untuk menumbuhkan kesadaran etis. Cinta yang hadir melalui kesiur menegaskan bahwa relasi manusia bekerja bukan melalui kepastian atau penguasaan, tetapi melalui kesetiaan pada kesadaran dan kepekaan terhadap yang lain.
IV. Ketidakhadiran, Rindu, dan Waktu
1. Cinta Tanpa Kehadiran Fisik
Dalam Kesiur dari Timur, cinta tidak selalu membutuhkan perjumpaan fisik. Ketidakhadiran bukan kekosongan, melainkan bentuk kehadiran lain: rapuh, penuh kesadaran, dan menuntut ketekunan batin. Di sinilah puisi Timur menegaskan etika menanggung jarak sebagai bagian dari pengalaman cinta.
Puisi “ketika keretamu melaju” menunjukkan bagaimana waktu bergerak tanpa menunggu subjek:
“tinggal kutunggu dirimu
sembari sesekali berulang tersipu
: digoda Rindu”
Menunggu di sini bukan sekadar kronologi temporal, melainkan sikap eksistensial. Subjek tidak berusaha menguasai waktu; ia membiarkannya mengalir sambil tetap berada dalam kesadaran. Paul Ricoeur menekankan bahwa pengalaman waktu manusiawi bukan sekadar kronologi, tetapi diwarnai makna melalui penantian, ingatan, dan harapan (Time and Narrative, 1984–1988). Puisi Timur menghidupkan hal ini: waktu bukan lawan, melainkan medan untuk meneguhkan cinta melalui kesabaran.
2. Rindu sebagai Daya Tahan Cinta
Rindu tidak dipahami sebagai gejolak emosional semata. Ia adalah bentuk kesetiaan pada kemungkinan, menegaskan cinta yang tetap hidup meski jarak memisahkan. Puisi “pintu” menampilkan rindu yang tenang, domestik, dan penuh kesadaran:
“adakah yang Sungguh merindumu
melebihi kangen Pintu terhadap datangmu?”
Rindu di sini bukan kekurangan, melainkan latihan batin untuk tetap berada dalam ketidakpastian. Roland Barthes menekankan figur menunggu sebagai salah satu pengalaman cinta paling jujur dan menyakitkan (A Lover’s Discourse, 1977). Menunggu menempatkan subjek dalam posisi rentan, terbuka terhadap waktu dan yang lain, namun di sanalah martabat cinta diuji.
3. Ketidakhadiran sebagai Kehadiran Lain
Puisi “memalam diam-diam” memperlihatkan bagaimana ketidakhadiran dapat meninggalkan resonansi:
“hingga kini sisa percakapan masih menggema
mungkin dikekalkan angin”
Yang hadir bukan tubuh, tetapi gema: jejak batin yang meneguhkan relasi. Emmanuel Levinas menyatakan bahwa etika relasi yang paling jujur mengakui ketakterjangkauan orang lain (Totality and Infinity, 1961). Ketidakhadiran menjaga relasi tetap hidup karena cinta tidak dikurangi menjadi kepemilikan fisik.
4. Menunggu sebagai Laku Etis
“Menunggu” di Kesiur dari Timur bukan strategi menunda, melainkan kesanggupan batin untuk hidup bersama waktu. Subjek menerima jarak dan ketidakpastian sebagai bagian dari cinta itu sendiri. Ia tidak mempercepat perjumpaan, tidak memaksa kedekatan, melainkan menanggung jeda sebagai pengalaman batin.
Puisi-puisi ini menegaskan bahwa ketidakhadiran bukan kegagalan, tetapi tahap kedalaman relasi: cinta yang mampu bertahan tanpa kehadiran fisik telah melewati tahap hasrat menuju kesadaran. Ia tidak bergantung pada kepastian atau hasil, tetapi pada kesediaan menunggu dan mempercayai waktu.
Rindu menjadi sarana memperkuat martabat cinta, sementara waktu menjadi medan uji kesabaran batin. Di sinilah cinta menemukan bentuk paling sunyi, paling bertahan, dan paling jujur.
V. Metafora Sehari-hari: Kesederhanaan yang Menjaga Martabat
Jika ketidakhadiran, rindu, dan waktu menegaskan cinta sebagai laku batin, maka metafora sehari-hari dalam puisi Timur Sinar Suprabana menunjukkan bagaimana kesetiaan pada hal-hal biasa dapat menjadi medium estetika sekaligus etika. Puisi-puisi Timur tidak mengejar simbol megah atau retorika heroik, melainkan menekankan gerak kecil yang setia pada kehidupan sehari-hari. Kesederhanaan ini bukan tanda kekurangan, tetapi cara menjaga martabat pengalaman.
Alam, misalnya, tidak dijadikan lambang kosmik berlebihan. Hujan, angin, pintu, atau dahan hadir sebagai peristiwa yang dekat, bukan alegori spektakuler. Dalam puisi “di dalam Hujan”, hujan dibiarkan sebagai hujan, sebagai pengalaman batin yang dijalani dengan kesadaran penuh:
“kupilih senyap
: doa-doa yang tak terucap
kubiarkan hujan
menderas di dalam Hujan”
Metafora bekerja secara asketik: bahasa tidak mencoba “menjelaskan” hujan sebagai simbol lain. Kesunyian dipilih sebagai sikap: membiarkan, bukan menafsirkan secara berlebihan. Bahasa tinggal di pengalaman, tidak meloncat keluar darinya. Hal ini selaras dengan pandangan Phenomenology of Perception Merleau-Ponty (2002), yang menekankan bahwa pengalaman manusia menjadi bermakna ketika tidak direduksi menjadi konsep abstrak.
Pilihan estetik ini konsisten dalam puisi “angin di Dahan”, di mana angin tidak diangkat menjadi lambang kebebasan atau takdir besar:
“aku ini hanya angin di Dahan
sebentar seperti singgah, seperti melindap pelahan,
…
mungkin
tak sepadan”
Pengakuan “tak sepadan” menegaskan etika batin: penyair tidak memaksakan dirinya menjadi pusat makna. Metafora sederhana justru menjadi cara menahan diri, selaras dengan gagasan Levinas tentang relasi etis: relasi sejati lahir dari pengakuan keterbatasan diri, bukan penguasaan orang lain.
Puisi “pintu” menegaskan hal yang sama. Pintu hadir sebagai benda sehari-hari paling setia, menyambut dan menghantar, tanpa pernah mengklaim penguasaan:
“adakah yang selalu menyambutmu
sekaligus menghantarmu Selain pintu?”
Pintu tidak menahan yang datang, tidak meratapi yang pergi. Ia menjalankan fungsi sederhananya dengan konsistensi. Kesetiaan pada hal biasa inilah yang menimbulkan kedalaman etis, bukan karena simbol dijelaskan, tetapi karena dijalani. Gadamer menegaskan bahwa pemahaman sejati lahir dari keterlibatan rendah hati dalam pengalaman, bukan dari jarak konseptual yang menguasai (Truth and Method, 2004).
Sikap estetik–etis ini terus muncul dalam seluruh puisi Timur: bahasa tidak ingin mengejutkan, melainkan menemani. Kesetiaan pada hal biasa (hujan, angin, pintu) memberi pembaca ruang mengalami kedalaman tanpa dipaksa mengagumi retorika. Keheningan dipilih daripada sensasi retoris. Bahasa menjadi ruang tinggal yang cukup, bukan alat dominasi makna.
Dengan demikian, metafora sehari-hari dalam Kesiur dari Timur bukan sekadar gaya minimalis. Ia adalah medium estetik yang bertemu dengan etika: diam, sederhana, dan setia. Bahasa dan simbol diperlakukan sebagai teman perjalanan batin, bukan sebagai arena pamer kecerdasan. Di dunia yang cenderung bising oleh metafora besar dan klaim emosional, puisi Timur menegaskan bahwa menjaga pengalaman tetap manusiawi, dengan tidak menguasainya melalui bahasa, adalah bentuk cinta yang paling sunyi dan paling jujur.
VI. Spiritualitas dan Kepasrahan: Dari Relasi ke Kesadaran Transenden
Jika metafora sehari-hari menegaskan kesetiaan pada pengalaman batin, maka spiritualitas cinta menuntun puisi Timur Sinar Suprabana ke dimensi lebih dalam: di mana bahasa, sunyi, dan rindu menjadi medium batin untuk menghadapi ketidakpastian dan keterbatasan. Spiritualitas ini tidak selalu hadir dalam ritual formal atau retorika religius; ia muncul dari interaksi batin yang paling pribadi, dari kesadaran akan keberadaan “Yang Lain”, dan dari kesediaan menerima keterbatasan diri.
Puisi “sampun Dalu” menampilkan kesadaran batin ini dengan ritme lembut dan sapaan yang intim:
“sampun Dalu
bisikku padamu
yang belakangan selalu kurindu
padahal engkau lenggah di hatiku”
Setiap kata (dari “sampun dalu” hingga “kurindu”) mengandung getaran batin: ritme kesadaran yang menahan, memeluk, dan menegaskan pengalaman cinta. Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi medium hadirnya keintiman. Dalam Phenomenology of Perception Merleau-Ponty, kesadaran hadir bukan sebagai representasi abstrak, tetapi melalui tubuh dan pengalaman nyata. Kata-kata sehari-hari dapat menjadi sarana meditasi batin, menuntun pembaca merasakan getaran batin yang halus.
Kepasrahan menjadi inti spiritualitas cinta ini. Ia bukan sikap pasif, melainkan kemampuan menanggung ketidakpastian tanpa menuntut kepastian atau dominasi. Puisi “kutukan ini” dan “sajak dari ketika Tadi keluar Sebentar” menegaskan hal ini melalui ketegangan antara rindu dan ketidakhadiran:
“kini seperti gagak atau malah mungkin mainan berbentuk burung…”
“…menabraki degap jantungmu…”
“kutukan ini: abadi”
Kata “abadi” di sini melampaui metafisika; ia menandai kesanggupan batin menanggung keberlanjutan pengalaman yang rapuh: rindu yang tidak selesai, kenangan yang tertekan, tubuh yang berubah. Kepasrahan menuntun subjek cinta keluar dari egosentrisme, mengajarkan kesadaran etis terhadap alteritas, bahwa yang lain selalu lebih besar daripada kapasitas kita memahami sepenuhnya (Levinas, Totality and Infinity, 1969).
Puisi lain, seperti “di dalam Hujan”, menampilkan spiritualitas cinta dalam konteks pengalaman sehari-hari:
“kubiarkan hujan
menderas di dalam Hujan
seperti kubiarkan Bunga
menghapusi warna kelopaknya
“mengapa tak kaucegah?” tanyamu
“ketika kujauhkan diri dari rindu.”
Kehadiran spiritual muncul bukan sebagai dogma, tetapi sebagai etika batin: kesediaan menanggung keterbatasan manusia, menghadapi ruang yang tidak bisa dikontrol, dan tetap setia terhadap pengalaman batin. Kesadaran transenden bukan pelarian, melainkan kemampuan hadir di ketidakpastian, menunggu, merindu, dan melepaskan.
Bahasa lokal yang dipilih penyair menjadi sarana menafsirkan “abadi” bukan sebagai penguasaan atau kemenangan, melainkan kesanggupan batin untuk terus hadir, menanggung, dan setia. Spiritualitas cinta muncul di sela kata, di antara desah, jeda, dan hening yang tersisa, menuntut pembaca mengikuti ritme batin, menanggung ketidakpastian, dan hadir dalam keintiman cinta yang rapuh. Etika cinta berpuncak pada penerimaan terhadap keterbatasan, bukan usaha mentransendensikan atau menguasai pengalaman secara absolut.
Dengan demikian, pengalaman cinta dalam Kesiur dari Timur menembus batas relasi personal dan menuntun pembaca ke kesadaran transenden. Bahasa, rindu, dan kepasrahan bukan sekadar medium ekspresi, melainkan praktik batin yang menuntut kesetiaan, kesabaran, dan ketahanan. Kata “abadi” menjadi simbol kemampuan batin hadir sepenuh hati di antara kata-kata sederhana yang sarat makna. Dari sini, pembaca diarahkan memahami cinta sebagai pengalaman estetika dan etika yang menghubungkan manusia dengan sesama serta dimensi spiritual yang lebih luas.
VII. Kesiur Cinta dan Etika: Menjadi Manusia
Puisi-puisi Timur Sinar Suprabana menutup perjalanan pengalaman cinta dengan kesadaran yang lembut, bagai “kesiur” yang menembus tanpa deru, tanpa menuntut. Setiap kata, setiap jeda, setiap hening menjadi ruang di mana manusia belajar menanggung kehadiran dan ketidakhadiran secara bersamaan, di sinilah etika batin diuji, bukan melalui perintah, melainkan melalui kepekaan yang terus terasah terhadap kehidupan dan sesama.
Cinta yang hadir sebagai “kesiur” menegaskan bahwa relasi manusia tidak selalu membutuhkan kepastian atau penguasaan. Sunyi, jarak, dan hening bukan kekosongan, melainkan kesempatan menumbuhkan kesadaran akan keterhubungan yang lebih luas. Dalam tiap detik pembacaan puisi, pembaca dibimbing merasakan kehadiran sepenuh hati, setia, dan penuh pengertian, meski objek cinta tampak jauh atau samar. Puisi “kubisikkan” menjadi contoh puncak dari praktik “kesiur” ini:
kubisikkan
selalu
kubisikkan pada tiap huruf
dan tanda baca, “aku mencintaimu.”
itulah sebab mereka menjelma kasih
tiap kuhadirkan jadi kata
selalu kubisikkan
pada hati atau benak, “aku
mencintaimu.”
maka mereka pun melangit-langit
tak sayang beri cuaca cerah
pada jiwa bahkan di saat sayah
selalu kubisikkan
selalu kubisikkan
selalu kubisikkan pada bisik, “aku
mencintaimu.”
maka seluruh bisik berdesik
merisik
jadi ucap
mengusap senyap
engkau, wahai,
sungguh Juga senantiasa bisa
mendengarnya, bukan?
Di antara pengulangan lirih itu, hadir kesadaran fundamental: cinta bukan soal kepemilikan, bukan soal deru atau pamer, tetapi soal kesetiaan yang sunyi: tentang hadir tanpa memaksa dan merawat batin yang rapuh. Kata-kata menjadi medium untuk menanggung dan menghidupkan kasih, seperti bisik yang terus menembus ruang hening, hingga pengalaman estetika dan etika menjadi satu.
Puisi ini menutup esai sekaligus membuka ruang bagi pembaca: untuk merasakan, menanggung, dan mempraktikkan seni mencintai yang humanis. Di sana, cinta menjadi “kesiur”: hadir tanpa menguasai, setia tanpa menuntut, dan menghubungkan manusia dengan sesama serta dimensi transenden. Ia menegaskan bahwa menjadi manusia berarti hadir sepenuh hati, sabar, dan tulus; dan, di atas segala hening, merasakan bahwa cinta itu sendiri abadi. ***
—
Daftar Pustaka
Barthes, Roland. 1977. A Lover’s Discourse: Fragments. New York: Hill and Wang.
Damono, Sapardi Djoko. 1978. Sosiologi Sastra. Jakarta: Balai Pustaka.
Gadamer, Hans-Georg. 2004. Truth and Method. 2nd rev. ed. Translated by J. Weinsheimer and D. G. Marshall. London: Continuum.
Levinas, Emmanuel. 1961. Totality and Infinity: An Essay on Exteriority. Translated by Alphonso Lingis. Pittsburgh: Duquesne University Press.
Merleau-Ponty, Maurice. 2002. Phenomenology of Perception. Translated by Colin Smith. London: Routledge.
Ricoeur, Paul. 1984–1988. Time and Narrative. Vols. 1–3. Chicago: University of Chicago Press.
Suprabana, Timur Sinar. 2012. Kesiur dari Timur. Yogyakarta: Katakita.
—
*Penulis adalah penyair, Ketua Sekolah Kepenulisan Sastra Pedaban (SKSP) dan Lembaga Kajian Nusantara Raya (LK Nura) di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri, Purwokerto.




