Dina Lestari

Wayang Jamur dan Visual Alien, Sebuah Kemungkinan

Oleh Dina Lestari*

Wayang  jamur belum pernah dicoba direalisasikan siapapun. Sejak tahun 2021 saya memiliki gagasan  membuat wayang dari bahan fermentasi jamur. Saya melakukan riset mengembangkan wayang kulit kontemporer dengan material kulit organik yang terbuat dari fermentasi mycelium atau jamur. Apa alasan yang mendorong saya untuk membuat wayang kontemporer berdasarkan bahan jamur?

Wayang kulit merupakan salah satu peninggalan kebudayaan Jawa dan Bali yang digunakan sebagai media bercerita seperti yang pernah dilakukan oleh Wali Songo. Wayang kulit –  kita tahu  dari dahulu hingga sekarang masih diproduksi dengan menggunakan material bahan kulit sapi.

Saya melihat ada persoalan dengan materi kulit sapi. Menurut artikel dari berbagai jurnal belakangan diketahui bahwa ternyata penyumbang emisi gas metana rumah kaca terbesar di dunia adalah industri peternakan sapi. Saya melihat perlu adanya solusi material alternatif dari pembuatan produk atau karya seni berbahan dasar kulit sapi. Maka saya membayangkan adanya sebuah bentuk inovasi wayang kulit dengan menggunakan biomaterial yang terbuat dari Jamur. Karya ini merupakan perpaduan antara seni rupa, riset biomaterial dan juga seni pertunjukan.

Salah satu yang membuat saya tertarik untuk mewujudkan gagasan ini adalah juga saya melihat di Bandung berdiri sebuah laboratorium yang mengembangkan material kulit sintetis terbuat dari limbah tempe yang cukup mirip dengan kulit sapi namun lebih ramah lingkungan. Laboratorium ini bernama Mycotech. Laboratorium ini dahulunya adalah  tempat budidaya Jamur yang kemudian dikembangkan menjadi laboratorium dan riset  mikologi.

Di Indonesia memang belum banyak industri yang mampu mengolah material berkelanjutan seperti laboratorium Mycotech di Bandung tersebut. Dengan adanya keterbatasan produksi dari industri otomatis harga produk laboratorium tersebut tidak terjangkau dan belum banyak dikenal oleh masyarakat Indonesia. Gagasan untuk membuat wayang jamur ini juga maka dalam bayangan saya juga adalah bagian dari kampanye atau  sosialisasi agar tercipta lebih banyak laboratorium-laboratorium seperti Mycotech yang melakukan riset pengembangan material berkelanjutan.

Jamur dan Sosok-sosok Alien/Extraterrestrial 

Saya membayangkan akan menciptakan wayang kulit berbahan jamur/miselium dengan visual berwujud figur-figur mahluk asing atau alien. Mengapa alien? Saya melihat jamur sangat bervariasi baik bentuk maupun warna. Saya beranggapan bahwa bahwa banyak ragam jamur yang bentuknya mengingatkan kepada sosok-sosok “extra terrestrial” dalam imaji-imaji film maupun novel sains-fiksi. Sangat menarik bagi saya untuk mengesplorasi dan melakukan riset atas figur-figur “alien”dalam khazanah jamur.

Alasan kedua lebih personal. Saya menganggap “alien” merupakan representasi dari diri saya. Gagasan mengambil visual alien berkaitan dengan perkembangan dan pencarian karya saya pribadi selama 20 tahun terakhir – mulai awal saya menjadi perupa sampai sekarang.

Saya mulai belajar seni rupa di jurusan seni rupa Universitas Jakarta. Saat itu-sebagai mahasiswa  tantangan berkarya bagi saya adalah meningkatkan keterampilan motorik dan sensorik. Pada tahapan awal karya-karya yang saya ciptakan lebih cenderung realis atau naturalis. Namun seiring berjalannya waktu orientasi kekaryaan tersebut berkembang dan berubah. Pada saat tahapan realis saya rasa belum memenuhi hasrat berkarya, saya mulai mengeksplor surealisme.

Belajar Surealisme kepada Lucia Hartini Sampai Sadar Isyu Gender

Untuk memenuhi hasrat berkarya surealis saya belajar melukis ke Yogyakarta dengan perupa surealis Lucia Hartini. Lucia Hartini kita ketahui adalah seorang pelukis surealis yang kuat. Karyanya selalu persinggungan antara kenyataan sehari-hari dan jagat di luar sana atau alam lain. Karyanya juga cenderung dalam ukuran kanvas-kanvas besar sehinggu butuh energi dan pengendapan emosi yang luar biasa. Saya mempelajari gaya melukis Lucia Hartini yang sangat intuitif dan spiritual.

Foto karya pribadi dengan teknik surealis.

Setelah belajar tenik surealis kepada Lucia Hartini,saya mulai mempertanyakan “Jiwa Kethok” yang  dituturkan dalam sebuah karya. Pada titik ini saya mulai mempertanyakan “Eksistensi” saya sebagai seorang perempuan. Dalam fase ini karya-karya saya muncul dengan mempertanyakan berbagai isyu seperti peran perempuan dan stereotype dalam masyarakat, perempuan sebagai subjek subordinasi, double burden dan berbagai hal mengenai kesetaraan gender. Berikut ini beberapa karya yang pernah saya buat terkait isyu tersebut.

Foto karya-karya pribadi yang membahas isyu gender.

Dalam tahapan ini tapi mulai timbul kesadaran bahwa isyu ini kurang tepat saya sampaikan, karena meskipun saya adalah seorang perempuan, namun saya tidak mengalami isyu ketidaksetaraan gender. Karena saya hidup dalam lingkungan yang cukup mendukung dan memiliki pandangan terbuka mengenai peran perempuan.

Mempertanyakan  Diri: Siapa Saya? “Alien?”

Ketika eksistensi mengenai perempuan sudah tidak lagi dipertanyakan, mulai muncul pertanyaan lain. “Siapa Saya ?” Peran saya sebagai seorang perempuan sudah terjawab namun pertanyaan mengenai keberadaan saya sebagai “Perempuan Jawa” mulai muncul. Saya lahir sebagai keturunan Jogja-Solo namun tumbuh dan besar di Jakarta, di kota tempat bertemu dan bercampurnya berbagai kultur. Turun temurun warisan kebudayaan tradisi mulai luntur dan tergantikan dengan budaya urban. Ketika ditanyakan suku apa saya, kadang terasa aneh jika mengaku saya bersuku Jawa namun tidak paham adat istadat, Bahasa dan Juga Filosofi Jawa yang diturunkan kepada saya. Pertanyaan saya mengenai eksistensi kekulturan saya tersebut kemudian saya lukiskan dalam beberapa karya berikut.

Foto karya-karya pribadi yang mempertanyakan eksistensi kekulturan.

Pertanyaan mengenai eksistensi kultur tersebut membawa saya ke Yogyakarta, dimana saya menghabiskan waktu selama 3 tahun mempelajari kultur leluhur saya, saat saya sambil menimba ilmu di Pasca sarjana Seni Rupa ISI Yogyakarta.

Selama saya belajar di Pasca Sarjana ISI Yogyakarta saya mencoba memahami filosofi, Bahasa dan adat istiadat Jawa untuk memahami diri saya sendiri. Namun saya semakin sadar bahwa saya adalah keturunan Jawa yang teralienasi dari kebudayaaan warisan leluhurnya sendiri. Saya semakin paham bahwa saya adalah “makhluk asing” yang melihat kebudayaan Jawa sebagai objek eksotik yang menarik untuk diteliti dan diambil sebagai sampel.

Saya mendapatkan bahwa figure “Alien” adalah refleksi dari diri saya sendiri. Sehingga saya seringkali menggunakan figure ini untuk bertutur mengenai pandangan saya melalui karya seni 2 dan 3 dimensi. Berikut ini adalah beberapa contoh karya saya yang menggunakan figure “Alien” sebagai refleksi diri untuk menginterpretasikan kebudayaan.

Foto karya-karya pribadi yang menggunakan figur alien sebagai representasi keakuan.

Observasi Biomimikri

Kembali ke jamur. Sebagai seorang pendidik seni dan desain disalah satu kampus di Jakarta, 3 tahun belakangan ini saya cukup intens mempelajari dan menggunakan metode biomimicry untuk peserta didik saya dalam mengembangkan inovasi produk dengan mengambil inspirasi alam. Berkaitan dengan bentuk artistik yang seringkali saya tampilkan berupa figur alien, maka dalam salah melalui observasi biomimikri saya mendapati bahwa “Jamur”adalah objek yang menarik untuk dipelajari,

Foto wujud jamur-jamur yang unik. (Sumber: Arsip Penulis)

Namun bukan hanya itu, saya mendapati fakta-fakta menarik mengenai objek jamur. Yang meyakinkan saya untuk terus menggali objek ini dan mengembangkannya kedalam karya seni saya. Selain bentuk fisiknya yang sangat beragam ternyata jamur adalah spesies terbanyak dimuka bumi ini melebihi hewan, serangga ataupun tumbuhan. Ada 120.000 jenis jamur yang sudah diklasifikasikan. Para ilmuwan memperkirakan bahwa ada 2,2 – 3,8 juta spesies secara total, termasuk ragi, lumut, karat, dan cendawan dan semua ini masuk dalam kerajaan atau kelas fungi. Dari sekian banyak jenis jamur, ada jamur-jamur yang memiliki wujud unik baik dari segi warna, bentuk maupun keberadaan mereka terkait dengan ekosistemnya namun belum banyak diketahui oleh publik.

Jamur seringkali ditakuti, karena begitu banyak jenis dan perannya. Ada yang dapat dimakan, ada yang beracun, ada pula yang dapat menjadi obat. Jamur ada dimana-mana, meskipun tidak terlihat bukan berarti tidak ada. Banyak sekali makanan yang dikonsumsi manusia melibatkan jamur, seperti keju, kecap, tempe, oncom, tape, roti, kimchi, yoghurt dan banyak lagi makanan yang mengandung jamur. Bahkan tanpa disadari ditubuh manusia juga ada jamur salah satunya jenis malassezia globosa yang kita kenal sebagai ketombe. Ada juga jamur cordyceps yang bersifat parasite yang dapat mengendalikan inangnya dan membuatnya menjadi zombie.

Foto jamur cordyceps, jenis jamur parasite yang mampu mengendalikan inangnya. (Sumber: Arsip Penulis).

Jamur tidak termasuk tumbuhan dan hewan, tetapi diantaranya. Jamur bisa menjadi symbol akhir dari kehidupan karena sifatnya menguraikan material, namun bisa juga menjadi symbol awal kehidupan karena dari sisa material yang diurai maka tanah menjadi subur dan menutrisi tumbuhnya kehidupan baru.

Dari sekian banyak metode yang digunakan oleh para ilmuwan dalam mengatasi tumpahan minyak dan kebocoran nuklir di Fukushima Jepang, ternyata jamur adalah cara paling efektif untuk menetralkan kembali lingkungan yang sudah tercemar.

Foto percobaan jamur pada tumpahan minyak (kiri), Jamur untuk mengatasi bocoran nuklir fukushima (kanan). (Sumber: Arsip Penulis).

Jamur dalam Kebudayaan kuno: Obyek Sakral

Dalam kebudayaan Maya kuno, jamur dianggap sebagai objek sakral karena dianggap menjadi penghubung spiritual antara manusia dengan leluhurnya. Dalam beberapa peninggalan sejarah di Mesir kuno, India, Yunani bahkan dalam lukisan gua tertua dispanyol objek jamur seringkali ditampilkan untuk menggambarkan hubungan manusia dengan alam.

Foto beberapa peninggalan sejarah yang menggambarkan jamur diberbagai negara. (Sumber: Arsip Penulis).

Menurut Rodriguez dan Winkelman dalam artikelnya yang berjudul Psychedelics, Sociality, and Human Evolution pada Jurnal Frontiers in Psychology  dijelaskan suatu teori yang dikenal dengan istilah Stoned Ape Theorybahwa jamur menjadi jawaban dari missing GAP teori evolusi manusia purba menjadi manusia modern. Dijelaskan bahwa ternyata di masa berburu dan meramu, manusia purba mengkonsumsi jamur tertentu sehingga mempengaruhi perkembangan neuron di otak mereka.Jamur selain merupakan makanan pengganti bagi para vegan ternyata juga dapat menjadi material pengganti untuk produk berbahan kulit binatang.

Wayang Jamur-Wayang Alien: Melanjutkan Kerja Mycoteh Bandung

Seperti saya katakan di atas di Bandung terdapat  laboratorium mikologi: Mycotech. Laboratorium ini mengembangkan berbagai material berbahan dasar jamur. Beberapa material yang sudah dihasilkan adalah bata yang sangat kuat dan tahan api yang terbuat dari Jamur dan kulit sintetis yang terbuat dari limbah jamur.

Foto produk kulit sintetis dan bata Jamur yang dibuat oleh Mycoteh. (Sumber: Arsip Penulis).

Material ini menurut saya sangat menarik, karena proses produksinya cukup singkat dan ramah lingkungan. Material ini dibuat dari limbah produksi tempe dan disebut sebagai Mycelium Leather (Mylea). Sayang sekali produksi material tersebut masih sangat terbatas sehingga sulit untuk didapatkan.

Dengan keterbatasan tersebut sebagai seorang akademisi salah satu cara untuk melestarikan, meregenerasi dan mensosialisasikan material tersebut adalah dengan mengembangkan riset biomaterial di kampus dan mensosialisasikannya sebagai bentuk program pengabdian kepada masyaraka.as. Saat ini proyek riset biomaterial jamur tengah berlangsung dikampus tempat saya mengajar.

Penerapan pertama dari hasil riset biomaterial inilah yang akan saya manifestasikan ke  wayang kulit jamur kontemporer. Proyek pertama saya adalah menciptakan gunungan wayang dalam bentuk jamur. Gunungan adalah simbol awal dan akhir. Jamur sendiri juga dapat menjadi simbol awal serta akhir dari kehidupan.

Setelah menciptakan gunungan dari jamur selanjutnya saya  mengembangkan berbagai macam figur wayang berbentuk alien yang digarap secara kontemporer. Saya akan merancang sosok-sosok alien bertolak dari bentuk-bentuk jamur dan imajinasinya. Langkah terakhir setelah semua karya jadi maka akan dipamerkan di galeri online dan galeri fisik. Dalam bayangan saya  wayang kulit jamur berbentuk alien ini nantinya bersama “wayang kulit purwa asli” ditampilkan dalam sebuah pertunjukan  kolaboratif.

*Perupa dan Mahasiswa S3, ISI Surakarta.

————

KEPUSTAKAAN:

Andersen, K., & Kuhn, K. (2014). Cowspiracy : the sustainability secret. [Santa Rosa, Calif.]: A.U.M. Films.

Schwartzberg, L & Stamets, P (2019) Fantastic Fungi. (United States) Moving Art.

Stamets, Paul. “6 Ways Mushrooms Can Save the World.” Ted, TED Conferences, LLC., Mar.2008,www.ted.com/talks/paul_stamets_on_6_ways_mushrooms_can_save_the_world#t> 1502.

Wahyuni, D. (2010). Mikologi Dasar. Jember: Jember University Press.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *