Silek dalam Kekaryaan Gusmiati Suid

Program Semiloka Silek Arts Festival 2019

Perhelatan Silek Arts Festival 2019 yang diadakan oleh Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat, kembali digelar pada 19-31 Agustus. Penyelenggaraan Silek Arts Festival (SAF) kedua ini bekerjasama dengan lima kabupaten kota, yaitu Padang sebagai lokasi pembukaan; Sijunjung, Kota Solok, Payakumbuh dan Agam sebagai lokasi penutupan. Perhelatan ini juga bekerjasama dengan berbagai komunitas yang terangkai dalam Platform Indonesiana.

Salah satu kegiatan Silek Arts Festival 2019 yang menarik adalah “Semiloka Transformasi Silek dalam Karya Seni: Studi Kasus Penciptaan Tari Karya Gusmiati Suid” yang berlangsung pada tanggal 22 Agustus lalu di Gedung Dinas Kebudayaan Sumatera Barat.

Narasumbernya terdiri dari sebagian besar murid-murid Gusmiati Suid pada era awal proses penciptaan karya-karyanya, dimana mereka mengikuti Gusmiati saat melakukan riset-riset ke beberapa aliran Silek (Silat) yang ada di Sumatera Barat (baca:Minangkabau).

Di antara para murid tersebut, ada Drs. Hanefi M.Pd, Dr. Indra Utama S.Kar., M. Hum., Drs. Hajizar, M.Sn., Muslim S.Kar, M.Sn, dan Prof. Dr. Rahmi Fahmi. Selain itu, juga ikut serta murid Gusmiati yang pernah mengikuti proses karya beliau pada tahun 90an yaitu Hartati S.Sn., dan Dr. Nungki Kusumastuti, S.Sn., M.Sos., yang juga seorang peneliti tari.

Karya Gusmiati Suid “Balega” di Joice Theatre New York

Selain itu, peneliti tari Dr. Julianti Parani juga tampil sebagai narasumber karena pernah mengikuti dan mengamati proses kreatif Gusmiati dari awal kariernya, sampai dengan karya terakhir di tahun 2000.

Semiloka ini dimoderatori oleh budayawan Minangkabau yang juga merupakan murid Gusmiati yaitu Edy Utama pada sesi kedua, dan Dr. Susas Rita Loravianti S.Sn., M.Sn. pada sesi pertama.

Bahasan transformasi Silek dalam karya-karya Gusmiati kembali dikemukakan dengan tujuan agar generasi muda sekarang dapat kembali ‘membaca dan mempelajari’ kekayaan tradisi sebagai sumber pijakkan inspirasi, yang tidak akan habis-habisnya digali dan dimaknai ulang.

Gusmiati Suid

Mengikuti jalannya Semiloka, berikut adalah rangkuman dari paparan para nara sumber ditambah dengan hasil pengamatan penulis terhadap proses kreatif Gusmiati Suid.

Berawal dari keprihatinan Gusmiati yang menemui tari-tari di Minangkabau yang didominasi unsur budaya Melayu nan gemulai dan hanya berkisah tentang pergaulan muda-mudi, sampai dengan era 1970an.

Kondisi itu, menguatkan tekad Gusmiati untuk mengembalikan tari-tarian tersebut ke bentuk gerak dan filosofi Silek Minangkabau yang dinamis, tangkas dan waspada; selepas beliau kuliah di Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) Padangpanjang tahun 1975.

 

Karya Gusmiati Suid “Asa Di Ujung Tanduk” dalam pementasan Face To Face, kolaborasi dengan Joachim Schloamer dari Basel Dance Theatre

Gusmiati lalu meneruskan apa yang telah dirintis oleh gurunya, Hurijah Adam. Pada tahun 60an, ia mulai melakukan riset-riset ke berbagai aliran Silek, meski Gusmiati telah belajar Silek Kumango (aliran Silek terakhir di Minangkabau) yang diharuskan oleh Mamak beliau (paman laki-laki dari garis Ibu) sejak usia 4 tahun. Menurut Gusmiati keberagaman aliran Silek yang ada di Minangkabau menjadi sangat penting untuk dipelajari agar bisa memperoleh beragam gaya gerak dan esensi-esensi makna dari setiap aliran dalam memperkaya keilmuan.

Lebih jauh membahas tentang transformasi Silek dalam karya seni Gusmiati Suid, muncul pertanyaan, bagaimana beliau mampu menembus dunia internasional melalui karya-karyanya yang diakui secara kualitas. Apa yang telah dilakukan oleh Gusmiati dengan Silek hinggah pencapaiannya bisa meraih penghargaan bergengsi internasional? Dan Sanggar Gumarang Sakti yang di dirikannya mengapa bisa diakui sebagai sebuah Akademi oleh dunia internasional ? (nama-nama penghargaan dan festival-festival internasional yang telah diikuti oleh Gusmiati Suid dapat di baca dari beberapa situs melalui Google).

Jawabannya, terungkap bahwa, Silek bagi Gusmiati adalah ajaran dan pegangan hidup. Melalui nilai-nilai dan aspek-aspek yang ada dalam ajaran Silek-lah Gusmiati membangun dan membentuk sebuah kelompok seni.

Karya Gusmiati Suid Asa di Ujung Tanduk Pementasan Face To Face Kolaborasi dengan Joachim Schlomer dari Basel Dance Theatre

Dalam kelompoknya itu, Gusmiati mewajibkan kebersamaan (setiap proses karya melalui training centre atau karantina) dalam disiplin tinggi yang fokus, mengajarkan kepekaan yang wajib dikuasai oleh penari, pemusik dan pemain lain, mengajarkan ketangkasan dan kesigapan dalam berbagai hal, memberikan pemahaman detil dan kesadaran atas dasar teori sebab akibat ke dalam setiap bentuk gerak dan bunyi, mengasah kemampuan rekfleksivitas dan kewaspadaan, mewajibkan adanya dialog-dialog kreatif dalam setiap sesi latihan.

Silabus Metodelogi Gumarang Sakti adalah pegangan penting, yang dibuat oleh Gusmiati dan wajib diterapkan dalam kelompoknya. Terakhir, karena keberanian dan kepercayaan diri yang diperoleh Gusmiati bersama murid-muridnya melalui pembelajaran Silek, membuatnya tidak segan-segan selalu mengundang dan mendatangkan ke studio para pengamat dan tokoh-tokoh budaya untuk melihat dan mengkritisi karya barunya sebelum dilakukan pementasan.

Karya Gusmiati Suid Asa di Ujung Tanduk Pementasan Face To Face Kolaborasi dengan Joachim Schlomer dari Basel Dance Theatre

Alhasil karya yang keluar dari setiap proses kreatif Gumarang Sakti adalah sebuah paket utuh dari pembelajaran-pembelajaran di atas atau bisa juga dikatakan bahwa setiap karya baru yang ditampilkan Gusmiati adalah hasil pencapaian maksimal dari rangkuman proses-proses di atas. Kekuatan tema, kerampakkan dan intensitas tinggi para pendukung karya telah membuat karya seni Gusmiati mampu mencapai kualitas yang diharapkan.

Yessy Apriati

Putri dari Gusmiati Suid

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *