Tentang Borobudur Writers and Cultural Festival

Borobudur Writers & Cultural Festival (BWCF) adalah sebuah festival tahunan yang diselenggarakan oleh Samana Foundation, sebagai wahana berupa pertemuan bagi para penulis dan pekerja kreatif serta aktivis budaya pada umumnya dalam kerangka dialog lintas batas dan pemahaman interkultural yang berbasis pada pengembangan dan perluasan pengetahuan atas berbagai khazanah sehingga para kreator budaya maupun masyarakat yang hidup dalam budaya-budaya tersebut dapat memanfaatkan segala khazanah yang ada sesuai dengan kebutuhan aktualnya.

Festival ini adalah wahana pertemuan antarkomunitas, antarkelompok, dan ruang dialog antara karya-karya budaya dengan publik sehingga terbangun pemahaman yang mendalam di antara individu maupun komunitas budaya tersebut dalam cakupan ruang dan waktu yang tak terbatas. Sebuah festival sebagai ruang kemungkinan bagi segala penjelajahan imajinasi dan bentuk-bentuk eskpresifnya.

Dengan adanya BWCF akan memberi pesan kepada masyarakat luas akan arti pentingnya sebuah peninggalan budaya dari masa lalu dalam bentuk heritage, khususnya kawasan Candi Borobudur. Pada heritage inilah terdapat arti pentingnya bagi pariwisata. Perlu diketahui kawasan heritage menyumbang setidaknya 60% kedatangan wisatawan domestik maupun asing. Di sini kiprah BWCF menjadi sangat relevan pada program pemerintah dalam hal peningkatan wisatawan.

BWCF yang pertama diselenggarakan pada tahun 2012 dengan tema “Memori dan Imajinasi Nusantara: Musyawaran Agung Penulis Cerita Silat dan Sejarah Nusantara”. Sementara BWCF pada tahun 2013 mengangkat tema “Arus Balik: Memori Rempah dan Bahari Nusantara”. BWCF ketiga pada tahun 2014, mengangkat tema “Ratu Adil: Kuasa & Pemberontakan di Nusantara”, dan BWCF keempat tahun 2015 mengangkat tema “Gunung dan Mitologi di Nusantara”. Selain seminar juga diselenggarakan workshop penulisan, pentas seni tradisi di desa-desa di gunung sekitar Borobudur, di antaranya di Desa Gejayan Gunung Merbabu, Desa Tutup Ngisor Gunung Merapi, dan Desa Krandegan Gunung Sumbing.

Setiap festival dihadiri oleh ratusan penulis, antropolog, sejarawan, mahasiswa, wartawan, dan masyarakat umum, dengan nata acara berupa seminar, pemutaran film, peluncuran buku, pementasan seni, lecture tentang sejarah Nusantara, workshop, dan pemberian penghargaan Sang Hyang Kamahayanikan Award kepada penulis, sejarawan, peneliti, budayawan, dan tokoh yang berjasa dalam pengembangan budaya dan sejarah Nusantara. Sang Hyang Kamahayanikan Award tahun 2012 diberikan kepada SH Mintardja, seorang penulis silat, tahun 2013 diberikan kepada sejarawan bahari AB Lapian, tahun 2014 diberikan kepada sejarawan Peter Carey yang menulis riwayat Pangeran Diponegoro dan sejarah Jawa, dan pada tahun 2015 diberikan kepada Hadi Sidomulyo (Nigel Bullough), seorang arkeolog yang mendalami peradaban Majapahit. Kemudian 2016 penghargaan diberikan kepada Halilintar Latief atas jasanya memberdayakan komunitas bissu di Sulawesi Selatan dan almarhum Kartono Kamajaya atas jasanya menerjemahan dan menuliskan Serat Centhini ke dalam huruf latin.