Keragaman Agama Lokal di Borobudur Writers & Cultural Festival 2017

Seminar

  • Di ujung perhelatan BWCF 2017 akan diserahkan Sang Hyang Kamahayanikan Award kepada Nurhadi Magetsari

Salah satu pembicara di BWCF 2017, Laura Romano, menarik perhatian peserta dengan kisahnya menemukan kepercayaan pada Sumarah, sistem meditasi yang akarnya berasal dari Kejawen.

tirto.id – Salah satu tema yang diangkat dalam Borobudur Writers & Cultural Festival (BWCF) yang digelar di Hotel Manohara Borobudur pada Sabtu (25/11/2017) adalah “Pengalaman Ketuhanan Penghayat dan Religi Nusantara”. Sesi seminar ini membahas tentang agama-agama lokal yang ada di Indonesia dan pengalaman penghayatannya.

Beberapa pembicara yang turut membagi pengalaman dalam seminar ini di antaranya, Romo Michael Keraf, yang mengangkat soal aspek Ketuhanan Merapu dan hak-hak adatnya; Teddy Kholiludin dengan pembahasan soal pengalaman beragama Samin; dan Sapto Darmo; kemudian Dewi Kanti, penganut Sunda Wiwitan, dan Laura Romano, penganut Kejawen-Sumarah.

Dewi, sebagai penganut Sunda Wiwitan bercerita soal kepercayaannya dan pengalamannya selama ini sebagai penganut salah satu agama lokal. Ia pun bersyukur karena saat ini pemerintah melalui putusan MK sudah mengakui mereka.

“Kami bersyukur bisa sampai tahap ini [pengakuan], sayangnya masih ada dikotomi agama dan aliran kepercayaan. Pejabat setingkat menteri masih menyebut kami sebagai ‘aliran’, yang berarti bukan dari sumbernya, padahal kami tumbuh dan berkembang di Indonesia, bukan ‘aliran’ yang berarti mengalir dari tempat lain,” kata Dewi.

Ia pun menjelaskan, bahwa yang utama dari agama-agama lokal di Nusantara adalah pada pola tuntutan laku, namun tidak memperebutkan kelembagaan.

Sementara itu, Laura Romano, menarik perhatian peserta dengan kisahnya menemukan kepercayaan pada Sumarah, sistem meditasi yang akarnya berasal dari Kejawen.

Laura dulunya merupakan warga negara Italia yang kemudian menjadi WNI setelah menemukan kepercayaan Sumarah, yang menurutnya lain daripada apa yang selama ini ia rasakan di Barat.

“Sumarah tidak ada ritual, salah satu aspek yang membuat orang Barat tertarik. Fokusnya adalah pada kondisi di ‘dalam’, tidak penting berapa lama Anda bermeditasi, yang penting itu apa yang Anda rasakan di ‘dalam’,” kata Laura.

Ia mengaku pertama kali menemukan Kejawen ketika ia berusia 24 tahun. Kini empat puluh tahun sudah ia menetap di Indonesia dan menemukan ‘rasa’ dalam kepercayaan Sumarah, yang berarti pasrah.

Selama menetap di Indonesia, Laura menyatakan tak pernah berhenti mengagumi kekayaan budaya, agama, dan suku di Indonesia. “Kekayaan ini harus kita jaga,” katanya.

BWCF berlangsung selama tiga hari mulai Kamis (23/11/2017) hingga Sabtu (25/11/2017). Acara ini diawali di Hotel Grand Inna Malioboro, Yogyakarta. Selanjutnya di Hotel Manohara, dan pentas seni di Taman Aksobya, Lapangan Kenari di Kompleks Candi Borobudur, Magelang, dan diakhiri di Hotel Royal Ambarrukmo, Yogyakarta.

Di ujung perhelatan BWCF 2017 akan diserahkan Sang Hyang Kamahayanikan Award kepada Nurhadi Magetsari yang mendedikasikan diri dalam penelitian Candi Borobudur, tempat Gandawyuha terpatri 1.000 tahun lebih.

Penghargaan ini merupakan apresiasi kepada mereka yang dengan setia melakukan penelitian Candi Borobudur. Penelitian ini dianggap menambah khazanah berharga bagi peradaban nusantara.

Setiap perhelatan BWCF selalu hadir tidak kurang 350 orang untuk saling bertukar pemikiran, bertukar karya buku, dan yang tidak kalah penting adalah memperkukuh persahabatan di antara sesama.

 

Reporter: Dipna Videlia Putsanra (Tirto.id)
26 November, 2017

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *